Sebuah Kekecewaan

1262 Kata
Semuanya berjalan bagaikan air yang mengalir, mereka memang berhasil menangkap Find dan mengurungnya di tempat yang sama dengan Raja Aruba. Namun hasilnya nihil, Find ternyata sudah terkuasai oleh sihir Renascent itu bahkan terlihat lebih parah dari Raja Aruba. Raas pun tak dapat berbuat apa-apa saat ini, belum lagi dengan masalah percakapan mengenai sihir suci yang ia dengar kemarin yang terus mengganggu pikirannya. Raas akhirnya menunda semua rencananya dan memilih untuk beristirahat, seraya mempertimbangkan apakah ia akan mencari Pangeran Rome sebagai jalan keluar terakhir untuk memecahkan masalah yang amat sangat rumit ini. Para Raja Kerajaan Bawahan pun di perintahkan untuk kembali ke Kerajaan mereka masing-masing dan beristirahat, seraya menunggu kabar dari Raas nanti. Namun sepertinya Raja Adam memiliki sebuah ide lain, dirinya berpikir jika mereka tidak boleh diam saja dan menunggu hal yang tak pasti. Harus ada sebuah aksi yang mereka lakukan untuk memecahkan permasalahan itu, yang akhirnya membuatnya nekat mengajak Raja Jiwoo dan Raja Mart untuk menemui Find serta Aruba yang di kurung di dalam penjara Kerajaan Monitu. Padahal sudah jelas tersebutkan jika tidak ada siapapun yang boleh menemui mereka kecuali Raas. Itulah sebuah perintah yang Raas berikan tempo hari kepada mereka semua. “Jangan melakukan hal yang bodoh, Adam!” Jiwoo yang mendengar rencana dari Adam itu memberikan sebuah teguran keras padanya, saat sang Raja yang berumur lebih muda itu mengatakan jika mereka harus menemui Raja Aruba dan Raja Find yang di kurung di penjara Kerajaan Monitum. Adam yang mendengar teguran itu, sempat terdiam dan kembali menatap pada Jiwoo dengan sangat serius, “Lalu, apa yang akan kita lakukan? Haruskan kita diam menunggu Baginda?” Itulah pertanyaan yang di tanyakan oleh Adam. Dirinya merasa dia tidak menerima keputusan Raas yang mengatakan jika mereka semua harus beristirahat dan ia pun mempertanyakan apakah keputusan yang Raas ambil itu adalah keputusan yang baik, atau justru sebaliknya? Mart dan Jiwoo yang juga mendengar keputusan Raas itu merasakan hal yang sama, namun mereka tidak berani untuk bersikap gegabah dengan melanggar salah satu aturan yang Raas buat untuk mereka semua. “Jangan pernah anda mencoba untuk menjadi seorang pengkhianat, Adam!” Tegur Raja Mart kali ini, memberikan peringatan pada Adam atas niat dari tindakkannya ini yang dapat menyembabkan dirinya di anggap sebagai seorang pengkhianat. Adam menoleh ke arah Raja Mart dan menjawab, “Raja Mart… Saya tidak pernah berencana untuk mengkhianati Kerajaan ini, dan memikirkannya pun untuk satu detik saya tidak pernah! Namun saat ini yang saya pikirkan adalah cara untuk membantu Baginda, dan saya tidak bisa hanya berdiam diri saja di saat Baginda di landa sebuah kebimbangan yang kita sendiri tak tahu karena apa! Apakah anda tidak bisa melihatnya?” Tanya Adam yang menjelaskan jika saat ini Raas sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, dan entah karena apa. Karena Raas tidak membicarakan apa yang terjadi tadi mengenai Crown Imperial pada siapapun. Adam menatap pada kedua Raja di hadapannya itu, dan meminta mereka untuk mempertimbangkan keputusan Adam. “Jadi, apa yang sebenarnya ingin anda lakukan saat ini, Adam? Apa yang anda rencanakan setelah anda menemui mereka?” Raja yang memiliki kuasa akan seluruh Tanah Valerian itu pun akhirnya bertanya pada Adam, dan mencoba ingin mendengarkan rencana yang di miliki Raja muda itu sebelum akhirnya ia akan memutuskan hal mana yang akan ia pilih. Adam yang mendengar jika dirinya di beri sebuah kesempatan untuk menjelaskan pun tersenyum pada Jiwoo, sementara Mart yang mendengarnya itu hanya bisa mengikuti keputusan dari Raja Jiwoo… Salah satu Raja yang paling di percayai oleh Raas. “Saya rasa, akan lebih baik kita memastikan siapa orang yang telah berbuat seperti ini pada mereka. Karena saya yakin jika mereka mengetahuinya! Setelah itu barulah kita mencari Pangeran Rome dan mencari cara untuk mengalahkan orang tersebut!” Itulah yang di ucapkan oleh Adam pada Jiwoo dan Mart. Kedua Raja itu terdiam berpikir dan mempertimbangkan hal itu, Jiwoo yang sudah memikirkan hal itu pun kembali bertanya, “Jika kita tidak melakukan hal itu? Apakah ada pilihan lain yang dapat kita lakukan, Adam?” Tanya Jiwoo, memilih untuk mencari tahu hal yang lain yang mungkin bisa mereka jadikan opsi lain untuk mereka pilih. Adam mengangguk dan menegakkan tubuhnya, kemudian ia menjawab, “Kita menunggu seperti yang lainnya. Menunggu Seseorang yang menyebabkan semua ini, kemudian kita akan melawan mereka!” Jawaban yang di berikan oleh Adam itu jelas di mengerti oleh Jiwoo dan Mart, apa lagi kata ‘mereka’ yang Adam maksud pastilah Find, Aruba dan Rome. Jiwoo pun terdiam dan mempertimbangkan hal itu dengan sangat matang, sementara Raja Mart hanya terdiam dan ikut berpikir dengan santai. “Baiklah… Saya akan memilih opsi pertama!” Ucap Jiwoo yang akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama Adam pergi menyelusup ke dalam ruang tahanan Kerajaan Monitum yang sebenarnya di larang oleh Raas itu. Mereka bertiga akhirnya pergi menuju ruang itu malam hari dan melawan seluruh prajurit yang berjaga hanya untuk berbicara dengan Find dan Aruba. Namun akhirnya hal tersebut di ketahui oleh Raas yang mendapatkan sebuah laporan mengenai penyusupan yang di lakukan ketiga Raja yang paling ia percaya tersebut yang akhirnya membuat Raas dengan terpaksa mengusir ketiganya dari Kerajaan Monitum, serta menyuruh mereka untuk membawa Find yang telah memberikan informasi pada mereka. Itu semua Raas lakukan karena ia merasa kecewa dengan apa yang di lakukan ketiga Raja terbaik baginya itu. Dan untunglah Raas tidak memberikan hukuman berat seperti Guillotine atau mengurung mereka di dalam penjara. Flasback End   “Baginda, kami melakukan ini karena kami merasa bahwa kami tidak dapat terus berdiam diri dan menunggu.” “Baginda, percayalah pada kami.” “Percayalah pada kami, Raas!” Raas terdiam ketika dirinya kembali mengingat perkataan tiga Raja yang paling ia percayai di saat di mana dirinya mengusir mereka semua karena sebuah hal yang ia anggap sebagai sebuah pengkhianatan. “Raas... Adam, dan Jiwoo adalah orang yang paling setia yang pernah saya kenal. Tidak ada sedikitpun dari keduanya yang terlihat akan mencelakai mu dan Keluarga Kerajaan ini... Ku mohon jangan mengikuti egomu itu, Raas!” Raas kembali terdiam ketika dirinya mengingat ucapan yang di ucapkan oleh Raja Steven sebelumnya, saat ia berada di dalam ruang perundingan bersama Dua belas Raja serta Dua Ratu dari Kerajaan Bawahan yang Raas pimpin. Lelaki dengan posisi sebagai Raja di kerajaan besar itu pun bersandar dengan lelah pada sandaran kursi takhta miliknya. Di hadapannya kini tergeletak sebuah kertas dan sebuah pena tinta yang sama sekali belum ia sentuh. Awalnya Raas berniat untuk menulis sebuah pesan pada kerabat jauhnya yang setidaknya masih bisa ia hubungi dan ia tanyai mengenai Pangeran Rome, pamannya yang telah lama meninggal itu. Tok! Tok! Tok! Dan sebuah ketukan pintu itu pun berhasil membuat Raas kembali duduk dengan tegap di kursinya tersebut, dan berkata, “Masuklah!” Titahnya, mengizinkan orang yang mengetuk itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Kedua mata Raas menyipit saat ia mendapati seorang prajurit datang menemuinya dengan wajah yang tertunduk padanya, yang membuatnya menganggukkan kepala memberikan perintah agar prajurit tersebut mengatakan kebutuhannya saat ini. “Maaf Baginda, saya ingin melaporkan jika Raja Adam, Raja Jiwoo dan Raja Mart ada di depan pintu gerbang dan meminta agar mereka di izinkan masuk ke mari, Baginda!” Lapor prajurit itu pada Raas. Mendengar hal tersebut Raas menyipitkan matanya dengan curiga, ia memikirkan mengapa ketiga Raja itu datang kembali ke Istana Monitum setelah mereka mengetahui jika Raas melarang mereka untuk kembali ke sana. “Untuk apa mereka kemari?! Larang mereka dan usir mereka dari Kerajaan!” Titah Raas kembali. Dirinya yang masih merasa emosi dan kecewa itu tak ingin melihat wajah dari ketiga Raja itu untuk sementara waktu, meski dirinya mendapatkan beberapa tekanan terutama dari Raja Steven yang meminta padanya untuk memaafkan ketiga Raja itu. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN