Pukul setengah dua belas malam di ruang rawat inap salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta, seorang cewek masih terjaga. Cewek itu adalah Karin, dan dia bertekad untuk melewati malam ini dengan menjaga kakaknya yang masih dalam keadaan koma. Karin duduk diam di atas kursi yang menghadap ke ranjang kakaknya. Tangannya tak pernah lepas menggenggam erat tangan sang kakak, seakan dengan itu ia dapat terus menyalurkan energi agar orang yang amat disayanginya itu dapat terus bertahan. Ini adalah malam ketiga yang ia lewatkan di rumah sakit, dan cewek itu tetap tak berhenti berharap untuk kesembuhan serta kesadaran satu-satunya saudara kandung yang dimilikiknya. "Lo kapan bangun, Mas?" bisik Karin. Tatapannya tertuju lurus pada wajah pucat Danar. "Semua orang nungguin lo! Tadi pagi Papa mam

