15 [Cewek Berharga]

903 Kata
Matahari belum naik terlalu tinggi ketika Rama mulai memanaskan mesin motor kebanggannya. Sambil menunggu, diambilnya segelas s**u yang tergeletak di atas lantai marmer teras rumah Gara. Dalam lima bulan terakhir ini, Rama memang tinggal berdua dengan Gara di rumah besar milik cowok itu. Menghabiskan sisa-sisa masa SMAnya dengan sang berandal Netrisa, menghabiskan masa remajanya bersama sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Saat segelas penuh s**u yang telah disisapkannya sendiri itu habis diteguknya, mobil Derry yang tiba-tiba masuk melalui gerbang depan yang terbuka itu pun sukses menyita perhatiannya. Sambil masih memegangi gelas kosong di satu tangannya, Rama menatap kemunculan Derry dari balik pintu kemudi itu dengan berjuta tanda tanya. Derry dengan seragam SMA lengkap langsung melangkah menghampirinya. "Udah mau berangkat lo? Baru jam enam lewat gini..." komentar Derry diiringi dengan melirik sejenak jam tangan tanpa angka yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Lo sendiri tumben pagi-pagi ke sini... mau ngapain?" tanya Rama datar. "Gue mau numpang bolos, males ketemu si Darto!" jawab Derry dengan membawa-bawa nama Wakasek bagian kesiswaan di sekolah mereka yang terkenal kejam dan rese bagi siswa-siswa bermasalah seperti dirinya. "Bolos?" Rama bertanya dengan melebarkan bola matanya. Ia lantas menggeplak pundak cowok yang kini telah ikut duduk di sebelahnya itu. "Sebulan lagi UN, Nyet! Lo masih ada waktu buat mikirin bolos?" "Masih sebulan lagi kan? Bukan besok?" tanya Derry nyolot. "Insaf, Derr... insaaaaaf!" "Kalem, Ram... kaleeeem!" "Alaaah, terserah lo deh!" putus Rama, tak mau terlalu banyak berdebat dengan cowok k*****t yang satu itu. "Oke deh kalo gitu, gue masuk dulu! Mau bangunin si Gara, pasti masih molor kan tuh anak?" Derry lantas beranjak dan mulai melangkahkan kakinya di atas teras berlantai marmer rumah Gara yang bisa dibilang mewah itu. "Si Gara udah berangkat," ujar Rama yang seketika membuat Derry berhenti melangkah. Derry menatap Rama tak percaya. "Demi apa lo?" "Demi Sabrina yang lagi dia jemput buat berangkat sekolah," jawab Rama ngasal. Mendengar itu, tatapan tak percaya Derry berubah jadi menyelidik. "Kok... demi Sabrina? Bukan demi Soffi?" goda Derry. Kini cowok itu telah mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dan kembali mengambil tempat di sisi Rama. "Masih mikirin Sabrina mulu lo yaaaa?" Rama melirik Derry tajam. "Mau gue getok pala lo pake ni gelas?" ancam Rama sambil mengangkat gelas bekas s**u yang ada di tangannya. Tawa Derry pun meledak atas respon yang ditunjukkan Rama barusan. Dan itu membuat Derry semakin gencar dalam menggodanya. "Tau kok Ram, tau... Soffi kan jauh, nggak kayak Sabrina yang selalu deket... deket di sekolah, deket di hati juga..." "Gue pergi dulu!" potong Rama yang kini berdiri dan segera meraih tas punggung yang tergeletak tak jauh dari posisinya. Ia benar-benar tak ingin meladeni Derry dengan godaan tak bermutunya itu. "Yaaah, Ram... gue masih pengen ngomongin Sabrina nih!" protes Derry dengan sengaja memperlihatkan tampang kecewa di wajahnya. "Lo masih suka diam-diam motretin dia nggak sih?" goda Derry kembali sambil cengar-cengir nggak jelas. "Sekali lagi lo ngomong..." ancam Rama dengan nada menggantung. Selanjutnya ia hanya menyambung ancamannya itu dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mengangkatnya tepat di depan wajah Derry, tanda bahwa ia siap melayangkan kapan saja pukulannya itu ke wajah tampan Derry. "Wuuiiih, ampun Bos, ampun!" tukas Derry pura-pura ketakutan sambil menyatukan kedua tangan disusul dengan membungkukkan kepala serta sebagian tubuhnya, hingga menciptakan gerakan memohon ampun seakan Rama berkedudukan lebih tinggi dari para raja. Rama tersenyum kecil menanggapi sikap Derry itu. "Udah ah, gue duluan!" pamit Rama, lalu segera berjalan menghampiri motor kalsiknya. Segera ia mengegas dalam-dalam begitu telah dinaikinya kendaraan roda dua berwarna merah gelap serta keperakan di beberapa bagian itu. "Sampein salam gue buat Sabrina ya!!!" pesan Derry dengan teriakan saat Rama mulai mengendarai motornya menjauh dari teras depan rumah Gara. Entah Rama dapat mendengarnya atau tidak, Derry tak peduli. Entah Rama akan menyampaikan salamnya pada Sabrina atau tidak, ia juga tak peduli. Yang Derry peduli hanyalah sensasi menyenangkan yang didapatnya saat berhasil membuat Rama, si cowok dingin yang pelit akan kata-kata itu jadi salah tingkah akibat kembali diungkitnya masa lalu tentang selembar kisah manis yang terjalin antara dirinya dengan cewek Gara yang bernama Sabrina. Setelah tawanya mereda, Derry mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah dari salah satu sohibnya. Dalam rencana yang telah disusunnya, tidur merupakan urutan teratas dari daftar kegiatan yang akan dilakukannya di dalam sana. Setelah semalam dirinya hanya tidur dalam waktu kurang dari empat jam, kini saatnya bagi cowok itu untuk dapat tertidur sepuasnya. Tanpa disadari, ada satu sisi dalam diri Derry yang berubah setelah kejadian selamam. Satu sisi yang membuat cowok itu terus terbengong-bengong bahkan hingga dirinya telah sampai di rumah, satu sisi yang membuat dirinya tak dapat mengenyahkan Karin dari pikirannya hingga kantuk pun seakan enggan untuk menghampirinya. Jadilah setelah mencoba berbagai macam cara untuk terlelap, Derry baru dapat tertidur sekitar pukul setengah dua dini hari. Tanpa dikehendaki, ada satu sisi dalam diri Derry yang berubah setelah melihat Karin meneteskan air matanya. Satu sisi yang membuat sikapnya kian melunak terhadap cewek yang menjadi korban dalam pembalasan dendamnya itu, satu sisi yang bahkan mampu mengubah sudut pandang Derry terhadap Karin yang dulunya hanya sekedar adik dari musuh di masa lalunya menjadi cewek yang jauh lebih berharga dari itu. Dan demi cewek berharga itulah kini Derry berada di rumah Gara, terbaring santai di atas sofa empuknya yang menghadap sebuah LED TV super lebar. Demi memberi kesempatan pada Karin untuk dapat beristirahat dari berbagai masalah yang tak henti menimpanya, dan juga demi memberinya kebebasan di sekolah walau hanya sehari saja. Derry tahu dirinyalah sumber penderitaan di hidup Karin, dan dengan tidak munculnya ia di sekolah seharian ini, Derry berharap Karin dapat kembali menghirup udara segar sebagaimana dulu sebelum cowok itu mengetahui identitasnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN