Alena merasa sangat terkejut saat Reyno menggandeng tangannya, ada rasa yang menjalar kesekujur tubuhnya, panas dan sesuatu yang sangat nyaman.
“Jangan gugup, karena itu tidak terlihat alami.” bisiknya halus ditelinga Alena.
“Diam saja kau.” balas Alena.
Begitu mereka masuk kedalam dengan serta merta dia langsung disambut oleh sang Pemilik, Inha Jacob! Alena yang melihat laki-laki dihadapannya ini terpesona, dia yang selama ini hanya melihat laki-laki ini dari layar televisi akhirnya melihat secara langsung wajah tampannya.
“Hei, Apa kabar?” Ucapnya sangat terasa akrab pada Reyno, sedangkan Alena merasakan bahwa laki-laki ini sudah kenal sejak lama.
“Dia orangnya?” Tanyanya sambil melirik Alena.
Reyno hanya tersenyum simpul.
“Kasih liat ke dia, seharusnya yang kau buat itu sedikit lebih besar, karena pemiliknya sudah berubah.” Perkataan Reyno membuat Inha terkejut.
“Maksudnya?” Dia lalu melihat Alena dan memegang dagu Alena dengan kedua jari besarnya itu.
Alena yang mendapatkan perlakuan barusan, membuatnya dengan respon tidak suka.
“Ah … Maaf Nona, Saya terbiasa seperti itu.” Dia berkata sopan.
“Jangan menyentuhnya dengan asal.” Reyno berkata sambil matanya berkeliling mencari sosok laki-laki yang dilihat oleh Alena diluar tadi.
“Buatkan yang cocok untuknya, untuk acara minggu depan.” Dia berkata pada Inha dan mebuat mata Alena melebar.
“Apa kau bilang?” Kali ini Alena terdengar protes.
“Dia cukup imut, dan aku suka.” Jacob lalu berjalan kedalam.
“Kemarilah dan jangan banyak bantahan.” Reyno berkata dengan datar sambil mengedar pandang.
Alena mendekat pada Reyno lalu kemudian Reyno mengeluarkan senyum iblisnya itu, dan akhirnya merangkulnya dengan sangat mesra.
“Sayang, kau harus terlihat cantik nanti.” Suaranya terdengar sedikit besar, membuat Alena menyadari sesuatu, lalu dia mencoba untuk membalikkan badan, tapi ditahan oleh Reyno.
“Jangan melakukan hal yang bodoh, ikuti saja alurnya.” Bisik Reyno ditelinga Alena dan membuat bulu disekujur tubuhnya meremang.
“Kau ini keterlaluan.” balas Alena.
“Kau mau pertunjukan yang bagus maka ikutlah ritmeku, jangan menjadi pecundang dan malah kabur.” Reyno makin erat mencengkram badan Alena yang mungil ini.
Alena tersenyum pada Reyno.
“Nah itu lebih alami, Alena.” Reyno berbisik lagi.
Reyno yang merangkul Alena ini berjalan menuju keruang yang ada sekatnya dan TRARAM!!!
Jelas sekali Azza dan Kinanti sedang bergandeng tangan mesra dan memilih gaun yang jelas itu adalah gaun pengantin! Wow! Baru beberapa bulan saja dan mereka siap untuk menikah, luar biasa sekali.
Azza dan Kinanti kaget melihat Alena dan Reyno yang juga ada disana, tapi wajah kagetnya itu segera ditutupi dengan adanya pegawai yang membawakan gaun pengantin itu.
“Pak Bu, Ini gaunnya sudah disiapkan.” Ucapnya, dan seketika mereka pura-pura tak melihat Alena.
“Sayang, Kamu kenapa?” Reyno bertanya pada Alena dengan sangat perhatian.
“Kau mau yang seperti itu?” Tanyanya lagi membuat Alena memandangnya dengan tatapan yang tak dimengerti, kali ini mereka sepertinya kehilangan komunikasi yang terjalin lewat tatapan mata.
“Bro! Ini gaun nona manis ini sudah aku siapkan! Didesain khusus dengan sepenuh hati, nanti aku akan menyocokkan ukurannya lagi.” Inha menghampiri Reyno dan Alena dan berkata dengan tegasnya.
“Ah … tapi dia mau gaun pengantin yang seperti itu.” Tunjuk Reyno pada gaun yang masih dipegang oleh Kinanti.
“Ya ampun … Tuan Azza kau sudah datang? Ini calon pengantinmu itu ya?” Sapanya ramah pada Azza.
Inha Jacob ini laki-laki yang memang keren, dia mematahkan kalau seorang desainer itu selalu memiliki karakter yang mendayu-dayu, dia benar-benar macho dan berdasarkan pengamatan Alena tak ada kata ‘kelainan’ pada diri Inha.
“Ya, dia calon istriku.” Ucapnya dengan tegas sambil sedikit melirik ke arah Alena dan Kinanti tanpa malu menggandeng mesra laki-lakinya.
Menyebalkan sekali, ingin rasanya dia patahkan tulang-tulang si Kinanti ini, tapi dia masih tetap sabar dan terus tersenyum melihat pemandangan didepan mereka, sedangkan Reyno terlihat seperti dia yang memiliki dendam pada dua manusia itu.
“Kau yakin hanya diam saja?” bisik Reyno lagi pada Alena, lalu Alena melihat ke arah Reyno dan tersenyum santai.
“Aku mau gaun itu.” Ucapnya seketika membuat Kinanti, Azza dan juga Inha menoleh kearahnya.
“Kau yakin?” Reyno bertanya meyakinkan pada Alena, dan ternyata komunikasi melalui tatapan mata itu kembali terjalin dengan baik, Alena mengangguk.
Inha mendekati Reyno, “Maaf sekali Sayang, tapi gaun itu memang sudah dipesan lama dengan Tuan Azza, sekitar delapan bulan yang lalu.” Ucapnya.
“Delapan bulan?” Alena berkata sambil melihat sinis kearah sepasang kekasih itu.
“Ya, delapan bulan yang lalu sebelum Aku ke Newyork Fashion week kemarin. Dan rencananya ini akan dipakai minggu depan, tak mungkin itu menjadi milikmu Sayang, Kau akan kubuatkan yang sama bagusnya.” Inha membujuk Alena yang terlihat cemberut melihat ke arah Reyno.
Inha dan Reyno ini sebenarnya masih memiliki hubungan keluarga, dia merupakan sepupunya dan mereka bergaul sangat dekat, kalau orang tak tahu mungkin mereka mengira kalau Reyno dan Inha ini adalah pasangan lelakinya.
“Minggu depan?” Ulang Alena lalu melihat ke arah Reyno.
“Kau mau?” Ulang Reyno pada Alena lalu Alena mengangguk dan sedikit mengeluarkan gaya manjanya.
“Aku mau yang itu.” Alena berkata dengan tegas.
“Maaf Nona, tapi ini sudah kupesan dulu.” kali ini Azza membuka suaranya.
Mendengar jawaban Azza itu, membuat Alena ingin sekali berkata kasar, dan wajah Kinanti terlihat tak suka.
“Sudah lama ya? Kau benar-benar laki-laki yang sangat baik dan kau juga sangat beruntung Nona, karena dia sudah mempersiapkannya jauh hari.” Alena berkata dengan sangat lembut tapi terdengar sangat sinis di telinga Kinanti. Kinanti saat ini hanya menggenggam erat tangannya karena sangat kesal.
“Kau memang wanita yang baik Nona. Aku akan membuatkan gaun yang indah untukmu.” Inha berkata santai, dalam kasus ini hanya dia sendiri yang tak tahu kalau sebenarnya saat ini sedang terjadi perang antara orang-orang ini.
“Udahlah Sayang, Kau akan dibuatkan yang baru, jangan mengambil yang bukan milikmu.” Reyno berkata lalu tersenyum kemudian merangkul Alena.
Azza yang melihat kejadian barusan terlihat sangat terkejut, bahkan setelah wanita itu sangat cinta mati padanya secepat itu dia bisa melupakan dirinya? Dia tak percaya kalau Alena dan laki-laki itu memiliki hubungan, karena dia sangat tahu isi hati dari Alena, bahwa Alena hanya mencintainya.
“Aku setuju.” Ucap Alena dengan suara yang manja, dan menurut Azza itu hanya dibuat-buat saja. Dia malah tak terima kalau sebenarnya Alena sudah bisa menggandeng laki-laki lain.
“Inha, Buatkan permaisuriku ini gaun pengantin selain warna putih, karena kami akan melakukan pernikahan di sebuah tempat yang sangat istimewa. Tak lebih dari tiga minggu.” Perintahnya pada Inha.
“APA?!” Inha terkejut mendengarnya, jelas sekali dikeluarga mereka belum ada pembicaraan tentang desas desus pernikahan Reyno. Sejujurnya dalam hati Alena juga terkejut, apa maksudnya? Apa itu hanya akting didepan mantan suaminya saja?
“Kenapa? Aku hanya memberikan tenggat waktu yang sesuai.” Ucapnya pada Inha.
Memang salah satu kebiasaan Reyno adalah bertingkah semaunya saja.
Azza lalu menarik tangan Alena dari Reyno.
“Kita perlu bicara.” Ucapnya pada Alena.
“LEPASKAN TANGANMU DARI CALON ISTRIKU!” Reyno berkata dengan tegas lalu mencengkram tangan Azza yang mau menarik Alena darinya. Reyno menatap Azza dengan matanyanya yang tajam dan seakan mematikan, Alena jelas sangat terkejut dengan ini.
“Ini urusanku dengan calon istrimu ini.” Ucapnya dengan dingin, sedangkan Inha yang tak tahu apa-apa ini benar terkejut melihat kejadian dihadapannya. Dua orang laki-laki yang sedang bertatapan dengan tajam seakan sedang berperang merebutkan sesuatu, dan sesuatu itu mungkin adalah wanita itu.
“Lepas.” Ucap Alena dengan dingin. Seketika itu juga Azza yang mendengarnya langsung terdiam, ini kali pertamanya Alena berkata dengan nada seperti itu, bahkan saat dia meminta cerai dia juga tak bersuara seperti ini, ucapannya barusan seakan menggambarkan bahwa rasa yang dia berikan untuk Azza sudah sangat hambar.
“Kau mau menikah? Dan rancangan pakaian itu sudah disiapkan delapan bulan yang lalu, dan aku terlihat seperti orang bodoh dalam waktu yang sangat singkat?” Jelas! Ini jelas dan nyata kalau Alena bersuara dengan nada yang sangat dingin sekarang ini.
“Lalu kalau aku juga ingin menikah apa urusannya denganmu? Dan kau!” tunjuknya pada Kinanti yang menatap dengan sinis pada Alena sejak pertama kali bertemu tadi, “silahkan ambil apa yang aku miliki, semoga kalian berbahagia.”
Kinanti terlihat sangat kesal sekarang ini, dia lalu segera menarik tangan Azza dan keluar dari tempat ini, mungkin tebakan Alena mereka akan bertengkar hebat.
Setelah dua orang itu keluar dari tempat Inha ini, Reyno bertepuk tangan, “Wow! Pertunjukan yang luar biasa Nona! Tapi kau harus tahu, bahwa aku sedang tidak bercanda mari kita menikah.” Ucapnya dengan enteng membuat mata Alena membulat.
Yang lebih terkejut lagi adalah Inha yang tak tahu apa-apa tiba-tiba menyaksikan hal tragis didepan matanya.
“Kalian semua saling mengenal?” kata-kata itu yang keluar dari mulutnya pertama kali.
“Bukan urusanmu.” Ucap Reyno dan Alena bersamaan.
“Astaga Tuhan! Sebenarnya kalian ini statusnya apa? Pacar? Calon pengantin atau …”
“Kita ini partner.” Reyno berkata dengan senyum iblisnya.
“Aku tak mengerti permainan yang sedang kalian mainkan ini!”
“Kau tak perlu mengerti!” Ucap Reyno dan Alena lagi-lagi berbarengan.
“Wow! Bahkan kalian sepertinya sangat kompak sekali!” Inha tak percaya dengan sepasang anak manusia yang ada dihadapannya saat ini sedang bercanda.
“Diam Kau!” Dan untuk ketiga kalinya mereka berkata bersamaan, entah ini adalah sebuah komunikasi yang masih terbangun diantara keduanya atau memang murni kebetulan saja.
“Terserah kalian, yang jelas kalau mereka tak jadi memakai gaunku, kalian berdua harus bertanggung jawab atas biaya.” Inha lalu berjalan ke dalam dan meninggalkan mereka berdua yang masih sibuk dengan perdebatan masing-masing.
***
“Kau jangan sembarangan bicara kata nikah!” Alena membuka pembicaraan diantara mereka sesaat setelah Inha pergi.
“Apa kau pikir aku sedang main-main?” Reyno berkata dengan wajah yang terlihat sangat manis sekarang ini.
“Aku tak mau berhubungan dengan laki-laki kaya apalagi dari keluarga kaya raya sepertimu.
“Aku? Keluargaku biasa saja, hanya aku yang kaya, jadi jangan kau bayangkan cerita novel atau dramamu itu kalau kau seorang wanita biasa yang tak disukai keluarga laki-laki. Tenang saja keluargaku sangat welcome dengan calon pasangan hidupku.” benar-benar Reyno membuat Alena kehabisan bahan untuk menjawab.
“Bagaimana? Kita menikah, lalu kau tak perlu bekerja di perusahaanku, kau cukup dirumah dan bisa pergi kesana-kemari dengan teman-temanmu itu.” Ucapnya terdengar sangat luar biasa, karena semua wanita pasti menginginkan hal itu, kecuali wanita yang ingin dia nikahi, wanita yang lebih memilih cita-citanya dibandingkan cintanya.
“Kau tahu aku bercerai karena apa?” Alena mendekatkan diri pada Reyno membuat Reyno melangkahkan kakinya mundur.
“Karena aku ini hanya ibu rumah tangga saja.” Tunjuk Alena dengan geram di d**a Reyno.
“Itukan hubunganmu dengan laki-laki itu, kalau denganku kau akan bisa berbahagia.” Reyno membujuknya lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran Reyno saat ini. Dia adalah laki-laki aneh yang pernah ditemui oleh Alena.
“Baik, kita menikah, tapi apa kau tau aku tak suka dengan kata pisah?” Ucap Alena.
“Karena itu aku tak akan mengucapkan kata pisah.” Reyno berkata mantap.
“Tapi aku lebih tua darimu.” Sahut Alena.
“Tak masalah, Bukan itu tujuanku, karena aku memerlukan seorang pendamping yang bisa membuatku merasa nyaman, dan kau tahu, kau lebih bisa membuatku nyaman.” Reyno berkata lagi dengan suara yang sangat terdengar seperti om-om yang menggoda tante-tante, ehm .. maksudnya om-om genit yang menggoda anak gadis orang yang sedang lewat didepan rumah.
“Aku bukan kasur yang bisa memberikan kenyamanan.” Tolak Alena.
“Tapi kau wanita hebat yang tak terkalahkan!” Balas Reyno.
“Tetap saja aku ini Sudah memiliki anak dan aku pernah menikah satu kali.” Sahut Alena lagi, dan mereka berjalan menuju parkiran mobil.
“Karena itu kau pasti tak ingin gagal kedua kalinya.”
“Aku suka marah dan aku sangat tak suka dibantah.”
“Karena itu, kau menikahlah denganku dan bekerjalah diperusahaan dengan diam-diam, kau akan tahu aku ini laki-laki yang seperti apa.”
“Tidak! Aku tidak mau!”
“Harus mau atau kau ganti rugi yang ada di Skyscraper Restaurant!” Ucapan Reyno ini menghentikan langkah Alena dan dia membalikkan badannya.
“Apa kau bilang?” Alena sangat tak suka jika mengingat kejadian saat itu, kalau saja kemarin dia tak datang maka kejadiannya tak akan seperti sekarang ini.
“Kau harus mau.” Reyno memegang tangan Alena, menatapnya luru lalu detik berikutnya, bibirnya merasakan sebuah kehangatan yang sudah berbulan-bulan tak dia rasakan. Ciuman hangat dari seorang laki-laki dan laki-laki itu bukan Azza melainkan Reyno Gora, seseorang yang baru saja dia temui dan tiba-tiba mengajaknya menikah!
Alena terdiam, matanya membulat besar karena terkejut, lalu kemudian dia turut hanyut dan memejamkan matanya menikmati rasa yang menjalar dalam tubuhnya begitu panas dan membuat tangannya mengangkat mengalungkannya dileher Reyno.
“Aku tahu kau menyukainya, dan aku tahu pertunjukan ini akan sangat sukses besar.” Ucap Reyno setelah melepaskan ciuman itu.
Alena terkejut mendengar apa yang diucapkan Reyno.
“Jangan melihat kebelakang, karena dia sedang menatapmu saat ini.” Bisiknya ditelinga Alena lalu kembali melumat bibir wanita itu.
Alena membalasnya!
***