Pewawancara

2268 Kata
Maya yang menunggu kedatangan sahabatnya ini sedikit khawatir karena setelah berkali-kali dia cek handphonenya, belum ada satu notifikasi kalau rekeningnya terpakai, dia khawatir kalau Alena bahkan tak datang ketempat itu, walaupun dia sudah meyakinkan diri mengantarnya sampai di depan restauran itu. Barusan dia menelpon akhirnya dijawab juga oleh Alena, dia merasa sangat lega, setidaknya sahabatnya itu saat ini masih dalam keadaan baik-baik saja. Suara pintu terdengar dan benar saja Alena yang datang. “Alenaaaaa …” terdengar suara khawatir dari mulut Maya pada Alena. “Wah, lo beneran nungguin gue.” Alena sambil senyum-senyum sendiri, dia seperti menemukan dunia baru - setidaknya itu yang ditangkap oleh Maya saat ini. “Dapat cerita seru apa tadi?” Maya tak sabar ingin mendengarkan langsung cerita dari Alena. “Ceritanya panjang, gimana kalau kita pulang saja dulu, nanti akan aku ceritakan dirumah?” Alena berkata dengan suara manja dan membuat Maya sedikit kesal. “Okay, ayok pulang sekarang.” Dia lalu berjalan mendahului Alena keluar dari tempat itu, dan jelas artinya Alena harus menutup tempat ini dan mematikan listriknya, karena semua pegawai Maya sudah pasti pada pulang jika larut seperti ini. *** “Cepat ceritakan semuanya!” Sesaat mereka melangkahkan kakinya kedalam rumah. “Ini gue balikin kartu Lo.” Alena memberikan kartu itu pada Maya. “Lo simpen aja dulu, siapa tau lo butuh.” Ucapnya pada Alena. “No! Gue udah makasih banget lo mau nampung gue disini. Lagian sebenarnya gue masih ada simpenan kok.” Ucapnya sambil terkekeh. Kali ini Maya senang melihat raut wajah Alena, karena sudah lama sekali Alena tak menyuguhkan ekspresi seperti itu. “Lo beneran keliatan seneng banget Sista!” Ucapnya. “Ya, gue harus seneng dong! Ada kejadian lucu soalnya, beneran ngebuat gue merasa terhibur dan gue akhirnya menyadari kalaauuuuu diluar sana masih banyak laki-laki tampan selain si Azza!” dia membuka ceritanya sambil terkekeh ringan, seakan beban dipundaknya sudah hilang entah kemana. “Finally!” dia berkata sangat lega saat ini. “Kenapa?” “Akhirnya lo sadar juga kalau laki-laki tampan masih banyak diluar sana dan lo harus hati-hati laki-laki baik bisa kita hitung dengan kelima jari ini.” Maya menunjukkan tangannya didepan wajah Alena. “Lo mau denger lanjut gak ini?” “Oke, gue denger sampe selesai karena lo tahu sendiri kalau gue adalah pendengar yang baik.” Ucapnya. “Tapi saat ini apa gue sedang dalam konseling?” Alena menatap Maya dengan pandangan curiga. “Oh … tentu tidak sayang! Gue sekarang sebagai sahabat lo! Bukan dokter pribadi lo!” Maya tersenyum pada Alena. Alena menceritakan semua kisah ajaib yang baru menimpa dirinya, dan jujur saja Maya tak percaya tentang hal ini. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, tapi mereka tak bisa berhenti untuk bercerita. “Kau yakin ini bukan semacam takdir?” Maya berkata dengan sangat hati-hati pada sahabatnya itu. “Takdir apanya? Gue gak percaya sama takdir, gue udah muak May sama kata takdir dan sama kata suami! Gue saat ini mau nikmatin dulu gimana rasanya melajang, karena jujur saja waktu gue dulu sempit banget untuk menikmati hidup karena langsung menerima lamaran si Azza itu. Lo tahu mungkin bukan kali ini saja dia selingkuh, bagi Gue hal itu benar-benar ngebuat hidup gue terperosok jatuh dalam jurang, dan saat ini gue masih menikmati kehidupan di dalam jurang dulu.” Ucapnya sambil tertawa. Jadi lo tahu gak sih sebenernya tuh laki siapa?” Maya bertanya pada Alena dengan wajah serius saat ini. “Gue juga tahu namanya doang, Reyno Gora.” Jawabnya singkat. “Reyno … Gora?” Maya sedikit agak familiar dengan nama itu. “Kenapa? Lo kenal? Apa dia salah satu pasien lo?” Tanyanya pada Maya. “Enggak juga, tapi kayaknya namanya familiar.” Ucapnya. “Ah lo ada-ada aja! Udah ah, gue ngantuk.” Alena wajahnya saat ini sangat terlihat senang sekali. “Lo ganti baju dulu gih, besok gue harus ke rumah sakit Izura.” Ucapnya pada Alena. “Hah? Besok kan libur.” Alena mengerenyitkan dahinya. “Iya besok libur tapi guenya gak libur Sistah!” Maya berkata sambil masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya Maya masih berpikir tentang nama laki-laki yang barusan saja disebutkan oleh Alena, jujur saja nama itu sepertinya sangat familiar sekali, apa dia pernah konseling dengannya atau dia hanya melihatnya disuatu tempat. Entahlah, tapi sepertinya Maya sangat penasaran dengan laki-laki ini. Dia berharap nama itu bukan salah satu list dari pasiennya. *** Alena sudah berada diatas ranjangnya, dia sangat bahagia sekali, padahal dia sudah mengatakan kalau mereka hanya bertemu saat itu saja, tak ada kesempatan lain, tapi entah kenapa dia merasakan satu hal yang hangat menjalar dalam hatinya. Dia … tak boleh untuk jatuh cinta, karena alasannya simpel dan sederhana, dia saat ini ingin menikmati kesendiriannya. Walaupun sebenarnya sekarang dia sangat rindu dengan anaknya, Echa! Jika terbayang wajah anaknya akan selalu ada bulir bening yang keluar dari matanya, dia ingin menghubunginya tapi kecanggihan komunikasi ini tetap tak mampu membuatnya merasakan kehadiran anaknya. “Sangat menyakitkan sekali jika harus seperti ini. Aku dipisahkan secara paksa seperti ini, mereka memang orang-orang yang jahat.” Ucapnya sebelum akhirnya dia menutupkan mata karena rasa kantuk yang menyerangnya sudah sangat kuat. *** Pagi yang cerah ini Alena bangun dari tidur pulasnya, kepalanya memang masih sedikit pusing karena tidur yang mungkin terlalu malam, dia segera keluar dari dalam kamar dan … Maya hanya meninggalkan catatan di pintu kulkas kalau dia sudah pergi rumah sakit, dia sudah menyiapkan sarapan untuk Alena di meja makan. Saat seperti ini Alena sangat banyak bersyukur memiliki teman yang sudah seperti Saudaranya sendiri, dia berpikir bahwa Maya ini sudah seperti Kakaknya yang menjaganya. Memang dari mereka bertiga, walaupun Alena sudah menikah dan memiliki anak, Alena bahkan lebih manja dari mereka berdua, yang tampak sangat dewasa adalah Maya lalu … Kinanti, wanita yang terlihat sangat mandiri dan mengagumkan, cantik dan berkarir bagus, sayangnya dia harus memiliki cerita lain dengan suami Alena. Alena memang terkesan manja, tapi untungnya dalam masalah perceraian ini otaknya masih bisa berfungsi baik untuk tidak terpikir bunuh diri, seperti yang sering di khawatirkan oleh Maya. Bagi Alena saat ini dia sangat kesakitan, tapi mungkin setelahnya dia akan bisa dengan lega menerima semuanya. Alena tak mau mati konyol karena dikhianati oleh orang lain, dia malah ingin melihat mantan suaminya itu menyesal karena sudah membuatnya menjadi wanita bodoh selama bertahun-tahun. Maya sangat menyukai tekad bulat dari Alena ini, tapi terkadang, cara untuk membuat laki-laki itu menyesal yang Alena masih belum tahu. Dari mana dia harus membalaskan dendamnya itu, kalau dia saat ini saja bahkan tak memiliki pekerjaan. Mau menyombongkan harta? Azza Setiawan bahkan hartanya sudah banyak dan dia juga dari keluarga yang kaya, Mau menyombongkan karir? Lah dia sekarang saja seorang jobless, lantas kecantikan? Astagaaa … sebenarnya Kinanti itu jauh lebih cantik daripada dirinya, dari body saja dia sebenarnya sudah kalah telak! Kinanti itu sudah cantik, putih, tinggi dan … badannya sangat proporsional dengan buah d**a dan b****g yang aduhai, kalau lihat dirinya? Dia berbadan kecil, tinggi saja tak lewat dari seratus lima puluh tujuh sentimeter, p******a? b****g? Semuanya jelas rata! Untungnya dia ini masih kurus, coba kalau setelah melahirkan badannya menjadi tak terkontrol dan menjadi sangat gendut, lantas apa lagi yang bisa dia sombongkan dengan selingkuhan suaminya itu? Tenang, Alena masih berpikir logis, dia tahu dengan semangat yang kuat dia pasti akan mampu membuat laki-laki itu menjadi sangat menyesal karena telah meninggalkan wanita yang memiliki daya juang besar ini. “Semangat! Aku harus bisa mengalahkan wanita jalang itu.” Ucapnya sambil menusukkan garpu di telur dadarnya. Alena terus berbicara dengan dirinya sendiri, dia harus menyusun rencana, dia mesti mengatur siasat dan dia pasti bisa menjalankan misi dendamnya itu, membuat laki-laki jahat itu menyesali perbuatannya. Setelah puas mengoceh sendiri dan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja makan lalu mencuci bersih piring-piring kotor, menyapu dan mengepel semua tempat ini, dia akhirnya duduk didepan televisi, sambil menatap layar laptop miliknya, mengecek saldo dari internet banking sisa uang yang dia miliki. Untungnya, dia masih bisa berpikir bagus saat itu, dia memindahkan sebagian dana dari rekening yang sering dikirim oleh suaminya itu ke rekening yang hanya dia yang tahu. Uang ini jika digunakan memang bisa untuk berfoya-foya, tapi sepertinya dia harus memanfaatkan uang itu dengan semaksimal mungkin. Hal yang paling menyakitkan saat perceraian ini terjadi adalah, anggota keluarga itu membuatnya menjadi miskin mendadak! Semua akses fasilitas yang dia terima harus dia kembalikan, termasuk kartu kredit dan juga semua tabungan yang dia punya, dan dia juga tak mendapatkan sepeserpu harta gono-gini, jelas itu adalah syarat jika mau bercerai. Alena yang tak mau ambil pusing tentang materi ini, dia memenuhi semuanya, termasuk menyerahkan anaknya yang paling dia sayangi kepada keluarga Setaiwan! “Setiawan? Setia?” Alena tersenyum kecut jika ingat kelakuan keluarga itu padanya, memang benar, saat pertama kali menikah Alena bukan dari keluarga yang terpandang, hanya dari keluarga yang sangat biasa saja, Ayahnya hanya seorang buruh, dan ibunya tukang cuci, dia anak satu-satunya, dan saat Azza datang untuk melamar, Ibunya sangat bahagia, dan memaksa Alena untuk menerima lamaran tersebut, awalnya Alena sempat ragu karena saat itu dia mendapat tawaran untuk bekerja disalah satu perusahaan IT di Jepang, karena terkait dengan tugas akhirnya dan penelitian bersama dengan dosennya, Alena ini adalah anak yang pintar, dan lulus dengan predikat Cumlaude. Bahkan jika dia mau kampusnya memberikannya beasiswa untuk melanjutkan studinya di Amerika. Ibunya mengatakan padanya saat itu adalah, setinggi-tingginya pekerjaan wanita adalah mengurus rumah tangganya dengan sangat baik, akhirnya dia melepaskan semua impian itu dan menjadi seorang nyonya Azza! Jika dipikir lagi, dia menyesal, tapi untuk apa menyesal dengan keputusan yang dia sendiri membuatnya, toh selama ini dia juga mendapatkan hal yang membahagiakan dari Azza terlepas laki-laki itu ternyata bermain hal yang menjijikkan. “Ayoooo semangat dong Alena! Jangan biarkan laki-laki itu merusak hidupmu! Untung ketahuan masih umur tiga puluhan, coba kalau udah tua! Bisa-bisa gue gak bisa bekarnya mencari laki-laki baru lagi!” Dia menyemangati diri dengan kata-kata yang tiba-tiba keluar dari mulutnya saja. “Biarkan laki-laki gila itu bersama sahabat sendiri, dan biarkan sahabat itu memiliki rasa bersalah … ah, tapi dia bahkan tak memiliki rasa bersalah! Dia juga tak ada meminta maaf, malah dia mengatakan bilang kalau gue itu gak bisa service suami! Emang dia pikir istri itu tukang servis apa? Biar aja deh tuh orang kawin, biar tahu rasa tuh si Kinanti kalo keluarganya itu selalu membela anaknya!” lagi-lagi Alena berkata dengan begitu saja. “Semangat Alena, perjuangan masih panjang, anggap saat ini kita sedang bermain di jurang, nanti setelah puas main kita pergi kepermukaan dan tunjukkan pada laki-laki b******k itu kalau Alena yang sekarang bukanlah Alena yang dulu.” Dia memberikan semangat pada dirinya sendiri. “Alena! Lo ngapain?” terdengar suara Maya, dan Alena baru sadar, ruangan ini ada cctv yang merekam semua yang dia lakukan, mungkin saat ini si Maya sedang iseng dan mendengarkan semua celotehannya. Alena langsung berjalan mendekati cctv yang terpasang di sudut ruangan ini. “Eh, lo gak ada kerjaan?” Tanyanya dengan suara yang terdengar sangat penuh suka cita. “Gue seneng liatin lo sekarang udah penuh semangat buat bales dendem. Kalo gitu sekarang apa rencana lo itu?” “Gue … Gue pertama-tama harus cari kerja dulu, tapi lo tau sendiri gue bingung mau cari kerja apaan. Mau melamar jadi sekretaris bos, gue gak punya body model Kinanti, terus juga gue udah pernah kawin dan pastinya lagi, gue ini tak memiliki pengalaman kerja apapun, walaupun ijazah gue itu lulus dengan hasil yang oke punya, tapi masalahnya perkembangan dunia IT saat ini pesat banget, jelas gue bakalan tertinggal jauh, apalagi gue tamat kuliah udah lamaaaaa banget.” cerocos Alena dan membuat Maya sebenarnya lega, karena melihat apa yang dilakukan Alena saat ini, artinya dia sedang dalam masa penyembuhan lukanya. Prosesnya lumayan cepat. “Kalo gitu, kenapa lo gak coba jalan sama cowok yang di resto itu aja?” Maya berkata asal. “Dasar gila! Gue lagi alergi sama cowok, lagian dia itu anak kecil, ngapain juga gue main-main sama tuh anak. Udah mendingan lo lanjut kerja aja.” “Okay! Gue kebeneran lagi didalam ruangan sendiri ini, makanya iseng liat lo lagi ngapain.” Maya terkekeh. “Dasar menyebalkan!” Gumam Alena. Alena lalu kembali sibuk dengan laptopnya saat ini, dia melihat apakah ada satu saja perusahaan yang kembali memanggilnya untuk melakukan wawancara. Sejujurnya pekerjaan itu banyak, tapi tak ada yang cocok menurut Alena, apalagi pekerjaan untuk menjadi marketing, tapi Alena merasa tak mampu untuk bicara manis pada orang lain dan … dia sebenarnya sedikit kaku kalau bertemu dengan orang baru. Sudah kesepuluh kali dia merefresh emailnya mengecek apakah ada email masuk terkait dengan pemanggilan kerjanya, dan untuk kesebelas kalinya email yang ditunggu masuk juga, kali ini bukan spam lagi, tapi benar-benar panggilan wawancara kerja. Salah satu perusahaan platform belanja online yang sedang digandrungi orang-orang saat ini. “Wow! Luar biasa!” Dia tak percaya kalau dia mendapatkan kesempatan itu. Hal yang aneh dari panggilan kerja kali ini adalah, email yang masuk baru saja, dan panggilan kerjanya batas pukul tiga sore! Hanya dengan lima jam saja! Tanpa banyak berpikir dia mencari-cari pakaian untuk dia datang wawancara awal. Dia mengingat lamarannya adalah untuk posisi team development! Apapun yang terjadi dia masih bisa belajar, bukankah dulu dia juga dianugerahi otak yang nyaris sempurna? Artinya kalau dia saat ini benar-benar diterima dia harus bekerja keras! *** Desas-desus dari pewawancara ini adalah sang pemilik langsung! Dia dikenal dengan orang yang sangat tampil sempurna dan sering membuat orang lain menjadi sangat sakit hati. Saat ini wawancara masuk dengan tiga orang, sudah beberapa kali orang yang keluar dengan mengumpat dan berkata kasar, bahkan ada yang mengatakan kalau pewawancaranya tak memiliki etika sama sekali dan merendahkan orang lain. Alena sebenarnya merasa gugup karena orang-orang ini membuatnya merasa tak layak, tapi dia berusaha untuk terus percaya diri, sampai akhirnya dia dipanggil ke dalam ruangan itu. Dia berkali-kali menarik nafas panjang saatmemasuki ruangan itu. Baru saja dia masuk kedalam ruangan itu, berkas yang mungkin itu adalah lamaran dari Alena di lempar ke arahnya. Alena dan dua orang lainnya terkejut melihat itu, serta tiga pewawanara yang ada diruangan itu juga sangat terkejut melihat laki-laki itu melemparkan berkas itu ke lantai.. “Kau berbohong di lamaranmu itu.” Ucap laki-laki itu dengan suara yang terdengar sangat tegas dan dia tak asing dengan suara itu, Alena mengambil kertas yang tercecer dibawah, dia sangat ingin marah tapi dia sangat terkejut saat ini. “Kau?” Hanya suara itu yang keluar dari mulut Alena. “Aku tidak tahu apakah kertas itu yang berbohong atau ceritamu yang berbohong! Tentukan sekarang maka kau akan kuterima dibagian staf pengembang!” Yah! Dia Reyno, laki-laki yang semalam melamarnya! Aneh memang, tapi ini terkesan seperti random takdir yang benar-benar sangat lucu! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN