Dimas tak bisa lagi mengendalikan dirinya, ia terus menyerang Ida meminta lebih. Hasratnya benar-benar sudah tak terbendung lagi. Ia telah lupa diri. Ia menutup pintu kamar bayi mereka dan membawa istrinya ke sofa. Ida berusaha menghentikan aksi Dimas yang membuatnya takut. Ini pengalaman pertamanya terlibat kontak fisik dengan suaminya. "Aw..." Ida memalingkan wajahnya, melepaskan pagutan suaminya, tangannya langsung memegangi perut buncitnya yang mendadak sakit. "Maaf, Bang. Saya tak bisa." Ida melepaskan diri dari kungkungan suaminya. Tidak, ia tak ingin berbuat lebih jauh dengan Dimas. Itu tak boleh terjadi. Ia tak ingin mengkhianati Miko. Lagipula ia tahu Dimas melakukannya bukan karena cinta. Itu hanya sekedar nafsunya saja. Ida masih bisa menguasai dirinya agar tak terjerumus b

