Sukerti mendekat ke arah Ida lalu memeluknya erat. Berbulan lamanya ia tak bertemu dengan Ida. Keponakan suaminya itu telah banyak berubah,semakin cantik dan modis. Meskipun demikian ia tetap ramah. "Ida, maafkan Bibi. Selama ini bibi selalu membuatmu repot," ucapnya penuh penyesalan dan rasa bersalah. Gara-gara ulah suaminya Ida pergi meninggalkan mereka. Tanpa kehadiran Ida mereka sendiri yang mengalami rugi besar. "Sudahlah, Bi yang lalu biarlah berlalu. Bibi sama anak-anak apa kabar?" Ida tak mau mengungkit masalah mereka di masa silam. Biarkan itu menjadi kenangan pahit yang wajib dilupakan. "Ya beginilah." Sukerti tak kuasa menjawab. Kondisi mereka jauh dari kata baik. Ida paham maksud dari kalimat yang dilontarkan oleh bibinya itu. "Silahkan duduk!" Ia mempersilahkan tamu

