mulai terkuak kebenarannya

1537 Kata
Masih di ruang keluarga Mansion Ervan, Ervan masih mematung di sana, terdiam kayak orang bodoh. Tidak tahu bagaimana harus cara apa merespon. Sedangkan Cinthya masih posisi terduduk di lantai. Sambil menangis meraung-raung dan terus memaki putranya. Darren yang berniat diam dan hanya melihat dari belakang. Tak bisa Berdiam diri lagi. Apalagi ketika Melihat Cinthy, Wanita yang telah menjaga dan menyayangi-nya selama ini. Wanita yang telah menyelamatkan hidup- ya. Darren melangkah cepat dan memeluk tubuh Cinthya. " Tante, mari duduk di sofa dulu. Tenangkan diri tante, nanti tante pingsan lagi." Bujuk Darren lembut berusaha membawa tubuh wanita itu duduk di sofa. " Tenang? Tenang kata-mu Darren? Coba katakan sama tante bagaimana tante tenang? Adamson dan Manda sedang terbaring koma. Dan putri satu - satunya milik mereka. Harus mati ditangan anak tante sendiri. Di mana harus tante taruh wajah tante, di mana? Adamson dan Manda, sudah melakukan banyak hal sama keluarga tante. Melindungi harta benda suami tante dan menjaga anak tidak tahu diri itu. Supaya kelak bisa berdiri kokoh. Hiks....hiks... tante malu Darren, tante malu." Cinthya menangis parah dan memeluk Darren. " Ervan!!" Panggil Darren agak keras untuk menyadarkan pria itu. Alhasil Ervan menoleh ke sumber suara. Dan melihat Darren di sofa dan memeluk serta menenangkan sang ibu. " Sebenarnya aku sangat kecewa sama kamu. Sebagai teman dan sahabat- mu sejak kecil. Aku tidak tahu jika kamu begitu mudah tertipu. Sehingga tidak bisa melihat siapa yang tulus padamu. Kamu ingin tahu kan apa yang terjadi kepada om Dave? Aku sudah menaruhnya semua di meja kerjamu. Di sana juga ada kejutan untukmu. Semoga kamu tidak menyesali keputusan kamu. Aku bawa tante pulang dulu, dia butuh istirahat." Ujar Darren, memapah Cinthya ke luar pintu. Darren melakukannya agar Cinthya tidak melihat anak bodohnya dulu. kalau tidak kondisi kesehatan wanita itu akan memburuk. Dan Darren tak mau hal itu sampai terjadi. Baginya Cinthya sudah seperti ibu kandung untuknya. Ervan menatap kepergian dua orang Tersebut. Ada sakit hati di dadanya ketika sang ibu menangis parah. Ervan tidak mau percaya begitu saja oleh perkataan ibunya. Sebab bisa saja itu hanya akal - akal Adamson. Lalu dia bergegas ke ruang kerjanya. Untuk melihat bukti apa yang dimaksud oleh Darren. Sesampainya di ruang kerja, Ervan langsung duduk. Serta memeriksa bukti yang Darren bilang. Di meja ada ponsel Julia dan berbagai berkas. Ervan mulai memeriksa satu persatu. Dimulai dari ponsel Julia. Saat menyalakan ponsel Julia, terpampang di layar foto pernikahannya. Dug...Dug.. Dada Ervan sakit lagi, saat ini dirinya sudah ingat. Bahwa dua hari yang lalu, dimalam gelap di hutan. Julia melompat ke jurang setelah mengatakan rasa kekecewaan terhadap dirinya. Juga mengembalikan cincin nikahnya. Belum juga Ervan memeriksa isi ponsel Julia. Bulir bening jatuh dari mata Ervan. " Mengapa hati- ku sedih begini? Bukankah ini yang kuinginkan selama ini? Kenapa hati-ku rasanya sakit memikirkan wanita itu? Tidak....tidak, aku tidak suka padanya. Dia hanyalah alat-ku saja, ya dia hanyalah alat-ku." Ujar Ervan berusaha menenangkan dirinya. Tak butuh waktu lama, Ervan berhasil menemukan. Sebuah file yang ditandai Julia. Dengan nama berkas bukti kejahatan Robert. Ervan mengklik file tersebut dan melihat beberapa rekaman suara dan video. " Kakak kecewa padamu Robert, mengapa kamu tega melakukan ini sama kakak? Apa kesalahan yang kakak perbuat padamu. Sehingga kamu begitu tega menggenapkan dana perusahaan sebanyak ini? " " Kakak kecewa sekali, kecewa Robert. Sekarang kamu pilih menyerahkan surat pengunduran diri dan pergi dari perusahaan ini. Atau kakak pecat kamu dan mengusir kamu secara tidak hormat." " Apa kak, kakak memecatku? Kakak memang tidak adil, kakak jahat. Robert begini juga karena ulah kakak sendiri. Kenapa kakak mengangkat orang luar itu dengan jabatan tinggi. Sedangkan aku kakak tempatkan di sini." " Kamu sakit Robert kamu sudah gila. Memangnya kamu punya kualifikasi apa menduduki jabatan itu? Kakak tidak pernah menerapkan nepotisme di dalam perusahaan ini. Orang yang punya skill tinggi, tentu saja diberi posisi tinggi. Dan begitu pula sebaliknya, itu yang kamu bilang tidak adil? kalau kamu memang merasa punya hak untuk itu. Maka buktikan dengan kemampuan kamu. Layak atau tidak kamu jika ingin duduk di posisi tersebut. Tidak dengan cara mencuri seperti ini. Kakak malu sama kamu, malu sekali. Andai saja kamu bukan adikku satu - satunya. Sudah kakak jebloskan kamu ke dalam sel penjara." " Kakak akan menyesal telah melakukan hal ini padaku." Ervan menonton rekaman video yang diambil dari cctv di ruang CEO. Dilihat dari waktunya, video tersebut terjadi sudah lama. Mungkin kala itu dirinya masih balita. Ervan sebenarnya bukan pria yang bodoh - bodoh banget. Sejak meninggalnya sang ayah, Ervan berusaha mencari semua bukti dan petunjuk. Untuk mengungkap rahasia kematian sang ayah. Tidak terlewat satu pun, Bahkan rekaman cctv-nya di kantor juga. Tapi dirinya tak pernah menemukan yang rekaman ini. Darimana dan bagaimana bisa Julia memiliki ini? Dari rekaman cctv tersebut, Ervan bisa menangkap. Raut wajah marah dan kebencian dari pamannya. Wajahnya bagaikan diselimuti aura jahat. Ervan yang melihat pun tak menyangka jika pamannya pernah berseteru dengan ayahnya. Dan masalah yang dibahas juga tidak main- main. " Ferdy, Coba kamu bawa detektif paling ahli milik kita. Dan selidiki ulang apa yang dilakukan Adamson berserta Manda. Sebelum dan sesudah Kematian ayahku. Aku mau hasilnya sudah jadi dua kali dua puluh empat jam. Jika tidak, kamu tahu sendiri akibatnya." Titah Ervan tegas tak mau dibantah. Lalu memutus sambungan telepon secara sepihak. Bahkan sosok pria di seberang sana belum menjawab. Melihat rekaman video tersebut, membuat Ervan. Dibayang - bayangi curiga kepada pamannya. Sikap pamannya saat datang menemui dirinya. Dan yang ada di dalam rekaman tersebut sangatlah berbeda. Ervan tanpa sadar ingat lagi kata - kata Adamson, ayah mertuanya. Bahwa dia akan menyesali perbuatan- nya. Itu membuat Ervan merasakan sesuatu yang salah dihatinya. Ervan mencoba menahan perasaan aneh itu. Masih banyak bukti yang harus diperiksanya. Ervan lalu memutar sebuah rekaman suara. " Ingat kalian semua, buat kecelakaan kakakku. Seakan - akan direncanakan oleh Adamson. Buat bukti palsu seakan-akan, Dave kecelakaan karena persaingan bisnis. Dan pelakunya adalah Adamson, paham!" " Baik tuan, sesuai dengan perintah anda." " Bagus...bagus! Hahahaha.... rasakan pembalasan - ku , kakakku yang baik. Inilah balasanku untuk - mu karena sudah menendang -ku. Kamu tenang saja, setelah ini. Anak dan istrimu juga akan menyusul kamu ke alam baka, hahahaha " brak... " Kurang ajar, beraninya kamu. Arghh ...kamu sungguh penipu paman, kamu penipu- ku, b******k!" Ervan marah dan sangat kecewa. Mengapa dirinya begitu bodoh, mengapa? Dengan mudahnya menelan bangkai yang disuguhkan oleh pamannya. Masih penasaran dengan berkas di atas mejanya. Ervan membukanya satu persatu. Setelah lama membaca berkas tersebut. Ternyata di dalamnya banyak bukti kejahatan Robert. Bukti tentang penggelapan dana perusahaan milik ayahnya dan berapa jumlah total uang yang berhasil digelapkan. Jumlah banyak sekali, bahkan jika pamannya ingin membangun usaha sendiri pun bisa. Dan mungkin masih ada sisanya serta masih cukup untuk biaya hidup, selama beberapa tahun. " Brengsek....pantas saja manusia ini di depak ayahku. Dia memang pria tak tahu diri. Bisa - bisanya masih berniat mencelakai ayahku. Padahal ayahku sudah berbaik hati dan mengubahkan dana itu. Benar - benar tidak bisa diampuni." Ervan mengepwlkan tangannya, mukanya memerah Semerah tomat karena marah. Ervan belum pernah menemukan orang semenjijjkan ini dalam hidup. Selama 28 tahun lamanya dia hidup di dunia. Pamannya adalah manusia paling menjijikan baginya. Entah bagaimana caranya pria itu bisa berhasil mencuci otaknya. Hingga termakan hasutan dan tipu dayanya. Meminjam tangannya untuk menghancurkan keluarga yang sebenarnya tidak bersalah. " Arrrgg.....kamu sinting Ervan, kamu gila. Kamu kemanakan otakmu yang kau bilang encer itu hah? Bahkan kamu bisa dikelabui bertahun - tahun oleh b******n itu. Kamu malah memuja - muji pembunuh ayahmu sendiri. " Teriak Ervan meraung di dalam ruang kerjanya. " Bagaimana ini, apa....apa yang harus kulakukan. Aku sudah mencelakai mereka. Dan membuat wanita itu putus asa padaku." Air mata Ervan semakin deras mengalir. Berkali - kali dia memukul dadanya yang terasa sesak. Energinya pun melemah, sebab sudah dua hari tidak makan. " Tidak..... tidak, aku harus mencarinya. Dia tidak boleh mati, Julia belum boleh mati.". Ujar Ervan, segera melakukan panggilan telpon. Entah siapa yang hendak dihubungi pria itu. " Bagaimana pencariannya, apakah kalian sudah menemukan Julia?" Tanya Ervan yang ternyata menghubungi tim yang ditugaskan Darren untuk mencari Julia. " ...." " Hah?? Bagaimana bisa kamu mengatakan sampah seperti itu? Kamu menyebut dirimu ahli dan mendapat bayaran mahal dariku. Dan sekarang kamu bilang tidak bisa menemukan istriku? Dasar tidak berguna!" Umpat Ervan marah dan segera menutup panggilan telponnya. Dan apa tadi katanya, istriku? Sejak kapan Ervan menganggap Julia sebagai isterinya? Tubuh kekar Ervan melemah seakan-akan tak bertulang. Mendengar kabar babwa Julia belum di temukan. Dadanya makin sesak dan sulit bahkan untuk bernapas. Sesuatu yang entah apa, serasa pergi menghilang dari dirinya. Terasa kosong dan hampa. " Apa benar aku hanya menganggapnya alat? Apa benar selama ini aku hanya membencinya? Lantas kenapa hatiku sakit begini? Mengapa tubuhku seakan kehilangan tenaganya? Mengapa? Dan kenapa juga aku mengasihinya? Kenapa aku bisa menangis untuk wanita itu" Tanya Ervan entah ditujukan kepada siapa. Ervan menundukkan kepalanya menyentuh meja. Tak ada suara ocehannya lagi. Hingga... " Memangnya untuk apa kamu menanyakannya sekarang? Semuanya sudah berakhir Ervan, dan kamu adalah penyebabnya. Jadi tak ada gunanya kamu bertanya itu sekarang. Sebab orangnya entah di mana. Entah hidup atau mati tidak ada yang tahu. " Ujar Darren menjawab pertanyaan Ervan. Ketika baru sampai di pintu ruang kerja Ervan dan mendengar teriakan temannya. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN