" Tidak ..... Julia tidak mungkin mati. Kalian jangan sembarangan kalau bicara. Sebelum jasat Julia ditemukan, jangan ada satupun dari kalian. Yang berani mengasumsikan bahwa Julia telah mati. Kalau tidak, jangan salahkan aku bertindak tegas pada kalian, mengerti!"
" Ervan, hei, tenangkan dirimu! Jangan sampai kamu membunuhnya."
" Biarkan saja, aku akan menutup mulut baunya. Beraninya dia mengatakan istriku sudah mati. Padahal jasatnya saja tidak ada. Bukankah dia hanya ingin membuatku emosi?"
" Diamm..... Kamu bisa tenang sedikit tidak? Dia hanya membuat dugaan saja, bukan menyumpahi. Lagian, dengan ketinggian seperti ini. Cukup mustahil jika seseorang bisa selamat, meskipun di bawah terdapat aliran sungai. Lihat aliran sungainya sangat deras. Dan keadaan Julia ketika melompat sudah tidak baik. Sudah pasti memungkinkan bisa hidup sangatlah sedikit. Apalagi kita sudah mencarinya selama seminggu full. "
*
*
*
Pencarian Julia telah terjadi selama seminggu lebih. Namun tak ada satupun dari tim Ervan. Membawa berita bagus untuknya. Cakupan pencaharian telah diperluas hingga jarak beberapa kilometer. Dari posisi terjatuhnya Julia. Ervan tak puas dan malah menambah jumlah personil. Dan bahkan meminta bantuan dari pihak lain. Menyisir arah arus sungai hingga bermuara ke laut.
Sebagian tim juga dipecah, diberi tugas untuk menyisir area hutan. Siapa tahu, ada kemungkinan Julia selamat. Dan melarikan ke dalam hutan.
Namun semuanya sia - sia saja. Begitu banyak orang mencari keberadaan Julia. Tapi, tak seorang pun yang tahu di mana perempuan itu berada.
" Julia.... kamu di mana, hum? Katakan padaku, beri aku petunjuk di mana aku bisa menemukan kamu? Hiks.... maafkan aku Lia, maafkan aku. Aku terlalu bodoh dan mudah dirasuki pria jahat itu. Sehingga tanpa kusadari telah menyakiti kamu." Ervan menangis, suaranya terdengar bergetar. Terisak saat melihat foto pernikahannya. Di dalam foto tersebut, Julia tampak sangat cantik. Dibalut dengan gaun pengantin berwarna putih. Senyumnya sungguh indah, menatap sosok prianya. Senyumannya sungguh terlihat cerah dan nampak bahagia sekali.
Apalagi tatapan matanya bersinar, " Apakah kamu tidak kembali lagi padaku, Lia. Tidakkah kamu sudi kembali padaku. Aku sangat ingin memelukmu serta meminta maaf padamu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,sayang.
Maafkan aku yang tenggelam dalam gelapnya dendam. Hingga mata hatiku tertutup rapat. Dan membuat kamu menderita. Selama kepergianmu, aku baru menyadari bahwa kamu telah ada dalam hatiku. Kamu telah berhasil menempatkan dirimu di dalam relung hatiku.
Jiwaku serasa hilang bersama kepergian - mu Julia. Seharusnya aku mengatakannya aku menyayangi kamu sedari awal. Hingga kamu terus ada di sisiku.
AKU CINTA PADAMU JULIA, AKU SUNGGUH MENCINTAIMU." Ujar Ervan, suaranya terdengar lirih dan penuh kesedihan.
Beberapa hari setelah pencarian Julia. Di saat itulah, secara perlahan - lahan. Ervan baru menyadari kesalahannya yang sangat fatal. Di saat hatinya terasa aneh saat hendak mengatakan kalimat setan itu. Ervan malah tidak menghiraukan sama sekali. Dan mengatakannya dengan lantang juga tegas.
" Kau hanyalah alat bagiku, tahu. Tidak lebih dan tidak kurang. Aku bahkan tidak pernah sekalipun punya perasaan padamu. Walau itu rasa iba, tidak pernah. Aku membencimu selayaknya aku benci ayah ibumu. Jsdi kalau pun kau mati sekarang. Aku Ervan, tidak akan keberatan sama sekali"
Ervan tiba - tiba teringat akan perkataannya di malam itu. Kata - kata yang akhirnya menimbulkan bencana baginya sendiri. Kata - kata kejam itu malah berbalik menyerangnya. Malah dirinya yang benaran jatuh cinta kepada Julia.
Ervan sempat skeptis dengan perasaanya. Pria itu menganggap bahwa dirinya hanya dilanda rasa bersalah saja. Dan keinginannya untuk meminta maaf belum tercapai. oleh sebab itulah, dirinya kerap kali memikirkan Julia.
Namun, semakin ke sini. Perasaan itu mulai aneh baginya. Sebab secara mendadak, dia akan terus terbayang wajah dan senyum Julia. Baik saat di ruang kantor, sedang makan atau sedang berbaring di tempat peraduannya.
Ervan merasakan seperti ada yang hilang dari dirinya. Terkadang ketika bangun tidur, Ervan akan seperti orang linglung. Mencari dan memangil Julia, hingga mengganggu para pelayan. Ketika tidak menemukan Julia di mana - mana. Ervan akan sedih dan menangis.
Ervan merindukan makanan buatan Julia. Rindu akan perempuan cantik yang sudah dua tahun ini. Memasangkan dasi serta menyiapkan sarapan untuknya.
Sadar ada yang salah dengan dirjya, terutama bagian otaknya. Ervan segera memeriksakan diri ke dokter psikiater. Untuk menemukan apa yang salah darinya.
Dan kala itu, jawaban sang dokter membuatnya linglung. Seakan tidak percaya dengan diagnosis sang dokter. Di mana dokter mengatakan bahwa dirinya. Telah mengalami yang namanya gejala kasmaran.
Ervan yang tidak percaya akan hasil tersebut. Malah menyalahkan dokter seorang dokter abal - abal. Dan meninggalkan ruangan dokter itu dengan marah. Lalu berkunjung ke tempat dokter psikiater lain. Tapi hasilnya tetap sama semua.
Ervan yang sangat yakin dan lantang saat mengatakan. Kalau sampai kapanpun, dirinya tak akan jatuh cinta kepada Julia. Malah harus menjilat ludahnya sendiri.
Sementara Adamson dan Manda, ayah dan ibu mertuanya itu. Telah siuman dan membaik. Karena sudah tahu akan kebenarannya. Ervan mengembalikan semua aset yang dia ambil kepada Adamson. Ervan yang kala itu ditemani oleh sang mama. Juga ada Amelia, adik Ervan. berlutut meminta maaf kepada Adamson dan Manda.
Bahkan Amelia, gadis remaja yang sangat menyukai Julia. Meminta maaf kepada Adamson dan bahkan rela menggantikan nyawa Julia. Yang telah hilang disebabkan oleh kakaknya.
Namun Adamson tidak melakukannya, karena Amelia tidak bersalah. Dan jika putrinya tahu juga tidak akan melarangnya. Meski Adamson dan Manda sangat sedih dan hancur. Karena ditinggal oleh putri satu - satunya.
Juga sangat membenci Ervan, karena bagaimana pun juga. Secara tak langsung mantu durhakanya itu yang telah menyebabkan semua ini. Tapi mau dikata apa, Julia sendiri yang berniat melompat ke jurang.
" Jujur saja, aku tak tahu harus bagaimana berurusan denganmu pria sialan. Menyesal aku menikahkan putriku padamu.
kamu sudah banyak menorehkan luka padanya. Hingga putus asa dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Meski kamu memang tak membunuhnya secara langsung. Tapi Kamu yang sudah mendorong Julia sampai ke titik itu.
Malang sekali nasib Julia, dia perempuan yang baik hati. Malah sering diperlakukan jahat oleh dunia ini."
" Aku tidak akan membunuhmu Ervan. Karena bagaimana pun, hanya karena melihat air muka ibumu. Juga sahabatku almarhum Dave Johson. Tapi hanya kali ini saja.
Mulai sekarang dan sampai selamanya. Aku Adamson Lopez, tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Johson. Baik sebagai teman ayahmu ataupun sebagai ayah mertuamu. Aku tidak sudi menerima kamu sebagai menantuku.
Sekarang pergi dan bawa serta ibu dan adikmu. Aku tidak mau bertemu dan berurusan dengan kalian lagi. sudah cukup usahaku beberapa tahun ini. Sudah cukup, di masa depan. Jangan sapa aku ayah mertuamu dan jangan ganggu aku. Kalau tidak, meskipun Dave membenciku di alam baka sana. Aku akan tetap membuat perhitungan denganmu.
Mulai hari ini, tidak ada yang namanya Adamson, teman ayahmu. Hanya ada Adamson, pria tua yang membencimu, pergi"!!
*
*
*
Mulai dari hari itu, putus lah hubungan baik. Yang telah terjalin selama bertahun - tahun. Cinthya yang pingsan saat Adamson berniat. Memutuskan hubungan dengan kelurganya. Memutuskan persahabatan yang dulu terjalin baik.
Tak menunggu waktu lama, Adamson membawa manda. Pergi jauh dari negara yang sudah membuatnya sakit hati.
" Maafkan aku Dave, sepertinya aku harus mengingkari janjiku padamu. Aku tidak akan melanjutkan keterikatan diantara kedua keluarga kita. Aku sudah sangat kecewa pada putramu. Tak kusangka, dia malah menorehkan luka dalam padaku. Orang yang dulu banyak membantunya. Serta menganggapnya sebagai putraku sendiri. Semoga kamu tidak marah dan menyalahkan aku di alam sana. Dan mungkin ini terakhir kalinya aku berkunjung ke makam -mu. Aku dan Manda akan pergi jauh. sekali lagi maafkan aku."
Adamson dan Manda pergi dari makam Dave. setelah selesai menaburkan bunga dan air. Di atas pusara makam sahabatnya.
" Mari pa, kita akan pergi sebentar lagi. Di sini tidak ada lagi yang tersisa untuk kita. Julia sudah tidak ada." Ujar Manda menangis terisak di d**a Adamson. Kedua pasangan paruh baya itu saling menguatkan satu sama lain.
*
*
*
Kediaman Ervan.....
Prok...prokk..prokk...
Terdengar suara tepuk tangan nyaring. Dan suara itu berasal dari Amelia. Gadis remaja itu menatap nyalang ke arah kakaknya. Emosi dan ingin sekali menenggelamkan sang kakak.
" Puas....kakak sudah puas bukan? Kakak sudah berhasil menghancurkan keluarga kita, kan? Lihat mama kak, gara - gara kebodohan kakak. Mama jatuh sakit lagi dan masih tak sadarkan diri sampai sekarang.
Hiks.....entah apa salah dan dosaku sehingga punya seorang kakak seperti kamu. Kamu seperti iblis kak, kamu bukan manusia. Kamu menghajar serta menembak om Adamson dan tante Manda. Bahkan menjadi penyebab kakak ipar bunuh diri." Amelia marah besar hingga wajahnya memerah. Beberapa kali dia ingin ditenangkan oleh Darren. Akan tetapi dengan cepat ditepis oleh Amelia.
" Padahal kakak ipar sangat cantik dan baik hati. Pintar mengurus rumah juga seorang dengan IQ tinggi. Entah apa yang kurang dari kakak ipar untuk kakak. Sehingga kakak begitu tega padanya.
Kakak juga memberikan obat keras setelah selesai menyentuh kakak ipar. Dan hal tersebut malah membuat janin yang dikandung kakak ipar gugur. Di mana hati kakak? Anak sendiri saja tidak lepas dari balas dendam- mu . Yang sebenarnya salah sasaran itu.
Menyesal aku mengagumi kamu kak. Aku malah malu memiliki kakak seperti kamu, Ervan. Entah di mana kakak ipar sekarang. Bahkan tubuhnya sampai saat ini belum di temukan. Hiks... betapa berdosa nya kamu kak. Kamu sudah membuat orang yang tulus padamu, menyerah akan hidupnya.
Arrgggh..... Lihatlah! Om Adamson bahkan melepaskan kamu. Setelah apa yang kamu lakukan kepada mereka. Masihkah kamu berani bilang, kalau mereka itu jahat.
Hari ini keluarga ini benar- benar hancur. Dan itu semua karena ulahmu kak, Amel benci kamu kak Ervan. Kamu jahat dan tidak punya hati." Bentak Amelia ke arah Ervan yang tengah berlutut di lantai ruang tamu.
" Aku ngak mau tahu, segera temukan kakak ipar. Baik masih hidup atau sudah jadi mayat. Selama kakak ipar belum ketemu, kamu jangan harap dapat maaf dariku." Selepas mengatakan-nya, Amelia segera berlari ke dalam kamarnya.
*
*
*