Sayap Kegelapan Yang Tersesat

1863 Kata
Jlap! “Haaaaaargh!” Wildan yang tengah berlari kencang, meraung kesakitan dikala satu dari belasan timah panas yang melesat, menerjang – bersarang di paha belakang. Kain celana abu-abu pemuda berambut lebat itu pun lembap akibat darah segar yang mengalir. “Huuugh!” Melihat adanya sebuah halaman rumah megah ditumbuhi rumput-rumput yang panjang nyaris setinggi ilalang, membuatnya berlari pincang ke sana tanpa menoleh ke belakang. ‘Aku harus menghentikan waktu!’ pikirnya seraya bergerak dengan mata terpejam. ‘Percuma, Wildan! Senapan yang mereka gunakan memiliki daya khusus agar siapapun manusia yang tertembak, tak akan bisa menggunakan kekuatan supranatural dalam jangka waktu tertentu, sama seperti dulu!’ Wildan yang memang melihat tak ada perbedaan dari situasi di sekitar setelah beberapa kali mencoba memperlambat waktu, memilih bergerak maju guna bersembunyi dari kejaran para bule bertuksedo hitam. ‘Agggh! Apes!’ Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Orang-orang berwajah eropa dengan busana tuksedo hitam, berlari mengejar masih dengan alat penembak laras pendek di tangan. Sementara salah satu pria berkaca mata hitam dengan rambut pirang, mendongak – menatap baik-baik rumah usang berukuran besar yang telah banyak ditumbuhi merang. ‘Wildan! Pakai pusaka ini sekarang juga! Kau mengalammi pendarahan!’ suara khodam tanpa rupa menggema di kepala. Wildan si pemuda berjaket biru mulai merangkak cepat, menuju jendela rumah yang tak lagi dihiasi kaca. Ia melompat – memijakkan kaki kanan kuat-kuat, tanpa sadar sebuah peluru yang diluncurkan para pengejar melesat dan mengenai tonjolan dari ponsel yang ia saku. *** (Ruang Pameran Seni, SMA Pekalongan.) Pak Ircham tersenyum palsu pada beberapa orang tamu yang mulai berdatangan. Kepalanya beberapa kali menoleh pada pintu yang menganga – berharap Wildan datang dengan pusaka legendaris warisan keluarganya. ‘Kenapa lama sekali, ya? Apa jalanan macet? Sudah lebih hampir dua jam, tapi dia masih belum datang juga.’ Sesosok gadis berkerudung dengan seragam OSIS SMA, datang bersama Yahya dan Rifza. Mereka berjalan sungkan – mendekati sang Kepala Sekolah yang tengah berbincang melayani tamu-tamu acara. “Apa benar Wildan bantu-bantu Pak Ircham? Tapi kok belum kelihatan juga? Apa jangan-jangan dia jadi sakit gara-gara kejutan kita semalam?” bisik Diana pada pemuda berkulit gelap. “Tadi sih dia bikin status katanya lagi berangkat ke rumah Pak Ircham,” sahut Yahya. Bibirnya merekah saat Pak Ircham berjalan menghampiri. Setelah berdiri di depan tiga remaja berseragam putih abu-abu, laki-laki paruh baya dengan seragam guru bertanya agak ragu, “apa Wildan masih belum kelihatan juga?” Yahya dan Rifza menggeleng serentak. Diana balik bertanya guna memastikan, “belum Pak. Kami kira malah dia ndak masuk sekolah sama sekali. Nomor dia juga tidak aktif, apa Wildan pergi ambil barang-barangnya agak jauh, Pak?” “Tidak,” jawabnya menggeleng. “Harusnya dia sudah sam-” Ponsel di saku Pak Ircham berdering. “Sebentar,” ucapnya sebelum menekan tombol terima panggilan. “Halo, Alif, di mana? Dari tadi saya telpon kok ndak ada yang angkat?” Suara berat ala bapak-bapak menyahut, “selamat pagi, benar dengan Bapak Kepala Sekolah SMA Pekalongan?” “B-benar, dengan siapa saya bicara?” tanyanya ballik sembari menekan tombol loudspeaker. “Murid Bapak yang bernama Muhammad Nur Alif, sedang beristirahat di Kantor Polisi karena penyerangan oleh orang tak dikenal. Kemudian motor matic hitam yang sempat anak ini bawa, ditemukan tertabrak oleh sebuah truk di persimpangan jalan raya.” Wajah Yahya, Diana, dan Rifza seketika tercengang. Mata dan mulut mereka lebar terbuka. Pak Ircham yang mendengar hal itu, mencoba bersikap tenang. “Kantor Polisi yang mana, Pak? Kami dari pihak sekolah segera ke sana.” *** (Sebuah rumah kosong, Komplek Perumahan Pekalongan.) Wildan merobek jaket biru yang ia kenakan sebagai perban guna membalut luka akibat timah panas di paha. Tubuh atletis pemuda berusia delapan belas tahun tersebut, bersandar pada dinding usang dari sebuah kamar. “Ugh! Ya Alloh! Nyerinya gak ketulungan!” ‘Wildan, kenapa kau tak mau menggunakan sarung tangan ini? Padahal kalau kau menggunakan benda ini, pendarahan di badanmu akan berhenti.’ “Benda ini bukan milikku.” Wildan tersenyum setengah. “Kalau Kakek tahu aku menggunakan sesuatu yang bukan hakku, bisa-bisa aku digoreng!” ‘Wildan, mohon dengar aku baik-baik.’ Menghela napas panjang, Wildan memandang sarung tangan putih hitam yang ada pada pangkuan. “Apa?” ‘Aku adalah makhluk yang ditugaskan dan diperintahkan oleh Baginda Raja untuk berdiam di Pusaka tempaan Mpu Supo ini. Aku diminta tetap menjaga pusaka ini, sampai kelak aku bertemu dengan reinkarnasi lelaki yang pada zaman kerajaan dahulu, menebarkan kebaikan di Tanah Jawa. Percaya atau tidak, orang yang aku tunggu itu adalah dirimu - Wildan Alfatih Sang Titisan Cahaya.’ Drap drap drap drap drap! Derap langkah kaki orang-orang terdengar menggema, naik ke lantai atas. “Get him! (Cari dia!)” “A-apa itu Titisan Cahaya? Kenapa kau dan orang bernama Mas Panca itu menyematkannya padaku?” ‘Gunakan pusaka ini, jika kau peduli pada nyawa orang-orang yang kau sayang. Aku mungkin terkurung di dalam pusaka ini, tapi aku juga bisa merasakan bila pusaka yang pernah ditancapkan Syekh Subakir sudah pernah dilepas. Hal itu adalah pertanda awal kehancuran seperti yang terjadi di masa lalu. Kalau kau benar-benar siap untuk menyelesaikan tanggung jawab yang dahulu belum tuntas, maka pakai pusaka ini segera! Jika pusaka ini digunakan oleh manusia selain dirimu, maka aku terpaksa jadi kacung mereka yang mengenakannya.’ Deg! Entah mengapa batin Wildan tergerak mendengar hal tersebut. ‘Apa yang sebenarnya makhluk ini katakana? Kenapa… Batinku seperti meyakininya?’ Braaakkk! Salah satu pria bule berambut cepak dengan kaca mata hitam di wajah, menyeringai puas melihat Wildan yang terpojok di ujung kamar. Ia mengarahkan alat penembak laras pendek di tangan pada pemuda berseragam SMA. “Guys! I found the little rat here! (Kawan-kawan! Aku menemukan si tikus kecil di sini!)” teriaknya memberi tahu orang-orang yang tengah mencari. “A poor little rat that cornered in the edge of the cliff! (Si tikus kecil malang yang terpojok di ujung jurang!)” Tap! Pria berambut pirang menepuk pundak lelaki cepak dari belakang. “Our Lord has not allowed us to kill this kid. Just take that stuff and we leave, (Yang mulia tidak mengizinkan kita membunuhnya sekarang. Ambil saja benda itu lalu kita pergi,)” ujarnya menatap jengkel Wildan seraya membuka kaca mata hitam. Mata lelaki pirang klimis tersebut beriris abu-abu, tak seperti mata manusia pada umumnya. Raut yang semula dipenuhi seringai puas, berganti kecewa seketika. Ia berjalan mendekati Wildan yang kelelahan dan kesakitan menahan luka di pojok ruangan. “Sigh! What a lucky little rat! (Sungguh tikus kecil yang beruntung!)” “Gimme that! (Berikan itu padaku!)” serunya sembari jongkok di depan pemuda bercelana abu-abu panjang. ‘Kalau aku melawan dan berhasil kabur pun, bisa-bisa mereka membahayakan nyawa teman-temanku seperti di film-film itu!’ Teringat pada wajah kawan-kawannya, Wildan memejamkan mata. “But promise me that you will never hurt my friends! (Berjanjilah kalau kalian tak akan melukai teman-temanku!)” ‘Wildan! Kau tak boleh menyerah pada takdir besar yang menanti di depanmu!’ Pemuda bule bermbut pirang tersenyum setengah. “Huh… Whatever! (Baiklah!)” Rekan-rekannya mulai berdatangan dari ambang pintu yang terbuka, mengamati Wildan yang mulai merelakan pusaka tersebut. Tep! Lelaki cepak berhidung mancung kembali merekahkan senyum. Ia memegang benda yang ada pada kedua tangan Wildan. “Just like taking candy from a babby! (Mudah sekali seperti merebut permen dari seorang bayi!)” Braaakk! Benda yang ia angkat, seketika jatuh ke lantai berdebu dengan begitu keras – membuat tangan kanannya terjepit dan remuk. “Haaaaagh! H-help! Argh!” Lelaki pirang berhidung mancung melangkah mendekat. “Wear that gloves, you brainless! (Pakai sarung tangannya, dasar bodoh!)” ujarnya bermaksud memasukan tangan kanan pada sebuah benda pusaka yang menindih jemari rekannya. Sreett! Bukan tangan sang pria bule yang masuk lebih dulu ke dalam lubang sarung tangan besi tersebut, melainkan tangan kanan Wildan yang menjajal Cakar Putih Pajajaran. Orang-orang bersenjatakan pistol laras pendek, melotot melihat kelakuan bocah SMA di sana. “What the…” Blaaag! “Haaaaah!” Wildan menghantamkan sarung tangan yang sudah ia kenakan pada dagu pria cepak berbusana tuksedo. Tubuh sang sasaran terlontar jauh hingga menabrak langit-langit kamar. ‘Kenapa? Apa! kenapa aku melakukan perlawanan!’ “You little-” Belum rombongan pria dengan senjata di tangan mulai menghujani tembakan, ledakan gaib besar dibarengi cahaya putih dari sarung tangan legendaris, membuat semua orang di sana terlontar keras – menabrak dinding, tak terkecuali Wildan. Blaaag! Alhasil, semua yang ada di dalam ruangan, terpejam tak sadarkan diri. *** Di atas hamparan awan putih nan luas membentang, angina bertembus begitu kencang. Wildan Alfatih, sang pemuda berusia delapan belas tahun tersebut berdiri tegap memijak awan berbalut kaos dan celana putih panjang. “Aku di mana? Tempat ini, tak berbeda dari mimpi yang semalam sebelum aku pingsan, ya?” gumamnya lirih. Suara tanpa rupa yang mirip sebagaimana suaranya sendiri, menggema di udara, “badanmu, rambutmu, tanganmu, kakimu, kulitmu, telingamu, matamu. Ginjalmu, ususmu, otakmu, jantungmu. Hatimu, nuranimu, jiwamu, ruhmu, dirimu. Lantas, siapakah atau di manakah mu yang dimaksud di sini?” Mendengar kata-kata yang membuatnya agak pusing, netra beriris coklat pemuda berambut lebat bergulir ke kanan dan kiri. ‘Jantungku, hatiku, nuraniku, diriku… Lalub siapa ku yang dimaksud?” “Adalah sesuatu yang diciptakan Sang Maha Pencipta. Sesuatu yang diharapkan dan harus diupayakan oleh segenap dirimu. Dirimu yang sejati, dirimu yang sebenarnya, adalah inti sari yang memiliki tugas berat demi kelangsungan hidup manusia. Khalifah, yang berarti pengganti.” “Lalu siapa, kau?” Wildan mulai celingukan mencari-cari sumber suara. “Aku yang menggerakan tanganmu, agar kau memakai pusaka yang sudah digariskan untukmu. Dan sebab itu, aku merasa tak lega. Apa seorang pendekar sepengecut dan sepecundang ini, sampai-sampai tak mau menerima tanggung jawab yang sudah digariskan-Nya?” Pemuda beralis lebat tertunduk lesu sekaligus malu. Wajahnya menghadap awan putih yang ia pijak. “A-aku…” “Manusia hanya singgah di dunia untuk waktu yang tak lama. Jika kau hanya ingin jadi manusia dengan kehidupan biasa, aku tak akan memaksa. Tapi jika kau ingin hidup dalam jalan takdir yang seharusnya sembari menyelesaikan tanggung jawab masa lalu, maka mantapkan hatimu. Dan bangunlah dengan jiwa seorang ksatria sejati!” *** (Lantai dua dari sebuah rumah tak berpenghuni, Beberapa jam kemudian.) “Hahh!” Wildan terbangun dari mimpi yang masih ia ingat jelas. Kegelapan ruangan membuat matanya kesulitan melihat. ‘Apa yang terjadi? Ah! A-aku pingsan setelah memakai benda…’ tatkala dirinya menoleh ke arah tangan kanan, taka da apapun di sana. “Heh? H-hilang! A-apa jangan-jangan mereka su-” gumaman pria beralis lebat terhenti – melihat orang-orang berbusana hitam masih tergeletak di hadapannya. ‘Mereka… Masih pingsan, atau mati?’ Kraaukkk! Kletak! Kraaatek! Suara tulang belulang yang diremuk, membuat kepalanya menoleh pada ambang pintu yang terbuka. Dalam kegelapan ruangan tersebut, ia samar melihat sosok kelelawar kecoklatan setinggi dua meter yang tengah lahap mencabik daging salah satu dari beberapa tubuh laki-laki bule. Merasa ditatap, makhluk bermata kuning menyala itu memandang balik Wildan. “Grrrr!” ‘Jadi, Wildan Alfatih Sang Titisan Cahaya. Apa kau sudah benar-benar menerima takdirmu?’ suara gaib tanpa rupa menggema di kepala. “M-makhluk apa itu…” Wildan berdiri dari duduknya, tak sadar bila luka timah panas di paha sama sekali tak terasa menyiksa. “Grrrr! Kau sudah bangun, Nak! Padahal aku ingin manusia dengan tekanan tenaga dalam tinggi sepertimub jadi menu terakhirku!” Sang siluman kelelawar tersebut menyingkirkan jasad pria bule yang tak lagi utuh. Ia melangkah dengan empat kaki, mendekati Wildan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN