Amanah Pertama dan Sebuah Perburuan

2822 Kata
(Beberapa menit setelah Laras masuk ke dunia gaib, Komplek Candi Arjuna, Dieng.) Muda-mudi berseragam SMA kalang kabut memikirkan nasib Laras yang hilang ditelan kegelapan ruang candi. Siswi-siswi di sana kebingungan, berteriak memanggil-manggil nama teman seangkatan mereka tersebut. Orang-orang dewasa berseragam guru yang turut kalut, tengah berbincang dengan lima orang satpam paruh baya berkumis. Afif si siswa jangkung berjaket hitam sudah menceritakan kronologis kejadian hilangnya Laras, meski beberapa guru justru berakhir skeptic – tak percaya. Kasak-kusuk wisatawan local dan interlokal tak henti terdengar di sana. Sebagian merekam momen langka yang baru kali ini terjadi. Tanpa mereka sadari, Wildan si pemuda berseragam SMA sedang berjalan menghampiri candi yang kini ramai – sudah dibatasi dengan garis polisi warna hitam kuning. Siswa beriris mata coklat berdiri tegap di belakang kerumunan manusia. ‘Sayf? Apa ini sebabnya kau memintaku masuk kemari? Ada apa ini?’ Sosok harimau transparan yang berdiam di sisi kanannya menyahut, “sesuatu telah menarik paksa manusia untuk masuk ke alam gaib lewat candi itu. Sepertinya, kemunculan si manusia itu memang dinantikan oleh apapun itu – yang membawanya secara paksa.” Wildan si pemuda beransel hitam melangkah melewati Afif yang tengah diinterogasi oleh satpam dan guru-guru. Ia teringat pesan sang kakek untuk menolong siapapun yang membutuhkan. ‘Sayf? Apa mungkin ini yang Kakek maksud?’ tanyanya setelah bertanya pada beberapa orang soal hilangnya siswi SMA Garut di dalam candi. Sayf menjjilat-jilat tapak kaki kanan depan sembari duduk. ‘Bisa jadi, Wildan.’ “Hish!” Wildan melirik tajam sang khodam. ‘Aku sedang bingung begini kau malah bertingkah seperti kucing!’ batinnya sebal. ‘Bingung? Jika dirimu di kehidupan lalu ada di kondisi seperti ini, kau biasanya akan berkata, tidak ada yang kebetulan sebab semua sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Menjauhkan manusia dari marabahaya yang sedang terjadi di depan mata, adalah hal yang utama.’ Deg! Wildan tersentak mendengar ungkapan sang harimau. ‘Aku yang dulu, seberani itu?’ ‘Kau yang dulu pernah nekat melawan lima kerajaan gaib demi menyelamatkan seorang perempuan. Dan itu kau lakukan tanpa bantuanku sedikitpun. Jika diukur, sesuatu yang membawa manusia ini, tak sebanding dengan pertarunganmu di kehidupan lalu,’ tanggapnya lagi. ‘Sayf?’ Mata coklat Wildan menyipit. Wajahnya menghadap lurus pada candi di depan. ‘Apa kita bisa pergi menyelamatkannya?’ ‘Tingkat spiritual dan kekuatanmu, tak bisa bertahan lama di dalam sana. Apa lagi orang yang dibawa masuk paksa ke alam gaib.” Sayf sang harimau bermata putih menyala, kembali berjalan maju ke depan. ‘Sebaiknya segera temukan dia, dan bawa dia kembali ke dunia manusia sebelum terlambat.’ “Lalu bagaimana caranya?” Wildan menghirup napas dalam-dalam. ‘Aku akan perlebar sisa gerbang gaib yang masih terbuka. Setelahnya, lari dan masuklah ke dalam bangunan itu. Setelahnya, jiwa dan ragamu akan pindah ke alam gaib bersamaku.’ Sayf mempercepat laju kaki, melompat masuk ke dalam candi. ‘Tapi ingat, di sana kau tak akan bisa menghentikan waktu seperti di dunia manusia karena berbeda alam!’ Swuuusss! Orang-orang yang berdiri di depan candi hilangnya Laras, merasakan terpaan angin nan kencang menerjang. Siswi bernama Nita yang sejak tadi menunduk sembari murung, terbelalak melihat kehadiran Sayf. Pasalnya, puluhan sosok jin aneka macam rupa di sekitarnya, seketika menyingkir saat sang harimau putih melompat masuk ke dalam candi. “S-siapa, itu?” Ia mulai menoleh lirih ke belakang, di mana Wildan tengah memandang lurus ke depan. ‘Apa harimau tadi, piaraan bocah itu?’ Afif berhenti bernapas sejenak. Ditolehkannya kepala ke arah Wildan berada. ‘Siapa? Apa aku kenal dia? Seragamnya bukan seragam sekolah kami? Apa ada wisatawan dari SMA lain juga?’ Pemuda berambut lebat menanggalkan ransel hitam, sejurus kemudian memejamkan kedua mata – mengatur keluar-masuk napas. Tatkala waktu melambat, pemuda berseragam OSIS tersebut melesat – melompati kerumunan orang-orang di depan candi. Akibat pijakannya saat waktu melambat, atau mungkin karena dirinya berada dalam kecepatan menyamai suara, tanah berlapis rumput yang dijadikan daya tolak kaki langsung remuk. Swuuuuus! Afif terbelalak melihat Wildan yang raib dalam sekejap mata. ‘A-apa itu barusan?’ terkanya terbelalak dengan badan gemetaran. * (Masa kini, Komplek Candi Arjuna, Dieng.) “Huungh!” Wildan meringis kesakitan sembari mendekap erat Laras. Tubuh mereka terlontar kuat dari dalam mulut candi. Garis pembatas polisi warna kuning di sana, terempas dan lepas setelah ditabrak Wildan. Ia terguling dan Larasati terguling di tanah berumput hijau beberapa kali dan berakhir terhenti dalam posisi Wildan di atas si gadis. “Aghhh… Ya Alloh!” gumamnya menahan sakit. Wisatawan lokal dan interlokal yang jadi saksi mata keajaiban tersebut, terdiam heran. Mulut serta mata mereka terbuka lebar – tak percaya pada apa yang baru saja dilihat dengan mata-kepala sendiri. Nita yang melihat Laras kembali, tersenyum lega nan haru sembari berlari mendekati sahabatnya yang sedang ditindih Wildan – tak sengaja. Sayf sang harimau transparan, melangkah menembus beberapa orang demi mendekati pemuda berseragam putih abu-abu. ‘Syukurlah kau bisa keluar, Wildan.’ “Sayf?” sebutnya memastikan, menghadapkan kepala pada harimau berbadan besar layaknya hologram tembus pandang. Nita jongkok di samping kanan Wildan sembari memandangi wajah pucat gadis berkulit sawo matang. “Ras! Laras! Laras! Kau tidak apa-apa! Laras!” ‘Apa kau menunggu gadis itu sadar kemudian menamparmu, Wildan?’ tanya Sayf lagi sembari menjilat sisa darah hitam para naga yang ada di sana. Gadis mancung bermata lebar, tercengang sekaligus histeris mendapati dirinya ditindih oleh seorang lelaki. Tanpa sadar tangannya mengayun – menampar Wildan hingga tersingkir darinya. “Kyaaaaa!” Plak! * (Rumah Penginapan Dieng.) Kedua lengan Wildan berpangku pada pinggiran pembatas balkon dari beton. Di sisi kiri tangannya terdapat sebuah pot bunga berisikan tanaman hias hijau nan subur. Mata coklat sang atlet Karate memandang bentangan langit malam bertabur kerlap-kerlip bintang dari lantai dua dirinya berada. ‘Naga, makhluk gaib, tenaga dalam, orang-orang bule, kehidupan masa lalu, pusaka keramat, dan harimau astral. Semua hal ini datang bertubi-tubi padaku.’ Sayf merebahkan badan kekarnya di dekat kaki kanan pemuda bercelana panjang. ‘Apa di dalam sana, kau berhasil menumbangkan mereka sehingga bisa keluar, Wildan?’ Pemuda beralis lebat menoleh kecil ke bawah di mana sang harimau transparan sibuk bersantai. ‘Ada orang tua yang menolongku. Dia yang membuatku dan gadis itu terlempar ke gerbang gaib.’ ‘Itu kenapa aku tidak mencoba kembali masuk ke sana. Karena dari sisi luar candi, aku sudah merasakan kehadiran orang itu,’ sahut sang harimau bermata mennyala seraya memejamkan netra. “Siapa orang itu? Apa kau mengenalnya?” tanya Wildan cepat. ‘Beliau adalah manusia yang ditugaskan menjaga daerah ini. Beliau kurang lebihnya sama seperti Raden Panca.’ Sayf membuka satu mata kiri. ‘Apa yang beliau sampaikan padamu saat di dalam sana?’ “Hmmm… Begitu ya.” Pemuda berseragam OSIS menunduk memandang kendaraan yang berlalu lalang di dekat penginapan. “Aku hanya ingat beberapa patah kata beliau. Soal belum waktuku untuk datang kesini, soal para wali, dan beliau sempat menyebutku sebagai Titisan Cahaya,” jawabnya. Sayf membuka kedua mata. ‘Apa hanya itu saja? Beliau sama sekali tidak memberimu petuah?’ Wildan lirih menggeleng. “Entah. Aku lupa.” ‘Kau di masa lalu selalu menasihati orang-orang untuk mengingat sesuatu menggunakan hati, bukan hanya akal.’ ‘Ingat pakai hati? Lah! Gimana caranya! Dasar macan sotoy ngawur!’ sahutnya lewat baitn sembari mencibirkan bibir. ‘Ingat pakai hati, ingat pakai hati, ingat pakai ha-’ ‘Teguhkan pendirianmu! Relakan semua yang sudah dan akan menimpamu! Utamakan kebahagiaan jiwa-jiwa selain jiwamu! Bersiaplah jadi ujung tombak para kekasih-Nya dalam perkara ini!’ Kata-kata sang lelaki sepuh misterius seketika terngiang jelas di hati. “Ahhh! Itu dia!” celetuknya seraya mengingat tiap detil kata, membuat Sayf turut mendengar meski ia tak mengucap. “Tapi apa artinya, Sayf?” Belum sang harimau putih menyahut, Laras membuka pintu balkon. Gadis berkerudung segi empat warna merah tersebut melangkah menghampiri Wildan setelah menyadari kehadiran Sayf yang berwujud layaknya hologram di sana. “Kak! Kau ini tidak bawa baju ganti, atau bagaimana?” tanyanya geleng-geleng. Ia menoleh pada Sayf yang tengah beristirahat. “A-anu, si maung! Apa kau tidak bilang kalau Kak Wildan itu bau sapi?” Wildan balik kanan. Ia mengangkat kedua lengan sembari mengendus-endus anggota badan berbalut seragam. “Hehehe…” Ia hanya meringis mendapati dirinya memang beraroma buruk. “Mandi sana! Bersihkan badanmu!” Laras menaruh jaket hitam serta kaos dan celana panjang di meja balkon. “Ini baju gantinya. Kak Wildan ditunggu Bu Evita di ruang bawah.” “B-Bu Evita? O-orang mana?” terkanya saat mengira guru yang Laras sebut, adalah guru yang juga mengajar mata pelajaran di sekolahnya. “Ya orang Garut atuh! Sudah, sana! Bau!” celetuknya berjalan memunggungi Wildan sembari menahan senyuman. “Ck! Bocah ini. Sudah diselamatkan malah begitu! Diana saja tidak per-” Siswa SMA kelas dua belas itu menghela napas berat ketika teringat pada gadis yang ia cinta. “Hmmm…” ‘Kau masih mau kembali dan menemuinya lagi, Wildan?’ Sayf bertanya dengan mata terpejam. Mengambil tas hitam berisikan handuk, Wildan meninggalkan Sayf sendirian di balkon lantai dua. ‘Tidak. Aku tak bisa. Tidak sebelum aku mengerti jelas tentang apa yang aku hadapi ini.’ * (Sebuah hotel megah, Ibu Kota Jakarta.) Laki-laki berambut panjang nan gimbal itu berdiri di tengah orang-orang berjubah merah – lengkap dengan tudung menutup kepala. Pria bernama Hudson, menyapukan pandang pada lautan manusia yang memenuhi ruangan selebar ruang rapat ballroom hotel. Mereka berpijak pada lantai berlapis kain merah semerah darah. Jumlah pria-wanita di dalam ruangan, berkisar ratusan. “Sekarang, kita sudah berada di ambang era baru! Kita, berada di masa penyambutan penghapusan umat manusia!” serunya lantang. Lampu-lampu yang jadi penerang ruangan, berkedip lima kali, sebelum akhirnya benar-benar padam. “Amos, Hanno, Richard, Gavra, Abraham, Felix, Kaniel, Kenaz, Elizabeth, bangkit dan jadilah pilar-pilar kejayaan dari Perintah Sang Kuasa!” pintanya sembari mengangkat – mengadahkan kedua tangan ke atas. Sembilan sosok berjubah merah terdekat dari Hudson, berdiri melingkar sebelum menunduk memberi hormat ala bangsawan. Sementara ratusan orang lain yang duduk menundukkan kepala, mulai bersuara merapal mantra. Suara mereka seperti sedang berbisik. “Dengan pedoman Sang Kuasa, kita akan tundukan negeri ini, demi bangkitnya kemanusiaan yang semestinya!” Blaarr! Tubuh lelaki berjubah merah dengan kerah serupa syal bulu rubah putih, tersulut api merah yang entah muncul dari mana. Mata lelaki berjenggot tipis itu berubah hitam legam, begitu pula dengan kerah yang semula putih berubah hitam pekat. “Sekarang, kita mulai penaklukan negeri ini!” * (Penginapan Dieng, Jawa Tengah.) Wildan Alfatih tampak gagah dengan balutan celana dan jaket hitam. Pemuda berusia delapan belas tahun itu duduk di ruang tamu –bersandar pada sofa empuk sembari memandang lelaki jangkung berjaket hitam bahan parasut yang mendekat. ‘Bocah ini, tadi yang diinterogasi polisi, kan?’ pikirnya memandang balik si pemuda yang melempar senyum. “Kau itu… Wildan Alfatih dari SMA Kota Pekalongan, kan! I-iya, kan?” tebaknya menyipitkan mata. ‘Eh? Dia tahu namaku?’ Wildan manggut-manggut ragu. “I-iya, benar. Siapa ya?” Afif si pemuda berkulit cerah mengambil posisi duduk berseberangan dengan Wildan. “B-benar, kan? Wildan Alfatih yang sering ikut kejuaraan Karate tingkat Nasional? Yang sering sabet medali perak dan emas!” Matanya lebar terbuka begitu pula dengan mulutnya yang tersenyum. Wildan mulai memperhatikan sebuah logo pada lengan kanan pemuda berambut ikal nan tipis. Terdapat sebuah logo perguruan Karate di sana. ‘Oh, dia anak bela diri juga?’ sudut garis bibirnya naik pelan. “Kau ikut Karate juga?” Afif mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri, “kenalkan! Aku Afif! Peserta kumite -75 kg yang kalah melawanmu di tiga pertandingan terakhir!” ‘Eh? Aku pernah melawannya, ya? K-kapan?’ pikirnya menjabat tangan si bocah sembari tersenyum. Sayf yang mendadak muncul di sisi kanan Wildan menyahut, ‘kau benar-benar tidak mengingatnya, karena dia terlalu lemah? Sungguh berbanding terbalik dengan dirimu di kehidupan lalu.” “Kemarin itu, kau kalah di final saat melawan Guntur Setyawan, ya? Aku dengar dia sama sekali belum pernah kalah setiap ikut kejuaraan Karate! Apa kalian sering sparing?” Wajah Afif ceria berseri-seri. “Ahh, i-iya benar. Aku kemarin kalah melawan Guntur,” jawabnya meringis. “Apa tempat latihan Kak Wildan dan si Guntur itu sama? Atau berdekatan? Boleh lah kapan-kapan aku latihan di tempat kalian!” “Ahh, sayangnya kami tidak akrab. Hanya saling kenal di pertandingan. Dia perwakilan Kabupaten, sementara saya perwakilan Kota,” ungkap Wildan. “Ohh, begitu ya…” Afif manggut-manggut – tak lagi tersenyum. “Oh, kemarin aku sempat dengar soal kebakaran dan bom suara yang terjadi di Pekalongan. Apa kau tahu bagaimana ceritanya, Mas?” Jantung Wildan seolah tersentak hebat mendengar pertanyaan siswa tersebut. Tampak gurat murung di wajahnya. ‘Benar. Hal itu… terdengar di penjuru negeri.’ Seorang wanita berjaket parasut tebal dengan logo SMA Garut, mendekati dua siswa yang tengah berbincang di ruang tamu penginapan. “Afif, boleh saya bicara dengan tamu kita sebentar?” pinta si guru berkerudung dengan wajah awet muda – tampak seperti maba. “Dengan Mas Wildan, ya?” Ia duduk setelah pemuda jangkung pamit meninggalkan ruangan. “Benar, Bu. Ada apa ya, Bu?” “Hal yang Mas Wildan ceritakan dengan Afif, sudah kami dengar. Meski kurang masuk akal, tapi saya percaya pada hal yang tak kasat mata.” “K-kalau begitu, apa saya boleh pergi, Bu?” Raut wajah sang guru berkerudung berubah memelas. “Sebenarnya, saya pribadi ada permintaan pada Mas Wildan,” ucapnya lesu. “Permintaan apa ya, Bu?” Timbul kerutan di kening pemuda berjaket hitam dengan garis pada lengan. “Laras, terkadang sering mengalami gangguan. Meski dia tidak bisa melihat mereka yang tak kasat mata, tapi dia sering mendadak mengalami sakit,” ungkapnya menghela napas. “Beberapa ahli supranatural, sudah mencoba menyembunhkan anak itu. Tapi, semuanya gagal.” ‘Laras? Kena gangguan? Tapi gangguan apa?’ Wildan melirik ke kanan dan kiri. Sayf menjilat-jilat telapak kaki depan bergantian. ‘Apa kau benar-benar tak melihat ada paku gaib di ubun-ubun gadis itu, Wildan?’ “Paku?” celetuk Wildan spontan. Wanita bernama Evita seketika terbelalak. “Benar! Iya, paku! Anu, ahli agama yang terakhir keluarganya temui, bilang kalau nanti di study tour kali ini, kami akan bertemu dengan pemuda dari Jawa Tengah, yang katanya bisa menyembuhkan Laras dan adiknya. Dan… Kami rasa, itu Mas Wildan,” ungkapnya ragu penuh harap. ‘Heee? Lah? Begitu? Aku?’ Wildan menghirup udara dalam-dalam menuju paru-paru. ‘Menyembuhkan orang kena santet?’ pikirnya ragu. “Memang kalau boleh tahu, adik Laras sakit apa, Bu?” “Sukma sudah beberapa minggu ini koma di rumah sakit. Para dokter juga tidak tahu tentang gejala pasti sakitnya. Suhu badannya panas ketika siang, dan dingin ketika malam. Tapi sama sekali tidak turun setelah disuntikan obat,” ungkapnya. ‘Cakar Putih Pajajaran yang kau miliki, mampu menarik benda gaib bersifat membahayakan dari dalam tubuh manusia.’ ‘Heh, Sayf! Aku saja tidak tahu bagaimana caranya!’ sanggah Wildan lewat batin. “Aduh, Bu… Tapi, adiknya itu di Garut, ya?” ‘Kau bisa menghantam siluman dengan pusaka itu, yang artinya kau pasti mampu menarik benda gaib berbahaya dari dalam tubuh manusia. Ingat, Wildan. Kakekmu memintamu untuk-’ Wildan memotong ucapan telepati sang khodam, ‘pergi ke arah Barat, tolong tuntaslah orang yang bakal kau temui. Ya aku tahu, tapi apa ini tidak apa-apa? Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau orang Jawa yang dimaksud bukan aku? Bukankah orang-orang yang lebih hebat dariku masih banyak?’ Mata beriris coklatnya melirik pada sang harimau transparan di sisi kanan. “Kalau Mas Wildan berkenan, besok ikutlah dengan kami, Mas. Kami dari pihak sekolah yang akan coba meminta izin pada keluarga Mas Wildan serta sekolah Mas Wildan,” tawar sang guru. Dalam kebimbangan tersebut, lirih batinnya mendengar suara – bukan dari sang harimau gaib, ‘Wildan Alfatih… Kau hanya memiliki dua pilihan! Berjuang demi orang-orang yang tak kau kenal, atau lari dari tanggung Jawabmu! Sekali-kali kau tak bisa lari dari garis takdir Sang Maha Kuasa!’ Deg! “I-itu…” Sekelebat ingatan mengenai mimpi yang pernah ia dapati, terpintas kembali. Sayf beranjak dari posisi rebahan, kemudian berdiri dengan empat kaki. ‘Sebagai pemberi saran, aku anjurkan kau menolongnya agar tuntas. Tapi semua keputusan, kembali pada dirimu, Wildan.’ Wildan mengembuskan napas berat. “Baik, Bu. Besok, saya ikut. Tapi mungkin hanya satu hari saja,” jawabnya. Wanita berjaket hitam parasut tersenyum lebar. “Alhamdulillah,” gumamnya lirih. “Terima kasih banyak, Mas!” ‘Kalau sudah, sebaiknya kita pergi dulu dari sini, Wildan. Orang-orang asing yang pagi tadi mengejarmu, sedang mencari keberadaanmu,’ ujar Sayf. “Orang-orang tadi?” Pemuda berjaket hitam bergumam – wajahnya panik sekaligus kebingungan. ‘Apa yang harus kita lakukan, Sayf? Aku tak mau menimbulkan keributan di sini!’ Sang guru yang melihat ekspresi tegang Wildan, bertanya, “kenapa, Mas Wildan?” “Bu, sekolahnya SMA Garut, kan?” tanyanya berdiri. Sang wanita berjaket hitam dengan dalaman seragam guru hanya manggut-manggut mengiyakan. ‘Ada apa lagi?’ “Saya akan cari Ibu di sekolah nanti. Untuk sekarang, saya buru-buru,” ucapnya menyusul sang harimau putih berwujud transparan. ‘Sayf, di mana mereka? Apa tidak masalah meninggalkan orang-orang ini? Aku khawatir kalau-kalau mereka malah mengganggu Laras dan yang lain karena mereka berkaitan dengan kita!’ Sayf berhenti tepat di depan pintu keluar penginapan. ‘Lalu, apa keputusanmu, Wildan?’ Pemuda berjaket hitam melirik ke kanan-kiri saat mendengar derap langkah diiringi seruan orang-orang di luar penginapan. ‘Sepertinya aku punya sedikit ide nekat!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN