(Sisi lain Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat.)
“S-siapa kau sebenarnya! Bagaimana bisa kau mengerti julukan itu?” tanya Wildan pada sosok pria misterius berbusana besi ala kerajaan Jawa.
Dlap!
Sang khodam berwujud harimau putih besar segera melompat ke depan pemuda berjaket hitam – masih dengan raut wajah garang. “Orang itu, adalah musuh kita di masa lalu, Wildan!” ungkapnya.
Saat pemuda beralis lebat menggulirkan netra beriris coklat ke kanan-kiri, terpintas sebuah gambaran samar mengenai dirinya yang dibalut seragam SMA, serta ingatan tentang sebuah peti dan ruangan bawah tanah. ‘Rasanya aku pernah bertemu dengan orang ini? Kapan? Dan gambaran apa ini? Kenapa, aku seperti melihat diriku yang menggunakan seragam?’
Lelaki dengan rambut panjang yang dikuncir oleh ikat rambut emas, menoleh ke sebelah kiri atas. “Sebentar, kalau tidak salah ingat, namamu di masa lalu itu… Wildan Alfatih, benar?” tanyanya tersenyum kecil.
‘Dia tahu namaku?’ Pemuda bercelana hitam panjang, menyipitkan kedua mata – membiarkan keningnya mengkerut.
Sadewa yang melihat ekspresi Wildan, manggut-manggut tiga kali. “Wahahah! Melihat raut wajahmu, sepertinya di kehidupan ini kau masih punya nama yang sama, ya?” Ia mulai menoleh ke bawah, pada wajah garang sang khodam dari negeri Saba’. “Dan kau, harimau mata bintang berusia ribuan tahun, benar? Harimau yang berkhianat, dan justru berpihak pada Raja yang sekarang sudah tiada?”
“Grrr…” Sayf mengeluarkan cakar dari keempat kaki sekaligus menunjukkan sepasang taring sepanjang pisau. ‘Wildan, kau pilih lari, atau melawannya? Kemampuan orang ini berkali lipat dari genderuwo besar tadi!’
‘Ah! Tunggu! Bukankah tadi kau bilang, sukma adik Laras ada di perut makhluk itu?’ sahut Wildan lewat batin seraya melongok – memandang makhluk setinggi empat meter yang masih saja meraung-raung kesakitan.
“Wah! Ngomong-omong, apa alasan kalian kemari? Kita tidak janjian dengan benda yang kalian sebut ponsel, kan? Atau jangan-jangan kalian sudah tahu kalau aku akan datang membawa sukma-sukma para manusia itu dari sini?” terkanya tersenyum lebar.
Ekspresi Wildan berubah tegang. “Apa maksudmu?”
Sadewa menghela napas. “Kau sudah tahu bahwa Tuan Prabu sudah bangkit, kan? Beliau yang membangunkan kami dari tidur panjang. Dan sekarang, kami diminta untuk mencari sukma-sukma manusia berdarah ningrat agar beliau Prabu segera pulih,” ungkapnya santai seraya balik badan – melangkah mendekati genderuwo raksasa yang tergeletak kesakitan di tanah.
Pemuda beralis hitam lebat mengeratkan gigi. ‘Apa yang sebenarnya terjadi, Sayf!’
‘Aku tak terlalu mengerti runtutan kejadiannya, tetapi sepertinya genderuwo besar tadi melahap sukma-sukma para manusia, karena sudah diatur olehnya! Kemudian sukma-sukma itu, akan dipersembahkan pada sesuatu yang pernah kita dan para Titisan lain!’
Pemuda dengan tangan kanan yang terbalut pusaka sarung tangan besi, terbelalak. “A-artinya, dia akan membunuh semua orang yang sukmanya ada di dalam perut si genderuwo itu?”
‘Ketika belenggu para sukma hancur, mereka akan kembali pada tubuh masing-masing dengan sendirinya. Kau harus menghancurkan perut genderuwo itu sebelum-’
Braaallll!
Wildan Alfatih menggunakan kemampuannya guna memperlambat waktu. Pemuda berjaket hitam tersebut sudah lebih dulu menghantam keras perut sang genderuwo hingga hancur berkeping-keping. Dari badan makhluk berbulu hitam pekat – yang mana lebar terbuka, puluhan bintik sinar putih temaram melayang cepat ke angkasa.
‘Apa yang terjadi! Bagaimana bisa bocah ini menghancurkan wujudku dalam sekali serang!’ Sosok genderuwo bermata merah mulai kejang, ia menjerit kesakitan saat tubuhnya mulai berubah jadi abu hitam. “Hwaaaargh!”
Sadewo si pria berkumis tipis, tercengang melihat kejadian tersebut. ‘Dia sudah kembali menguasai ajian penghenti waktu!’ terkanya kagum. Garis bibirnya yang datar, lambat laun merekah naik. “Wah! Wah! Wah! Wahahahah! Wildan Alfatih! Kau yang kini masih terlihat lebih hijau dari sosokmu di kehidupan masa lalu, sudah kembali menguasai ajian penghenti waktu!”
Sang Titisan Cahaya berdiri bungkuk dengan napas yang tersengal. ‘Sayf! Apa dengan ini sukma adik Laras sudah kembali?’
‘Diam di sana! Wildan! Tetap siaga dengan kuda-kuda! Di kehidupan yang lalu, meski dia tak bisa menghentikan waktu, tetapi gerakannya hampir menyamaimu!’ jelas Sayf.
“Wah, wah, wah…” Sadewa membunyikan tulang jemari kedua tangan sili berganti. “Tidak di kehidupan masa lalu, tidak di kehidupan sekarang, kau masih saja menyebalkan, ya?” gumamnya menyeringai. “Aku tak mungkin kembali pada Yang Mulia Prabu dengan tangan hampa, bukan? Kepalamu pasti akan sangat menghibur beliau! Dan lagi, harimau di belakangku ini juga dalam kondisi terburuknya. Lantas, siapa yang bisa menolongmu kali ini?”
Dlap!
Dalam sekali pijak, Sadewa mengarungi belasan meter hingga sampai di hadapan Wildan. “Bukan begitu, Wildan Alfatih?”
‘Wildan! Siaga!’ Sayf melesat cepat bersiap menerjang lawan.
Belum sempat Wildan berkedip, Sadewa tinju dari atas ke bawah. “Haaaagh!”
Blaaaaaammm!
*
(Beberapa menit sebelumnya, Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat.)
Remaja berusia tujuh belas tahun dengan balutan jaket coklat, mulai erat mencengkam kerah kemeja lelaki berbusana hitam khas dukun. Anggota Pusaka Nusantara bernama Panji Pradita Pranadipa itu, memasang wajah datar sembari mengangkat badan lelaki berjenggot abu tipis pada wajah. “Pak, saya mohon sampaikan siapa yang menyuruh Bapak mencuri sukma-sukma para manusia agar berdiam di gunung ini,” pintanya tak bergeming.
“Cuih!” Lelaki berikat kepala mirip blangkon hitam tersebut meludah pada wajah Panji.
Namun, Panji dengan sigap menggeser kepala – mengelak dari hinaan sang dukun. “Pak, darah remaja itu masih mudah bergelora dan sulit mengontrol emosi, jadi saya mo-”
Cet!
Lelaki berjaket parasut dengan blangkon hitam di kepala melesat dari belakang Panji. Raihan Abdi Pangestu, mencekik tengkuk belakang lelaki tua itu hingga kesulitan bernapas. “Ketika manusia melakukan perjanjian dengan bangsa jin, artinya ia telah menggadaikan jiwanya pada mereka! Dan ketika mereka tak acuh pada peringatan dalam kelembutan, maka kekerasan adalah cara yang patut dicoba!” seru Raihan sembari melempar dukun tua hanya menggunakan satu tangan.
Blaaag!
“Huuwaaaagh!” seru si dukun kesakitan setelah badannya membentur keras tanah.
“Ck!” Panji bangkit dari posisi berlutut. Ia menggeleng lirih melihat Raihan yang mulai menghantami perut si pria tua tanpa belas kasih. “Kang! Jangan bu-”
“Ampun!” seru sang dukun mengadahkan kedua tapak tangan ke depan wajah yang telah bonyok.
Tatapan mata lelaki berblangkon hitam masih saja tajam bak elang. “Katakan siapa yang menyuruhmu, atau aku kirim kau ke akhirat agar jadi kacung para dedemitmu sendiri!” serunya lantang.
“A-ampun! Kisanak! A-ampuni saya!” pekiknya memelas.
Raihan menghirup udara malam sembari mengangkat tangan kanan terkepal tinggi-tinggi. “Katakan siapa yang menyuruhmu!” serunya memukul keras tanah di sebelah kepala lelaki tua yang tergeletak hingga berlubang serupa cekungan kecil.
Blaaam!
“S-saya tidak tahu, K-kisanak! S-sungguh! Saya tidak kenal siapa dia!”
“Kalau begitu, kenapa kau menurutinya?” Alis kanan Panji terangkat naik.
“K-karena… Karena…” Sang dukun berwajah penuh keriput ragu menyampaikan.
Melihat lelaki tua yang ia interogasi justru menjawab secara gagap, Raihan kembali mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi. “Aku tak mau mengulang pertanyaan!”
“Dia mengancam akan membunuh kami sekaligus jika tidak melakukan perintahnya!”
Raihan dan Panji terdiam mendengar jawaban si dukun. Keduanya saling memandang sejenak. Terpintas sesuatu yang sempat membuat kekacauan di Indonesia akhir-akhir ini. “Apa mungkin Buto Angkoro?” bisik keduanya serentak.
Blaaammm!
Bunyi sesuatu yang menghantam bumi dengan sangat kuat sampai-sampai mirip seperti bunyi sebuah ledakan, memancing Raihan, Panji, dan si dukun menoleh ke sisi kanan gunung di mana asal suara menggelegar. ‘Sudah dua suara misterius menggema di daerah ini! Aku rasa ada pertempuran hebat di sisi lain gunung!’ pikir Panji.
Dlap!
Raihan Abdi Pangestu melesat cepat – meninggalkan Panji dan si dukun yang terkulai lemah akibat serangannya.
*
(Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daerah Istimewa Yogyakarta.)
Pria sepuh dengan jenggot dan rambut yang memutih, berdiam dalam posisi bersila di atas sajadah hijau tebal. Jari dengan otot serta pembuluh darah yang menonjol, berhenti bergerak memutar tasbih. Netra jernihnya terbukaperlahan usai mendapati sebuah gambaran. Di belakang sosok sepuh berbusana adat khas Jawa, Mandala terlihat melawan kegusaran yang melanda sembari membaca wirid.
“Nak Mandala?” sebutnya tanpa balik badan.
“Nggih, Raden?” sahutnya pada sosok sepuh yang memunggungi.
“Di antara Empat Titisan, hanya dirimu yang sudah mengingat jelas tentang kehidupan masa lalu kalian.” Raden Rikma Seto memutar badan perlahan di atas sajadah masih dengan posisi semedi. “Apa kira-kira kau mampu melawan salah satu pengawal Buto Angkoro tanpa Tombak Reko Rekso?”
Pemuda mancung beralis tipis melirik ke kanan dan kiri. “Kalau sendirian, saya ndak yakin sanggup, Den,” sahutnya.
“Apa dengan bantuan Sakerat tingkat lima, kau yakin mampu?” tanya sang tetua Pusaka Nusantara.
“Insyaalloh, Den!” jawabnya mantap.
“Kalau begitu, pergilah ke arah barat sekarang,” pintanya menghela napas. “Sakerat yang lain segera menyusulmu ke sana,” imbuhnya.
*
(Gunung Cikuray, Garut.)
Mimik wajah lelaki berzirah merah jadi datar tatkala tangan yang ia ayun kuat-kuat pada Wildan, justru merasa menghantam benda keras. Mata Sadewo belum mampu melihat jelas akibat debu yang bertebaran - mengelilingi sekitar. ‘Apa dia menahannya? Tapi pusakanya belum sempat bersinar saat aku menyerangnya!’
‘Wildan! Perlambat waktu sekarang dan serang dia!’ Suara Sayf menggema jelas di kepala pemuda berjaket hitam.
Dlap!
Wildan memilih melompat mundur usai berhasil menangkis serangan Sadewa menggunakan Cakar Putih Pajajaran. ‘Sayf! Di mana kau!’
‘Aku masuk ke dalam pusaka ini agar mampu memperkuat seranganmu! Dia tahu kalau kekuatanku masih belum pulih sepenuhnya!’ sahut sang khodam. ‘Sekarang cepat serang dia sebelum-’
Swussssss!
Lelaki berambut panjang dengan kuncir keemasan, meluncur cepat menerjang Wildan. “Wahahahahaw! Siapa sangka kau bisa menahan seranganku itu!”
Daaang!
Tinju kanan lelaki berzirah kemerahan kembali ditangkis pemuda berpusaka sarung tangan putih-hitam. ‘Gerakannya seperti Guntur pada saat pertandingan Karate waktu itu!’ pikirnya sembari menahan tinju lawan.
“Tujuh titik kundalinimu masih tertutup? Lalu bagaimana bisa manusia lemah tanpa kanuragan bisa menahan hantamanku?” Sadewa sedikit memajukan kepala ke depan.
Wildan menarik napas sembari memejamkan mata guna memperlambat waktu. Tapi nahas, Sadewa yang mendengar bunyi udara dihirup justru melayangkan tendangan dorong pada perutnya. “Hooowgh!” Tubuh pemuda bercelana hitam panjang terlontar jauh – mengarungi jarak belasan meter hanya dalam satu detik.
Braaak!
Ia baru terhenti dikala sebuah pohon pinus besar menahan punggungnya. “Haaaaarkh!” Cairan merah kental mulai menyembul keluar dari mulut. ‘Aghhhhk!’ Setelah terduduk lemas di tanah, Wildan meringkuk kesakitan memegangi perut. ‘Mustahil aku bisa mengalahkannya! Bahkan memperlambat waktu saja aku tak sempat!’
‘Wildan! Menghindar!’ Sayf menyeru memberi peringatan saat Sadewo dengan cepatnya melesat menghampiri.
Grep!
Lelaki berkumis tipis dengan alis tajam itu mencekik – mengangkat tubuh Wildan ke atas. Netra mereka saling memandang barang sejenak. “Wah…” Sadewo menyeringai. “Dari sorot matamu, aku tak melihat adanya tekad dan ambisi seperti dirimu di kehidupan lalu.”
Braak!
Sadewa membenturkan punggung Wildan pada batang pohon pinus besar di belakang pemuda tersebut. “Aku malah melihat kebimbangan, keputus asaan, dan kelemahan,” ucapnya lirih sebelum membenturkan lawan kembali pada pohon besar yang mulai retak.
Braaak!
“Uhhhgh!” Tangan kanan Wildan lirih mencengkam balik pergelangan tangan kiri lawan. ‘Apa dia manusia!’
“Aku tak menyangka, perbedaan manusia yang hidup kemudian tertidur ratusan tahun, justru lebih kuat dibanding manusia yang bereinkarnasi,” ucapnya lirih. Wajahnya puas memandangi lawan yang sudah tak berdaya.
‘Wildan! Pusatkan tenaga gaibmu pada Cakar Putih Pajajaran!’
Darah yang mengalir dari jantungnya terpompa begitu kencang. Napas pemuda berusia delapan belas tahun itu kacau balau, tak beraturan akibat rasa sakit yang menjalari sekujur badan. ‘Aku tak yakin punya sisa kekuatan, Sayf. Tubuhku benar-benar terlalu lemah untuk digerakkan,’ sahutnya lewat batin.
Sadewa mengusap rambut dari depan ke belakang, sejurus kemudian mendongak menatap langit malam. “Wahh, sejujurnya aku puas! Tapi sekaligus kecewa! Siapa sangka, lelaki yang dulu begitu dikagumi sebagai sosok pelindung, sekarang ibarat telur di ujung tanduk!”
‘Wildan! Izinkan aku menggunakan Gerengan Sardula Seta!’ pinta sang khodam yang bersemayam di dalam pusaka sarung tangan logam.
‘Jarak tempat ini dengan kota cukup dekat! Sekali saja aku jadi penyebab kehancuran kota!’ sahut Wildan seraya meringis kesakitan.
Sadewo melirik ke sisi kanan saat telinganya menangkap sesuatu yang tengah bergerak dengan cepat. “Wah, sepertinya aku tak bisa menyiksamu lebih lama, ya?” Ia mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi dalam posisi telapak menyerupa ujung tombak. “Sampai jumpa, Sang Titisan Cahaya!” serunya sembari mengarahkan ujung jari penuh tenaga dalam pada leher lawan.
Namun, tanpa Wildan kehendaki waktu mendadak melambat. Ia termangu sejenak melihat wajah lawan yang menyeringai puas tengah menggerakkan tangan guna menusuk leher. ‘Heh? Apa aku berhasil memperlambat waktu?’
‘Wildan! Serang dia sekarang!’ seru Sayf lewat telepati.
‘Aku tak tahu, tapi badanku seketika terasa ringan!’ Wildan menghirup dingin udara malam, memusatkan tenaga dalam pada Sarung Tangan Gadil Pajajaran yang membalut tangan kanan. ‘Dan apapun orang ini, akan berbahaya jika dibiarkan hidup!’
Blaaak!
Masih dalam waktu yang melamban, Wildan menghantamkan bogem kanan pada tangan lawan yang mencengkeram. Setelah cekikan di lehernya mengendur, pemuda dengan bibir penuh darah tersebut melangkah maju seraya melancarkan tinju kanan-kiri bertubi-tubi ke tubuh lawan. “Hyaaaaaaaagh!”
Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag!
Setelah berondongan tinju bertubi-tubi ia luncurkan, Wildan mengambil posisi kuda-kuda, menaruh kepalan tinju kanan di pinggul. “Hikaru no…” Sarung tangan pusakanya kembali bersinar putih terang. “Gyaku tsuki!” Tinjunya membuat penyok zirah kemerahan yang membalut perut lawan.
Blaaaaammm!
Sedetik setelah tinju Sang Titisan Cahaya mendarat telak di ulu hati lawan, bunyi tulang retak terdengar – disusul dengan waktu yang kembali normal. Sadewo si lelaki berambut panjang, terlontar puluhan meter dan memuntahkan darah dari mulut. Raganya menabrak – menumbangkan belasan pohon pinus. “Gwaaaagh!” Kecepatan yang ia alami akibat pukulan Wildan mencapai lima puluh kilometer per jam.
“Huungh!” Tangan kirinya mencengkam bagian baju besi penyok – yang baru saja dihantam oleh Wildan. ‘Argh! Aku lengah! Tapi dari mana dia bisa pulih secepat itu! Atau jangan-jangan dia hanya berpura-pura sekarat saja demi menungguku lengah!’ Ia tak habis pikir. ‘Aku masih belum sebanding jika melawannya tanpa pusaka Tombak Baruna!’
“Hikaru no…” Wildan si pemuda berpusaka sarung tangan logam sudah menanti Sadewa di arah lain yang berlawanan. Dirinya sudah berada dalam posisi siaga di atas dahan pohon besar guna menghadang lawan.
Mendengar suara dari lawan, lelaki berkumis tipis memutar badan di awang-awang. Ia memajukan tangan kiri ke depan dalam posisi terbuka, sementara tangan kanan ia kepal erat-erat bersiap memukul lawan. “Jangan meremehkanku!” serunya meluruskan tangan kanan.
“Gyaku tsuki!” Wildan menghantamkan tinju kanan, membiarkan serangan mereka beradu.
Blaaaamm!
Entakan energi besar membentuk ledakan angin, meniup kencang pepohonan bahkan mencabut akar-akar dalam radius dua puluh meter persegi. Sementara pohon yang barusan Wildan pijak sebagai penompang hantaman, hancur lebur jadi abu. Kedua petarung tersebut terlempar ke arah yang berlawanan.
Swuuung!
Daun telinga pemuda berjaket hitam digesek angin malam. Dirinya terlempar turun menuju jurang. Bukan hanya tangan kanan, tetapi sepasang kakinya pun mati rasa – tak bisa digerakkan. ‘Sayf! Di mana orang itu!’
‘Setelah kau berhasil membuatnya terlempar, aku merasakan kehadiran sesuatu yang menghampirinya dan membawanya pergi, Wildan.’
‘Syukurlah…’ Antara meringis menahan sakit dan tersenyum lega, Wildan terlihat pasrah saat tubuhnya terlempar menuju jurang. ‘Entah mengapa, tapi aku merasa lega.’
‘Wildan, pertahankan kesadaranmu!’ Sayf yang mewujud jadi setitik cahaya putih, melayang keluar dari Sarung Tangan Gadil Pajajaran. Tubuhnya membentuk kembali jadi wujud harimau. ‘Atur napasmu! Wildan!’ anjurnya seraya berlari menapak pada udara.
Suara mendengung berpantulan di kedua telinganya. Tubuhnya tak lagi mampu dikendalikan. Pandangan Wildan, mulai buyar. Hanya kegelapan hutan dan bunyi air mengalir yang mampu ia dengar, sebelum hilang kesadaran.