5~Bukan Cinderella

903 Kata
“Tante itu heran, apa yang dilihat mamamu dari Lita?” Maria langsung membeo ketika ia dan Reno keluar dari kamar inap rumah sakit. Ia akan pergi ke hotel dekat rumah sakit dan menginap di sana. Sementara Reno, hanya akan mengantarkannya sampai bawah dan kembali menemani Fathiya. “Cantik juga nggak, akhlak mines, hamil di luar nikah sama suami orang, terus ... dilihat dari sudut mana aja, Lita itu nggak ada enak-enaknya. Janji sama Tante, jangan pernah dekat-dekat sama saudara tirinya Rindu. Kamu juga tahu, kan, bapaknya itu seperti apa?” “Iya, Tan.” Reno tidak bisa membantah, karena ia setuju dengan semua ucapan Maria. “Aku juga nggak pernah tertarik sama Lita.” “Bagus!” Ketika keduanya memasuki lift, Maria mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat daftar nama teman-temannya yang ada di kontaknya. Siapa tahu saja, dengan begini ia mengingat salah satu temannya yang memiliki anak perempuan yang belum menikah. “Nanti, kalau Tante balik ke Jakarta, Tante kenalin sama anak teman-teman Tante ... emm ... siapa, ya, kira-kira?” “Nggak usah, Tan, nggak usah.” Reno jelas menolak karena ia tidak mau dijodohkan dengan siapa pun. Apalagi jika Maria yang menjadi comblangnya. Semua akan merepotkan dan berada di bawah kendali wanita itu. “Nanti biar aku cari sendiri.” “Kelamaan,” sahut Maria cepat. “Lebih cepat kamu nikah, lebih cepat juga mamamu pindah ke Jakarta, biar om Abraham nggak terus-terusan khawatir dengan mamamu.” “Tapi, Tan—” “Biar mamamu nggak kepikiran papamu terus, Ren,” potong Maria kembali memasukkan ponselnya di tas. “Saking cintanya sama almarhum papamu, mamamu sampai nggak mau balik ke Jakarta karena tiap minggu selalu ngunjungi makamnya.” “Nanti biar aku paksa mama balik ke Jakarta.” “Mamamu itu cuma bisa dibujuk dengan calon mantu.” Maria mendadak menatap Reno dari ujung rambut hingga kaki dan baru menyadari sesuatu. “Heh, bukannya teman perempuanmu sama Dewa itu banyak? Masa’ nggak ada yang nyangkut sama sekali dari dulu? Dewa aja sampai sudah dua kali nikah, tapi kamu masih gitu-gitu aja. Jangan sampai jadi joki!” “Joki?” “Jomlo sampe aki-aki!” Maria langsung mengetuk-ngetuk dinding lift di sebelahnya. “Amit-amit, Ren! Amit-amit.” “Nggaklah, Tan, ak—” “Kamu masih lurus, kan?” putus Maria sambil memicing tajam pada Reno. “Nggak belok ke mana-mana?” “Ya masih!” Intonasi bicara Reno mulai meninggi karena mengerti dengan maksud Marian. “Syukurlah.” Maria menghela lega sambil mengusap d**a. Bertepatan dengan itu, lift terbuka dan mereka keluar bersama. “Gimana kalau aku pura-pura punya pacar, Tan? Maksudku, yang penting mama bisa pulang dulu ke Jakarta.” “Nggak usah pura-pura.” Sambil terus berjalan menuju pintu keluar, Maria tersenyum penuh maksud. “Nanti Tante kenalin sama anak teman Tante. Pokoknya, kamu terima beres dan mamamu pindah ke Jakarta.” ~~~~~~~~~~~~ Lita menghela panjang dengan senyuman saat bisa kembali melihat salah satu pusat perbelanjaan di ibukota. Sejak dinyatakan hamil, Lita tidak pernah lagi menikmati hidup seperti dahulu kala. Ia hanya berada di rumah dan berakhir depresi, hingga pernah melakukan percobaan bùnuh diri. Bodoh. Saat itu Lita benar-benar bodoh karena tidak berpikir panjang. Beruntung Tuhan masih memberi kesempatan kedua dan Lita akan memanfaatkan hal tersebut dengan sebaik-baiknya. “Aku sebenarnya nggak enak sama Rindu,” ujar Lita sambil mendorong stroller memasuki mall. “Dari Tirta belum lahir sampe sekarang, dia masih aja ngasih ini itu. Aku malu, Bu.” “Nggak usah malu, Rindu itu saudaramu,” ucap Tiara mengingatkan dan sangat berharap keduanya bisa akur seperti sekarang. “Sekarang, Rindu yang bantu kamu sama Tirta. Siapa tahu suatu saat, kamu bisa nolong dia. Yang penting, ibu mau hubungan kalian baik-baik aja. Oia, di lantai berapa restorannya kata Rindu?” “Lantai empat,” jawab Lita terus berjalan menuju travelator dengan banyak hal yang berputar di kepala. Kira-kira, bantuan seperti apa yang bisa Lita berikan pada Rindu yang sudah memiliki segalanya itu? “Tapi Bu, ini Rindu beneran sendirian?” “Iya.” Tiara mengangguk. “Pak Dewa lagi ada nemani pak Abraham, karena pak Reno masih di Malaysia. Terus, karena nggak ada bu Maria, makanya dia ngajak kita makan sama jalan-jalan.” “Enak, ya, jadi Rin ...” Lita mencekal tangan Tiara dan berhenti melangkah. Tatapannya tertuju pada satu titik dengan perasaan geram. “Ibu ... itu ... dia.” “Dia siapa?” Tatapan Tiara tertuju ke arah pandangan Lita, ketika mereka sudah berada di lantai dua. Lita menatap toko mainan yang tidak terlalu ramai, tetapi Tiara masih bingung dengan maksud putrinya itu. “Siapa, Ta?” “Bukan siapa-siapa.” Lita menggeleng cepat dan segera menyadarkan diri. Ia menarik Tiara ke travelator berikutnya dan melupakan semua yang dilihatnya barusan. “Ta? Kamu lihat siapa?” tanya Tiara semakin curiga. Tatapannya sesekali masih melihat ke arah toko mainan yang membuat Tiara bertanya-tanya. “Bukan siapa-siapa,” ulang Lita melepas tangan Tiara dan mempercepat langkahnya. “Bapaknya Tirta?” tebak Tiara berhenti melangkah lalu berbalik dan menatap toko mainan tersebut dengan seksama. “Ibu betul, kan? Kamu lihat bapaknya Tirta di sana, kan? Yang mana? Biar I–” “Tirta nggak punya bapak!” Emosi Lita mendadak mencuat dan ikut berhenti melangkah. Matanya berkaca-kaca, seolah-olah ada luapan emosi yang siap meledak. “Dia cuma punya ibu! Dan aku, ibunya, Bu! Jadi, ayo kita ke atas dan nggak usah lagi bahas orang itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN