Sinar matahari yang masuk menembus kaca balkon membuat Starla mau tak mau membuka mata. Mengerjab pelan, Starla merasa denyutan luar biasa di kepala, membuat ia meringis sejenak. Starla beringsut bangun sepelan mungkin hanya untuk terdiam lama. Kelopak matanya masih terlalu berat untuk ia buka secara sempurna. Hingga sebuah bayangan tentang tadi malam—tentang kehadiran Erik— tiba-tiba hadir. Kedua bola mata Starla pun melebar dan refleks menoleh ke samping, namun langsung dihadapkan oleh sebuah kenyataan pahit. Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada Erik. Mengusap wajah, Starla mulai menata hati kembali. Seperti hari-hari selama satu bulan ini, menekan semua kerinduan yang sudah amat dalam merasuk dalam d**a. Sebenarnya ke mana Erik pergi? Dan kenapa pria itu sama sekali tidak pernah

