“Aku tau setelah aku melakukan semua hal ke-jam pada Starla, kau mengutukku setiap hari.” Erik berkata pada Espen. Ia tengah duduk di bangku taman rumah sakit. Setelah mendengar keseluruhan cerita yang lengkap, Erik tidak kuasa lagi membendung perasaan yang kacau balau. Hatinya terkoyak dalam, merasa sakit hati pada perbuatannya sendiri. Kenapa ia begitu bo-doh? Kenapa dengan mudah dia bisa percaya bahwa Starla mengkhianatinya? Terlebih lagi, kenapa tidak pernah sekalipun ia mau mendengarkan Starla? Erik menunduk, mengusap wajah dengan mata yang memerah. Hasil dari menahan tangis sekaligus sakit hati yang dalam. “Jadi, wajar saja kau tidak mau mengatakan di mana Starla sebenarnya,” lanjut Erik. Espen yang duduk di sebelah hanya diam. Menunggu. Ia tau Erik akan membuat pengakuan dosa y

