I saw her, crying in front of me
I don't know, why it's feels like heart broken
***
"Haruskah kita mendarat di sana?"
Julian mengernyit, memaksa otot-otot di sekitar mata menyatu pada satu titik. Dia benci jika harus mengulur waktu demi sesuatu yang tak penting, sementara satu kontainer kokain akan segera mendarat di Sicilia. Siapa yang harus mengurus barang celaka itu jika dia masih berkeliaran di atas perairan Indonesia?
Pria 29 tahun dengan garis mata tegas itu menyerahkan tubuhnya ke dalam pelukan sandaran kursi sambil membuang napas. Dia menyugar rambut, lalu meletakkan sebelah tangan di atas kepala. Menurut Julian, pekerjaan lebih penting dari apa pun. Dia tak suka bermain-main dalam hal ini.
"k*****t itu sengaja meninggalkan dompetnya agar kamu menyisihkan waktu untuk berlibur. Bukan begitu, Dom?" sahut Mores.
Pemuda dengan rambut pirang dan iris abu-abu tersenyum lebar. Dia memandang Julian dan berkata, "Orang-orang kita telah mengurus kedatangan kontainer itu dengan baik. Jangan khawatir!"
Bujukan Dom tak mengubah kekukuhan hati Julian. Dia gelisah. Di bawah pantatnya seperti ada batu-batu kerikil yang sama sekali tak membuatnya nyaman. Padahal, interior pesawat dipilih dengan kualitas terbaik. Firasatnya berkata, akan terjadi hal buruk jika dia tak datang tepat waktu.
"Apa Ayah masih di Itali?"
"Don Bronto masih rapat di sana. Dia berkata kepadaku akan mampir ke Jerman untuk menemui Thorcelli. Ah, aku ingin sekali menguliti pria itu. Kasino tak berjalan mulus di tangannya." Mores mengangkat gelas kristal, lalu meneguk bourbon hingga tak tersisa.
Kekhawatiran Julian seakan telah menemukan alasan. Pria itu kembali membujuk Mores dan Dom. "Kita ubah rencana. Terbangkan jet ini ke Jerman!"
"Ayolah, Julian. Kecemasanmu sungguh tak masuk akal. Thorcelli tak akan berani menyentuh Don Bronto. Seinci pun tidak. Dia manusia tak bernyali. Sepertinya, Elmira benar. Kamu butuh refreshing."
Ucapan Dom telah memenjara dirinya. Dan, ya, mungkin Dom benar. Dia butuh menyisihkan sedikit waktu untuk bersenang-senang.
Kehidupan keras yang selama ini dia jalani terlalu membosankan. Membunuh atau dibunuh, pedoman yang dipegang teguh oleh dirinya dan orang-orang dari kalangan mereka. Beberapa bulan terakhir saja, peperangan terjadi di antara mereka. Thorcelli menjadi salah satu yang berhasil ditaklukkan. Pria tua yang hobi merenggut gadis-gadis muda dari orang tuanya, telah tunduk di bawah kaki klan Moximus.
Jet pribadi mendarat di Yogjakarta International Airport. Di sayap belakang kendaraan mewah itu tertulis 'Moximus' dengan logo M terkurung lingkaran berwarna merah. Ketika pintu jet terbuka dan turun perlahan di landasan, dua mobil Range Rover berhenti di depannya.
Julian menginjak undakan pertama pintu pesawat. Sesaat dia berhenti di sana. Dia pandangi landasan yang baru pertama kali disinggahi. Satu per satu kancing jas terpasang sempurna. Julian melanjutkan langkah, menyapa sopir yang menunduk hormat kepadanya.
Kedua mini bus meninggalkan bandara, menyusuri jalanan kota Yogjakarya. Julian tak mengamati apa pun. Pandangannya kosong seperti hati yang tak pernah terisi. Sementara di sampingnya, Mores sibuk menelepon seseorang yang hendak mereka temui.
"Borobudur temple, please!" ucap Mores kepada sopir sewaan.
"Oke, Sir," jawab sopir.
"Temple?" Julian dibuat tak percaya dengan tempat yang hendak mereka singgahi.
"Dia di sana. Sepertinya, itu bukan tempat yang buruk untuk dikunjungi."
Tak lagi terlihat perlawanan dari Julian. Pemuda beriris cokelat cerah itu menurut, sementara batinnya ingin menendang b****g manusia sialan yang mengharuskan mereka singgah di kota itu. Dia berutang banyak untuk ini dan Julian siap menagih dengan cara yang brutal.
***
Seperti manusia bodoh, Julian berdiri di bawah pohon sembari menikmati sebatang rokok. Sebelah tangan dimasukkan ke saku celana. Tenang dia mengamati pemandangan sekitar. Rindang dan udara yang bersahabat. Dia harap ada sesuatu yang menarik di tempat itu hingga kebosanannya terganti.
Tak jauh darinya, Dom duduk di bangku besi dengan kedua tangan merentang di sandaran. Dia angkat sebelah kaki dan menumpuknya di atas kaki lain.
Mores datang bersama salah seorang sopir. Dia menunjukkan sedikit gerakan kepala, isyarat agar yang lain mengikuti.
Ketiga pria berkebangsaan Itali itu benar-benar terlihat bodoh sekarang. Mereka berdiri di depan candi Borobudur dan menyadari ada sesuatu yang harus dibenahi dari diri mereka.
"Perjalanan bisnis yang ... ck, kita salah kostum," celetuk Dom sambil menjelajahi tubuh sendiri.
Setelan jas lengkap dengan vest dan dasi sangat tidak sesuai dengan tempat yang mereka kunjungi. Yeah, itu tempat wisata di mana pengunjungnya lebih menyukai pakaian casual. Mereka terlihat seperti badut yang berjoget di tengah keramaian, menjadi pusat perhatian walau hanya sekelebat pandang.
Julian mengubah gaya pakaiannya hingga menyisakan kemeja dan celana. Dia buka kancing lengan dan memberi sedikit lipatan di sana. Dua kancing kemeja paling atas juga dia bebaskan. Walau bukan pakaian casual, setidaknya itu terlihat lebih santai. Cukup berhasil untuk mengubah cara pandang orang.
"Di mana k*****t itu?" tanya Julian geram.
Pencarian mereka berlanjut meski tak yakin itu akan berlangsung dengan mudah. Candi itu serupa gunung yang butuh banyak waktu untuk didaki dan dijelajahi. Menemukan satu orang di antara ribuan pengunjung, ah, hari ini akan terasa lebih panjang dan melelahkan dari sebelumnya.
"Wow, it's amazing," gumam Dom terkagum-kagum. Matanya berbinar memandangi artefak raksasa itu.
Mores juga sama terpesonanya. Dia membatu memandang Candi Borobudur. Bola matanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain secara perlahan, lalu beralih ke anak tangga pertama hingga puncak stupa terbesar. Setelah sadar, dia telah ditinggal oleh kedua keponakan. Pun sopir. Seketika, pria lewat tengah abad itu mengambil langkah panjang hingga bersanding dengan Julian. Kaki pendeknya tampak berusaha keras mengimbangi jangkauan kaki Julian.
"Dia ada di puncak candi. Di depan stupa terbesar, katanya."
Julian menyengih sembari memandang lokasi yang dimaksud. "Cari tempat yang bagus untuk kami," perintah Julian kepada Dom.
Mereka bergerak cepat menaiki anak tangga. Di separuh perjalanan, Mores menyadari dirinya tak setangguh saat masih remaja. Pria tua itu acap kali berhenti hingga ketinggalan cukup jauh dari kedua keponakan. Mores duduk di anak tangga. Dia butuh beberapa menit untuk mengelola napas.
"Aku akan menunggu kalian di sini!" seru Mores.
Sementara itu, di puncak Borobudur, Julian menjaring setiap rupa yang tampak. Dia jelajah area itu bersama dua body guard. Di satu sudut, dia berhenti dan bertelekan di pagar batu.
Dia menyesal sebab tak memiliki jaringan seluler negara itu. Ponselnya seperti sampah sekarang.
Ketika Julian merasa putus asa dan berencana melupakan tujuan, telinganya menemukan sesuatu. Isak tangis seorang wanita. Julian maju selangkah dan menemukan asal suara. Di balik stupa, seorang gadis kulit putih menitikan air mata sambil memandangi kamera. Wanita muda itu bergumam dalam bahasa yang tak diketahui Julian.
"Jerman?" Julian bertanya-tanya, apa yang membuat wajah cantik itu bersedih?
Ah, s**t! Dia membuang rasa penasaran ke tong sampah setelah teringat akan petuah Don Bronto. 'Wanita cantik memang indah dipandang, tapi tidak untuk dimiliki. Mereka neraka bagi kehidupan kita.'
Julian membuang muka, dan menemukan pria berambut pirang dengan tattoo bintang di tengkuk. Julian mengenali gambar tubuh itu. Dia mengambil langkah panjang, lalu meraih kerah bajunya. Pria yang asyik duduk di depan stupa itu terjengkang.
"What the f**k are you doing?" sergah Julian.
"Calm down, Brother!"
"Zien, apa kamu pikir waktuku cukup untuk main-main? Ambil dompetmu dan jangan pernah lagi menghubungiku untuk hal sesepele ini," kecam Julian sambil melempar dompet kulit ke d**a Zein.
Senyum lebar Zein berubah masam. Dia mengambil dompet dan menyingkirkan energi negatif di pikiran. "Ayolah! Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin menikmati sunset denganmu di tempat ini. Sekali saja, lupakan pekerjaan dan bersantailah denganku!"
Julian membalas tatapan hangat Zein dengan kejam. Seperti ada ribuan panah yang terlepas dari irisnya, mencacah kemurnian niat pemuda itu hingga hancur berkeping-keping, dan tak menyisakan apa pun selain kecewa.
"Jika bukan karena urusan di Jakarta, aku tidak akan pernah menghampirimu." Julian menyingkir dari hadapan Zein. Dia membelakangi Zein. Berusaha meredam amarah.
"Jadi, apa lebih baik bagimu dengan membiarkan aku kelaparan di negara orang?"
Langkah Julian terhenti. Dia berkancak pinggang sambil menggigit bibir bawah. Julian butuh sedikit waktu untuk berpikir. Zein tak mengetahui apa pun tentang bisnis gelap yang mereka kerjakan. Pemuda berhati murni itu hanya mengetahui, bahwa keluarga moximus memiliki bisnis di bidang kuliner dan perhotelan.
Dengan demikian, sulit bagi Julian untuk memberi penjelasan. Kebohongan telah menjadi kewajiban baginya ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
"Zein, kemarilah!" Julian mendekap adiknya. "Untuk saat ini, aku bukan kakak yang baik untukmu. Banyak yang harus dikerjakan. Kamu mengerti?"
Zein mengangguk. "Aku selalu mencoba."
"Good." Julian mengusap kepala Zein. Dia tinggalkan satu kecupan kecil di kening remaja itu.
"Julian." Mores datang terburu-buru dan hampir mati sesak napas. Di tangannya, ponsel menyala. Satu panggilan terhubung di sana. Bibir pria tua itu memang jarang tersenyum. Namun, Julian melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Kekhawatiran yang berlebih.
Sekelebat mata, ponsel Mores berpindah tangan. Julian mendekatkan benda itu ke telinga, lalu mendengar saksama perkataan seseorang di seberang. Di menit ketiga, sorot matanya berubah tajam. Penjelasan atau entah alur cerita apa yang membuat lelaki itu tampak murka.
"Sial! We have to go, as soon as possible!" ucap Julian kepada Mores dan Dom.
"Ada apa?" Zein bertanya.
"Aku harus pergi. Ada paket yang harus kuurus. Nikmati liburanmu dan bersenang-senanglah!" jawab Julian.
Zein membuntuti kepergian sang kakak. Dia tahu ucapan terakhir pria itu penuh kepalsuan. Namun, dia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertanya lebih jauh. Julian benci pertanyaan yang menyudutkan.
"Kamu terlihat keren dengan kemeja amburadul itu daripada jas yang membuatmu sulit bernapas," gumam Zein.
Julian memaksa kakinya bergerak lebih cepat. Kabar rencana penyerangan di Jerman berhasil membuat pening kepala. Julian nyaris berlari hingga tanpa sengaja menabrak seseorang. Suara mengaduh dan benda jatuh menarik perhatian. Julian menoleh ke belakang. Gadis itu, kamera, dan ... sedikit waktu yang dia punya.