Kepala Helena tiba - tiba terasa begitu berat. Dia mendarat kepalanya di meja kerja. Helena seperti pelari yang kehilangan separuh lebih tenaganya. Lembar kerjanya belum terisi satu kata pun. Sedari tadi, jari telunjuknya yang hanya bergerak naik turun di atas tombol enter. Dia sudah sampai di halaman ketiga saat ponselnya berdering. Helena tak bersemangat untuk memeriksa si penelepon. Dia tidak memiliki siapa pun yang cukup dekat untuk menghubunginya saat ini, kecuali Sarah dan Julian. Hanya dua nama itu yang terpikir olehnya. Mustahil Sarah, menghubunginya setelah pertemuan tadi. Tandanya, satu nama tersisa adalah pelakunya. Tanpa melihat ke layar ponsel, Helena mematikan benda itu dengan menekan tombol power dalam kurun waktu yang cukup lama. Suara dering ponselnya berhenti. Entah ken

