Setiba jam pulang sekolah, Andini menarik kerah baju Rain yang buru-buru meninggalkan kelas. "Sini bicara sebentar!" seru Andini tidak menerima penolakan dan alasan tak jelas dari Rain. Rain tersenyum kaku, nampaknya dia masih salah paham dengan teman laki-laki lainnya, mereka bukan cemburu pada Rain yang dekat dengan Andini, tapi mereka mau berteman baik dengan si tukang senyum satu ini-- padahal setelah dipikir-pikir, apa untungnya sih berteman dengan anak ini? pikir Andini, heran. "A... aku buru-buru, Andini," jawab Rain yang berusaha untuk menolak, padahal ekspresi muka Andini terbaca sekali, tidak ada penolakan, ia tak akan memberi Rain kesempatan lepas sekalipun. "Oh buru-buru." Andini melepas tarikannya, berkacak pinggang sekarang, tersenyum menyenangkan di depan Rain-- begitu ya

