Muhammad Ali Yusuf

1883 Kata
Setelah menempuh perjalanan jauh, Sandra akhirnya bisa sampe ke pesantren dengan selamat sekaligus acak-acak an. Tapi, baru selangkah dia memasuki area pesantren. Seluruh mata sudah tertuju padanya, tapi mereka semua bukan melihat dengan tatapan kagum atau semacamnya melainkan tatapan kaget alias syok bahkan sebagian santri laki-laki langsung mengalihkan pandangan sambil ber istighfar. "Pada kenapa sih! belum pernah liat orang cantik apa ya?!" sinis Sandra yang dengan santainya tetap melanjutkan langkah. "Kak, kakak yang namanya sandra bukan?" tanya salah satu santri datang menghampirinya. "Iya, emang kenapa? "jawab sandra menaikkan sebelah alisnya. "Kenalin kak aku Nabilah biasa di panggil bilah anak nya pak kyai". "Ngga nanya". "Yaudah ngga-papa, oiya Kakak udah di tunggu sama ayah di rumah, ayo biar aku antar". Gadis itu terlihat sama sekali tidak memasukkan ke dalam hati jawaban judes Sandra tersebut. Bahkan dia masih bisa tersenyum saat ini sambil mengarahkan sandra ke rumah mereka. "Assalamualaikum, yah ini kak Sandra nya udah sampe" ucap bilah setelah sampai di rumahnya. "Eh adekku tersayang udah nyampe, abang kira bakal ilang di jalan" Rizky menghampiri adiknya dengan senyum girang di wajahnya. "Oh jadi lo ngarep kalo gue ilang? Iya?! k*****t banget sih lo jadi abang! gue kasih kopi sianida baru tau rasa lo bang" sinis sandra, dia yang masih merasa kelelahan ini benar-benar sedang berada di senggol bacok mode on. "Sandra omongannya ngga boleh kayak gitu ih" tegur mamanya. "Yaampun dek abang cuman becanda kali, lagian laga-lagaan mau ngasih kopi sianida, bikin kopi aja ngga bisa" timpal Rizky. "Ish...dasar abang sialan...!" Sandra benar-benar ingin memukul rizky setidaknya sekali sebelum dia benar-benar berakhir sendirian di pesantren ini. "Sandra... jaga ucapan kamu!" kini papanya yang menegur. "abang yang mulai duluan kok malah sandra yang di omelin sih pah?!" protes Sandra. "Kamu juga bang stop, sandra lagi emosi jadi jangan diajak becanda dulu" kini giliran mamanya menegur Rizky. "Iya mah iya... Yaudah, abang minta maap kalo gitu, abang cuman pengen becandain kamu untuk yang terakhir kalinya doang". Bukannya menjawab Sandra malah langsung memalingkan mukanya dengan judes ke arah samping. "Sudah-sudah! kalian ini, oiya Rahman berhubung sandra sudah sampai aku pamit pulang, aku titip putri kesayanganku ini ya, aku harap kamu bisa mendidik dan bersabar menghadapi sikap dia" kata papanya ke pak kyai yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. "Kamu tenang saja umar pasti aku akan berusaha untuk menjadikan sandra menjadi anak yang jauh lebih baik, diakan juga sudah aku anggap seperti putri sendiri" jawab pak kyai Rahman. "Yasudah kalo begitu aku pamit pulang dulu". "Dan kamu sandra jangan bikin ulah disini!" Lanjut papanya, menatap ke arah Sandra. "Iya-iya..." Jawab Sandra acuh tak acuh. "Sayang, mama pulang dulu ya. kamu baik-baik disini" pamit mamanya. "Jangan bangor-bangor dek, sewajarnya aja, coba bersikap kayak cewek" abangnya sok-sok an ikut memberi nasehat. "Iya-iya bawel lo!" Cerca sandra. "Rahman kami pamit pulang" ucap ayahnya setelah mejalankan mobil. "Iya hati-hati di jalan". Semua orang melambaikan tangan ke arah mobil, kecuali sandra. Gadis itu malah menatap kepergian mereka dengan wajah datar dan tatapan dingin. "Liat aja, gue bakalan jadi petaka di sini dan bikin kalian nyesel karna udah masukin gue ke pesantren!" Batin Sandra. Setelah mobil milik keluarganya sudah semakin menjauh dan tidak terlihat lagi, barulah Sandra pergi di antar ke kamarnya oleh bilah. "Lo ngga usah nganterin gue, tinggal tunjukin aja gue tidur dimana biar gue jalan sendiri. Ahh sama satu lagi, baju sama barang-barang gue mana?" Tanya Sandra dengan nada yang lagi-lagi dingin dan datar. "Kakak sekamar sama aku karna aku ngga tidur di rumah dan kamar kita yang ada disana" tunjuk bilah ke salah satu pondok. "trus kalo soal baju kakak, aku udah taro di lemari kakak, udah aku rapihin malah" jawab bilah dengan senyuman yang masih saja terus melekat di wajahnya. "Oh, thanks kalo gitu, yaudah gue cabut dulu dan lo bisa ngelakuin kerjaan lo yang lain" usir sandra. "Oke kak" sahut bilah dengan semangat. Karna entah kenapa, biarpun Sandra bersikap sedingin es kepada dirinya, dia tetap merasa sangat nyaman dengan sandra yang menurutnya unik itu. "Oiya kak, nanti kakak jangan lupa ganti baju sama umpetin gitar kakak ya", pesan bila sebelum langkah sandra semakin menjauh. "Liat ntar aja, ngantuk gue" jawab sandra acuh tak acuh. Dia berjalan dengan santai tanpa memperdulikan tatapan para santri yang melihatnya dengan tatapan yang sama seperti di depan pintu gerbang tadi. "Eh kamu..." cegat salah seorang santri perempuan yang tiba-tiba saja muncul di depan sandra. "Minggir! jangan ngalangin jalan gue!" Usirnya tidak perduli. "Kamu ya...! ngga punya sopan santun banget! masuk ke pesantren dengan pakaian kurang bahan alias belum jadi!" Cerca orang itu. Kening sandra mengernyit, sejujurnya dia masih belum pengen cari gara-gara saat ini, tapi karna orang di hadapannya ini yang mulai duluan, maka dengan senang hati dia akan meladeninya, "Eh! Terserah gue lah mau make baju apaan! badan gue ini yang make bukan badan lo!" Balasnya mendelik, dengan ekspresi sangarnya. "Ngelawan lagi! kamu pasti santri baru ya disini! ini juga ngapain bawa gitar segala! taro gitarnya" tunjuk orang itu ke gitar sandra. "Ogah! "Sinis sandra. "Dasar murid baru ngeselin! kamu ngga tau siapa aku?!". "Ngga tau dan ngga pernah mau tau! udah gue ngantuk jadi lo minggir sebelum hal yang ngga lo pengen terjadi!" ancam sandra, dia benar-benar merasa serius akan hal ini. "kenalin nama aku Putri Neriska, santri putri terbaik disini sekaligus calon menantu dari pak kyai Rahman tentunya!" jelas orang itu. Sandra memutar bola matanya malas, karna info tersebut benar-benar terasa sangat tidak penting bagi dirinya, "Udah ngomongnya? kalo udah minggir!" Dia mencoba menerobos mereka. "Heh kamu ngga ada sopan-sopannya ya sama senior!". "Bodo amat!" ucap Sandra yang pada akhirnya memilih untuk pergi mengambil jalan lain, karna dia takut kalau dirinya tidak akan bisa menahan emosi lebih lama lagi. "Heh kamu mau kemana!" orang itu mencoba meraih gitar yang ada di punggung sandra, tapi bukan gitar yang dapat dia pegang melainkan tangan sandra yang sudah lebih dulu mengunci tangannya kemudian langsung memelintirnya ke belakang. "Denger ya inem! ini peringatan buat lo! jangan pernah sekali kali halangin jalan gue lagi sama jangan pernah megang gitar gue! Gue udah cukup berbaik hati yah dari tadi sama lo! Jadi ngga usah ngelunjak jadi orang! Didiemin kok malah makin menjadi!" sandra semakin menguatkan plintirannya, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya saat ini. "Nama aku bukan inem tapi putri! ih...lepasin, ntar aku aduin ke Ali baru tau rasa kamu!" Bahkan di saat seperti ini saja putri masih sempat-sempatnya untuk memprotes soal namanya. "Bodo amat!". Di saat sandra mau ngehajar lebih parah lagi, bilah datang tepat waktu, "kak udah kak, tadi katanya mau tidur. Udah lepasin aja kak putrinya kak, kalo ngga kakak ntar kakak bisa kena masalah, kakak ngga mau dong kalo sampe itu kedengeran ke kuping om umar?" Bujuk bilah dengan lembut seraya mencoba melepaskan pelintiran Sandra. Sedangkan teman-teman putri yang tadi bersamanya, sudah dari tari pergi menjauh dan menjaga jarak dari mereka, sebab marahnya Sandra memang benar-benar semenyeramkan itu. Sandra menghela nafasnya dan terdiam untuk sesaat, mencoba memenangkan diri. Setelah beberapa menit, perlahan dia mulai melepaskan plintirannya sambil menatap tajam ke arah Putri, "lo beruntung kali ini! tapi lain kali kalo lo masih sok-sok an sama gue kelar lo gue bikin!" Ancam sandra sambil mengeluarkan aura membunuhnya. "Ish... liat aja aku akan balas kamu!" ucap Putri dengan dongkol sebelum pergi meninggalkan mereka, seperti nya gadis itu belum juga jera untuk berurusan dengan Sandra. Sandra diam tidak menjawab, dia hanya terus memperhatikan kepergian Putri dengan tatapan tajam yang menghiasi wajahnya. "Kayaknya lebih baik aku anter kakak aja deh ya" celetuk Bilah tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana yang terasa semakin menyeramkan baginya. "Yaudah" pasrah sandra. Pada akhirnya mereka berjalan berdua menuju salah satu pondok, tempat dimana dia dan bilah tidur. "Eh bil itu tadi siapa sih? songong amat keliatannya" tanya Sandra yang entah kenapa merasa penasaran dengan putri. "Oh yang tadi, dia namanya kak putri salah satu pengurus santri disini" jawab bilah dengan jujur. "Emang dia calon menantunya pak kyai? tapi kok bisa sih? masa lo mau nikah sama dia, lo berdua kan cewek?" Tanya sandra lagi dengan polosnya. "Hah?! maksudnya?" bilah langsunh menghentikan langkahnya, dia benar-benar merasa bingung mendengar pertanyaan dari sandra itu. Sandra ikut berhenti, "iya kan anaknya pak kyai itu lo, jadi otomatis lo dong yang bakal nikah sama si inem itu" jelas sandra. "Hahahaha... yaampun kak, namanya putri bukan inem ,kakak kok kocak banget sih, lagian yakali aku nikah sama kak putri aku masih normal kali kak" bilah sontak tertawa mendengarnya. Dia benar-benar merasa sandra sangat lucu. "Nama putri mah ngga pantes di dia, Ya terus siapa lagi coba? kan cuman lo doang kan anaknya pak kyai, oiya trus Ali itu siapa? tadi gue denger dia bawa-bawa nama Ali". "Kakak sotoy ih, kata siapa cuman aku doang anaknya ayah? aku masih punya abang kali kak, dia juga tinggal disini. malahan bang Ali itu suka ngajar santri-santri di pesantren ini. Nah nama yang tadi kak putri sebutin itu nama abang aku, bang Ali. lebih tepatnya sih Muhammad Ali Yusuf. dia emang ngebet banget sama bang Ali sampe ngaku-ngaku calon istri bang Ali segala, eh tapi bukan cuman dia doang sih yang kayak gitu. hampir dari seluruh santri perempuan disini juga pada naksir sama bang Ali, abisnya dia cakep sih... aku yakin kalo kakak ngeliat bang Ali pasti kakak juga bakalan naksir" terang bilah. "Aelah emang mungkin merekanya aja yang pada alay ngga bisa ngeliat cowok bening dikit langsung nafsu", komentar sandra secara sarkatis. "Dih, nggak, tau kak. kakak belum liat sih bang Ali itu kayak gimana, dia itu tuh cakep, baik, ramah, sabar, pinter, jago ngaji,pokoknya hampir mendekati kata sempurna deh" bilah terus saja memuji-muji orang yang bernama ali itu dengan antusias sehingga ngebuat sandra menjadi malas dan geli sendiri di buatnya. "Bisa ngga ngejelasinnya ngga usah alay? lagian gue juga ngga minat sama abang lo. jadi percuma juga lo jelasin. secara hidup gue aja di kelilingin sama cogan semua, brandalan lagi, jadi hidup ngga ngebosenin amat. kalo tipe-tipe kayak abang lo mah bisa mati gaya yang ada gue tiep hari di paksa belajar agama". "Ih kakak ngga boleh ngomong gitu tau, aku doain moga kalian jodoh". Pletak Sandra langsung menyentil dahi bilah. "Aww...sakit tau kak!" protes bilah memengang dahi bekas sentilan maut sandra. "Ya abisnya lo kalo ngomong kagak di saring dulu! Eh lagian nih yah! emangnya lo mau apa punya kakak ipar brandalan kayak gue? Hah?!". "Y-ya.. ya ngga sih kak, tapi aku yakin bang Ali pasti bisa nanganin kakak. karna kalo dia udah punya kemauan pasti dia akan berusaha sekuat tenaga buat wujud in hal tersebut. ya... Biarpun kadang kalo ke orang yang modelan nya kayak kakak, mulutnya bang Ali suka pedes sih hehehe. jadi kakak harus sabar yah" sahut bilah dengan wajahnya yang ekspresif. "Ini kenapa kesannya lo kayak jadi nasehatin kakak ipar yang baru nikah sama abang lo yah?" Protes sandra langsung. "Masa sih kak?". "Ah udah lah... Ayo buruan ke kamar! Gue ngantuk! Lagian nih yah, lo catet baik-baik dalam otak lo. Biarpun gue ngga kenal sama siapa itu abang lo tapi yang jelas gue Aisyah Alexandra ngga bakalan pernah jatuh cinta sama orang yang namanya Muhammad Ali Yusuf alias kakak lo!" setelah menegaskan hal tersebut Sandra langsung pergi bergegas ke kamar yang di tunjuk bilah tadi untuk tidur. Karna kalau dia tidak melakukannya, bisa-bisa obrolan ini ngga akan pernah nemuin akhir. "Kak....! kakak ngga boleh takabur tau!! ntar kalo Allah malah bikin kakak cinta mati sama bang Ali baru tau rasa lho!!!" teriak bilah sehingga membuat mereka jadi pusat perhatian 'lagi'. "BACOT LO!!!" Jawab sandra seraya mengacungkan jari tengahnya ke arah bilah. Tapi sayang nya bilah sama sekali tidak mengerti tentang arti dari acungan jari tengah tersebut sehingga dia sama sekali tidak memperdulikannya. Kampung mereka terlalu pelosok, apalagi bilah sejak kecil hidup di lingkungan pesantren, jadinya hal-hal semacam itu ngga bisa masuk ke dalam otaknya. Dan itulah yang membuat sandra terlihat unik di matanya, karna seumur-umur dia belum pernah melihat gadis brandalan secara langsung seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN