River Side Restaurant'

1136 Kata
¨ River Side Restaurant Tidak disangka-sangka oleh Naami, ini adalah acara lamaran yang sangat istimewa, dan lamaran ini diadakan secara resmi oleh dua keluarga. Tidakkah ini berlebihan menurut Naami, tapi inilah istimewanya Abah. Abah diam-diam, tidak juga diam-diam, Abah hanya tidak mengatakan padanya kalau acara lamaran yang akan dilaksakan itu cukup megah, diadakan di luar rumah tepatnya di sebuah restoran yang disebuat River Side Restaurand. Satu hari sebelumnya, saat Naami menghilang kata Sopir yang menjemputnya. Sang Abah sempat meradang, emosi dia tahu anaknya benar-benar memberontak. Bukan salah Naami katanya, yang salah Abahnya sendiri yang mengatakan dia tidak akan menjemput Naami dan Naami sudah mengatakan dia akan pulang sendiri dan pulang tidak tahu kapan. Dan itu benar-benar Naami laksanakan membuat sang Uma pusing pusingkan pusing pada penjaga karena Naami tidak pulang padahal sempat pulang tapi hanya untuk mengantar kopernya dan berganti pakaian. Pemberontak, anugerah kata yang pas untuk menggambarkan anak perempuan Sultan Imam yang sama punya sebuah dirinya. “Duh pusing pusingnya kepalaku,” keluh Uma Sabil sambil memijit kening dan pelipisnya. Migrainnya tiba-tiba tiba kambuh mendengar suara Suaminya yang kucing-kucingan mencari anak perempuannya yang sama kerasnya dengan sang Suami. “Kamu istirahat saja, pokoknya aku akan mencari anak itu dan mengurungnya. Astaghfirullah…! Kepalaku bisa benar-benar botak jika dia lama-lama di sini! ” keluh Abah Imam. “Sabar, Bah. Naami pasti pulang Ciptaannya, dia hanya jalan-jalan dulu mungkin, bisa saja dia ke Ampera dulu mumpung sekarang masih sore menjelang senjakan pemandangan di sana ingin bagus, ”bujuk Uma Sabil agar Suaminya bersabar. “Tapi dia anak perempuan, sendirian kalau ditangkap orang bagaimana? Menyusahkan saja, ckk! ” Pada malam itu benar saja, Naami pulang setelah maghrib. Dia benar-benar dari ampera katanya ingin melihat lampu di ampera yang indah jika malam hari. Ada sempat terjadi adu mulut antara Abah dan Naami, dalam satu setengah jam tidak ada yang mengalah, suasana masih sama, sama-sama tegang, diam, sunyi, tapi jika salah satu ada yang berbicara sedikit saja, langsung disambar dan berakhir perdebatan panjang yang membuat Uma semakin migrain. “Naami cuma keluar sebentar, Bah… itupun ke Ampera, makan, cari angin mana tau masuk angin, bukannya Naami keluar mau cari Abah baru, ada Abah satu aja sudah pusing aku apalagi nambah Abah lagi jadi dua,” kata Naami dengan ketus. “Nam…,” tegur Uma Sabil. “Nah nah nah itu lambenya! Hebat dia menjawab! Hebat dia mau menambah Abah! Aku punya dia satu aja pusing apalagi nambah Naami-Naami yang lain, aku pensiun jadi Abah!” kata Abah dengan keras membalas ucapan Naami. “Siapa juga yang Naami ada dua…, Naami cuma ada satu limited edition, yakan Uma!?” tanya Naami pada sang Uma yang dari tadi tak henti-hentinya memusut d**a dan memijid pelipisnya. “Sudah, sudah.” Uma meminta keduanya berhenti, sebab yang mereka debatnya bukanlah hal yang penting, dari tadi hanya membahas tentang menambah orang ataupun merajukkan masing-masing memiliki kelebihan hingga masing-masing sama-sama merendah. “Apalah Naami ni cuma anak yang tidak diharapkan, Naami cuma anak yang terbuang ke Ibu Kota,” ucap Naami dengan nada sedih. “Gayamu! Kamu yang tidak memikirkan Abah yang membesarkan kamu, tapi setiap kamu di sini, kamu membuat Abah tensi, marah-marah! Tau tidak!? Darah tinggi Abah naik terus kalau kamu di sini! Kamu bahkan bisa bikin kolesterol Abah bertambah!” kesal Abah merendahkan dirinya membalas Naami. Mereka berdua berdecak sebal karena masing-masing keras dan tidak ada yang mau mengalah. Tepat sudah sama-sama lelah pada akhirnya, Naami beranjak dari duduknya dan menubrukkan tubuhnya pada sang Abah untuk berpelukan. Sang Abah pun membalas pelukan itu dengan erat, awalnya tidak ada diantara mereka yang berbicara, masing-masing hanya saling membalas memeluk dan tidak ada yang mau memulai kata maaf. Sang Uma sampai bingung, heran dengan anak dan Abahnya itu. Tapi walau begitu, itu bukan yang pertama kali, sebab sudah sering begitu hanya saja karena Naami jarang pulang dia pun jadi jarang melihat moment yang membingungkan itu. Acara tidak dilaksanakan pada siang hari ditengah teriknya matahari, tapi dilaksanakan menjelang senja. Tepatnya pada saat Haxel dan keluarganya sampai di kota Palembang. Haxel sampai sudah sangat siang tapi tidak masalah karena mereka beritirahat di rumah besar Abah Imam. Pertama Naami mengira acara lamaran hanya akan dilaksanakan di rumah dengan acara keluarga biasa saja dengan makan malam biasa. Tapi Naami melihat kondisi rumah begitu tenang dan tidak ada perisapan sama sekali. Jadi pada siang itu juga Naami pergi memesan makanan dalam jumlah yang banyak untuk di kirim ke rumah Abah Imam, niatnya untuk acara malam itu. Tapi yang mengejutkannya adalah sejumlah 50 kotak makanan berserta cemilan dan cuci mulutnya, sudah membayar dan dia meminta pembantu rumah tangga untuk meletaknya di dapur. Berikutya Sang Abah malah menyeretnya keluar rumah dan berakhir di River Side Restaurand dengan Haxel dan keluarga sudah ada di sana menunggu mereka datang. Jadilah pertemuan dua keluarga di tempat umum itu, tidak jadi umum lagi karena Abah Imam menyewa tempat itu selama sehari semalam, jadi selama seharian tempat itu didekor dulu dan malamnya barulah digunakan untuk acara itu. Naami jadi terharu dengan apa yang dilakukan sang Abah untuknya. Membuat acara lamaran itu menjadi berkesan. Sangat berkesan sampai dia menangis haru, sang Abah ternyata bisa seromantis itu pada anak perempuannya. Sang Uma hanya bisa tersenyum bahagai dan memeluk anak perempuannya yang akan menjadi pengantin tidak lama lagi. Acara akan akan dilaksakan dalam waktu dua minggu lagi, cepat? Bahkan sang Abah mau acara dilaksanakan satu minggu dari hari lamaran resmi itu, tapi setelah berembut dan berunding akhirnya dapatlah mencapai sebuah kesepakatan. Acara akad akan dilaksanakan dua minggu dari acara lamaran itu. Sedangkan acara resepsi akan dilaksakan besok harinya. Jadilah dua hari berturut-turut acara pernikahan itu akan dilaksanakan. Membahagiakan? Tentu saja, Naami sangat bahagia. Dia merasa Abahnya memang yang teristimewa jika menyangkut soal pesta. Untuk soal mahar, Naami tidak menuntut banyak. Tapi karena keluarga Haxel juga berasal dari keluarga bergengsi dan kaya raya. Haxel menyepakati mahar dengan 500 gram emas batang, mobil sport mewah, serta seperangkat alat solat. Naami tidak mengira awalnya yang disanggupi Haxel sangat besar, itu juga didukung oleh Papa Candra sebenarnya. “Kamu bahagia?” tanya Haxel pada Naami saat mereka tengah memisahkan diri dari keramaian keluarga yang tengah berbaur saling berbicara. Naami menoleh dan tersenyum lebar pada Haxel. “Tentu saja! Aku bahagia! Kamu membuat kejutan ini aku sungguh terkejut!” seru Naami dengan semangat yang berlebih. “Tidak aku yang membuat kejutan, ini semua Abah Imam yang punya rencana, dan dia juga yang menyewa tempat ini. Emm untuk mahar, kamu tidak keberataan bukan jika maharnya hanya tiga macam benda itu? ” kata Haxel dan menanyakan pendapat Naami. “Kan tadi aku sudah sepakati, jadi tidak perlu khawatir,” jawab Naami dan pilih senyuman cantiknya pada Haxel. “Tapi aku janji hantaran untukmu nanti akan sangat banyak, pada saat hari akad nanti!” seru Haxel. “Iya-iya, aku percaya,” balas Naami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN