Bab 8: Ikhlaskah?

1237 Kata
Lelaki itu menoleh dan tersenyum ke arah Tiara. Hal langka yang hampir tidak pernah kulihat sejak beberapa bulan kami menikah. Setiap hari hanya wajah kaku dan tatapan dingin yang selalu kuterima dan aku pun bersikap sama dengannya, tidak pernah tersenyum jika bukan dengan Mbok Mih. Mempunyai postur tinggi semampai, Tiara terlihat sangat cocok berdiri di samping Hadi. Sungguh berbeda denganku, memiliki postur kecil dan tidak terlalu tinggi membuat leherku agak sedikit menengadah ketika membalas tatapan dingin Hadi. Melihat pemandangan di depan mata membuatku salah tingkah. Kenapa kedua makhluk itu tidak segera pergi dari depan kamarku? "Hai, Nad. Kita jumpa lagi." Tiara menyapaku sambil mengulum senyum. "Ya, selamat datang Nyonya Hadi." Aku berujar datar. "Semoga kita bisa menjadi partner yang saling mendukung." Wanita itu memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Aku membalas dengan sunggingan senyum yang sedikit kupaksakan. "Oke, terimakasih untuk sambutannya. Aku mengundangmu nanti malam untuk makan semeja. Mulai malam ini dan seterusnya kamu bisa ikut semua andil di dalam rumah ini. Tidak perlu lagi mengurung diri di kamar." Kalimat yang dilontarkan Hadi terasa sangat arogan. Lelaki itu ibarat seorang raja yang sedang memberi titah kepada para dayang-dayang. Menyebalkan. Setelah itu suami istri itu pun beranjak dari depan kamarku. Bergegas aku menutup pintu dan menguncinya. Tidak ingin kedua makhluk itu nanti kembali mengganggu dan sengaja mempertontonkan kemesraan di depan mataku. Kenapa harus bergandrngan tangan segala? Memangnya buta tidak bisa melihat sehingga tangan itu tidak bisa saling lepas? Norak! *** Aku mendengar bunyi gaduh di luar kamar. Mukena yang masih membaluti kepala segera kubuka dan menggantinya dengan selembar jilbab kaos. Aku baru saja selesai melaksanakan salat Ashar. Keributan dan bunyi benda pecah mencium lantai membuatku kaget dan bergegas ingin keluar. Setelah membuka pintu kamar, aku mencari sumber kegaduhan tersebut. Kulihat Mbok Mih sedang memungut sesuatu di lantai. Sementara di dekat sofa tampak Hadi dan Tiara sedang berdiri memperhatikan Mbok Mih. "Kenapa, Mbok?" Aku setengah berlari ke arah wanita itu. Mbok Mih tidak menjawab. Dengan posisi memunggungiku, kulihat ia masih sibuk memilih kepingan cangkir yang berserakan di lantai. Lantai yang tadinya berwarna putih telah berubah agak kecokelatan akibat teh yang tumpah. Aku menghampiri Mbok Mih dan ikut membantunya memberesi lantai. "Mbok kenapa?" tanyaku pelan. Aku merasakan jika Hadi dan istri barunya itu masih memperhatikan kami. "Nggak ada, Nak. Itu-itu tadi Mbok pikir Nak Nadia. Rupanya bukan. Mbok kaget dan jatuh, deh." Aku baru ingat jika Mbok Mih belum tahu perihal Hadi telah menikah lagi. Aku memang belum menceritakan padanya. Dan beginilah akhirnya. Mbok Mih saja bisa kaget, konon lagi dengan orang tuaku dan Hadi. "Sebaiknya kamu kenalan dulu sama Mbok Mih. Kasian lho sampai kaget begini lihat kalian berdua-duaan gitu." Tiara tersenyum dan mendekatiku serta Mbok Mih. Dia terlihat sangat sempurna meski hanya memakai baju rumahan biasa. Rambut ikal bergelombang terurai menyentuh bahu. Tanpa make up, wanita itu masih saja terlihat menarik dan segar. Apa tidak Hadi begitu tergila-gila. Tiara memang sosok yang pantas untuk diperjuangkan. Dia terlihat sangat sempurna. "Mbok, saya Tiara. Istri kedua Hadi." Tiara memperkenalkan diri. Sebelah tangannya terulur ke depan, sementara Mbok Mih ternganga mendengar penjelasan Tiara. Wanita itu mematung dan matanya tak berpindah menatap Tiara lekat. Kulirik Hadi yang masih berdiri di dekat sofa, mataku mengisyaratkan agar ia mendekat dan ikut menjelaskan kepada Mbok Mih. Bagaimanapun juga, Mbok Mih adalah orang tua yang harus dihormati. Salah satu caranya dengan menganggap ia ada di rumah ini. "Mbok, tolong rahasiakan ini dari orang lain, ya. Tiara memang istri sahku. Hanya kami sedang menyimpan ini semua. Saya takut jika orang lain tau maka berita ini akan cepat tersebar hingga terdengar oleh orangtuaku dan Nadia. Belum saatnya mereka tau. Aku akan cari waktu yang tepat untuk memberitahu." Mbok Mih mengangguk dengan tergesa. Kemudian pandangannya beralih padaku. Sirat mata sendu yang ia perlihatkan. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak ingin menebak-nebak apa yang dipikirkan Mbok Mih sekarang. "Oya, Nak Hadi, Mbok mau ngomong sama Nak Hadi. Karena kita sedang berkumpul di sini, Mbok rasa ada baiknya jika Mbok kasih tau sekarang saja," ujar Mbok Mih pada Hadi. "Boleh, boleh. Kenapa, Mbok?" "Begini, sebenarnya sudah beberapa hari lalu Mbok mau minta izin, tapi nggak enak sama Ayah dan Ibunya Nak Hadi. Lalu Mbok undur hingga beberapa hari. Mbok minta izin nggak kerja lagi. Anak Mbok yang di Bandung mau melahirkan cucu pertama. Dia minta Mbok bantu-bantu di sana." "Lho, kenapa mendadak begini, Mbok? Saya belum cari pengganti Mbok Mih." Hadi terlihat keberatan. "Duh, gimana, ya. Mbok mohon maaf, Nak Hadi." Mbok Mih terlihat tidak enak. Dia menundukkan pandangan saat berbicara dengan Hadi. "Ya, sudah. Enggak apa-apa, Mbok. Anak Mbok di sana lebih butuh bantuan. Untuk sementara aku yang akan menghandel rumah." Tiara ikut berkomentar. Apa-apaan wanita itu. Baru setengah hari di rumah tapi sudah berusaha untuk mengambil alih semua. Kenapa dia tidak meminta pendapatku terlebih dahulu? Apa keberadaanku sudah tidak dianggap oleh mereka berdua? Atau memang sengaja untuk mengusirku secara perlahan? "Kamu, Sayang? Kita cari saja pengganti Mbok Mih. Jangan kamu." Hadi menolak keinginan Tiara. Lihat! Tidak satu pun dari mereka yang meminta pendapatku. Apa itu adil? "Its okay, Dear. Aku bisa masak dan lain-lain." Kulihat akhirnya Hadi mengalah. Ia setuju dengan saran dari istri barunya. Sedangkan aku berdiri di tengah-tengah mereka hanya sebagai pelengkap penderita. Setelah keputusan di dapat, Tiara dan Hadi beranjak dari sana. Mereka memasuki kamar saling bergandeng tangan. Tak luput candaan-candaan ringan yang Hadi layangkan pada wanita yang dicintainya itu. Aku hanya bisa melihat dengan hati yang entah bagaimana rasanya. Ekor mataku terus saja melirik hingga akhirnya pintu kamar Hadi tertutup rapat. Kemudian kembali pandangan kuarahkan pada Mbok Mih. Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia mengajakku mengikutinya, tak lupa wanita tua itu membawa nampan berisi kepingan gelas yang tadi berserakan. Aku mengikuti Mbok Mih dari belakang. Dia berjalan agak tergesa. Setiba di dapur wanita berjilbab kurung itu meletakkan nampan di atas meja, kemudian ia menarik lengannku ke halaman belakang rumah. Kami duduk bersisian di sebuah kursi panjang menghadap ke kolam renang. "Nak Nadia, kamu sakit?" tanyanya dengan suara bergetar. "Nggak, Mbok," jawabku heran. Aku menautkan kedua alis dan tersenyum ke arah Mbok Mih. "Yakin?" Dia bertanya lagi. "Iya. Aku sehat, kok. Sedang nggak demam atau sakit yang lain." Aku mengambil tangan Mbok Mih dan meletakkannya di dahiku, "Nggak panas, kan, Mbok?" "Duh, Nak Nadia. Maksud Mbok bukan demam. Tapi hatimu, Nak. Apa nggak sakit? Lihat suamimu sama perempuan lain?" Aku terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Sakit? Apakah aku merasakan itu? Jikalau iya, untuk apa? Bukankah kami tidak saling mencintai? Bahkan hubungan kami yang selama ini sakit. Seharusnya aku sekarang sedang berbahagia atas pernikahan ke dua Hadi. "Aku biasa saja, sih, Mbok. Terserah Hadi mau bagaimana juga. Toh, selama ini, Mbok kan tau sendiri kehidupan rumah tanggaku saat ini. Kami adalah korban dari perjodohan kedua belah keluarga." "Coba renungi, Nak. Tanyakan pada hatimu. Apa sungguh-sungguh bahagia? Apa ikhlas itu ada?" Ah, Mbok Mih terlalu mengada-ada kurasa. Aku baik-baik saja dan tetap akan baik-baik saja. Hanya yang sedang kupikirkan adalah dengan orang tua kami. Bagaimana jika mereka mengetahui lebih cepat tentang permasalahan ini? Atau kami sebaiknya jujur saja dari pada menyesal di kemudian hari? "Yang sabar, ya. Mbok tu Nak Nadia itu wanita kuat." Mbok Mih kembali bersuara. Aku menggenggam tangan kasar wanita itu. Tangan yang selalu digunakan untuk mencari nafkah membantu suami tercinta. Meski hidup sederhana, akan tetapi keluarga mereka tetap harmonis hingga usia tak lagi muda. Sementara aku, jangankan kebahagiaan setelah pernikahan, malah sekarang di madu oleh laki-laki yang seharusnya menjadi panutan. *** Next?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN