R 3.7

1470 Kata
Arthur tidak berharap banyak bahwa usahanya untuk bersembunyi akan berhasil. Arthur sebenarnya ingin langsung bersembunyi saja di sekitar ruangan itu. Namun ia urungkan rencananya setelah melihat Shana berdiri di depan bilik kamar mandi dan tampak celingukan mencari-cari Arthur. Arthur tak mungkin membiarkan orang-orang di dalam ruang penyimpanan mesin air menemukan Shana berdiri sendirian di sana. Bisa-bisa, Shana dalam bahaya. Atau kalau pun orang-orang itu tidak berniat menyakiti Shana, bisa jadi mereka akan mengorek informasi dari Shana yang tak tahu apa-apa soal niatan orang-orang itu. Percuma Arthur bersembunyi jika pada akhirnya Shana akan menyebutkan nama Arthur sebagai orang yang datang bersamanya ke tempat itu. Karena dengan demikian, maka mereka bisa menebak-nebak dengan mudahnya. Arthur berlari menerabas hujan ke arah bilik kamar mandi tempat Shana berada. Memang jaraknya tidak begitu jauh. Namun Arthur benar-benar dikejar waktu karena terlambat sedikit saja, orang-orang di dalam ruang penyimpanan akan melihatnya. Tanpa banyak bicara, Arthur menarik tangan Shana, mendorong gadis itu masuk kembali ke dalam bilik kamar mandi, dan Arthur menutup pintu setelah ia sendiri berada di dalam sana. "Ar," kesal Shana. Gadis itu tentu bingung luar biasa. Kenapa Arthur mendadak bersikap seperti itu? Shana tidak tahu. Bukannya memberikan penjelasan, Arthur justru memberi isyarat agar Shana tidak berbicara. Pemuda itu menempelkan jari telunjuk di depan mulutnya. Shana terpaksa diam. Meski sebenarnya gadis itu masih meneriakkan berbagai macam pertanyaan di dalam kepalanya. Beberapa detik berlalu dan itu terasa sangat lama bagi Shana dan Arthur. Mereka masih mengurung diri di dalam bilik kamar mandi. Bilik kamar mandi yang sempit dan minimnya udara membuat keduanya sedikit merasa sesak. Arthur pun memutuskan untuk sedikit membuka pintu bilik kamar mandi. Matanya jelalatan melihat halaman di bagian depan bilik kamar mandi. “Sejauh ini aman,” gumam Arthur kelewat lirih. Suaranya bahkan hampir teredam oleh hujan di luar sana. “Hah?” Shana melongo mendengar gumaman Arthur itu. “Gue jelasin nanti,” kata Arthur setelahnya dengan suara normal—karena Arthur merasa keadaan di luar sudah aman dan orang-orang itu tidak ada di sekitar sana. Sepertinya mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang bersembunyi di bilik kamar mandi. Makanya area itu dilewati begitu saja. Shana menurut ketika Arthur meraih lengannya dan menarik Shana keluar dari bilik kamar mandi itu. Sejujurnya Shana merasa cukup deg-degan, khawatir ada orang yang memergoki Shana dan Arthur berduaan di tempat yang tidak wajar. Meski mereka tidak melakukan hal macam-macam di sana, tapi orang mungkin akan asal menyimpulkan. “Payung yang kita pakai tadi mana?” Shana semakin dibuat terperangah. Sesaat kemudian, Shana sibuk garuk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. Ia bingung bagaimana caranya ia dan Arthur bisa kembali ke tempat mereka berada sebelumnya yakni ruang kesehatan. “Kita baliknya hujan-hujanan, Ar?” Arthur mengangguk yakin. Sementara Shana mulai mempertanyakan kewarasan Arthur. “Kita nggak bisa lama-lama di sini. Mau nggak mau, kita harus hujan-hujanan balik ke ruang kesehatan,” ujar Arthur serius. Namun Shana bergeming di tempatnya ketika Arthur memberi isyarat agar Shana mengikutinya berlari menerabas hujan. Sepertinya Shana masih ragu akan ajakan Arthur itu. Tanpa alasan yang jelas, Shana akan menolak bertindak bodoh dengan menerabas hujan begitu. Menyadari Shana tidak mengikutinya, Arthur berhenti melangkah. Pemuda itu balik badan dan kembali menghampiri Shana. “Lo mau tetap di sini?” tanya Arthur sambil menyugar rambutnya yang sudah lepek hingga meneteskan air. “Iya,” jawab Shana tampak tak goyah, “gue akan tetap di sini. Ngapain gue ikut hujan-hujanan sementara lo nggak ngasih alasan yang jelas. Lo udah basah kuyup kaya gitu, Ar. Lo gila apa? Habis ini lo bisa kena flu dan demam.” Arthur berkacak pinggang dan mengembuskan napas dengan keras beberapa kali. Gerakan menyugar rambut dan mengusap wajah ia lakukan beberapa kali. “Gue susah jelasinnya, Sha,” kata Arthur kemudian. Shana mencecar, “Kenapa susah?” Arthur menatap lurus ke mata Shana. Ekspresi wajahnya kelewat serius. “Gue juga belum paham sama apa yang gue dengar tadi. Tapi yang jelas, gue dan mungkin lo akan dalam bahaya kalau mereka berhasil memergoki bahwa gue lah yang udah nguping pembicaraan mereka.” “Jadi intinya kita harus pergi dari sini dulu karena kita ada dalam bahaya setelah lo menguping pembicaraan orang?” Shana menyimpulkan. Gadis itu pun menganggukkan kepala dan bergumam, “Oke, yuk cabut. Semoga pengorbanan gue ini nggak sia-sia.” Shana pun mulai berlari meninggalkan area kamar mandi. Gadis itu berlarian di bawah hujan, disusul Arthur yang berada tepat di belakangnya. Keduanya tampak seperti bocah yang sedang bermain hujan-hujanan meski dapat dipastikan bahwa Shana dan Arthur tak menikmatinya. Bahkan Shana mengomel karena hujan membuat setiap helai pakaiannya basah. *** Verrel dan Agatha berdiri di depan ruang kesehatan menyambut kembalinya Shana dan Arthur. Namun baik Verrel maupun Agatha sama-sama memasang wajah bengong. Mulut mereka bahwa terbuka tanpa mereka sadari. “Kalian masih waras, kan?” tanya Agatha setelah Shana dan Arthur berteduh di depan ruang kesehatan. Namun kedua sahabat Agatha itu tidak masuk ke dalam ruang kesehatan mengingat kondisi mereka saat ini yang akan membuat ruangan itu kotor dan banjir. Verrel menyusul berujar, “Kalian lagi mencoba bernostalgia kenangan waktu masih jadi bocah apa?” “Urusannya panjang,” jawab Shana asal. Gadis itu lantas menoleh ke arah Agatha dan meminta selimut untuk mengeringkan dan menutupi tubuhnya yang basah. Namun Agatha hanya meringis dan tidak beranjak dari tempatnya. Ia berkata, “Itu nggak ngaruh, Sha. Lo akan tetap kedinginan selama lo masih pakai baju basah. Yang ada kalau lo pakai selimut dengan kondisi tubuh dan baju lo yang basah kuyup kaya gini buat waktu yang lama, lo bakal kena hipotermia.” Shana menggigiti bibirnya. Wajahnya cemberut dan tampak kesal bercampur lelah. Gadis itu juga sedikit menggigil. “Terus gimana baiknya? Gimana gue bisa ganti baju di situasi dan kondisi kaya gini? Apa iya gue harus balik ke tenda buat ganti baju?” Agatha diam saja sembari berpikir. Akhirnya ia memberi perintah pada Shana dan Arthur, “Kalian masuk aja dulu. Nggak usah takut kalau kalian bakalan ngotorin lantai atau bikin banjir tempat ini. Daripada kalian duduk di sini dan terus-terusan kena angin, bakalan makin bikin kalian kedinginan.” Arthur setuju dengan itu. Ia lantas bergegas berdiri dan menarik Shana untuk masuk ke dalam ruang kesehatan. Setibanya pemuda itu di dalam ruang kesehatan, Arthur berceletuk, “Karenina sama Susan mana?” “Mereka balik ke aula. Tadi dijemput panitia buat koordinasi kalau-kalau hujan belum berhenti sampai malam dan listrik nggak bisa kembali menyala,” jelas Verrel. Setelahnya, ia kembali mencemaskan keadaan kedua sobatnya itu, “Kalian apa nggak mendingan balik ke tenda aja? Ya hujan-hujanan lagi emang. Tapi habis itu kan kalian bisa ganti baju.” Shana dan Arthur saling bertukar tatapan. Mereka tampak mulai mempertimbangkan gagasan itu. “Gimana, Ar?” Shana meminta pertimbangan Arthur. Arthur menjawab dengan ragu, “Ya, gue sih oke-oke aja. Lo sendiri gimana? Masih bisa lari ke tenda?” “Masih,” gumam Shana, sama ragunya. “Udah lah, sana kalian ganti baju dulu. Nanti gampang, kalau hujannya reda, kalian balik lagi ke sini,” kata Agatha menyela. Arthur pun menganggukkan kepala. Ia akan mencoba gagasan itu. Lagian, ia perlu merenung. Mungkin dengan berdiam barang beberapa saat di dalam tenda sendirian dapat membuat Arthur kembali memikirkan ucapan orang-orang yang ia pergoki di ruang penyimpanan mesin itu. Namun sebelum Arthur kembali meninggalkan ruang kesehatan, Arthur teringat bahwa kondisi tenda-tenda peserta kemungkinan sepi dan kosong karena peserta memilih berdiam di aula. Itu berarti, jika ia dan Shana kembali ke tenda masing-masing, mereka harus berhadapan dengan kondisi sepi dan itu cukup berbahaya menurut Arthur. “Sha, lo di sini aja,” putus Arthur setelah menimbang-nimbang lagi perihal kondisi tadi. “Kenapa gitu, sih? Mending dia juga balik ke tenda, Ar.” Verrel melayangkan protes. “Situasinya nggak memungkinkan,” balas Arthur. “Sha, lo inget apa yang gue omongin di depan kamar mandi tadi, kan?” Shana dengan ragu-ragu menganggukkan kepala. “Terus kenapa, Ar?” Arthur menyampaikan pertimbangannya. “Tenda peserta kemungkinan banyak yang kosong. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa kalau ikut ke sana. Situasi sepi kaya gitu membuka kesempatan untuk orang berbuat jahat. Lo lebih aman di sini, sama Agatha dan Verrel. Sama anak-anak lain yang masih sakit. Setidaknya di sini lo nggak sendirian.” Mendengar itu, bukannya Shana semakin ingin tinggal bersama Agatha dan Verrel. Gadis itu justru tak ingin Arthur pergi sendirian. “Kalau gitu, lo juga nggak seharusnya balik ke sana, Ar. Lo ke sana sendirian, lo cari-cari masalah juga namanya.” “Lo nggak perlu mencemaskan gue,” kata Arthur, “gue bisa jaga diri. Gue bakal cepet balik ke sini.” “Lo bener-bener ya, Ar,” kesal Shana. Gadis itu lantas mengembuskan napas kasar. “Jadi tas lo yang kaya apa, Sha? Biar gue bawain ke sini dan lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana,” ucap Arthur membuat Shana geleng-geleng kepala. Susah memang bila berurusan dengan orang sekeras kepala dan senekat Arthur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN