Keguguran

1279 Kata
Kini Alya sudah ada di rumah sakit, Yulia terus mondar-mandir di depan ruangan di mana putrinya berada. Khawatir, panik, dan takut menjadi satu, Yulia hanya bisa berdo'a agar Alya baik-baik saja. Selang beberapa menit, Gunawan datang, pria berkemeja putih itu melangkah tergesa-gesa menghampiri sang istri. "Bagaimana keadaan Alya, Ma?" tanya Gunawan. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir. "Mama nggak tahu, Pa. Dokter belum keluar," jawab Yulia dengan air mata yang terus menetes. "Kita berdo'a saja, semoga putri kita baik-baik saja." Gunawan merengkuh tubuh istrinya agar merasa lebih tenang. Selang sepuluh menit, pintu ruangan terbuka, seorang dokter keluar, melihat itu Gunawan dan Yulia bergegas bangkit dan berjalan menghampiri dokter tersebut. Mereka berharap semoga keadaan Alya baik-baik saja. "Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya Gunawan. "Untuk saat ini kondisinya belum stabil, dan luka yang diderita tidak terlalu parah. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya," jelas dokter tersebut. Yulia masih terdiam, meski kandungannya tidak terselamatkan, tetapi nyawa Alya jauh lebih penting. "Apa kami boleh melihatnya?" tanya Gunawan. "Silahkan, kalau begitu saya permisi." Dokter tersebut beranjak pergi. Sementara itu, Gunawan dan Yulia bergegas masuk ke dalam. Yulia tidak bisa menahan air matanya, untuk tidak menetes. Ia tidak tega melihat putrinya terbaring tak berdaya seperti sekarang ini. Kini Yulia sudah duduk di kursi yang ada di samping brangkar di mana Alya berbaring. Sementara Gunawan berdiri di samping istrinya. "Sayang, maafin, mama ya. Mama sudah gagal menjagamu." Yulia menggenggam tangan Alya. "Mama jangan menyalahkan diri sendiri, semua terjadi bukan keinginan kita. Oya, papa sudah mengurusnya, semoga pelakunya cepat tertangkap." Gunawan mengusap punggung istrinya, memberikan rasa nyaman. Selang beberapa menit, Yulia merasakan jemari tangan Alya bergerak, bersamaan dengan itu kedua matanya juga terbuka. Yulia tersenyum melihat hal itu, begitu juga dengan Gunawan. Setelah kelopak mata terbuka sempurna, Alya mengejar pandangannya ke sekelilingnya. "Ma, Alya ada di mana?" tanya Alya dengan suara lemah. "Kamu ada di rumah sakit, Nak," jawab Yulia. Detik itu juga, Alya teringat kejadian saat tubuhnya disambar oleh mobil. Ia benar-benar terkejut saat itu, karena mobil itu tiba-tiba melaju dengan kecepatan yang tinggi. Alya meraba perutnya, ia baru teringat dengan kandungannya. "Ma, bagaimana dengan .... " ucapan Alya terhenti, hanya tangannya yang bergerak meraba perutnya. "Sabar ya, Nak. Mungkin semua ini sudah menjadi kehendak-Nya," ujar Yulia, ia terus memberikan ketenangan untuk putrinya. Sementara Alya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya menangis yang saat ini Alya bisa lakukan. Selang beberapa menit, pintu terbuka, seorang pria dengan balutan jas berwarna hitam melangkah masuk ke dalam. Pria itu tak lain adalah Reyhan, ia baru bisa datang lantaran pekerjaan yang selalu menuntutnya. Reyhan berjalan menghampiri Alya yang kini dalam pelukan ibunya---Yulia. "Assalamu'alaikum," ucap Reyhan. "Wa'alaikumsalam." Gunawan dan Yulia menjawab serentak. "Om, bagaimana keadaan, Alya?" tanya Reyhan, tak lupa mencium punggung tangan Gunawan. "Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Beruntung Allah masih sayang pada nyawa Alya," jawab Gunawan. "Meski dia harus kehilangan calon anaknya." Reyhan menghembuskan napasnya. "Semoga, Alya cepat sembuh. Oya, bagaimana dengan orang yang menabraknya." "Om sudah menyerahkan masalah ini pada polisi, kebetulan di jalan itu terpasang kamera CCTV. Jadi tidak sulit untuk mencari pelakunya," jelas Gunawan. "Syukurlah, semoga pelakunya cepat tertangkap," sahut Reyhan. Tiba-tiba ponsel Gunawan berdering, dengan segera ia mengambil benda pipih itu lalu menggeser tombol berwarna hijau, untuk menerima panggilan yang masuk. [Halo, Pak. Semuanya sudah beres] [Kerja bagus, lalu bagaimana dengan perusahaannya] [Perusahaan itu sudah menjadi milik, Bapak] [Baik, sebentar lagi saya akan ke sana] [Baik, Pak] "Ternyata untuk menghancurkanmu tidaklah sulit," batin Gunawan dengan menyunggingkan senyum. "Om tinggal dulu ya, masih ada pekerjaan yang harus, om urus," ujar Gunawan. "Iya, Om," sahut Reyhan. Setelah itu Gunawan berpamitan pada istri dan anaknya. Usai berpamitan, Gunawan bergegas keluar dari ruang rawat putrinya. *** Safira tiba di rumah, setelah memarkirkan mobilnya, wanita itu bergegas keluar. Dadanya masih naik turun, kejadian yang sebelumnya tidak direncanakan, membuat Safira merasa seperti dikejar rasa bersalah. Namun di lain sisi, ia merasa bahagia. "Setelah ini, tidak ada lagi yang akan menggangu kebahagiaanku," gumam Safira dengan senyum liciknya. "Selamat tinggal Alya, kamu memang salah berteman denganku," gumamnya lagi. "Safira, dari mana saja kamu?" tanya Gibran. Pria beralis tebal itu beranjak keluar setelah mendengar mobil berhenti di pelataran rumah. "Eh, Mas. Habis jalan-jalan, bosen di rumah terus," jawab Safira, sebisa mungkin ia bersikap tenang. Gibran terdiam, ia melihat seperti ada darah pada mobil yang Safira bawa, di bagian depan. "Itu mobilnya kenapa? Kok seperti ada darahnya." Sontak Safira terkejut, reflek ia melihat ke arah mobil pada bagian depan. "Oh ini, tadi aku nggak sengaja nabrak ayam, Mas. Iya, nabrak ayam." "Nabrak ayam? Mana ada nabrak ayam sampai seperti itu." Gibran berjalan menghampiri istrinya. Lalu ia mencolek darah tersebut yang mulai mengering, dan menciumnya. "Ini bukan darah ayam," ucap Gibran. "Terus kalau bukan darah ayam, terus darah apa. Udah deh, aku capek tahu." Safira yang mulai tersulut emosi, bergegas masuk ke dalam rumah. "Safira, tunggu!" teriak Gibran, tetapi istrinya itu sama sekali tidak memperdulikannya. Setibanya di dalam, Safira beranjak masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Gibran pun ikut masuk ke dalam, dan menyusul istrinya ke kamar. Terlihat Safira tengah duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran suaminya. "Safira, sekarang kamu jujur saja. Aku tidak suka .... " "Mas aku sudah jujur, tapi kamu aja yang nggak percaya," potong Safira. Ia sangat kesal dengan sikap Gibran yang seperti itu. Gibran menghembuskan napasnya. "Ok, tapi jika nanti kamu terkena masalah. Kamu urus sendiri." Setelah itu Gibran beranjak keluar dari kamar dengan membanting pintu. Safira mendengus kesal, setelahnya ia memilih untuk mandi, agar tubuhnya kembali fresh. *** Hari telah berganti, dan hari ini Alya memaksa untuk pulang, rasanya tidak nyaman berada di rumah sakit. Setelah meminta izin pada dokter, Alya pun bersiap-siap untuk pulang. Yulia membantu putrinya untuk bangkit dari brangkar lalu membantunya untuk mengganti pakaian. "Beneran mau pulang sekarang?" tanya Yulia. "Iya, Ma. Alya mau istirahat di rumah saja," jawab Alya. "Ya sudah, ayo." Yulia membantu Alya untuk berdiri. Setelah itu mereka beranjak keluar dari ruangan tersebut. Kini Alya dan Yulia sudah dalam perjalanan pulang. Jujur, Alya merasa sedih karena sudah kehilangan calon anaknya, tetapi mungkin dengan cara itu, nanti proses perceraiannya akan mudah. Alya berharap, Gibran tidak mempersulit jalannya sidang nanti. Di sisi lain, Safira tengah bersiap-siap untuk pergi, entah kemana lagi ia akan pergi. Sementara Gibran tengah pusing untuk mencari pekerjaan. Ia tidak bisa diam saja di rumah. Meski masih ada tabungan, tapi jika tidak sembari usaha menjadi kerja. Tabungan berapapun pasti akan habis. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi, Gibran yang sedang melamun sontak terkejut. Dengan langkah lesu, Gibran berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Gibran terkejut saat melihat dua polisi sudah berdiri di depan pintu. "Selamat pagi, Pak," ucap polisi tersebut. "Iya, selamat pagi," sahut Gibran, dengan suara sedikit tercekat. "Apa benar ini rumah, ibu Safira?" tanya pak polisi. "Benar, saya suaminya. Ada apa ya, Pak," jawab Gibran. Perasaannya mulai tidak enak. "Kami membawa surat penangkapan untuk, ibu Safira. Karena telah menabrak orang dan kabur tanpa mau bertanggung jawab." Polisi itu menyerahkan surat tersebut, Gibran menerimanya, dan membaca surat itu. "Gibran ada apa?" tanya Ratna seraya berjalan menghampiri putranya. "Ada apa, Ma. Kok .... " Safira menghentikan langkanya saat melihat ada polisi. Takut, itu yang Safira rasakan. "Dia Safira, Pak. Silahkan jika ingin membawanya." Gibran menunjuk ke arah istrinya yang berdiri tak jauh darinya. "Baik." Dua polisi itu masuk ke dalam rumah dan langsung mencekal tangan Safira. "Loh, Pak. Kenapa .... " "Mama baca ini." Gibran menyerahkan surat tersebut. Dengan segera Ratna menerima surat itu dan membacanya. "Pak, saya tidak bersalah. Kenapa, Bapak membawa saya. Kalian pasti salah orang, lepaskan saya, Pak. Mas tolong, kenapa kamu diam saja, Mas." Safira terus berteriak dan memberontak. Gibran sama sekali tidak peduli dengan teriakan istrinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN