Perlahan Alya mengerjapkan matanya, cahaya yang begitu terang masuk ke retina, membuat ia beberapa kali mengerjap. Setelah kelopak matanya terbuka sempurna, Alya mengedarkan pandangannya, ia melihat ke sekelilingnya. Alya bernapas lega saat menyadari jika ia berada di rumah. "Alya, Sayang kamu sudah sadar, Nak," ucap Yulia seraya mengusap kepala putrinya. "Ma." Alya bangkit dan terduduk, lalu memeriksa bajunya. Ia sedikit tersentak saat baju yang dikenakan sudah diganti dengan baju tidur. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Yulia dengan raut wajah khawatir. "Ma, Alya .... " ucapannya terhenti, air matanya menetes, mengingat kejadian kemarin. "Sabar ya, Nak." Yulia memeluk tubuh putrinya, seketika tangis Alya pecah. "Apa benar kalau, mas Gibran sudah melakukannya. Kalau iya, berarti a

