Chapter 11

1267 Kata
Harus Kanaya akui, lelaki yang sedang berjalan di sampingnya ini mempunyai pengendalian diri yang hebat. Kanaya sangat paham apa yang sedang dirasakannya sekarang, namun ia masih bisa tersenyum ramah pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Kanaya tidak tahu, seberapa terkenalnya nama Kenan di bandara, hanya saja para petugas dan beberapa pramugari dari maskapai yang sama ataupun berbeda, menyapanya. Bahkan ada beberapa dari pramugari yang menatap Kanaya dengan pandangan beragam. Entah itu kagum, senang, dan juga iri. "Itu siapa sih, yang sama kapten Kenan?" "Nggak tau. Tapi kayaknya mukanya nggak asing deh. Pernah liat, tapi nggak tau di mana." Suara bisik-bisik terdengar dari arah belakang. Kanaya tahu, kedua orang itu adalah pramugari yang berpapasan dengannya. Tapi Kanaya tak ambil pusing, ia tetap fokus menyamakan langkah Kenan yang besar-besar, agar tidak tertinggal. Kanaya memasuki taksi yang sudah dipesan Kenan. Menurut penuturan lelaki itu, mereka akan pergi ke rumah sakit tempat eyang berada sekarang. Selama perjalanan, tak ada pembicaraan yang terlontar diantara mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah kurang lebih satu setengah jam, mereka sampai di rumah sakit di daerah Jakarta Utara. Kenan membayar taksi itu, kemudian mengeluarkan koper miliknya dan milik Kanaya. Setelah itu keduanya langsung memasuki rumah sakit. Lelaki itu tidak sabar melihat kondisi eyang. "Kita langsung ke ruang hemodialisa," ucap Kenan saat keduanya berjalan di koridor rumah sakit. Kanaya mengangguk, dan mengikuti langkah Kenan. Karena sudah terbiasa datang ke tempat ini, Kenan hapal di mana letak ruangan yang baru saja disebutnya. Keduanya telah tiba di depan ruangan hemodialisa. Sejenak Kenan menghela napas dalam untuk menetralkan jantungnya. Sebisa mungkin lelaki itu harus terlihat baik-baik saja di depan eyang, walau hatinya bertolak belakang. "Ayo masuk," ajak Kenan. Kanaya mendorong pintu, kemudian setelah tubuhnya masuk ke dalam ruangan itu, ia seperti mendapat tamparan keras. Di tempat ini banyak sekali pasien dengan kasus yang sama. Mereka berbaring dengan wajah yang pucat, pandangan yang kosong, serta terpasang selang-selang di tubuh mereka. Usianya pun beragam, dari yang lansia, sampai ada yang remaja. Melihat hal itu, Kanaya merasa kufur nikmat. Selama ini, ia diberikan kesehatan sama Allah, namun ia tidak pernah mensyukurinya. Selalu mengeluh dan mengeluh, terlebih saat ada deadline pekerjaan. Padahal jelas-jelas hal itu merupakan nikmat yang harus disyukuri. Ia sehat, jadi ia bisa bekerja. Andaikata ia sakit, jangankan untuk bekerja,untuk makan pun tidak enak. Saat ini mata Kanaya terbuka lebar, bahwa kesehatan itu mahal harganya. "Itu Eyang di sana," ujar Kenan lagi membawa Kanaya pada kenyataan sebenarnya. Kanaya melihat arah pandang laki-laki itu, eyang berada di bed paling pojok. Keduanya kompak berjalan ke arah eyang. Kanaya mengulum senyum, saat matanya bersirobok dengan suster Ayu yang tengah menjaga Eyang. Suster Ayu langsung menyingkir, untuk memberikan space bagi Kenan dan Kanaya. Kanaya buta soal medis. Masuk ke ruang cuci darah pun baru satu kali dalam seumur hidupnya. Ia sedikit meringis, melihat selang-selang yang terpasang di tubuh Eyang untuk mengeluarkan dan memasukkan darah dari alat 'pencuci' itu. "Eyang," panggil Kenan. Eyang yang mendengar itu, langsung membuka matanya. "Ken," lirih Eyang. Pandangannya beralih dari Kenan. "Lho kok ada Kanaya juga?" tanya Eyang dengan terkejut melihat Kanaya berdiri di samping Kenan. Kanaya mengulum senyum. Ia menyentuh tangan Eyang kemudian menggenggamnya seraya menyalurkan kekuatan. "Naya sama Mas Ken," Kanaya menghentikan ucapannya sambil melirik ke arah Kenan. "Kalian liburan bareng?" tebak Eyang saat Kanaya belum selesai mengucapkan lanjutannya. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban, dan langsung mendapatkan senyuman Eyang. "Sebenarnya nggak sengaja sih, Yang. Mas Ken jadi pilot Naya, terus ketemu di bandara. Kebetulan Naya pergi sendiri, yaudah deh jadi bareng aja." "Kalau kata Eyang sih itu bukan kebetulan. Tapi sudah ada yang ngatur," ujar Eyang dengan suara yang masih lemas. Kening Kanaya mengerut, tanda tidak mengerti dengan ucapan Eyang. "Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, Sayang. Bahkan daun yang jatuh pun sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Begitu pula dengan pertemuan kalian, Allah yang sudah mengatur semuanya." Ucapan Eyang membuat Kanaya tergelak. Benarkah semuanya sudah diatur? Mungkinkah pertemuannya dengan Kenan merupakan satu dari skenario hidupnya? Kanaya jadi mengingat lagi beberapa waktu ke belakang, semuanya seperti sebuah puzle yang saling melengkapi. Pertemuannya dengan Eyang dan Kenan di Grand Indonesia, insiden handphone, kedatangan Marvin kembali, hingga rahasia yang disembunyikan Marvin membawanya ke Bali dan membuat Kanaya menjadi dekat dengan Kenan. Yang terakhir, persetujuannya menerima lamaran Kenan saat di pesawat tadi pagi. Satu pertanyaan Kanaya saat ini, mungkinkah Kenan orang yang Allah pilihkan untuk menjadi nakhoda bagi bahteranya? "Pasti Eyang lalai lagi deh, nggak mau cuci darah," ucap Kenan dengan nada sedikit kesal. "Abisnya Eyang bosan, Ken. Lima jam Eyang cuma bisa tidur-tiduran doang." Eyang cemberut, hal itu membuat Kanaya tenang. Sepertinya keadaan Eyang sudah lebih baik. "Kalau Naya yang temenin Eyang setiap cuci darah mau nggak?" tanya Kanaya menawarkan diri.  "Kan Naya harus kerja. Nanti butik Naya siapa yang jaga? Lama lho, jagain Eyang." "Ada Gita, dia yang biasa handle semuanya." "Kalau gitu Eyang seneng banget." Eyang tertawa. Wajahnya sedikit memerah, tidak pucat lagi. Baik Kanaya maupun Kenan tersenyum senang. Mata keduanya bersirobok, Kenan mengucapkan sesuatu tanpa bersuara. Kanaya bisa tahu dari gerak bibirnya. "Terima kasih." *** Kenan sudah kembali dari Masjid Rumah Sakit untuk shalat zuhur berjamaah. Lelaki itu datang membawa dua bungkus makanan, untuknya dan juga Kanaya. Seingatnya, gadis itu belum makan sejak tadi pagi. "Nah itu Ken sudah datang," ujar Eyang. Kenan tersenyum ke arah dua wanita beda generasi itu. Kanaya tengah sibuk menyuapi Eyang untuk makan siang. "Saya bawakan kamu makanan. Kamu belum makan kan dari tadi pagi?" Kanaya mengangguk sebagai respons. Ia meletakkan piring yang sudah kosong ke nakas samping bed. "Yasudah kalian berdua makan siang dulu sana," titah Eyang. "Nanti Eyang nggak ada yang jaga," tukas Kanaya. "Di sini kan ada dokter jaga, suster-suster yang baik. Ada suster Ayu juga. Nggak papa, kok." "Beneran Yang?" tanya Kanaya memastikan. Eyang mengangguk. "Ken ajak Kanaya makan siang," titah Eyang lagi, khawatir kalau Kanaya makan di tempat ini gadis itu akan merasa jijik karena melihat darah. Keduanya langsung keluar dari ruang hemodialisa mencari tempat yang nyaman untuk makan. Sebuah cengiran nampak di wajah Kanaya saat gadis itu membuka bungkusan makanan. Nasi padang dengan lauk rendang yang sangat menggoda selera. Ditambah sayur nangka dengan daun singkong dan sambal randang yang membuat cacing di perutnya seketika berdemo ria. Namun sayang, belakangan ini makanan itu sedang Kanaya hindari. "Saya nggak tahu kamu sukanya makan apa. Harusnya tadi saya bawa kamu ke sini, supaya bisa pilih sendiri," ujar Kenan melihat raut wajah Kanaya. Keduanya sudah berada di kantin Rumah Sakit. Cukup ramai pengunjung yang datang, karena bertepatan dengan jam makan siang. "Nggak papa, Mas. Saya suka, kok. Cuma lagi sedikit mengurangi aja," jujur Kanaya. "Mas beli ini di mana?" tanya Kanaya. Karena di kantin tidak ada menu nasi padang. "Di luar. Saya nggak kepikiran ada kantin. Yang ada di pikiran saya, saya harus belikan kamu makanan. Itu aja." Kanaya jadi paham sifat asli Kenan. Laki-laki itu tidak suka basa-basi. Tidak perlu menanyakan ia sudah makan atau belum, langsung belikan makanan saja. Sama halnya saat mengajaknya menikah. Tidak menanyakan dulu apa ia punya pacar atau tidak. Asal lamar saja. "Makasih Mas," ujar Kanaya tulus. "Ya, sama-sama." Keduanya langsung menyantap jatah makan siangnya masing-masing. "Kanaya," panggil Kenan ditengah-tengah acara makan mereka. Kanaya merasa canggung, pasalnya saat ini Kenan sedang menatapnya lekat. Kanaya bergerak-gerak tidak jelas di kursinya. Salah tingkah. Duh, kapan terakhir kali ditatap seperti itu sama laki-laki? Kanaya lupa. Atau jangan-jangan di giginya terselip cabai? Kan tidak lucu! Kanaya tidak sanggup menatap mata Kenan yang setajam mata elang. Tubuhnya seperti dikuliti habis-habisan hanya dengan sebuah tatapan. Pandangannya turun, kini ia beralih pada bibir Kenan yang sedikit berminyak karena kuah nasi padang. Astaga! Pikirannya menjadi melalang ke mana-mana. Karena tidak ingin pikirannya terkontaminasi, pandangan Kanaya kembali turun. Kali ini ke arah jakun. Dan sialnya, jakun laki-laki itu sedang naik turun dan terlihat ... Seksi. Ingin rasanya saat ini Kanaya menghilang entah ke mana, asalkan bisa menjauhi Kenan. Agar dirinya tidak khilaf membawa laki-laki itu langsung ke KUA. "Kapan saya bisa bertemu dengan orangtua kamu?" Seseorang bisa tolong sadarkan Kanaya dari kegilaan ini? ***** Happy reading... Luvvv  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN