Hari ini Kanaya terpaksa harus cheating dari kebiasaannya mengkonsumsi healthy food. Setelah pesawatnya landing, ia merasakan perutnya perih tak terkira. Dan benar, ia belum sempat sarapan. Bahkan perutnya tidak kemasukan apapun sejak kemarin. Selama di pesawat, ia hanya tertidur.
Kakinya melangkah ke restoran cepat saji yang paling dekat dari jangkauannya. Memesan makanan, setelah itu memilih kursi yang kosong. Kanaya makan dengan lahap, hingga tak ada yang tersisa kecuali tulang ayam. Sepertinya Kanaya harus banyak makan setelah ini, karena pura-pura bahagia itu butuh tenaga ekstra.
Setelah dari resto junk food, Kanaya keluar dari bandara Ngurah Rai. Sebenarnya ia tidak tahu kemana tujuan perjalanannya hari ini. Ia sudah ingin memesan taksi online namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kalau boleh tau, tujuan kamu mau ke mana?" tanya lelaki yang masih menggunakan seragam pilot lengkap ditambah koper yang ada di tangannya. Dia menatap ke arah Kanaya menanti jawaban.
"Nggak boleh tahu." Masalahnya ia saja tidak tahu tujuan akan ke mana.
"Kalau nunggu taksi online jangan di sini. Nggak akan ada. Jalan dulu ke sana," jelas lelaki itu dengan komunikatif, seolah sudah terbiasa dengan tempat ini. Lelaki itu langsung berjalan ke arah luar bandara, mau tidak mau, Kanaya mengikutinya.
"Saya nggak tau mau ke mana," ujar Kanaya. Jujur, ia pergi ke Bali hanya untuk menghindari ibukota dan seseorang, tentunya. Keduanya sudah berjalan beriringan dengan memegang koper masing-masing.
"Ikut saya saja, bagaimana?" tanya Kenan seraya menaikkan satu alisnya. Keningnya mengerut membentuk tiga guratan.
"Ke mana?" tanya Kanaya.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Kenan dan setelahnya mendapat dengusan dari Kanaya. "Kalau tanpa tujuan yang jelas, saya nggak mau!" semuanya harus jelas, mau ke mana arahnya. Begitu pula dengan hubungan, udah pacaran lama-lama malah cuma jagain jodoh orang!
"Nusa Penida, mau?"
Kanaya mengangguk setuju.
Tujuan awal mereka adalah ke Pelabuhan Sanur. Mereka ke sana dengan menggunakan taksi online yang dipesan oleh Kenan. Kenan duduk di samping kursi kemudi, sedangkan Kanaya duduk di belakang. Kanaya hanya mendengarkan obrolan dua laki-laki di depannya, ia hanya menanggapi sesekali saja.
Rasa lelah perjalan membuat Kanaya mengantuk, tanpa sadar ia menguap.
"Kalau kamu ngantuk, tidur aja dulu. Nanti saya bangunin," tukas Kenan. Kanaya hanya mengangguk dan menyandarkan tubuhnya pada kursi untuk mencari posisi wuenak. Sayup-sayup, Kanaya mendengar sebuah suara.
"Mau bulan madu ya, Mas?"
Itu suara Bli, drivernya. Karena terlalu mengantuk, ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Dan melanjutkan tidurnya.
****
Kanaya merasakan tubuhnya diguncang-guncang oleh seseorang. Baru saja ia masuk ke alam mimpi, orang itu malah membangunkannya. Padahal mimpinya itu sangat indah, saking terlalu indahnya Kanaya sampai membentuk pulau di kursi.
Ia pun tergagap, terutama saat pertama kali ia membuka mata, wajah Kenan lah yang terlihat. Dari jarak yang begitu dekat, lagi. Entah mengapa membuat sesuatu di dalam dadanya mengetuk-ngetuk ingin keluar.
"Ayo, kita udah sampai," ujar Kenan. Untung saja lelaki itu sudah mengeluarkan setengah badannya dari mobil, ketakutan Kanaya sedikit berkurang tentang lelaki itu yang mendengarkan degup jantungnya.
Kanaya menuruti perintah. Entah mengapa, ia menjadi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut saja. Padahal sebelumnya, ia sangat sebal dengan laki-laki itu.
Kenan dengan driver sedang mengeluarkan koper mereka dari bagasi, sedangkan Kanaya terpaku menatap lautan di kejauhan sana. Sepertinya ia salah pergi ke Bali, karena setiap ia melihat kapal dan air laut, pikirannya langsung tertuju pada Popeyenya. Ralat. Mantan Popeye. Seseorang yang telah meninggalkannya dengan cara paling menyakitkan.
"Ini koper kamu," tukas Kenan seraya meletakkan koper Kanaya di sampingnya. "Kamu tunggu sini dulu, saya mau beli tiket."
Kenan langsung meninggalkan gadis itu sendiri. Beberapa langkah, saat dirinya sudah menjauh dari Kanaya, ia menghadapkan tubuhnya lagi ke belakang. Memerhatikan gadis yang tengah berdiri dengan rambut yang tertiup angin kencang. Gadis itu, raganya memang berada di sini, tapi jiwanya entah pergi ke mana.
"Ini tiket kamu. Fast boat datang sepuluh menit lagi," ujar Kenan yang telah kembali. Kali ini ia telah menanggalkan seragam pilotnya dan merubahnya dengan kaos polo berwarna hitam disertai dengan celana jeans di bawah lutut.
Kanaya menerima tiket itu seraya mengucapkan terima kasih. Sekali lagi, pandangannya menatap ke arah laut, dengan tatapan yang kosong. Kenan merasa perempuan yang sedang berdiri di sampingnya ini bukanlah Kanaya seperti pertemuan pertama mereka. Gadis itu seperti kehilangan semangat hidup, sedikit banyaknya Kenan pernah berada di posisinya, dan ia tahu, bagaimana beban yang ditanggung oleh Kanaya saat ini.
"Oh iya, Eyang kangen sama kamu." Kenan membuka percakapan lagi. Hal itu cukup berhasil, karena Kanaya menoleh ke arahnya.
"Oh ya? Saya juga kangen sama Eyang. Gimana kondisinya?" tanya Kanaya.
"Alhamdulillah," jawab Kenan dengan satu kata syukur. Selama Eyangnya masih mau rutin cuti darah, dan kondisinya tidak drop, hal itu sudah cukup untuk Kenan.
"Nanti kita di sana pakai tour guide?" tanya Kananya lagi, kali ini dengan topik yang berbeda.
"Nggak. Saya yang akan jadi tour guide kamu."
"Memangnya bisa?" tanya Kanaya meremehkan.
"Saya sudah pernah ke sini. Tapi, gimana nanti aja, deh."
Setelah mengucapkan itu, fast boat yang mereka tunggu datang. Keduanya langsung berjalan ke arah dermaga.
"Tunggu! Kamu bawa sandal, nggak?" tanya Kenan menghentikan jalan Kanaya. Ia melirik gadis itu yang masih menggunakan sneakersnya. Kanaya menggeleng sebagai jawaban. "Kamu pakai sandal saya. Nanti ketika sampai di sana, ada jarak antara dermaga dan pelabuhan, juga banyak karang yang tajam."
Lagi-lagi, Kanaya hanya bisa menurut saat Kenan melepas sandal yang dipakainya, kemudian tubuh Kenan menunduk serta memasangkan sandal itu di kedua kakinya.
****
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, akhirnya mereka tiba di Pelabuhan Toyapakeh. Kanaya merasakan aneh di perutnya, satu tangannya yang tidak memegang koper, menutupi mulutnya. Ombak dari Pelabuhan Sanur hingga ke sini sangat kencang, otomatis membuat fast boat terguncang-guncang, dan perutnya terasa mual.
"You okay?" tanya Kenan nampak khawatir saat melihat wajah Kanaya terlihat pucat. Gadis itu mengangguk seraya menunjukkan ibu jarinya.
"Mas Kenan! Apa kabar, Mas?" seorang bapak paruh baya menghampiri mereka. Kenan tersenyum dan mengulurkan tangan ke depan.
"Alhamdulillah, baik Pak Wayan. Bapak sendiri bagaimana?"
"Baik juga. Wah sekarang berdua ya, Mas?" Pak Wayan melihat ke arah Kanaya. Merasa diperhatikan, Kanaya tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada Pak Wayan.
"Kanaya, Pak."
"Pak Wayan." Bapak itu beralih lagi pada Kenan, "tahun kemarin ke sininya masih sendiri ya, Mas. Sekarang sudah bawa istri," lanjutnya.
"Eh, dia temen saya, Pak," terang Kenan yang dibalas senyuman penuh arti dari Pak Wayan.
Keduanya berjalan menuju penginapan yang dipandu oleh Pak Wayan. Sekitar 10 menit menaiki mobil, akhirnya sampai. Mereka langsung check in untuk dua kamar.
Kanaya senang dengan penginapan di sini, selain letaknya yang tidak jauh dari pelabuhan, tempat ini juga sangat nyaman. Disertai dengan wifi dan juga kolam renang. Untuk bisa sampai ke kamar, ia harus menaiki tangga di samping kolam renang terlebih dahulu.
Kanaya sudah tidak sabar untuk berkeliling di Nusa Penida. Tadi ia sempat mendengar pembicaraan Kenan dengan Pak Wayan, selama di sini mereka akan pergi ke Kelingking Beach, Angel's Billabong, dan ke Broken Beach.
Baru saja Kanaya membuka pintu kamar, sebuah suara menginterupsi.
"Ehm Kanaya," panggil Kenan. "Siap-siap, setelah zuhur kita akan ke Kelingking Beach."
Kanaya mengangguk, ia menampakkan senyum yang sejak tadi disembunyikan. "Oke."
****
Kanaya mematutkan diri di cermin. Ia sudah siap dengan kemeja rayon berwarna biru, dengan ujung kemeja yang ia ikat dan satu kancing atas terbuka. Ditambah short pants motif floral yang mengekspos kakinya yang panjang. Rambut yang biasa tergerai, kali ini ia cepol, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Untuk kali ini, ia membiarkan wajahnya tanpa make up sedikit pun. Satu-satunya yang ia kenakan hanya sunblokck karena udara yang cukup terik. Bibirnya pun tidak tersapu gincu, sudah merah alami.
Pintu kamarnya di ketuk, ia segera menyambar tas kecilnya dan kaca mata hitam yang ia kenakan di atas kepala.
Saat ia membuka pintu, Kenan sudah berdiri di depan kamarnya. Laki-laki itu masih memakai kaos hitam yang menampilkan tubuh tegap serta lengan besarnya. Untuk celana, laki-laki itu mengganti jeans dengan celana bahan di bawah lutut. Ya, harus Kanaya akui kalau saat ini laki-laki itu begitu ... Tampan.
"Sudah siap?" tanya laki-laki itu. Kanaya kesulitan menelan salivanya sendiri, ia gagal fokus saat melihat jakun Kenan yang naik turun. "Naya? Sudah siap?" tanya Kenan sekali lagi.
"Eh! I-iya sudah," gugup Kanaya. Hal itu membuat Kenan terkekeh, dan berhasil membuat pipi Kanaya bersemu merah.
Keduanya berjalan menuju parkiran, Pak Wayan menunggu di sana. Kanaya berada di belakang tubuh Kenan. Ia mengamati punggung tegapnya, kalau bahasa zaman now, punggung itu senderable dan pelukable.
Astaga! Kanaya buru-buru menggelengkan kepala agar pikirannya tidak kemana-mana. Ia merasa menjadi w************n. Bisa-bisanya ia terpesona dengan lelaki menyebalkan itu.
Tapi kalau dipikir-pikir, kalau bukan karena laki-laki itu mungkin ia sudah berjalan sendiri di tempat orang. Bisa jadi ia juga tersesat atau menghilang dan tidak bisa kembali ke ibukota. Harus Kanaya akui, Kenan yang sekarang berada di depannya ini bukan seperti Kenan saat pertemuan pertama kali mereka. Entah hanya perasaannya atau bukan, kali ini Kenan sangat perhatian. Dia juga selalu mendahulukan kepentingan Kanaya daripada kepentingannya sendiri. Seperti kejadian sandal contohnya.
"
Awh!" Kening Kanaya menabrak sesuatu. Ternyata ia menabrak tubuh Kenan yang berhenti mendadak. Kepalanya sedikit terangkat, hingga kedua matanya bertemu dengan mata Kenan yang tajam seperti mata Elang.
"Kalau jalan itu lihat-lihat. Sekarang saya tau, siapa yang salah waktu kejadian di PI."
"Sorry, habisnya tadi saya ... " Kanaya menggantung kalimatnya. Tidak mungkin ia jujur kalau ia sedang terpesona dengan punggung lelaki itu. Bisa-bisa dia besar kepala dan semakin menyebalkan. "Saya lagi mikir, kenapa punggung kamu bisa senderable gitu, ya?"
Mampus! Kanaya merutuki kebodohannya. Ia menepuk mulutnya sendiri yang kurang ajar.
Kenan tertawa terbahak, bahunya sampai bergetar. Kanaya refleks memukul lengan besar Kenan. Dan tentu saja, tidak berarti apa-apa karena lengan itu begitu keras.
"Mungkin Tuhan menciptakan punggung saya seperti ini, supaya bisa jadi tempat bersandar seseorang."
Kanaya bergeming sejenak melihat senyum milik Kenan. Senyum itu begitu tulus, menunjukkan sederet giginya yang putih. Entah mengapa sesuatu di dalam tubuh Kanaya berdesir hebat hanya karena melihatnya. Selanjutnya Kanaya tersadar, saat lengan kanannya di tarik seseorang.
Dia Kenan, yang tengah menariknya untuk masuk ke dalam mobil.
*****
"Waaah gilaaa keren parah! Gokil!" pekik Kanaya saat sudah berada di Pantai Kelingking. Sepanjang mata memandang, ia disuguhkan oleh air laut yang sangat biru. Serta tebing karang berwarna hijau. Banyak yang bilang bentuknya seperti ikan paus dan jari kelingking. Sungguh, ini benar-benar surga yang terhampar di bumi Indonesia.
"Masya Allah," ujar Kenan yang berdiri di sampingnya. Kanaya menoleh, laki-laki itu tersenyum ke arahnya. "Kalau melihat sesuatu yang mengagumkan, daripada mengucapkan gila, gokil, buset, lebih baik mengucapkan Masya Allah. Masya Allah ini mengembalikan kita kepada Allah, bahwa segala hal yang membuat kita kagum, terwujud atas kehendak Allah. Bukan usaha kita atau usaha manusia."
Kanaya mendengus. "Iya Pak ustaz! Masya Allah banget tempatnya."
"Mau turun ke sana deh," sambung Kanaya. Di bawah sana terdapat pasir putih yang tersapu ombak.
"Tangganya terjal banget, kamu berani?"
"Siapa takut!" tantang Kanaya. Dan benar saja tangga untuk turun sangat terjal. Untuk pegangan pun hanya ada bambu yang dipasang di bagian pinggir. Kalau tidak hati-hati, bisa tergelincir.
"Hati-hati," ingat Kenan. Ia berada di depan Kanaya. Jika gadis itu kesulitan melangkah dengan sigap ia membantunya.
Keadaan di bawah tebing sangat sepi dan sunyi. Hanya terdengar deburan ombak yang menyapu bibir pantai. Para wisatawan pun jarang ada yang sampai turun, alasannya karena tadi, jalannya yang sangat mengerikan. Di bawah sini pun hanya ada Kanaya dan Kenan saja. Pak Wayan tidak berani turun karena badannya kurang fit.
"Berasa punya pulau pribadi deh," tukas Kanaya saat sudah berada di pantai. Dari atas tebing tempat ini terlihat kecil, namun setelah ia berada di sini, ternyata luas juga.
"Iya, untung kita ke sininya bukan akhir tahun. Kalau udah bulan November atau Desember, pasti rame banget."
"Huuuah, INSTANLY I'M FALL IN LOVE WITH NUSA PENIDA!"
Kanaya melepas sandalnya, membiarkan kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang sangat lembut. Ia berlari untuk menuju bibir pantai. Kanaya merentangkan kedua tangannya, merasakan angin laut yang menampar tubuhnya, juga kakinya yang tersapu ombak. Senyum manis yang ia punya terlukis jelas di wajah cantiknya.
Laut memberikannya banyak kejutan. Ia pernah meminta agar laut bisa bersahabat dengan kapal yang membawa kekasihnya. Dan meminta agar laut cepat membawanya pulang. Namun setelah kepulangannya, siapa sangka, kekasihnya malah pergi dengan meninggalkan sejuta luka di hatinya. Untuk kali ini bolehkah Kanaya meminta, agar laut juga membawa cintanya pergi?
Kanaya membuka matanya, ia menatap laut lamat-lamat seolah orang yang dulu pernah ia cintai sedang berlayar di sana. Kanaya menarik napas dalam, kemudian berteriak.
"DASAR MARVIN b******k!"
"Kurang kenceng, coba lebih kenceng lagi. Biar hati kamu plong." Kenan sudah berada tak jauh darinya. Laki-laki itu juga sedang memandang lautan luas.
"DASAR MARVIN b******k!"
"Masih kurang, biar mereka yang di atas tebing sana mendengar suara kamu."
"MARVIN b******k! KENAPA LO BISA LAKUIN INI KE GUE!" Tanpa terasa air mata Kanaya jatuh, ia segera menyeka habis dengan punggung tangannya. "KENAPA LO NINGGALIN GUE KAYAK GINI?!"
"MARVIN SINI LO! GUE MAU TENDANG s**********n LO!"
"Haduh kok jadi saya yang ngilu?" pungkas Kenan yang membuat Kanaya menoleh.
"Apa? b****g kamu perlu saya tendang juga!" Mata Kanaya melotot sempurna. Kedua tangannya berada di pinggang.
Tubuh Kenan membungkuk, ia memercikkan air di wajah Kanaya. Kemudian ia langsung mengambil langkah seribu.
"Kenan! Sini kamu!" Kanaya mengejar Kenan yang berlari menjauh. Kenan berhenti sejenak, dengan tubuh yang menghadap Kanaya. Kanaya pun ikut menghentikan langkahnya.
"Saya lebih tua dari kamu, asal kamu tau itu!" protes Kenan saat Kanaya memanggilnya hanya dengan nama.
"Yasudah saya panggil kamu, Om!"
"Kok Om sih, panggil aja Mas," ujar Kenan dengan mengedipkan mata kirinya. Kanaya bergidik ngeri melihat wajah Kenan yang menurutnya nggak banget itu.
"Ih, aku jijik, Mas. Aku jijiiik!"
Kalau tadi Kenan hanya memercikkan air ke tubuh Kanaya, kali ini Kanaya balas dengan menyiram tubuh itu dengan air laut. Alhasil, kaos yang Kenan kenakan basah hingga membentuk jelas tubuh Kenan.
"Kanaya! Awas kamu!"
Kali ini berganti Kenan yang mengejar Kanaya untuk balas dendam. Keduanya berlarian di atas pasir putih yang sangat bersih. Kanaya tertawa puas saat Kenan tidak berhasil menangkap tubuhnya. Entah mengapa, beban yang menghimpit dadanya kini terangkat. Sesak yang ia rasa seminggu ini menghilang entah ke mana.
Kalau Kanaya meminta agar laut membawa cintanya pergi, bolehkah laut memberikannya cinta yang baru?
****