"Kalau iya, saya akan berjuang untuk kamu." Diperjuangkan. Kanaya pernah. Sekalipun ia sudah menolak mentah-mentah. Namun orang itu bersikukuh untuk mendekat. Dia datang di saat Kanaya tidak mengharapkan cinta. Dia datang laksana prajurit yang siap bertempur di medan perang. Dia datang membawa lilin di saat hatinya gelap gulita. Dia datang bagai hujan di tengah tandusnya hati Kanaya. Setiap hari dia tidak pernah lelah meruntuhkan pertahanan hati Kanaya, meski dengan jelas Kanaya menolaknya. Setiap hari dia datang dengan segala perhatian-perhatian kecil, namun sangat romantis. Setiap hari dia datang menawarkan aroma segar dari cinta yang tak pernah Kanaya hidu. Dia yang datang dengan penuh suka cita, namun pada akhirnya dia yang meninggalkan luka. "Aku pernah diperjuangkan mati-matian,

