“Makan dong sayang, wajah kamu pucat begitu.” Gio sedang di apartemen Sera. Kekasihnya itu mengeluh sedang mual karena tidak bisa makan sejak pagi. Bukan karena tidak sempat tapi perutnya menolak untuk diisi. Sera mendesah lemah, “Kalau makanan bisa masuk, sudah dari tadi aku makan Gio. Lagipula kenapa kamu ke sini? Katanya lagi banyak pekerjaan, nanti Kak Gery marah lho.” Gio membenarkan duduknya di sofa, “Gimana bisa kerja kalau kamu nggak mau makan.” Melihat raut wajah yang khawatir, tangan Sera tergerak lalu menangkup pipi Gio. “Maaf buat kamu khawatir, tapi persiapan pernikahan kita membuat aku sedikit stres.” “Jangan seperti ini, bukankah semua sudah berjalan normal. WO juga sudah memastikan semua akan berjalan lancar dan semua juga sudah siap. Tinggal pelaksanaan dua minggu lag

