B E. Part 10b

1215 Kata
Sera mengangkat bahunya, “Nggak tahu. Tiap ketemu ada aja yang bikin kita sama-sama kesal. Dia nyebelin.” “Tapi Gio bukan tipe orang nyebelin kok. Dia emang lebih pendiam, tapi baik banget kalau sama orang yang ia kenal,” ujar Raka. Tentu saja ia mengenal adiknya dengan baik, baik sifat dan tingkah lakunya. Gio jarang membuat masalah. Raka hanya pernah mengalami keterpurukan waktu Rea harus mengalami hal yang menyakitkan, di saat bersamaan ia juga mengalami patah hati. Setelah dua kejadian itu Gio menjadi orang yang lebih tegar dan tangguh. Sera mendengus kesal, “Tapi kalau sama aku auranya selalu menyebalkan.” “Perasaan kamu aja kali, Ser. Kan kamu emang orang judes dan ketus,” ucap Raka. “Kak Gio baik banget kalau sama orang yang dikenal, Kak. Mungkin dia nggak ada maksud bikin Kak Sera marah. Kayak cuma mau jailin terus bercandain Kak Sera aja.” “Kalian emang saudara sejati. Kompak banget baik-baikain si Gio, macam seles panci yang lagi promosi daganganya,” sindir Sera. Raka tergelak, “Aku sama Rea nggak ada niat buat baik-baikin Gio. Tapi itu memang kenyataan karena kami tumbuh bersama jadi tahu sifat satu sama lain,” ucap Raka. “Udah ah, kenapa bahas Gio sih,” protes Sera membuat Rea dan Raka saling menatap dengan senyum ditahan. Rea dan Raka hanya bisa menggeleng melihat wajah kesal Sera. Gadis itu seperti anak kecil ketika sedang merajuk. *** Karena Gio tidak bisa bertemu dengan Raka di rumah sakit, jadilah kembaran Dimas itu pergi berkujnung malam hari ke rumah keluarga Adam. “Malem Mami cantik, lagi masak apa?” Raka menghampiri Santi yang sedang menghidangkan makan malam untuk keluarganya. Menarik satu kursi kemudian mendaratkan bok0ngnya di sana. “Eh, kamu bikin kaget saja. Mami masak ayam woku, telur ceplok sama tumis brokoli. Kamu udah makan malam? Kalau belum makan di sini aja bareng yang lain,” ujar Santi. Raka memperhatikan menu yang terhidang di atas meja, sederhana tapi cukup membuat cacing dalam perutnya meronta dan meminta untuk di isi. “Boleh, aku juga belum makan. Tapi mau ketemu Gio dulu, lagi di mana dia sekarang? Sudah pulang kan?” “Lagi di kamar, sekalian kamu panggil dia. Masih nunggu Papi mandi juga, jadi kamu ketemu Gio aja dulu,” wanita paruh baya yang masih terlihat energik dan muda itu sedang sibuk menata piring dan sendok serta garpu. Tidak lupa gelas dan air minum. “Oke, Mi. Raka mau ketemu Gio dulu ya,” Raka siap melangkah menuju lantai atas. “Eh Raka, tunggu dulu,” Santi menghentikan langkah keponakannya. Raka membalikkan badan karena di panggil Santi, “Kenapa, Mi?” Raka kembali mendekati tantenya yang di panggil dengan sebutan Mami. “Raka, Gio lagi ada masalah ya? Kok akhir-akhir ini dia lebih pendiam,” suara Santi sedikit berbisik. Takut jika yang jadi bahan pembicaraan ternyata muncul tiba-tiba. Raka mengernyitkan alisnya, “Aneh gimana sih? Kok Mami mikir gitu sama anak sendiri?” “Justru karena anak sendiri Mami jadi khawatir begini. Sejak pulang dari Sukabumi dia suka pulang malam, terus jarang banget ngobrol sama Mami dan Papi. Bahkan Mami belum sempat nanya kenapa bisa dia yang jemput Sera ke Sukabumi, bukan kamu atau keluarganya. Kan yang jadi teman dekat Sera kamu dan Gio bukan orang yang bisa berteman dekat dengan Sera. Kamu tahu kan mereka suka berantem nggak jelas.” Raka tersenyum tenang, ia mengerti dengan kekhawatiran tantenya. “Mami sayang, Gio adalah tipe orang yang akan selalu membantu orang yang ia kenal atau pun orang yang sedang butuh bantuan tidak terkecuali Sera. Jangan deh pandang Sera suka sama Raka, tapi kita lihat posisi Sera adalah keponakan dari suami Rea. Jadi otomatis bagian dari keluarga kita kan? Jadi kenapa Mami bisa penasaran dengan hal yang sebenarnya biasa saja.” “Terus kenapa dia jadi diem gitu? Mami kan jadi bingung.” “Mami, kan Gio emang orangnya cuek. Gimana sih anak sendiri kok lupa gimana sifatnya. Kayaknya sifat Gio nurun dari Om Putra. Tahu lah gimana cueknya Om Putra,” terang Raka. “Justru karena Mami tahu gimana Gio dari dalem perut makanya Mami tahu kalau lagi ada sesuatu yang di sembunyiin. Ya sudah buruan naik cari Gio. siapa tahu dia cerita sama kamu.” Raka mendesah pelan, “Kan tadi Mami manggil aku, gimana sih.” Raka menyusul Gio ke kamarnya. Namun belum sempat ia masuk ke kamar, Raka melihat Gio sedang berdiri di balkon lantai dua. Raka menghampiri adiknya yang pandangannya menatap ke arah luar. “Kamu di sini,” sapa Raka saat berdiri di samping Gio. Gio terkesiap “Kaget..” “Tadi kenapa nggak mau ke ruangan Sera sebentar sih? Kan aku harus ke sini jadinya,” gerutu Raka. Gio menoleh ke arah Raka, “Kan bisa telpon, susah amat. Aku ada meeting penting jadi buru-buru. Emangnya mau ngomong penting apa sih sampai harus datang ke sini?” Raka membalik tubuhnya dan bersandar pada dinding balkon, “Kamu ada masalah sama Sera?” “Maksudnya?” “Kalian berdua aneh banget, kayak minyak sama air nggak bisa nyatu. Tiap ketemu ada aja hal yang diributin.” Gio bingung dengan arah pembicaraan Raka, “Ini mau ngomong apa sih? Kok muter-muter nggak jelas” “Lupain. Aku ke sini mau kasih tahu soal pemotretan anak sanggar. Aku free minggu depan jadi bisa ambil job kalian” “Owh, oke thank kalau gitu. Kalau cuma mau kasih tahu hal ini kan bisa telpon aja.” “Karena aku mau buktiin kecurigaan Rea dan yang lainnya soal perubahan sikap kamu yang mendadak lebih dingin dan pendiam dari biasanya.” Gio menatap Raka, keningnya berkerut, “Lalu?” Raka mengangkat bahunya, “Entah. Rasanya kecurigaan mereka benar. Kamu aneh, nggak kayak biasanya. Sadar nggak sadar sih, kamu lebih tertutup, Gi.” Gio mendesah lemah, “Jangan mikir aneh deh. Aku masih sama seperti dulu nggak ada yang berubah.” “Gi, kamu suka sama Sera?” “Apaan sih, kok jadi nanya gitu?” Raka mengangkat bahu, “Nggak tahu, kok rasanya ada sesuatu di antara kalian.” “Kamu nggak suka kalau aku terlalu dekat dengan Sera?” “No. Aku malah senang kalian bisa dekat. Alangkah baiknya kalau kalian pacaran. kayaknya seru pasangan Tom and Jerry bersatu, pasti akan membawa kegemparan di keluarga Gunawan dan Berata,” Raka tergelak membayangkan ucapannya sendiri. “Gil@a, Sera bukan tipe aku,” protes Gio. “Tipe kamu masih sama kayak dulu? Siapa itu nama mantan kamu yang ngilang saat kamu lagi terpuruk?” Raka berpikir sejenak untuk mengingat. “Levia?” sahut Gio. “Ah iya. Jangan bilang kamu belum move on sama dia? Ah kalau aku sih bakalan gampang banget lupa sama dia, secara dia jelas-jelas tipe pasangan yang nggak mau nemenin pacarnya disaat susah dan terpuruk. Masa mau dienaknya aja. Cewek apaan tuh,” Raka kembali mengingat memori kelam Gio saat dulu. “Apaan sih, bahas yang nggak ada pentingnya. Udah ah, aku lapar, ayo makan dulu,” Gio meninggalkan Raka yang masih berdiri di balkon. Pembicaraan seperti ini sedang Gio hindari. Ia masih memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Ia masih menyelami hatinya sendiri dan ia masih mencoba mengelak saat sesuatu mului tubuh dalam hatinya. Setiap hari semakin menuntut untuk diperjuangkan tapi logikanya menolak untuk melakukan. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN