Sudah senin pagi saja lagi, waktu yang menurut kebanyakan siswa adalah waktu horor, tapi itu semua tentu tidak bagi Radafa. Menurutnya, hari senin itu waktu dimana ia bisa melakukan berbagai macam hal produktif lagi. Beda dengan hari weekend, biasanya Radafa hanya menghabiskannya di kamar saja jika tidak ada keperluan yang sangat urgent.
Sudah sampai di parkiran sekolah, Radafa kini berjalan dengan tenang menuju kelasnya. Saat Radafa sedang berjalan, secara tiba tiba dari arah belakang ada seseorang yang menutup kedua matanya. “Radafa, tebak ini siapa?” Ujar perempuan itu dengan ceria.
Suara ini, Radafa sudah sangat mengenalinya, dan Radafa pun sudah tahu pemilik tangan mungil yang kini sudah menutupi matanya ini. “Rain.” Ujar Radafa sembari melepaskan tangan Rain yang menghalangi penglihatannya.
“Yey, Radafa bener.” Rain tertawa sedangkan Radafa masih saja datar.
“Rain, ini masih pagi. Lo bisa ga si buat ngga ngelakuin hal aneh dulu?”
Rain menggigit bibir bawahnya, apakah Radafa sedang memarahinya sekarang? Tapi eskpresi wajahnya sangat datar tadi. Ah Rain lupa, dari dulu ekspresi wajah Radafa memang seperti tembok. Datar.
“Ga bisa. Wle.” Ujar Rain sembari memeletkan lidah dan menjulingkan matanya. Kemudian ia kabur meninggalkan Radafa.
“Rain... Rain... gue ga ngerti sama lo.” Gumam Radafa seraya tersenyum tipis sekali.
Sesampainya di kelas, Radafa dihidangkan pemandangan yang sangat menganggu mata dan telinganya. Pasalnya, teman teman Radafa seperti sedang menggelar konser dadakan pagi ini. Dengan Varo selaku vokalis yang sudah memegang botol minum sebagai mikrofon, Bisma si manusia anjir selaku drum, Rangga dan Bagas selaku gitaris dan tak lupa juga siswa siswi yang lainnya ikut meramaikan konser ini dengan menjadi penonton.
“Aku cinta padamu.”
“One. Two. Three, four. Semuanya!” Seru Varo semangat
“Meski ku bukan yang pertama.”
“Di hatimu tapi, cintaku terbaik untukmu...”
“Meski, ku bukan bintang di langit.”
“Tapi cintaku yang terbaik.....”
Suara riuh siswa siswi ini menguasai penuh di kelas XI IPA 1, sampai sampai suara mereka terdengar di telinga Radafa yang sedang menggunakan earphone dengan volume keras. Itu semua membuat kepala Radafa pening. Jujur saja Radafa tidak suka keramaian seperti ini. Radafa semakin yakin bahwa murid yang masuk di kelasnya ini memang bukanlah murid pilihan.
“Radafa.” Sapa Rain ramah seraya menarik kabel earphone yang menggantung.
Radafa menoleh kesal. “Rain!”
“Hehehe Radafa, peace.” Rain terkekeh seraya menunjukkan jari tangannya yang berbentuk huruf V.
“Rain cuma mau duduk di sini aja ko.”
“Oiya, Radafa ga ikutan mereka nyanyi?”
“Rain mau ikutan, tapi Rain gatau liriknya gimana.”
“Radafa tau ga judul lagunya apa ?”
“Ga.” Balas Radafa cuek.
“Ah iya deh gapapa. Rain kira Radafa tahu, soalnya Radafa kan suka dengerin lagu.” Ujar Rain polos.
Asal Rain tahu, Radafa memang suka mendengakan lagu, tapi Radafa juga pilih pilih mana lagu yang seharusnya ia dengarkan dan mana yang tidak. Huh, begitu saja Rain tidak tahu.
“Radafa, mereka semua hebat ya.” Ucap Rain, sontak saja membuat Radafa menoleh heran. Apanya yang membuat mereka semua terlihat hebat?
“Hebat?”
Rain mengangguk cepat. “Ya, mereka semua hebat. Di sekolah mereka bisa terlihat bahagia kaya gini, dan ketika mereka sudah di rumah ataupun di luar sekolah kita ga tahu kehidupan asli mereka itu kaya gimana?”
“Itu sebabnya Rain bilang mereka semua itu hebat. Hebat dalam menyembunyikan rasa sedih.” Jelas Rain.
Radafa terdiam, tenggorokannya serasa tercekat. Ucapan Rain barusan mengingatkannya pada Varo, teman sebangkunya yang sedang bernyanyi di depan kelas. Radafa ingat betul ketika ia mengunjungi rumah Varo untuk sekedar bermain bersama, ia melihat Varo sedang ditampar oleh ayah kandungnya sendiri dari luar kaca jendela rumah Varo. Entah karena masalah apa, yang jelas Radafa tidak hanya melihat kejadian ini sekali, tapi berulang kali. Radafa juga teringat saat ia mengetahui orangtua Varo bercerai sewaktu Varo duduk di bangku kelas 10 SMA, ya baru baru ini. Dari semua masalah itu, tidak pernah sekalipun Radafa mendengar Varo mengeluh padanya ataupun pada orang lain. Bahkan yang mengetahui kabar perceraian orangtua Varo hanya Radafa saja, itupun karena Varo yang keceplosan. Radafa mengakui bahwa perkataan Rain itu benar, ia bisa mengambil contoh dari Varo, manusia yang selalu terlihat bahagia dan semangat sewaktu di sekolah tanpa peduli dengan banyaknya masalah yang sedang terjadi.
“Woy buruan ke lapang, upacar!” Teriak salah satu murid.
“Radafa, kalo gitu Rain mau keluar duluan ya sama Megan. Dah...” Ujar Rain sembari memasang topi dan berlari keluar bersama Megan.
“Daf, buru.” Ujar Varo mengajak Radafa keluar, tapi Radafa hanya diam seakan tak mendengar.
Varo pun berjalan ke arah Radafa dan segera menarik tangannya. “Malah bengong lo, udah buruan keluar.”
Satu jam lamanya para siswa mengikuti upacara bendera yang sudah biasa dilaksanakan setiap hari senin pagi. Kini, mereka pun sudah kembali ke kelasnya masing masing dengan langkah kaki siswa yang semangat ataupun yang malah lemas.
“Radafa. Nih buat Radafa, minum ya.” Ucap Rain seraya memberikan botol minum berisi jus jeruk buatannya.
“Huft... kebiasaan banget si Rain dicuekin terus.” Gumam Rain. Karena Radafa tak kunjung mengambil jus jeruk dari Rain, Rain memilih untuk menaruh di atas meja Radafa saja dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
“Gapapa Rain... Udah biasa kan Radafa kaya gitu.” Gumam Rain sembari mengelus ngelus dadanya.
Megan yang bingung ketika melihat Rain sedang mengelus dadanya sontak saja langsung bertanya “Rain, lo kenapa? d**a lo sakit?”
Rain menghentikan aktivitasnya dan menoleh, “Rain ga sakit tau.”
“Lah itu daritadi lo ngusap ngusap d**a lo, sesek ya?”
“Engga, Megannnnnnnnnnnnnnnnnnnn. Rain beneran ga sakit.” Ujar Rain gemas.
Megan tertawa melihat Rain yang tampaknya kesal padanya.
“Selamat pagi anak anak.” Sapa pa Agus.
“Pagi pak.” Jawab murid serentak.
“Lho, ko pa Agus si yang masuk?” Gumam Megan.
“Anak anak, maksud bapak datang kesini adalah ingin memberitahu kalian bahwa Bu Mela tidak bisa mengajar pada hari ini dan 3 bulan kedepan dikarenakan sedang mengambil masa cuti melahirkan. Nah, untuk hari ini bu Mela memerintahkan kalian untuk mengerjakan 2 uji kompetensi pada bab 3. Kalian paham?” Jelas Pa Agus.
Semua murid mengangguk serentak. “Paham pak.”
Mendengar balasan muridnya yang sudah paham, pa Agus pun kemudian pamit keluar karena harus mengajar di kelas lain.
Saat pa Agus sudah tidak ada di kelas, seakan sudah tahu apa yang harus siswa dan siswi lakukan ketika mendengar bahwa jam kelas pagi ini tidak ada guru yang mengajar, tanpa aba aba mereka pun bersorak dengan penuh kegembiraan.
“Megan, seneng banget nih kayaknya.” Goda Rain.
“Iya dong Rain, siapa si yang ngga seneng kalo ada jamkos?”
“Ada. Tuh.” Rain menoleh ke arah Radafa.
Megan membuang napasnya kasar. “Huh, dia emang beda dari yang lain. Hahahaha.”
“Iya, Radafa emang beda, makanya Rain suka.” Batin Rain seraya tersenyum menatap Radafa dari jauh.
Rain berhenti menatap Radafa, ia kini beralih menatap buku dan membuka halaman yang terdapat uji kompetensi pada bab 3. “Oh ini.”
Satu per satu soal Rain coba kerjakan. “Ini... oh iya iya.”
“Rain udah nomor berapa?”
“Baru nomor 11, uji kompetensi 1.” Ucap Rain dengan enteng.
“Widih, ngebut banget. Gue aja masih nomor 5.”
“Yaudah, semangat ya ngerjainnya. Kalo ada yang ga dimengerti, Megan bisa tanya ke Rain, insyaallah Rain bisa jawab.”
“Siap Rain. Makasih ya, hehehe.” Megan kembali mengerjakan soalnya.
3 jam berlalu, bel tanda istirahat pertama berbunyi dengan sangat nyaring, membuat para murid yang kelaparan dengan cepat meninggalkan kelasnya untuk memburu makanan di kantin.
“Rain, lo mau ikut ke kantin?” Tanya Megan, meskipun ia sudah tahu jawaban Rain akan seperti apa.
“Mmm... kayaknya engga deh.”
“Yaudah deh kalo gitu, gue ke kantin ya. Bye Rain.”
Hari ini Rain membawa bekal nasi dan chicken katsu sebagai lauknya, tak lupa juga Rain membawa salad sayur kesukaannya. Rain mulai memakan bekalnya dengan lahap.
“Ohok ohok.” Ditengah tengah Rain mengunyah, ia tiba tiba tersedak. Dengan cepat Rain pun mengambil minumannya.
Glek
“Aduh Rain lupa lagi ga bawa air putih.”
“Rain kayaknya harus ke kantin deh.” Pikirnya, Rain pun menutup bekalnya dan ia biarkan di atas meja.
Ini adalah pertama kalinya Rain menginjakkan kakinya di kantin sekolah, sewaktu Rain sekolah di Yogya dulu ia pun sama belum pernah merasakan jajanan kantin.
Ramai. Kata itu yang sekarang terbesit di dalam pikiran Rain. Bagaimana tidak ramai? Baru sampai saja Rain sudah menghirup berbagai bau masakan. Memang menggoda perut sekali.
Rain berjalan perlahan untuk melihat warung yang sedang sepi agar dirinya tidak berdesak desakan . “Nah itu dia.”
“Eh liat liat, itu bukannya si Rain ya?”
“Iya tuh bener.”
“Iya Sal, itu ka Rain.”
Senyum miring sudah terpasang di wajah Salsa saat ini, mumpung Rain sedang sendiri ini saatnya dia bisa leluasa beraksi.
Salsa berjalan mendekat ke arah Rain dengan segelas jus jambu yang dipegangnya. “Aduh, sorry Rain. Gue ga sengaja.” Ucapnya saat sudah menumpahkan isi gelas tersebut ke baju seragam Rain dengan sengaja.
“Yaampun baju seragam Rain kotor.” Rain menatap nanar baju seragamnya.
Dan dari arah belakang sudah ada 3 siswi yang diketahui adalah teman satu grup Salsa.
“Salsa lain kali kalo jalan hati hati ya, lihat nih baju Rain kotor.” Ujar Rain masih dengan nada lembut.
Salsa dan teman temannya hanya tertawa. “Lo pantesnya emang kaya gitu.” Ujar salah satu teman Salsa yang bertubuh tambun.
“Hahaha, iya bener, baju yang cocok buat dia emang kaya gitu.” Satu teman Salsa yang belipstik tebal ikut menyahuti juga.
Rain. Dia hanya diam melihat kelakuan teman teman Salsa yang sangat tidak sopan. Hey, Rain bukannya orang yang gila hormat, hanya saja mereka harus tahu bahwa mereka itu masih kelas 10, adik kelasnya. Memang pantas berlaku sepeti itu? Sama sekali tidak.
“Udah udah guys, gausah ngatain dia lagi. Kasian tuh kayanya dia udah mau nangis. Hahahahaha.” Ujar Salsa yang bukannya melerai malah memperkeruh suasana yang membuat mereka menjadi bahan tontonan murid lain.
“Hah? Itu ko kaya Rain si?” Megan bergumam sambil menyipitkan matanya.
“Tapi, bukannya Rain di kelas ya.” Megan kembali menyipitkan matanya untuk memastikan apakah siswi yang sedang dikerumuni oleh anak kelas 10 itu memang benar Rain atau bukan
“Yaampun itu bener Rain.” Megan menghentikan kegiatan makannya, ia berlari cepat menuju rain.
“Minggir lo semua!” Ujar Megan sembari mengibaskan tangannya untuk menyingkirkan Salsa dan teman temannya.
“Rain, baju lo kenapa?” Tanya Megan panik.
Rain menggeleng pelan. “Rain ga kenapa napa ko. Megan tenang ya.”
Percuma saja jika kini Megan bertanya pada Rain, ia hanya akan mendapat jawaban yan g tidak memuaskan. Megan pun kini beralih menatap tajam keempat perempuan di hadapannya.
“Apa yang udah kalian semua perbuat sama temen gue?” Tanya Megan sambil menunjuk satu pesatu wajah keepmpat perempuan itu.
“Eh, lo bisa ga si ngga nunjuk nunjuk kita kaya gitu?” Ujar Salsa melawan.
Megan berjalan mendekat ke arah Salsa. “Oh, lo gamau gue tunjuk?”
“Yaudah, nih rasain.” Megan menyemburkan es teh manis bekas yang ia dapatkan dari meja kantin.
“Salsa, Salsa, lo gapapa kan?” Tanya teman teman Salsa dengan wajah panik.
“Argh..... Lo apa apaan si? Baju gue basah tau jadinya.” Sewot Salsa. Sementara Megan hanya tertawa.
Rain memegang pergelangan tangan Megan. “Megan, udah ah gausah dipermasalahin hal yang kaya gini. Kita ke kelas aja yuk.”
“Jangan dulu Rain, gue masih mau buat perhitungan ke mereka.” Balas Megan dan Rain hanya menatap pasrah.
“Lo sama si Rain yang sok kecakepan itu ternyata sama aja tololnya ya. Beraninya ngelabrak adik kelas. Cuih.”
Megan naik pitam mendengar penuturan Salsa. Yang benar saja Salsa berani berkata seperti itu, jelas jelas dia yang duluan menganggu Rain.
“Oh, lo ga ngaca? Sadar diri dong sama ucapan lo. Lo baru kelas satu aja udah bangga ya.”
“Serasa berkuasa banget di sekolah ini gara gara lo pintar dan tajir? Sayang banget ya Radafa kayaknya lebih milih Rain ketimbang lo. Ternyata otak sama duit lo aja ga cukup. Haha, gue jadi kasian sama lo, segitu frustasinya gabisa dapetin Radafa sampai sampai lo harus ngenggangguin Rain kaya gini.” Ujar Megan dengan nada tinggi agar semua orang dapat tahu bahwa Salsa itu tidak sebaik yang dikira.
Napas Megan naik turun, ia masih emosi sekarang. Sementara Salsa, ia sangat malu. Mukanya akan ditaruh dimana? Pasti semua orang yang ada di kantin ini mendengar ucapan Megan tadi.
“Oh iya satu lagi, kalo sampe gue tahu lo gangguin Rain lagi. Abis lo semua sama gue.” Ancam Megan, membuat ketiga teman Salsa bergidik ngeri.
Megan memegang pergelangan tangan Rain dan mengajaknya untuk meninggalkan kantin ini. “Ayo Rain, kita balik ke kelas.”
“Gue bakal buat perhitungan sama lo, Megan. Lo tinggal tunggu tanggal mainnya aja.” Batin Salsa dengan tatapan sinis ke arah Megan.
****
“Megan, maaf.” Ucap Rain dengan nada lesu dan kepala menunduk.
“Lo ga perlu minta maaf Rain, udah seharusnya orang semena mena kaya mereka itu dikasih sedikit sentilan.”
“Megan baik baik aja kan sekarang?”
“Harusnya gue yang nanya sama lo.”
“Lo baik baik aja kan pake baju basah dan lengket kaya gini?”
Rain tersenyum. “Rain baik baik aja ko. Makasih banyak ya Megan.”