YM ~ Permintaan Maaf

1948 Kata
"Kamu istirahat, ya?" Zaine menepuk puncak kepala Dilara setelah turun dari mobil. Dilara yang datang membawa mobil sendiri, membuat Zaine kesulitan saat harus mengantar Dilara pulang. Dan solusinya adalah dengan menggunakan mobil Dilara, dan dia akan naik taksi saat pulang nanti. Dilara mengangguk, "kamu hati hati." Dia memeluk Zaine sebentar, lalu melepaskan pelukannya. Meski tidak ingin Zaine pergi, tapi dia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Zaine mengangguk. "Aku pulang dulu." Ucapnya melambaikan tangan, lalu keluar melalui pintu gerbang rumah Dilara. Dilara menyaksikan kepergian Zaine sampai kekasih hatinya naik ke dalam taksi dan melesat cepat meninggalkan kediamannya. Dilara menghembuskan nafas panjang. Saat Zaine pergi, sesuatu kembali kosong. Hidupnya yang sudah hambar, semakin hampa. Cahaya dalam hatinya kembali redup, seperti bintang yang tak bersinar. Memasuki rumah dengan langkah gontai, Dilara terperanjat saat mendengar ruang tamu sangat ramai. Dia mengangkat wajahnya, mengamati lebih detail. Tampak Leo dengan kawanannya sedang asyik bersenda gurau dan berpesta pora dengan beberapa botol anggur dan berbagai makanan ringan di atas meja. Di tambah musik SKA yang menggema dengan volume yang luar biasa membuat kepala Dilara yang sudah pening menjadi sakit. Dilara menghentikan langkahnya, berdiri di depan Leo dengan berkacak pinggang. "Kak, ini maksudnya apa? Kakak mau aku lapor sama Mama karena udah bikin rusuh di rumah?" Intonasi suaranya meninggi. "Santai dong, Ra, biasanya lo juga nggak terganggu. Ini bukan pertama kalinya, kan?" Leo berkata santai. Tidak memperdulikan ekspresi Dilara yang sudah mengeluarkan tanduk. Lagipula, dia memang selalu melakukan ini saat Mama dan Papa keluar kota. Dilara cemberut. Menggembungkan pipi dan melangkah dengan kesal ke kamar tidurnya. Meski ucapan Leo tidak sepenuhnya salah, tapi.. jangan salahkan kalau sekarang dia tidak menyukai kebisingan atau sesuatu yang bisa menambah pusing kepalanya. Sekali lagi, dia tidak menyukainya. ---------• --• Beberapa hari kemudian. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Tanpa sadar, waktu begitu cepat berlalu. Bunga mawar di halaman sudah mekar, membuat aroma harumnya menyeruak masuk ke kamar tidur Dilara saat dia membuka jendelanya. Sangat indah. Merupakan pemandangan yang sangat luar biasa. Dan ini pula yang menjadi alasan kenapa dia lebih memilih kamar tidurnya berada di lantai bawah. Selain dia bisa menyaksikan bunga bunganya mekar, dia juga bisa menikmati aromanya. Dilara membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Telentang dengan tangan dan kaki yang di renggangkan. Melihat langit langit kamar dengan perasaan rumit. Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Selain dia menjadi lebih sensitif dan peka, dia juga menjadi sangat emosional. Tidak tau spesifikasinya secara pasti, tapi perubahan itu cukup signifikan sampai terkadang dia tidak mengenali dirinya sendiri. Namun jika di ingat kembali, mungkin saja perubahan itu terjadi sejak Angga melakukan itu padanya. Terhitung sudah satu bulan sejak kejadian itu. Semakin kesini, dia juga semakin tertekan. Sudah seharusnya dia melupakan semuanya dan memulai lembaran barunya bersama Zaine. Pada nyatanya.. dia tidak bisa. Dia tidak bisa bersikap biasa saja. Tidak bisa terus menerus membohongi Zaine. Selain di bayangi rasa bersalah, dia juga di ikuti rasa takut di setiap detiknya. Cepat atau lambat, dia tetap akan menceritakan segalanya. Memberitahukan pada dunia jika dia sudah hancur, dan kehancurannya di sebabkan oleh seorang pria b******k yang melupakan tanggung jawabnya. Setelah mengambil yang pertama miliknya, tidak hanya di campakkan, dia juga di buang layaknya benda sekali pakai. Pemikiran ini bukan karena dia memiliki perasaan suka terhadap Angga. Bukan seperti itu, bahkan tidak sama sekali. Mungkin, karena perasaan bencinya kian mendalam kepada pria itu, hingga menciptakan suatu perasaan batin yang rumit. Dia membenci Angga lebih dari apapun dan lebih dari siapapun di dunia ini. Rasanya.. jika dia hidup pada masa Hitler, dia berharap Angga adalah orang pertama yang Hitler lenyapkan. Semoga saja.. itu bisa terjadi.. dia ingin pria itu mati secara mengenaskan agar perasaan sakitnya bisa hilang. Karena hanya itu satu satunya cara agar bisa mengembalikan kehidupan normalnya. "Astaga!!" Dilara meremas rambutnya dengan frustasi. Dia berusaha menjadi bijak dengan melupakan, tapi.. dia tidak cukup bodoh untuk memaafkan. Meskipun demikian, dia tidak pernah berharap akan menyimpan dendam dalam hatinya. Entah apa yang terjadi pada dunia. Dia merasa gila mendapati dirinya sendiri seperti ini. Dilara seringkali menangis di sudut saat menyadari keanehan pada dirinya. Menggigit bibirnya hingga berdarah juga menjambak rambutnya saat perasaannya kacau. Tidak hanya itu, dia bahkan tidak bisa mengendalikan diri saat emosinya memuncak. Seakan ada bara api yang bersemayam dalam hatinya hingga kobaran itu susah di hilangkan. Dia merasa tidak normal, tidak waras, gangguan mental, atau apapun itu. Ingin mengelak, tapi semua gejala itu memang ada pada dirinya. Namun, saat dia menghadap Bu Diana selaku guru Psikologi yang mengajarnya selama ini. Beliau hanya mengatakan jika dia hanya tertekan. Atau.. ada sesuatu yang mengecewakan dari dirinya sendiri yang tanpa sadar menurunkan sikap percaya dirinya, membuatnya down, terpuruk bahkan merasa tidak berarti. Itu normal untuk remaja yang mungkin stres karena tugas kuliah yang menumpuk, atau karena sering menelan masalahnya sendiri tanpa menceritakannya kepada orang lain. Itu wajar dan sah sah saja. Namun, jika keadaan itu di biarkan berlarut larut, itu bisa menjadi pemicu seseorang menjadi pesimis dan takutnya akan memilih jalan yang salah. Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunan Dilara yang berisi spekulasi tentang dirinya. Banyak pertanyaan yang dia ajukan pada dirinya sendiri, tetapi masih tidak ada jawaban. Anehnya, dia masih tidak menemukan penjelasan apapun meski dia sudah berkali kali mencari tau penyebabnya. "Non, ini Bibi." Terdengar suara Bibi dari luar, membuat Dilara menoleh ke arah pintu. "Masuk aja, Bi!" Ucap Dilara lesu. Dia malas beranjak dari ranjangnya. Tubuhnya terasa berat dan pegal, jadi.. dia akan terus berbaring sampai tubuhnya sedikit membaik. Bibi membuka pintu dan masuk. "Ada kiriman coklat lagi, Non, dari Kang Kurir. Mungkin Den Zaine yang ngirim." Bibi melangkah mendekat ke arah Dilara seraya mengulurkan sebuah coklat berbentuk panjang dengan kartu kecil yang terlampir di sana. Dilara menerimanya. "Terima kasih, Bi." "Sama sama, Non. Bibi permisi dulu." Bibi undur diri dan menutup pintu kembali. Dilara beranjak, lalu melangkah menuju meja belajarnya. Membuka kartu kecil yang terlampir pada coklat. Tanpa sadar, Dilara terkekeh setelah membaca isi pesannya. Permintaan maaf, lagi.. dan lagi.. Lucu. Jelas itu bukan cokelat dari Zaine. Tapi biarlah Bibi berpikir demikian. Lagi pula dia tidak mungkin mengatakan jika coklat ini bukan tanda cinta, melainkan wujud permintaan maaf dari seseorang yang telah menyakitinya. Dilara meletakan coklat itu pada tumpukan paling atas. Untuk kesekian kalinya pria itu mengirimkan ini padanya hingga coklat coklat itu berhasil dia susun menyerupai piramida di Mesir. Tidak terhitung jumlahnya karena dia akan mendapatkan kiriman seperti ini sampai empat hingga lima kali dalam sehari sejak dua minggu terakhir. Jumlah itu bahkan melebihi takaran meminum obat yang di anjurkan Dokter. Sangat menyebalkan. Trik bodoh seperti ini jelas tidak akan meluluhkan rasa bencinya, juga tidak bisa merubah apapun. Justru akan membuat rasa bencinya kian dalam. "Hallo.." Dilara menjawab panggilan dari seseorang setelah cukup lama hpnya bergetar. Meski tidak berdering, namun dia bisa merasakan getarannya di atas meja. "Ra, lo dimana sih? Lo gak lupa kan kalo siang ini kelompok kita ada presentasi untuk Matkul bu Diana?" Dilara menjauhkan hp dari telinganya setelah mendengar teriakan Casey dari ujung panggilan. "Iya, aku inget. Aku tutup panggilannya ya? Aku akan berangkat sekarang." Tut tut tut. Dilara menutup panggilannya. Dilara menggerutu dalam hati. Tidak perlu di ingatkan, dia juga sudah mengingatnya. Meski awalnya dia berencana untuk membolos, namun dia mengurungkan niatnya setelah menyadari jika hari ini ada presentasi tugas kelompok. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia tetap harus berangkat. ---------• --• Dilara memarkirkan mobilnya di tempat parkir Kampus. Karena Mama dan Papa sudah kembali, maka dia tidak perlu menuruti semua perkataan Leo lagi. Membuatnya memiliki sedikit kebebasan. Seperti terlepas dari jerat Leo yang selama ini membelenggu dan memenjarakannya. Dia sangat menyukai ini. Merupakan kebiasaan yang dia rindukan yaitu menghabiskan waktu dan menjalani hari harinya agar terlihat manis bersama Zaine. Dia baru saja akan membuka pintu mobilnya, sebelum mendapati pintu mobilnya dibuka dari luar. Dilara memutar bola matanya sebentar. Berpikir tentang siapa yang datang dan mengganggu, membuatnya enggan untuk keluar. Namun karena dia tidak memiliki banyak pilihan, dia tetap turun dari mobil pada akhirnya setelah menyambar tasnya di kursi kosong samping kemudi. Lalu menutup pintunya kembali. "Ra, gue mau ngomong, bentar doang." Suara itu terdengar bersamaan dengan sentuhan di pergelangan tangannya. Dilara mengibasnya begitu saja. Dia tidak suka saat tangan kotor seseorang menyentuhnya. "Ada apa sih? Mau ngomong ya tinggal ngomong aja! Apa susahnya?" Dilara berkata enteng dengan nada sarkas. Dia tidak ingin berurusan dengan b******n ini lagi, tapi entah kenapa.. pria ini seakan gemar mencari masalah dengannya. "Ra, please! Gue serius!" Angga berusaha menghentikan pergerakan Dilara yang hendak pergi dengan menarik pergelangan tangan gadis itu. Lalu mengurung Dilara dalam kungkungannya dengan menekan tubuhnya ke mobil. Angga mengawasi Dilara dalam diam. Gadis ini sangat cantik hari ini. Mengenakan a line dress berwarna putih di atas lutut dengan sneakers berwarna senada. Juga riasan ringan yang tampak sangat natural. Jika Dilara adalah kekasihnya sejak awal, dia tidak perlu berbuat sampai sejauh ini. Dilara terperanjat atas perilaku Angga. "Kamu mau apa sih?? Stop membuat semuanya menjadi semakin rumit!" Dia terpojok, tidak memiliki celah untuk mundur. Tubuhnya terhimpit antara mobil dan Angga. Seperti kelinci kecil yang terjebak dalam cengkeraman serigala, dia tidak berkutik, juga tidak memiliki celah untuk melarikan diri. "Lo yang ngebuat semua jadi rumit, Ra." Angga tidak mau kalah. Niatnya ingin meminta maaf dengan cara baik baik. Namun, gadis ini justru memperlakukannya seperti ini. Dia tau kesalahannya sangat besar, tapi.. tidak bisakah Dilara memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya? Dia juga ingin berubah. "Angga, please!" Dilara mendorong d**a bidang Angga. Juga mencoba melepaskan pegangan tangan Angga darinya. "Lepasin aku!! Kamu bikin aku sakit!" "Ra.. gue janji bakal tanggung jawab. Nggak akan kabur lagi kayak pengecut. Gue bodoh dan sekarang gue tau kesalahan gue. Gue ingin berubah dan memperbaiki diri kalo lo mau ngasih gue satu kesempatan lagi." Angga berucap dengan suara samar, bahkan nyaris tidak terdengar. Namun, Dilara masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. "Gue minta maaf karena udah berpikiran sempit dengan membeli obat itu di apotik. Gue.. nyesel." Angga menambahkan. Raut percaya dirinya menghilang sepenuhnya, berganti dengan wajah lelah dan putus asa. Dilara memiringkan sedikit kepalanya, lalu menaikan sebelah alisnya. "Obat?" Fokusnya teralihkan. Tidak tertarik dengan serangkaian kalimat konyol yang Angga ucapkan di awal. Dia justru penasaran dengan tujuh kata terakhir yang di dengarnya. Dia mencoba mengartikan setiap kata yang keluar dari mulut Angga. Obat apa yang Angga maksud? Dia sungguh tidak mengerti. "Itu.. Ra.. obat buat mencegah ke .... " "Angga!!" Teriakan itu membuat Angga dan Dilara menoleh ke arah sumber suara. Dimana ada seorang gadis cantik melambaikan tangan ke arah Angga. Berjarak sekitar lima belas meter dari tempat mereka berdiri. Angga menepuk dahinya sendiri dengan helaan nafas panjang karena ucapannya terpotong. Belum sempat dia mengucapkan semuanya kepada Dilara, namun Chua justru muncul dan mengacaukan semuanya. Gadis sialan itu membuat kesempatan langkanya untuk berbicara dengan Dilara menjadi gagal. Lihat saja apa yang akan dia lakukan karena telah mengacaukan segalanya! Dilara segera mendorong tubuh Angga, juga melepaskan pegangan tangan itu dari pergelangan tangannya, "Nggak ada lagi yang harus di bicarain, dan satu hal yang harus kamu ingat, kalau kamu benar benar ingin minta maaf, jangan pernah kirim apapun lagi ke rumah dan.. jangan deketin aku lagi." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Angga. Angga hanya bisa memperhatikan kepergian Dilara sampai siluetnya hilang tanpa bisa mencegahnya. Kesempatan kali ini tidak berjalan baik. Meski dia sudah merencanakan ini sejak jauh jauh hari, namun.. hasil akhir tetap di ambil sebagai penyelesaian, tidak lagi mengingat usaha dan perjuangannya untuk sampai di tahap ini. Angga masih terpaku di tempatnya sampai merasakan sesuatu menempel di tubuhnya. "Sayang." Chua memeluk Angga erat dari belakang. Angga mendorong tubuh Chua sedikit, "kita udah putus satu bulan yang lalu. Jadi, kita udah nggak ada hubungan apa apa lagi." Ucapnya ketus sebelum meninggalkan Chua dengan amarah yang memenuhi hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN