"Ra." Orang itu memeluk Dilara erat. "Lo nggak apa apa? Nggak ada yang luka, kan?" Suaranya panik. Khawatir bercampur sedih. Melihat Dilara yang seperti ini, dia kembali mengingat masa lalunya. Goncangan itu membuat Dilara tersadar dari rasa terkejut dan rasa takutnya. Dia menoleh ke arah seseorang yang sudah memberinya pelukan hangat. "Amira.." dia berkata dengan suara rendah, bahkan nyaris tidak terdengar. Lalu membalas pelukan itu, menangis dan menumpahkan segala kesedihannya pada Amira "Cup cup.." Amira menepuk bahu Dilara perlahan. Dia tidak tau apa yang membuat Dilara teledor seperti ini, tapi ini jelas sangat berbahaya. "Jangan takut, gue di sini! Udah udah." Tambahnya mencoba menenangkan. Dilara diam. Dia hanya menangis sampai dadanya sakit baru dia berhenti. "Ikut gue!" Amira

