Dua minggu kemudian.
Seperti biasa, Dilara berangkat ke kampus dengan Leo yang menyetir. Meski dia enggan, tetapi dia tidak bisa menolak. Bagaimanapun itu adalah perjanjian yang sudah dia sepakati dengan Mama dan Papa selama mereka tidak ada.
Jadi selama itu pula dia harus selalu berada dalam jangkauan Leo dan menurut dengan semua perkataan Kakaknya itu. Termasuk, tidak di izinkan untuk berkencan dengan Zaine.
Adalah hal yang benar benar sulit. Juga keputusan yang membuatnya marah. Dia ingin menemui Zaine bukan karena dia tergila gila dengan pria itu, tapi karena dia tertekan dan stres sejak insiden itu terjadi.
Dilara merasa gila saat sendirian. Jadi dia membutuhkan teman atau kekasih untuk di ajak bicara. Tapi.. karena tingkat keras kepala Leo lebih keras dari pada baja, dia tidak bisa berbuat banyak selain mematuhinya.
Jika boleh jujur, dia mengalami sedikit trauma dan rasa takut yang berlebih saat Angga datang ke rumah untuk menemui Leo. Meski dia yakin Angga tidak punya cukup nyali untuk menyentuhnya lagi, tapi.. tidak ada salahnya menjaga jarak aman.
Bagaimanapun, mencegah lebih baik dari pada melindungi. Jadi.. lebih baik dia menjauhi Angga. Semakin jauh, akan semakin baik. Selain karena hubungan mereka sangat buruk, dia juga muak melihat wajah Angga yang menjijikan. Aura badboynya bahkan sudah terasa dari radius seratus meter. Benar benar b******k sejati.
Salah satu solusi untuk menghindari pria itu adalah dengan mencari tempat di kampus yang jarang Angga kunjungi, juga memilih jalan yang jarang pria itu lewati. Sepertinya.. itu solusi terampuh untuk mempermudah semuanya.
Dua jam setelah mata kuliah usai, Dilara meninggalkan kelas secepat mungkin. Dia akan meminta Leo untuk mengantarnya pulang. Namun, setelah lima menit menunggu di tempat parkir, Dilara masih tidak menemukan keberadaan Leo. Membuat dia kesal karena pria itu tidak kunjung tiba.
Aneh, mobil pria itu masih di sini. Tapi, bagaimana bisa orangnya lenyap tanpa kabar? Atau .. pria itu sengaja meninggalkan mobilnya di sini karena menumpang kendaraan temannya?? Entahlah..
Dering hp membuat Dilara kehilangan khayalannya, namun dia bergegas menerima panggilan itu.
"Iya, kenapa??" Jawabnya setelah menggeser simbol received pada layar hpnya.
"Lo balik sendiri, gue ada urusan."
Suara Leo dari balik panggilan terdengar gugup. Mungkin pria itu tengah tergesa untuk melakukan sesuatu. Belum sempat Dilara menjawab, Leo sudah memutuskan sambungan panggilan.
Dilara hanya mendecih. Jika sudah seperti ini, dia bisa apa coba?? Niatnya ingin menghubungi Zaine untuk meminta pria itu mengantarnya pulang, tapi sepertinya.. dia tidak perlu melakukannya.
"Ra, ayo naik!!" Zaine meminta Dilara untuk naik setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
Dilara masuk tanpa ragu, "hai, sayang." Dilara mencium bibir Zaine sekilas. Ini adalah ciuman pertama yang dia layangkan pada Zaine setelah bibir kotor Angga menciumnya. Sejauh apapun yang dia lakukan, dia tetap tidak bisa menetralisir aroma menjijikan Angga dari mulutnya.
"Belakangan ini kamu sibuk?" Zaine mulai melajukan kendaraannya pelan, meninggalkan Universitas setelah memastikan Dilara memakai sabuk pengamannya.
"Nggak, tapi.. selama Mama di Medan, aku di awasi sama Leo." Dilara menjawab lesu. Ada banyak faktor yang membuatnya lelah, banyak sekali. Dia bahkan tidak bisa menghitung semua penyebab itu dengan jari jarinya.
"Oh.." Zaine membulatkan bibirnya. "Terus sekarang Leo dimana?"
Dilara menggelengkan kepala, "aku nggak tau, Zaine. Dia ngelarang aku bawa mobil ke Kampus tapi dia malah nyuruh aku buat pulang sendiri. Aku heran sama dia."
Zaine mengulas senyum, lalu mengusap puncak kepala Dilara secara perlahan. "Mau jalan jalan dulu biar kamu gak bosen??"
Dilara mengangguk dengan cepat. "Mau banget." Ucapnya dengan mata berbinar. Sudah lama dia tidak bisa pergi berdua dengan Zaine, membuatnya merindukan pria itu sangat banyak.
"Kamu maunya kemana?"
"Em.." Dilara mencoba memikirkan kemana dia ingin pergi. Tapi sepertinya.. tidak ada tempat yang ingin dia kunjungi. Dia hanya ingin berduaan dengan Zaine, kemanapun itu, dia pasti akan menyukainya.
"Sepertinya.. kamu nggak bisa nentuin pilihan."
Mendengar ini, Dilara tersenyum tipis. "Sebenernya, kemanapun itu asal perginya sama kamu, aku pasti suka."
---------•
--•
Tiga puluh menit sudah mereka memasuki mall dengan beberapa toko pakaian yang mereka kunjungi. Dan selama itu pula Dilara dan Zaine menghabiskan waktu mereka dengan bercanda dan bersenda gurau.
Layaknya remaja pada umumnya, mereka membeli tshirt couple dan langsung memakainya, dengan es krim di tangan mereka, membuatnya tampak harmonis dan serasi. Pasangan ideal yang benar benar membuat semua yang melihatnya akan iri.
Di tambah, Dilara yang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya merasa sangat bahagia, hingga dia tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
"Kamu mau apa lagi?" Zaine menunjukan sebuah kartu berwarna keemasan kepada Dilara. "Uangku masih banyak nih."
"Tau." Dilara menjawab singkat, dia hampir saja mencium Zaine, namun saat dia ingat jika ini adalah tempat umum, dia mengurungkannya.
Sebenarnya Dilara gemas saat melihat Zaine menyombongkan kartu kredit yang pria itu bawa. Meski pamer sama sekali bukan gaya Zaine, namun itu membuatnya iri. Benar benar menunjukan strata sosial Zaine yang tinggi.
Kebebasan Zaine dalam menggunakan uang, tidak perlu di tanyakan lagi. Namanya anak sultan, apapun boleh.
"Mau aku beliin hp baru?"
Dilara menggelengkan kepala. "Nggak, hpku masih bagus."
"Terus.. mau beli apa?"
"Ih.. kamu apaan sih? Aku nggak mau beli apapun." Dilara mengerucutkan bibir. "Lagian.. sejak kapan, kamu jadi sombong kayak gini? Hm?"
Zaine tersenyum tipis. "Emang aku nggak boleh sombong? Padahal, aku sombongnya sama kamu doang, biar apa coba??"
Dilara menggeleng. Dia memang tidak tau alasan kenapa Zaine begitu pamer hari ini.
"Biar kamu kagum, jadinya.. tambah cinta deh sama aku." Zaine melanjutkan dengan pancaran mata penuh kebahagiaan.
Dilara menggigit bibir. Dia tidak tahan mendengar rayuan Zaine yang terdengar manis di telinganya. "Aku suka kamu yang seperti biasa, yang apa adanya, yang jadi diri kamu sendiri. Siapapun dan seperti apapun kamu, aku akan selalu dan semakin cinta di setiap harinya."
"Oh..." Zaine menjepit dagu Dilara. "Pacarku manis banget, sih?"
Dilara menyembunyikan rona malunya. "Ih.. aku kan belajar dari kamu." Ucapnya dengan tangan yang bergelayut manja pada lengan Zaine. Namun, kebahagiaannya memudar saat seseorang memanggil namanya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, lalu menepuk jidat setelah mengetahui siapa pemilik suara itu.
"Aish.." Dilara mendesis saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Pria itu.. astaga! Kenapa dia begitu sial sampai bertemu dengan k*****t itu di sini? Mungkin.. doa paginya agar terhindar dan terlindungi dari tipu muslihat orang gila tidak di kabulkan oleh Tuhan.
Benar benar menjengkelkan.
"Ra, sini!!"
Suara itu kembali terdengar. Membuat Dilara ingin berbalik dan berlaku seolah tidak pernah melihat pria itu. Sayangnya.. Zaine menghentikan rencananya.
"Gak boleh kayak gitu, Ra!" Zaine menarik lengan Dilara yang hendak berbalik, "mau gimanapun, dia tetep Kakak kamu. Kamu lupa kalo dia adalah orang yang di tugasin Mama buat jagain kamu?"
Dilara menghela nafas panjang, meski berat, namun dia menuruti perkataan Zaine pada akhirnya. "Ya udah.. aku dengerin perkataan sayangku. Yuk!!"
Dilara menarik lengan Zaine mendekat ke arah tempat duduk Leo di sebuah tempat makan. Melangkah dengan malas saat mendapati ada Angga di sana. Dia akan mencoba bersikap biasa saja. Dia akan berlaku seolah dia baik baik saja seakan itu bukan masalah besar. Dia juga akan menunjukan sebuah kebahagiaan dan keharmonisannya dengan Zaine kepada teman teman Kakaknya, khususnya.. Angga.
"Lo ngapain di sini?" Leo bertanya setelah Dilara tiba di hadapannya. Menatap tangan adiknya yang saling bertaut dengan tangan Zaine membuatnya mengerutkan dahi.
"Namanya juga di Mall, jelas belanja lah, Kak. Kakak sendiri? Ngapain di sini?" Dilara menaikan sebelah alisnya. "Katanya ada urusan? Jadi urusan penting Kakak cuma mau nongkrong di sini? Bukan belajar, main band atau apapun, gitu?"
"Hush!! Lo sembarangan ngomong, ini juga urusan penting. Lo nggak liat, noh!!" Leo menunjuk laptop di hadapannya. "Gue lagi ngerjain tugas, sekalian main." Tambahnya.
"Ya udah, kalo emang gitu, aku sama Zaine pergi dulu ya, Kak. Nanti kita ketemu di rumah." Dilara mencoba untuk melarikan diri dari gerombolan pria yang sekarang tengah menjadikannya bahan tontonan.
"Duduk!!" Leo meminta Dilara untuk duduk di sebelahnya, "Lo duduk situ!!" Tambahnya meminta Zaine untuk duduk di samping Dilara.
"Tapi.. aku sama Zaine ada urusan. Lagian, Kakak juga keliatannya lagi sibuk banget, jadi aku gak mau ganggu kesibukan Kakak." Dilara masih berusaha untuk melarikan diri. Dia tidak akan menyerah sampai Leo melepaskannya.
"Gak ganggu," Leo menarik tangan Dilara, "udah duduk!"
Dilara menoleh ke arah Zaine, dan Zaine mengangguk, meminta Dilara untuk menyetujui saja usul Leo. Lagi pula, tidak ada kerugian apapun jika itu hanya duduk dan mendengarkan obrolan calon Kakak Iparnya itu.
Dilara mendudukkan diri di samping Leo, sementara Zaine duduk di sebelahnya seraya menggenggam erat tangannya.
"Ra, Mama minta gue buat jagain lo itu biar lo gak pacaran terus. Mama khawatir, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Leo memulai cerocosannya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Dilara hanya menggelengkan kepala. Pasrah, tetapi.. juga kagum.
Dia pasrah karena Leo mengomelinya di tempat umum dan mempermalukannya di depan teman temannya. Sedangkan yang membuatnya kagum adalah.. Leo berbicara dan mengetik dalam waktu bersamaan? Apakah ketikan Leo tidak tertukar dengan omelan yang Leo ucapkan?
Jika di pikir.. Kakaknya benar benar ajaib.
"Lo dengerin gue ngomong nggak sih?" Ucapan Leo mulai stabil. Datar dan tenang. Tidak seperti semula yang berapi api.
"Aku denger." Dilara menjawab cepat. "Selama dua minggu terakhir, aku selalu di samping Kakak, tapi.. gimana bisa Kakak tega bilang kalo aku pacaran terus? Kakak.. gak amnesia, kan??"
Ucapan Dilara sontak membuat teman teman Leo tertawa cekikikan. Mereka tidak menyangka jika perkataan Dilara tepat sasaran. Membuat Leo menghela nafas sepuluh kali lebih banyak dari biasanya.