Rumah siapa ini?

1605 Kata

Selamat membaca! Sepanjang jalan aku memilih diam sambil menikmati rintik hujan di luar dengan menyandarkan kepala pada jendela mobil. Aku seperti kehilangan jiwa. Mungkin karena hatiku sudah menjadi miliknya, tapi aku masih memungkirinya. "Aku pikir rasanya tidak akan sesakit ini, tapi ternyata ...." Walaupun aku terus mengusap air mata di pipiku, tapi itu tetap tak mengering karena air mata yang lain terus mengalir tiada henti. Lelah menangis. Aku memilih memejamkan kedua mataku. Kupikir tidur dapat meredakan rasa sakitku. Membuatku tenang dan melupakan rasa sakit akan keputusan pergi dari Tuan Firdaus. Entah berapa lama aku tertidur, kini kedua mataku kembali terbuka karena suara sang pengemudi yang memanggilku berulang kali. Aku pun langsung menegakkan tubuhku yang tadinya bersanda

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN