Selamat membaca! Aku berpikir dengan sangat hati-hati, kalau aku menghajarnya untuk meluapkan amarahku saat ini, maka itu hanya akan mengotori tanganku dan akhirnya meninggalkan rasa sakit. Sambil terus melangkah, pikiranku masih tak beranjak dari kenangan di mana saat ini aku jadi begitu menyesali semuanya. Dulu aku tidak mengerti kenapa bisa terburu-buru jatuh cinta pada Arga. Bahkan baru satu tahun mengenalnya aku sudah menerima ajakannya untuk bertunangan. Beruntung sebelum hari pernikahan itu terjadi, walau persiapannya sudah 40%, Tuhan menunjukkan siapa Arga yang sebenarnya dan sekarang aku hanya perlu waktu untuk melupakan semua tentangnya sebelum memulai kehidupan yang baru. "Jangan membuang-buang waktuku, Arga! Aku datang untuk kedua orang tuaku, bukan karena ingin menemuimu.

