Hampir mengelilingi rumah sakit, Baza akhirnya mendapati seorang Zaki yang duduk di bankar sebuah ruangan dengan Riska yang tengah mengobari luka sang sahabat. "Sakit, Ris ...," ringisnya ketika gadis itu dengan sengaja menekan luka di sudut bibirnya. Riska, rekannya yang beberapa minggu lalu resmi menjadi kekasihnya, kini tengah marah padanya. Perkara luka di sudut bibir, dan menjadi mendiaminya selama prosesi pengobatan. Zaki hanya pasrah, tak ingin memperkeruh suasana dengan menambah kadar kemarahan Riska. Apalagi dengan ganasnya gadis itu menekan lukanya, sama sekali tak berperasaan. Tapi ... Zaki tetap cinta. "Hey, jangan marah dong, kamu nggak kasian sama aku?" ucapnya menahan pergelangan tangan Riska yang hendak pergi menyimpan kotak obat. Mencebik dan melepas kasar tangan Zaki

