Perasaan Gelisah

1845 Kata
Hari sudah malam, hampir tengah malam malah, tapi Baza dan Melin masih terjebak di bandara. Anggota Zack tiba-tiba saja menyebar di sekitar sana, membuat mereka tidak memungkinkan untuk bergerak cepat. Bukannya tak bisa melawan. Mereka masih memikirkan nasib orang-orang di sekitar bandara, juga Ervan dan Reva yang ada di belahan dunia sana. Dengan anggota Zack yang menemukan mereka, Zack akan dengan lebih mudah melakukan hal yang macam-macam pada Reva di sana. Meski ada Ervan yang pastinya sudah cukup untuk menjamin Reva aman, tapi tetap saja. Bak kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. "Jangan, mereka bakal nemuin kita kalau kamu nekat," ucap Melin menghentikan pergerakan Baza yang ingin mengaktifkan earpiece miliknya. Berbisik, itu yang dapat mereka lakukan agar aman dari para pria berbadan tegap itu. Sengaja tak membawa anggota__lebih tepatnya melarang anggotanya untuk ikut__agar tidak terlalu mencolok. Tapi ternyata ini di luar ekspektasi. Mereka bahkan sudah seperti buronan polisi. Melin menutup hidungnya, kalah angin membawa hawa yang menusuk hidungnya, meski tak terlalu menyengat. Ingatkan Melin untuk memprotes pihak bandara agar sering-sering membersihkan toilet ini. Sungguh, di sini sangat sesak. "Tenang, aku udah ngalihin sistemnya ke earpiece anak buah Zack," balas Baza tetap menekan tombol di sana. Melin yang berada di sampingnya, lantas menoleh, menatap horor pemuda yang lebih muda 4 tahun darinya itu. "Ka--" Sebuah ipad lebih dulu Baza goyangkan di depan mata Melin membuat ucapan gadis itu terpotong. "Punya siapa?" tanya Melin menunjuk ipad tersebut. "Nih ...." Baza menarik tangan mungil yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya, yang kemudian kepalanya menyumbul di sebalik badan Baza, lengkap dengan senyum pepsoden di wajahnya. Dan itu sukses membuat Melin semakin melotot horor. Sejak kapan ada anak kecil di sana? "Kamu nyelundupin anak siapa?" tanya Melin frustasi. Meski Baza seperti sudah menemukan solusi untuk masalah mereka saat ini, tapi ini juga berbahaya. Kalau nanti ada yang menemukan mereka dan mereka di tuduh menculik anak ini, bisa panjang urusannya. "Eii, bahasa apa itu nyelundupin? Kamu pikir dia barang haram? Udah, diem dulu," ucap Baza menaruh telunjuknya di bibir. Baza mulai sibuk dengan urusannya, dan Melin sibuk menatap anak kecil yang dia perkirakan masih berumur lima tahun itu, tersenyum padanya. Melin menggerakkan tangannya, membuat gestur untuk menyuruh si kecil mendekat padanya. Dan tak butuh paksaan, anak kecil itu langsung berjalan ke arahnya. "Adek kenapa bisa di sini? Mama di mana?" tanya Melin, menanyakan pertanyaan umum pada seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya. "Mama bilang, Jio di sini aja, nungguin Papa. Nanti kalau Papa datang, pasti Papa juga bawa Jio pergi sama Papa pulang," jawabnya lancar, ikut berbisik saat Melin berbisik padanya. Melin tertegun mendengarnya. Pun Baza yang juga tak lepas pendengaran saat mendengar alasan si kecil kenapa sampai bisa berkeliaran di tengah malam begini. Saling tatap untuk waktu yang lama, seolah keduanya berbicara lewat tatapan itu. Anak ini jelas di tinggalkan oleh orangtuanya. Melin jadi teringat pada nasib adiknya sampai depresi karena kehilangan anaknya. Dan orangtua anak ini, dengan tak berperasaannya tega membuang anak se-cerdas ini. "Nama kamu, Jio?" Anak itu mengangguk lucu membuat Melin tersenyum simpul. "Nama Kakak, Kak Melin. Dia, Kak Baza. Nanti Jio ikut Kakak aja mau?" tanya Melin memberi tawaran. Giliran Baza yang melotot. "Gila aja. Kamu mau libatin anak sekecil ini?" tanya Baza tak percaya. "Kita gak mungkin ninggalin dia di sini. Kamu ngerti 'kan, kenapa dia di sini? Tenang aja, aku punya rencana soal ini," ucap Melin membuat Baza tak lagi mengeluarkan protesan. Dia tau betul bagaimana sifat Melin. "Jio harus nunggu Papa ...," lirihnya mengerucutkan bibirnya sedih. Kalau Melin tak punya rasa kasihan, Melin sudah menjawab dengan lantang kalau anak ini sudah tidak di inginkan oleh orangtuanya. "Kakak kenal sama Papa Jio. Nanti kita ketemu Papa, oke?" tanya Melin sambil tersenyum meyakinkan. Kerucut di bibir Jio berangsur menghilang, di gantikan oleh senyum lebar dengan manik berbinar memancarkan bahagia yang sangat. Baru saja akan berteriak senang atas rasa bahagianya, Jio buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ingat dengan ucapan Baza yang menyuruhnya tidak boleh mengeluarkan suara lantang. Maka kepalanya di anggukkan semangat. "Jio mau!" serunya masih dengan suara pelan. Anak itu benar-benar pintar. Dan orangtuanya terlalu gegabah dengan membuat keputusan seperti ini. "Ayo keluar. Sudah aman," ucap Baza tiba-tiba kemudian menyandang tas yang dia letak di atas wastafel. "Yakin? CCTV?" tanya Melin ikut menyandang tas di punggungnya dan menyandangkan tas kecil milik Jio pada anak kecil itu. "Aman, ayo cepet," ucap Baza membuka pintu kamar mandi lalu mencopot kertas yang tertempel di sana. "Santai aja, jangan mencolok banget," ucap Baza menyamakan langkah dengan keduanya. Tangan Jio yang menganggur diraih oleh Baza membuat anak itu menoleh, menatap polos padanya. "Anggap aja lagi pergi liburan keluarga," ucap Baza kemudian menatap Melin yang juga menoleh padanya. Lama gadis itu menatapnya, hingga akhirnya mengalihkan pandangan sembari mendengus pelan. "Fokus sama kerjaan," ucapnya memperingati membuat Baza terkekeh pelan. Ah, apakah kita harus mengingatkan mereka berdua kalau situasi saat ini sangat tidak tepat bagi mereka menebar kemesraan? ****** Di lain tempat lain, di negara yang icon oleh kincir anginnya, Ervan masih terjaga dengan mata yang tak lelah mengamati juga mengawasi gadis yang tengah tidur nyenyak di tempat tidur sana. Akibat ketakutannya yang berlebihan__menurut Reva__Ervan memutuskan akan menemani, ah bukan, tepatnya memastikan bahwa Reva aman di sini sampai besok pagi matahari muncul. Merelakan matanya untuk tidak menutup, merelakan tubuhnya yang akan sakit-sakit berbaring di sofa. Jam berbentuk bulat dengan background bunga sakura, dan bingkai berwarna putih, jarum pendek pada jam tersebut sudah akan bergerak mendekati angka tiga, dan mata Ervan tak juga tertutup. Enggan menyusul Reva yang sudah dari beberapa jam yang lalu lebih dulu menyelami dunia mimpi. "Kamu baik-baik aja ya," ucap Ervan pelan. Hanya suara jarum jam, juga deru halus dari mesin penghangat ruangan yang ada di kamar itu yang bersuara. "Tetap kayak gini aja. Kamu jangan jadi orang lain, jangan pergi. Kamu harus percaya sama aku," gumamnya lagi. Manik kelam itu menyendu. Terasa sesuatu yang asing di dalam hatinya. Entah apa, Ervan tak mau menyimpulkannya terlalu cepat. Dia masih nyaman dengan semua ini. Masih tak ingin beranjak dari zona nyamannya. Biarlah, biarkan ini tetap terus begini, biarkan dia menikmatinya. ***** Nyatanya matanya tertutup, entah kapan. Nyatanya matahari sudah lebih dulu muncul dan memancarkan cahaya daripada dirinya membuka mata, nyatanya dia tak bisa menahan kantuknya, dan nyatanya lagi, sekarang tempat tidur besar di depan matanya sudah rapi dengan penghuni si ranjang yang sudah tak lagi di tempat. Gadisnya tidak ada di sana. Tak terdengar gemericik air juga. Tak ada suara grasak grusuk di walk in closet juga. Sama sekali tak ada orang selain dia di ruangan itu. "Reva ...." Panggilnya lirih, berusaha mengusir pikisan negatif yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Ketakutan hebatnya tadi malam kini kembali. Bahkan berkali lipat lebih takut dari malam tadi. Akal sehatnya bahkan seakan ikut di ambil alih oleh rasa takutnya. Ting! Bunyi yang kontras dengan kesunyian di sana, membuat Ervan jelas mengalihkan atensinya pada si ponsel yang dia letak di atas meja. "Persiapkan dirimu untuk kehilangannya." Itu untaian kalimat yang terdapat di sana. Rahang Ervan mengeras, tanpa sadar tangannya meremas kuat ponsel tersebut. Tanpa ingin menunggu lagi, tungkai panjangnya dia bawa untuk berlari ke luar dari kamar Reva. "Reva!" teriaknya berikut matanya yang menelisik ke seluruh ruangan. Jantungnya semakin berdebar kencang. Kuat sekali sampai dirinya bisa mendengar suaranya. "Reva! Kamu di mana? Jangan diem aja!" Ervan tak lelah berlari ke sana ke mari, membuka seluruh pintu yang ada di dalam apartmentnya. Seketika dia menyesali keputusannya membeli apartment yang mewah dan besar. "Reva! Kamu di mana Reva!" "Arrgghh ...!" Keadaan yang ada di apartment itu sudah kacau. Banyak barang yang pecah dan sudah tak lagi pada tempatnya. Dan seketika akal sehatnya kembali, Ervan segera mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor di sana. "CARI REVA SEKARANG JUGA!" teriaknya menyeramkan begitu terdengar sambungan dari seberang sana. "SAYA TIDAK MAU--" Ucapan Ervan terhenti kala terdengar suara pintu apartment yang di buka. Ervan masih mematung di tempat, meski di depannya sudah tampak raut kaget Reva yang melihat seluruh ruangan sudah tak berbentuk lagi. "Ervan, ini--" Lagi, Reva tak sempat merampungkan kata-katanya ketika Ervan dengan cepat menarik tubuhnya untuk di bawa ke dalam pelukan erat. Dapat Reva dengar dentuman jantung Ervan yang sudah seperti akan pecah di dalam sana. Tubuh pemuda ini juga bergetar takut, lengkap dengan bahunya yang merasakan basah. Apa yang sebenarnya terjadi pada dokter tampan ini? Melepas kantong belanja yang dia tenteng, tangannya kemudian melingkar di pinggang Ervan, ya g sedikit banyak dapat mengurangi rasa takut di diri Ervan. Itu artinya dia tidak sedang berhalusinasi. "Janagn pergi. Jangan pergi. Jangan pergi," racau Ervan terus mengucapkan kata yang sama. Reva semakin di buat bingung olehnya. Ada apa sebenarnya? "Aku gak pergi. Aku tadi cuma--" "Nggak, jangan pergi. Jangan tinggalin aku. Jangan pergi ...." Pelukan itu semakin mengerat dengan kepala Ervan yang menggeleng ribut. "Iya, aku gak pergi," ucap Reva menepuk pelan punggung tegap Ervan. Cukup lama, dan cukup menguras tenaga, Reva akhirnya bisa melepas pelukan Ervan. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru apartment, lalu meringis pelan melihatnya. Benar-benar seperti di landa angin topan. "Kalau gitu, kamu mandi dulu ya. Aku mau beresin ini dulu, baru ntar masak," ucap Reva kembali mengambil kantong tadi. "Nggak, nggak! Ntar kamu pergi lagi," bantahnya cepat. "Emngnya aku mau pergi ke mana sih? Aku 'kan gak tau tempat ini. Ini aja, belinya di minimarket depan. Aku mau beresin nih, ulah kamu. Udah sana, kamu mandi dulu," ucap Reva menunjuk kamar Ervan dengan dagunya. Ervan masih tak bergeming, matanya setia mentap punggung Reva yang kini mulai berjalan ke arah dapur. "Aku gak akan pergi Ervan. Kecuali nanti ada yang bawa aku pergi, mungkin--" "Reva!" teriak Ervan langsung membuat Reva terdiam. Entahlah, Reva tak tau tatapan Ervan itu seperti apa. Yang jelas, tersirat aura ketakutan dan tak rela di sana. "Iya, aku gak akan pergi. Aku mau beresin ini dulu, oke?" ucap Reva lagi memberi senyum, mengurangi pancaran tajam yang keluar dari sorot mata Ervan. Melihat Reva yang mulai sibuk menata kembali barang-barang yang berserakan, juga membereskan sisa pecahan, Ervan sudah bis melepas nafas lega. Terlalu lega melihat gadisnya masih di sini bersamanya. "Kalau mau pergi bilang aku dulu ya? Aku nggak lama," ucap Ervan di balas anggukan dan senyuman oleh Reva. Dengan langkah berat, serta sesekali kepalanya ditolehkan ke belakang untuk memastikan Reva masih di sana, bahkan pintu kamarnya sengaja dia buka. Sempat berniat ingin membuka serta pintu kamar mandinya, tapi teriakan dan ancaman kejam dari Reva sudah lebih dulu membuat Ervan menutup rapat pintu kamar mandinya. Dalam waktu dua menit sekali, Ervan akan berteriak memanggil Reva, yang awalnya memang di sambut teriakan biasa oleh si gadis, sampai di balas teriakan kesal olehnya. Ceklek! Pintu kamar mandi itu terbuka, lengkap dengan Ervan yang keluar udah dengan pakaian lengkap. "Reva!" teriak Ervan memanggil kembali gadis itu. Tepat 10 menit dirinya menghabiskan waktu untuk mandi. Keningnya mengernyit, usapan handuk di rambutnya melemah karena tak mendapat sahutan. Tak lama, dia terkekeh, kembali mengeringkan rambutnya. "Pasti lagi kesel," gumamnya berpendapat. Selesai dengan rambut, dan membiarkannya berantakan tanpa di sisir. Langkahnya yang semangat, senyumnya yang lebar, juga perkiraannya si gadis yang tengah merapikan barang-barang sambil memasang wajah cemberut disertai gerutuan pelan, luntur seketika. "Reva ... Reva!" ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN