Kejelasan

1725 Kata
Tawa Zack menggema begitu Ervan mengerang kesakitan memegang bahu kanannya yang baru saja di suntikkan entah cairan apa oleh Reva. Dengan sedikit tertatih, juga, sesekali menyeka darah yang ada di area wajahnya, Zack kemudian berhenti tepat di depan Ervan yang tergeletak lemah di bawah sana, dengan Reva yang senantiasa berdiri memandangi Ervan dengan tatapan datar dan tak terbaca. Gadis itu benar-benar berbeda. Bak orang kembar yang memiliki dua kepribadian yang berbeda. Ervan sempat tidak percaya bahwa gadis di depannya ini adalah Reva yang sama dengan yang dia kenal, dia yakin ini adalah Reva yang lain. Gadis ini hanya menyamar menjadi gadisnya agar dirinya membenci Reva. Iya, Ervan yakin, pasti itu yang terjadi sekarang. "Hey, ada apa? Kenapa kau menatapnya sampai sebegitunya? Apa kau sudah tak mengenali pujaan hatimu sendiri?" tanya Zack di sela-sela tawanya. Ervan masih tak mengalihkan tatapannya pada Reva, pun Reva yang masih mempertahankannya. Tak ada yang berniat untuk memutusnya lebih dulu. "Ck. Apa aku akan melihat adegan roman picisan di sini? Ayolah, aku muak dengan adegan romantis," ucap Zack yang akhirnya dapat membawa kembali kesadaran mereka berdua. "Baiklah. Aku memberimu waktu untuk menyampaikan apapun yang ingin kau sampaikan. Aku tau, pasti ada banyak hal yang ingin kau sampaikan pada gadismu ini," ucap Zack menekankan kata gadismu dalam kalimatnya. Zack berbalik, berjalan menuju satu sofa yang ada di dalam ruangan itu. Duduk bersandar di sana dengan satu kaki yang di silang ke atas kakinya yang lain. "Ah, ya. Kau tenang saja. Suntikan itu tidak akan membunuhmu. Hanya saja, sedikit mengambil energimu," ucap Zack pada Ervan yang entah di dengar dengan baik oleh Ervan atau tidak. Ervan, yang tadinya berbaring menyamping menghadap Reva, kini menyamankan dirinya dengan telentang. Kedua matanya di tutup, entah untuk menahan sakit di tubuhnya atau sesak di hatinya. Yang pasti, Reva dapat melihat titik air yang mengalir dari sudut mata Ervan. Terlihat sangat menyakitkan. Reva saja bisa merasakannya. "Kenapa?" Lirih, lirih sekali. Butuh waktu beberapa menit bagi Ervan hanya untuk mengucapkan satu kata itu. Sungguh, kerongkongannya terasa kering saat ini. "Kenapa? Kenapa aku melakukan ini, atau kenapa kau jadi seperti ini?" ucap Reva dengan nada yang luar biasa dingin, juga datar. Sekali lagi Ervan mengatakan kalau gadis ini bukanlah Reva-nya, bukan gadisnya. "Kenapa harus kau yang melakukan ini padaku?" lanjut Ervan membuat Reva tertegun. Sekilas, pertanyaan itu mungkin terdengar biasa saja bagi orang lain yang mendengarnya. Namun bagi Reva yang tau betul makna dari pertanyaan itu hanya mampu terdiam setelah mendengarnya. Tak berniat menjawabnya. "Kenapa harus dirimu? Kenapa harus orang yang aku anggap duniaku sendiri yang melakukannya? Kenapa harus orang yang tidak bisa aku sakiti?" Pada dasarnya, Reva tak sekuat itu mempertahankan raut wajahnya yang datar. Tak seperti Ervan yang mau seperti apapun situasinya, ekspresinya akan tetap datar, terkecuali untuk yang satu ini. Semua Ekspresi, Ervan keluarkan sekarang ini, hanya saja, hanya Reva yang dapat melihatnya. Maka untuk mengalihkan semuanya, Reva keluarkan suaranya untuk sedikit terkekeh, bertolak pinggang sambil berjalan sedikit ke arah Ervan. "Kau ingin apa jika kau mengatakan itu padaku? Ingin aku merasa iba, lalu aku berubah fikiran dan melepaskanmu? Begitu? Cih, jangan pernah berfikir untuk itu." sambut Reva dengan tatapan sinis serta kekehan yang terdengar meremehkan. Ervan membuka matanya. Perlahan dia tolehkan kepala untuk melihat gadis yang baru saja berbicara padanya. Karena sekali lagi, hanya untuk memastikan apakah dirinya tidak sedang berhayal bahwa gadis itu adalah Reva, atau itu benar-benar Reva, gadisnya. "Katakan padaku apa alasanmu." Ucap Ervan selanjutnya, masih dengan tatapan yang mengarah pada Reva. Raut gadis itu tiba-tiba berubah keruh. Meski raut datar yang dia pasang, itu tidak mampu menghilangkan gurat marah di wajah cantiknya. Dan Ervan dapat melihatnya. Betapa gadis itu seperti menyimpan kemarahan yang sangat besar padanya. Tapi apa? Apa yang dia telah lakukan sehingga membuat Reva menjadi seperti ini? Karena kekangan? Tidak. Ervan yakin ada alasan yang lebih kuat dari pada itu. "Ibuku," ucapnya yang tak sedikitpun dapat Ervan mengerti dari itu. Ervan memang tau bagaimana seluk beluk kehidupan Reva. Ibu Reva yang sudah meninggal pun, Ervan tau. Hanya saja, terkhusus gadis itu, Ervan tak ingin banyak mencari tentang ibunya. Karena Ervan hanya ingin cerita itu keluar sendiri dari mulut Reva padanya, bukan dengan dirinya yang mengulik lebih jauh. "Kau yang membunuh ibuku!" teriak Reva selanjutnya. Dan yang dapat Ervan lakukan hanyalah, diam dalam keadaan keterkejutan yang sangat, sulit untuk dia ungkapkan hanya dengan kata-kata kiasan. Dengan tertatih, Ervan mencoba bangkit, melawan rasa sakit yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya saat bergerak berlebihan. Tak masalah, itu salah satu pembuktian darinya bahwa dia tak melakukan apa yang Reva tuduhkan padanya. "Kau pembunuh!" lagi, Reva berteriak padanya menunjuk wajah Ervan yang berdiri di hadapannya, meski tak sepenuhnya dapat berdiri tegak. Sambaran petir bagi Ervan. Tak pernah terpikir olehnya bahwa pada akhirnya Reva, gadisnya, mengatakan hal yang paling menyakitkan itu pada dirinya. Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya. "Re-reva kamu--" "Kau yang membunuh ibuku! Aku tau itu! Kau seorang mafia! Aku juga tau itu!" Nafas Reva tersengal, namun semua kekesalan dan kemarahannya belum lepas. Masih banyak yang dia tahan selama ini untuk dia lepaskan pada saat ini, sekarang juga, pada waktu yang tepat ini. "Ya! Aku hanya berpura-pura supaya kau tidak mencurigaiku! Supaya kau jatuh padaku dan aku bisa dengan mudah menghancurkanmu! Ya! Aku memang bekerja sama dengan Zack untuk menjebakmu sampai kau berada di sini! Dan aku yang merencanakan semua ini! Merencanakan untuk membunuh pembunuh yang telah membunuh ibuku!" Di ruangan yang tak terlalu besar itu, hanya suara teriakan Reva yang melengking yang terdengar. Beruntung, namun entah bagaimana caranya, teriakan itu tak terdengar sampai ke luar, tak sampai terdengar oleh telinga Melin dan Baza yang masih setia berada di dalam mobil, menunggu Ervan keluar dari ruangan itu membawa Reva dalam keadaan selamat. "Kau tau? Sudah lama aku ingin menyampaikan ini padamu. Membuatmu menderita dan pada akhirnya dapat merasakan apa yang selama ini aku rasakan." Reva terus mengatakan apapun yang ingin dia katakan. Tak peduli dengan air mata yang mengalir deras melewati pipinya, juga tak peduli dengan Ervan yang menatap tak percaya padanya. Sesekali, Reva akan menyeka air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh tanpa dia pinta. Masih dengan tatapan marah yang dia perlihatkan pada Ervan. Tak sedikit pun amarah itu meredup. "Harusnya aku bertanya kenapa. Kenapa kau membunuh ibuku? Kenapa harus ibuku? Apa alasanmu melakukannya?!" teriak Reva i akhir kalimatnya. Ervan yang mendapat pertanyaan tersebut, lagi-lagi hanya bisa terdiam. Sederhana, dia hanya ingin meredakan emosi gadisnya. Maka dengan kepala yang perlahan tertunduk, Ervan menyembunyikan proses jatuhnya air itu dari orang yang akan melihatnya. Reva terutama. Tak ingin terlihat lebih lemah lagi di depan gadis itu. "Dari siapa kau mendapat asumsi seperti itu? Siapa yang kau dengarkan saat menuduhku dengan tuduhan itu?" tanya Ervan masih dengan tertunduk dalam keadaan susah payah menahan bobot tubuhnya. "Apakah orang itu? Orang yang kau ajak untuk kerja sama? Reva, apa kau tidak melihat sedikit pun kejujuran dan kekhawatiran di mataku saat aku mengatakan untuk menjauhinya? Saat kukatakan kalau dia bukanlah orang baik? Sedikit saja, setidaknya meskipun kau waktu itu hanya berpura-pura, tapi kau juga tidak akan berpura-pura menilai orang lain bukan?" Tak terasa, air mata Ervan kembali menetes. Biarlah dia menjadi pria lemah saat ini. Biarlah anggota lawan yang melihatnya akan tertawa keras untuknya, biarlah dunia menganggap dirinya sebagai lelaki lemah hanya karena seorang wanita. Dia tidak peduli, asalkan bukan Reva yang melakukannya. Mengangkat kepalanya perlahan, bersitatap dengan mata memerah Reva yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Ervan artikan. "Reva, jika kau mengetahui tentang diriku, kau juga pasti tau siapa itu Zack. Hanya saja yang berbeda, kau tau banyak tentangku, tapi kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Zack." "Jika aku mengatakan bahwa Zack adalah pembunuh ibumu, apa kau akan dengan mudah percaya seperti kau percaya saat Zack mengatakan kalau aku adalah pembunuh ibumu?" tanya Ervan yang saat itu juga dapat membuat Reva terdiam dalam pikiran yang berkecamuk. Itu memang mungkin, mengingat posisi Ervan dan Zack itu sama. Tak menutup kemungkinan jika memang Zack pelakunya. Tapi sangat di sayangkan, Reva lebih percaya pada bukti yang selama ini telah dia kumpulkan. "Baiklah, mungkin kau tidak akan percaya. Tapi bagaimana jika aku mengatakan kalau Zack adalah dalang dari pembunuhan adikku? Bagaimana jika kukatakan kalau perselisihan ini adalah ulah dari Zack yang mencelakai adikku sampai meninggal dunia? Seperti dirimu, aku pun punya rasa dendam pada orang yang melenyapkan orang yang aku sayangi," ucap Ervan lagi. Reva ingat, saat dia sedang mencari informasi tentang adik Ervan, dia menemukan fakta mengejutkan bahwa adik dari ketua mafia itu juga di bunuh dengan sadis oleh kelompok mafia lainnya. Reva pikir itu hanya akal-akalan Ervan untuk menutupi kesalahannya agar tak terlihat terlalu buruk oleh orang lain. Tapi setelah Ervan mengatakan ini, sekali lagi, Reva menjadi ragu. Benarkah? Itu bisa saja bukan? "Reva, aku membuka lebar tanganku untuk kau sambut. Mempersilahkan kau masuk dan berbuat semaumu di sana. Kau kuperbolehkan menangis, tertawa, berteriak, berbisik, bercerita, berkeluh kesah, marah, semuanya. Tapi kau malah memberi uluran pada Zack yang bahkan jelas-jelas tak mengulurkan tangan padamu. Apa tidak jelas bagimu? Aku adalah musuhnya, aku yang ingin dia bunuh sedari lama. Dan dengan adanya dirimu, itu memudahkan jalannya. Dan kau malah mengikuti jalannya." Tatapan Ervan menyendu. Mengingat kembali kenangan indah yang mereka lewati. Tidak seperti kepura-puraan, itu terlihat nyata. Namun itu hanya dalam pandangan dan anggapan Ervan, tidak dengan Reva. Reva? Gadis itu sudah tak mereaksikan apa-apa lagi. Rasanya semua kata-kata Ervan membuat kalimat yang dia susun dengan begitu rapi tercekat di tenggorokan, susah untuk keluar. Senyum manis, bercampur rasa kecewa dan sedih, terpatri apik di wajah Ervan. "Sekarang terserahmu, Reva. Jika kau tetap ingin membunuhku, lakukanlah. Kau boleh melakukan apa saja padaku. Bukan berarti aku mengakui kesalahan yang tidak kuperbuat. Itu hanya untuk mengusir rasa dendam di hatimu," ucapnya gamblang membuat Reva sedikit banyaknya terkejut dengan keadaan jantung yang berdebar kuat. Melihat Reva yang hanya diam, Zack berdecak pelan kemudian berdiri untuk berjalan mendekat pada Reva dan Ervan. "Ayolah, jangan membuang waktu. Masih banyak yang ingin kuurusi selain ini," ucap Zack berada beberapa langkah di belakang Reva, menyimpan tangannya di saku celana. Sedangkan mereka berdua hanya diam sambil saling tatap satu sama lain. "Ambil pistolmu, Reva. Kau tau pasti apa tujuanmu ada di sini," ucap Zack lagi memberi kata-kata hasutan. Entah termakan ucapan Zack, atau karena memang ingin menuntaskan tujuannya, maka dengan perlahan, Reva menarik keluar pistol yang dia selip di balik sweeter yang dia kenakan. Di angkat tangannya lurus ke depan, berikut pistol tersebut tepat di depan d**a Ervan. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN