Hari pernikahan adalah hari terindah untuk seorang wanita, seharusnya, kecuali Theresa. Walau tak menginginkan ini, dia tetap bangga pada dirinya sendiri. Cantik dan menawan jika sudah berdandan.
“Ah, berapa lama aku tak memakai pelembab?” ucapnya seraya memeriksa kekenyalan kulit pipi di depan cermin rias. Berkat kosmetik Aisla, wajahnya menjadi lebih cerah, bibirnya pun telah terpoles lipstik berbau stroberi dengan tekstur lembab serta ringan.
Sementara itu, tubuhnya terbalut gaun pengantin sepanjang mata kaki dengan model off-shoulder klasik, sehingga memperlihatkan bagian bahu yang mengundang.
Gaun itu cocok dan pas karen memanglah milik Theresa, Theresa yang lain. Dulu dibawa langsung dari jamannya.
Aisla masih mempercantik rambut Theresa dengan bunga-bunga kecil. “Aku sekarang percaya teori yang mengatakan di semesta manapun, kita akan jatuh cinta pada orang yang sama.”
“Aku juga.” Theresa menyunggingkan senyuman paksa, sama sekali tak bahagia dengan ucapan tulus itu.
Aisla sendiri mengenakan gaun formal yang tak jauh berbeda di jaman Theresa, warnanya coklat tua, tak ada hiasan apapun kecuali pita yang melingkari pinggang. Di jaman ini, semua pakaian tak ada yang berwarna cerah— selalu gelap. Selain itu, modelnya yang tanpa motif membuatnya tak punya nilai kreatifitas.
“Kau cantik, Theresa, aku hampir tak percaya dulu kita berlarian seperti orang gila karena dikejar calon suamimu ini,” katanya diselingi tawa menggoda. “Tapi lihatlah sekarang, kalian sudah jatuh cinta. Cas sudah mengira ini akan terjadi, sejak Firio bernegosiasi dengan kita— dia bilang tatapan kalian sudah saling tertarik.”
“Ah, sudahlah, kau yang lebih cantik, sungguh,” sahut Theresa mengalihkan pembicaraan dengan menatap Aisla. Dia kemudiam berdiri, lalu mengambil buket bunga mawar putih di meja. “Kau juga sebaiknya cepat menikah.”
“Pasti.”
“Semoga mendapat pria yang baik—” jangan seperti Firio, lanjut Theresa dalam hati.
“Tentu, Theresa. Sekarang aku juga sangat senang, sebentar lagi kalian akan ikut kami ke dinding, walau beda dinding— tapi akan mudah bertemu ketimbang di distrik luar.”
Theresa memeluk Aisla, sangat teramat berterimakasih untuk semuanya. Ia ingin sekali menangis, tapi tak mau bedaknya luntur. Bagaimana mungkin hidupnya tidak bertambah s**l, dia akan menikahi pria s****n.
Aisla mengira kalau Theresa terlalu bahagia. Dia menepuk punggung wanita itu beberapa kali seraya berkata, “aku tahu kok, jangan gugup begini, walaupun calon suamimu dari distrik 222 yang ganas, dia ternyata punya hati yang lembut— kemarin dia memujimu terus, dia bilang tak bisa menolak pesonamu, kau terlalu cantik, baik, berbeda dengan Theresa satunya, jadi dia ingin menikahimu.”
Omong kosong, pikir Theresa makin ingin menangis.
Adegan dramatis itu akhirnya terhenti saat pintu kamar dibuka tiba-tiba.
Theresa sontak melepaskan tubuh Aisla. “Firio!”
Sosok Firio yang telah memakai jas hitam berdiri di ambang pintu. Di mata Theresa, pria ini terlihat seperti bos pasukan penjahat ketinbang calon pengantin. Sorot mata selalu tajam, diperparah tatanan rambutnya yang tersibak ke belakang.
Tanpa riasan apapun, wajah itu memang tampak jahat.
“Sayang, aku menunggumu— kau lama sekali, sedang apa? Bisakah mengobrol antar wanitanya ditunda sampai kita menikah? Jangan biarkan Rollo berdiri di altar seperti keledai bodoh,” katanya sembari tersenyum tipis. “Saking lamanya, pengantin pria ini sampai menjemputmu loh.”
Normalnya Theresa akan menjawab dengan sindiran balik, tapi demi totalitas menjalani perannya sebagai pengantin, dia menjawab dengan santun, “ayo kita menikah.”
Mereka berjalan bersama keluar rumah, Aisla mengekor.
Tempat pernikahan mereka berada di gereja kecil yang ada di tengah-tengah bangunan runtuh. Theresa baru melihat ada gereja yang tampak seperti “gereja biasa”. Iya, walaupun ratusan tahun berlalu, arsitekturnya masih sama saja.
Theresa pernah membayangkan kalau gereja di masa depan akan membentuk kubah dengan segala teknologi di dinding. Akan tetapi ternyata— malah sangat kecil, cenderung tak terawat, bahkan deretan kursi yang ada di dalam hampir tertimbun debu.
Deretan kursi depan sudah dipenuhi oleh pihak tamu, empat pria dari distrik 122, serta warga distrik ini, hampir semuanya. Jika ditotal warga dewasa, remaja, hingga anak-anak, ada sekitar seratus lima puluh jiwa.
Dan itu tidak termasuk anggota keluarga lain, para binatang buas. Semua serigala, anjing penburu, anjing hutan, burung elang, burung rajawali, hingga musang besar spesies baru, memenuhi tempat ini.
“Wah, tema pernikahan kita benar-benar seperti di hutan, aku bersyukur kita tidak menikah di bawah pohon beringin,” kata Theresa mengamati betapa ramainya binatang liar.
Firio menjawab, “kau beruntung aku masih mau menikahimu di gereja. Tadinya kupikir pinggir sungai saja sudah cukup.”
“Mmm—”
“Senyumlah, wargaku sampai berganti pakaian yang bagus demi pernikahan ini, jadi buatlah dirimu pantas untuk dilihat.”
"Mmm~"
Rollo sebagai pendeta hari ini.
Theresa dan Firio berhenti di depannya. Mereka kemudian saling memandang, menahan diri dari godaan masing-masing. Keduanya jelas terpesona, tapi menolak mengakuinya.
Saat Rollo mulai membacakan janji suci, pikiran Theresa mulai melayang-layang. Dia membayangkan apa yang akan terjadi jika saja saat itu dia tak penasaran dengan pintu kamar mandinya? Pasti kejadian ini takkan terjadi.
Bukan berarti dia menolak ini. Setengah hatinya bahagia dikarenakan sosok Firio. Saat pengejaran malam itu, kalau saja pria ini bertindak serius membunuhnya— dia juga pasti sudah melayang ke surga.
Kebencian di mata Firio memudar seiring waktu, berganti sebuah cinta. Puncaknya memang saat di koloseum, dan Theresa bisa merasakannya.
Akan tetapi sikap buruk Firio membuat Theresa enggan mengakui rasa sukanya. Mana mungkin dia bisa menghabiskan hidupnya dengan pria seperti ini?
Untuk menjalani rumah tangga, keberanian dan ketampanan tak menjadi prioritas utama. Sejak kecil, dia hanya ingin hidup dengan pria yang benar-benar mencintainya, bertanggungjawab, baik dan tidak menggunakan k*******n untuk menyelesaikan masalah.
“Aku bersedia.” Pada akhirnya kini secara agama, dia menyatakan bersedia menikahi pria yang jauh dari idaman.
Pengucapan janji pun selesai, Rollo mengakhiri ucapannya dengan, “kau boleh mencium pengantinmu.”
Theresa menjadi tegang, menatap wajah suami barunya yang mendekat.
Firio menahan tawa. Ia mengarahkan bibirnya ke bibir Theresa, tapi saat sudah terlalu dekat— ia malah mengecup keningnya.
“Jangan serangan jantung dulu, kita baru menikah,” katanya pelan.
Theresa merinding, masih merasakan bekas ciuman dingin bibir itu. Dia berpikir, pantas saja hatinya dingin, ciumannya saja seperti bongkahan es.
“Terima kasih sudah menghadiri pernikahan kami.” Firio berbalik ke arah warga yang bersiul gembira untuknya, sebagian lagi mengeluarkan suara hewan.
Kawanan Firio pun menyambut pula, mereka kompak bersahut-sahutan, nada suara mereka juga terdengar bahagia.
“Terima kasih, Gin! Aku juga suka melihatmu bersama Yea!” jawab Firio paham salah satu ucapan salah satu serigalanya.
Theresa meliriknya dengan tatapan aneh. Hingga sekarang, dia tak percaya ada manusia yang bisa berkomunikasi dengan binatang kecuali Mowgli, Dr. Dolittle dan tokoh fiktif lain.
Kye dan Kade mendekat ke kaki Firio. Mereka mengeluarkan suara yang terdengar tak suka.
Theresa sangat paham lolongan serigala itu, sama persis seperti saat protes kalau dia salah menarik bulu mereka.
Firio berjongkok, lalu mengelus bulu kepala kedua serigala itu. “Kalian jangan khawatir, Theresa ini berbeda— dia bodoh, jadi takkan bisa memanfaatkanku.”
“Maaf? Apa barusan aku dengar kata hinaan?” tanya Theresa tak terima.
“Itu bentuk sayangku padamu,” jawab Firio berdiri lagi, lalu melingkarkan tangan ke pinggang wanita ini. “Setelah ini, kita harus berkemas, dan berangkat ke dinding.”
“Tak mengurus berkas pernikahan?”
Rollo yang sedari tadi di belakang mereka ikut pembicaraan, “dari awal kau memang sudah menikahi Firio, Theresa, jadi tidak perlu memberikan catatan lagi.”
“Oh benar,” Theresa paham.
“Semoga bulan madu kalian menyenangkan,” kata Rollo tersenyum lebar pada keduanya.
“Ya, kami akan menikmatinya—” kata Firio makin meraba pinggang Theresa.
Theres menahan diri untuk tak marah. “Ya, semoga mesinnya bisa dipakai.”
“Tapi apa kau sungguh yakin meninggalkan tempat ini, Firio?” tanya Rollo mulai serius menatap pemimpinnya itu.
Firio tegas menyatakan, “kita sudah membahas ini sejak tiga hari yang lalu, Theresa istriku, ini masalah kami. Aku tak mau membuat distrik lain bertikai dengan kita hanya karena aku berulah di koloseum. Kau tahu'kan? Menjadi pemenang artinya dendam dimana-mana. Distrik kita memang kuat dan kaya, tapi warga kita sedikit, Rollo— kita akan menjadi tujuan penjarahan dengan alasan balas dendam padaku, jika aku tidak ada— mereka tak punya alasan lagi.”
Setelah jeda mengambil napas, ia melanjutkan, “penjarahan dan genosida tanpa alasan akan melanggar kesepakatan ke- 22 distrik luar dinding.”
Rollo mengangguk. “Aku paham.”
“Jadilah pemimpin yang baik, jaga para sanak saudaraku yang lain, aku hanya akan membawa Kade dan Kye.”
“Ya. Berkunjunglah sesekali.”
“Tentu.”
***