27| Scientist I Another Porfirio

1468 Kata
Hujan salju semakin lebat. Salju menggunung dimana-mana, bahkan menyelimuti daun pepohonan. Udara juga berubah memutih. Hawa dingin langsung sampai ke ubun-ubun setiap kali pintu terbuka sedikit. Theresa sepanjang hari duduk di di sekat jendela depan. Dia sangat heran sekaligus ngeri. Saking derasnya setiap beberapa menit sekali, ada mesin pembersih salju yang menyapu atap rumah. Siang ini, tak ada warga yang keluar rumah. Normalnya, orang takkan sanggup berjalan di tengah angin kencang bercampur salju itu. "Firio, kemana ya?" ucapnya khawatir masih memandang keluar jendela. "Padahal kemarin bilang terjebak tiga hari di rumah karena badai salju, dia malah keluar sendiri." Kye dan Kade berjalan mendekatinya. Makin hari mereka makin terlihat besar. Theresa menoleh. Sejauh ini, dia masih belum percaya dengan dua binatang buas itu. Anjing mungkin biasa, tapi muka Kye dan Kade selalu jahat. Walaupun bulu mereka seputih salju, tapi sorot mata mereka membara bak bola api. Hewan buas tetaplah hewan buas, dia harus waspada. Dia mengeluarkan dua bandana berbahan kain hitam bertuliskan nama Kye dan Kade. "Aku punya hadiah untuk kalian," kata Theresa menghampiri kedua serigala itu. "Selama ini, hubungan kita tidak baik, bukan? Kalian juga tukang ngadu." Kye mengeluarkan suara yang bernada bak keluhan. Diikuti saudaranya yang makin keras. "Aku tak tahu kalian bicara apa." Theresa berjongkok di depan mereka. "Kalian anak baik'kan? Ingat, jangan tunjukan taring kalian itu padaku lagi, aku ini istri dari saudara kalian, kita saudara ipar." Wanita itu merasa di atas angin karena kedua serigala ini patuh pada Firio. Ia adalah istrinya, maka ia orang penting sekarang. "Teman-temanku tak boleh tahu kalau aku bicara dengan binatang dan menyebut mereka ipar," gerutunya pada diri sendiri. Ia jelas malu mengatakan hal aneh begini. Kalau saja ini di eranya, dan aktifitasnya diketahui seluruh staf tempatnya bekerja, mereka pasti tertawa hingga terjungkal-jungkal. "Oke, kau Kye, tubuhmu paling besar, kau kakak-" kata Theresa memasang bandana di kepala Kye. Lalu beralih pada Kade. "-dan kau Kade, si adik." Sebenarnya benda itu mirip bandana bayi, jadi saat kedua serigala itu memakainya, mereka tampak seperti boneka hidup. "Kalian cantik sekali," puji Theresa yang lebih terkesan mengejek. Dia mengelus rambut keduanya dengan pelan. "Jangan memberikan tatapan jahat padaku, aku ini sebenarnya baik, tak seperti istri saudara kalian yang dulu- tenang saja, aku dan Firio itu bisa akur. Jadi jauhkan-" Ucapan itu terpotong karena Kye melolong pada jendela rumah. Kade juga melakukannya. Mereka sedang memberikan ucapan selamat datang. Ya, pada seseorang yang menempelkan wajah di kaca jendela. Seorang pria bermantel hitam tebal yang pundaknya telah tertimbun salju. Wajah orang itu memerah karena kedinginan. Sorot matanya berputar untuk mencari sesuatu- dan baru berhenti kala sadar Theresa sedang mengamatinya. "Firio?" panggil Theresa langsung berdiri. Dia heran dengan sikap pria itu. Tanpa banyak bicara dia segera membuka pintu, khawatir kalau terjadi sesuatu. Akan tetapi bukannya menunggu di depan pintu, pria itu malah melangkah mundur. Ia seperti ingin menjaga jarak dari wanita itu. "Ther-Theresa?" panggilnya ragu. "Kau benar-benar Theresa?" Theresa bingung. Sekalipun tubuhnya terbalut baju tebal serta syal, tapi begitu keluar selangkah dari pintu, semburan salju langsung membuat sel otaknya membeku. Giginya mulai bergemeretak. Dia tak mampu menoleh karena tulang kepalanya kaku. "Apa yang kau lakukan? Ayo masuk! Ini dingin sekali tahu!" bentaknya kesal dengan Firio yang malah terus mundur. Firio sempat terjungkal oleh timbunan salju dekat jalan, mengakibatkan kupluk mantel bulunya terbuka. Dan kini terlihatlah Firio yang memiliki potongan rambut yang terpangkas rapi dan pendek. Theresa sadar, bukan potongan rambut itu yang membuatnya kaget, melaikan tatapan mata Firio yang tidak terkesan jahat. "Eh, kau keluar saat salju deras begini hanya untuk potong rambut?" "Syukurlah kau tidak apa-apa, jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu, tapi tunggulah-" "Kau ini bicara apa?" "Jangan mendekat dahulu, kau sebaiknya di dalam rumah saja, aku hanya ingin melihatmu-" kata Firio terdengar aneh, "cepatlah masuk, di luar dingin, kau bisa sakit." "Hah?" Theresa merinding mendengar ucapan lembut itu. Apa dunia mau kiamat? Apa salju terasa hangat sekarang? Kenapa Firio berkata halus? Kye dan Kade berdiri di ambang pintu, mengeluarkan lolongan mereka. Theresa menoleh. "Apa?" Suara beberapa orang terdengar di kejauhan. Mereka kompak berteriak, "itu dia! Tahanannya! Tangkap!" Firio terlihat panik, lalu pergi melarikan diri berlawanan arah dengan datangnya sekelompok pria berseragam hitam. Theresa panik. "Firio! Kau mau kemana?" Berniat mengejar, tapi kakinya sudah terpendam salju, padahal hanya beberapa berdiri disitu. Pandangannya agak kabur karena angin bertiup kencang. Salju akan menggunung di kepalanya kalau tak cepat kembali. Kelompok pria itu mengejar Firio dengan membawa s*****a api ELECTRAproject, benda yang pernah dipakai oleh orang nomaden untuk melindungi diri. Seodang pria mendekati Theresa. Dia membungkuk sedikit, lalu memberikan perintah, "Nyonya, sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Ini cuaca buruk, salju baru berhenti malam hari nanti." Theresa mengamati penampilan orang itu. Seragam rapi, bertumpuk-tumpuk hingga membuat tubuhnya menggelembung, serta penuh lambang Neo. Tanpa diberitahu, dia yakin pria ini semacam penegak hukum di dinding Adam. "Bagaimana aku bisa masuk, kalian mengejar Firio, dia suamiku!" ucapnya seraya menuding ke kejauhan yang hanya ada hujan salju. Firio dan orang-orang sudah sirna. "Bukan, Nyonya, dia hanyalah tahanan, Tuan Porfirio Wolfman masih ada di Neo-Manor distrik 01, tidak usah cemas, yang barusan itu adalah tahanan yang kabur, hanya menyamar." "Menyamar?" "Iya, dan cepatlah kembali ke dalam, Nyonya," desak pria itu mulai memberikan tatapan mengancam. "Udaranya dingin sekali." Angin bercampur salju kembali mengempas ke arah mereka. Ini pertanda bagi Theresa untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dia masih tak percaya ucapan barusan. Menyamar? Itu tidaklah mungkin- Firio tetaplah Firio, wajahnya jelas Firio, tidak salah lagi. Pintu di tutup lagi. Theresa mengamati penegak hukum itu berlari arah Firio pergi. Sedangkan Kye dan Kade saling memandang, tampak keheranan. Mereka yakin mencium aroma Firio, tapi tak berniat mengejar setelah tahu pria barusan memang 'bukan Firio' mereka. Theresa bingung, kenapa Firio disebut tahanan? Dan penegak hukun barusan mengatakan Firio masih di distrik 01? Maksudnya apa? Dia memikirkan itu hingga hari berganti malam. Hujan salju mulai berkurang, jalanan terus dibersihkan. Theresa menyiapkan daging panggang. Rutinitas ini akhirnya dijalani lagi. Giginya bisa remuk kalau terus-terusan menjadi karnivora. "Iya dia giginya runcing, nah aku-" gerutunya sambil menghidangkan dua irisan daging panggang di meja makan. Ketika dia duduk di salah satu kursi, dia termenung mengingat kejadian tadi. Sekalipun bersalju, penglihatannya tak berbohong. Dia melihat dagingnya. "Tunggu sebentar, memangnya sejak kapan gigi Vampire Firio menjadi normal?" herannya mengeryihkan dahi karena tersadar saat bicara tadi, gigi Firio terlihat normal, tidak ada runcing berlebihan. Karena terlalu hanyut dalam lamunannya, dia tak sadar kalau sang suami sudah pulang. "Melamun apa?" tanya Firio sembari melepaskan mantel coklat yang beberapa bagiannya masih terdapat salju. Dia menyampirkannya di punggung kursi yang hendak ia duduki. Theresa terperanjat. "Firio! Kau pulang?" Ia memperhatikan mata pria itu yang tajam nan jahat seperti biasa, rambutnya masih sepanjang bahu dan tengah dikuncir, gigi taringnya pun masih lancip. "Tentu saja aku pulang, ini rumahku," sahut Firio dengan suara yang selalu terdengar kasar. Sangat berbeda dengan sosok pria tadi. Setelah duduk, dia lantas memakan daging panggangnya tanpa banyak bicara. "Firio-" Theresa membandingkan Firio tadi dan Firio ini. "Apa kau jadi tahanan tadi?" "Tahanan apa?" "Aku melihatmu tadi siang! Kau mengendap-endap di bawah hujan salju seperti orang bodoh- rambutmu pendek, gigimu normal dan matamu terlihat lembut loh." Firio berhenti makan. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya saat itu juga. Dia melirik Theresa dengan tajam. "Apa dia kemari?" "Dia?" Theresa ragu harus bagainana setelah melihat aura permusuhan Firio. "Siapa dia? Menyamar bagaimana sampai bisa semirip dirimu?" "Apa dia masuk kesini?" Firio mengendus aroma di sekelilingnya. "Tapi tak ada bau aneh disini." "Saat aku membuka pintu, dia malah menjauh. Siapa dia? Tahanan apa?" "Orang tidak berguna, dia sudah tertangkap. Sekarang yang penting jangan pernah membuka pintu untuk siapapun kecuali aku-" kata Firio masih memikirkan sesuatu. "Kye dan Kade jelas sulit membedakan kami, tapi kurasa aku harus memberitahu mereka- " "Firio, aku merasa kau menyembunyikan sesuatu." Theresa gelisah. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu di laboratorium tempatmu akan bekerja? Apa ada makhluk aneh yang belum kau ceritakan padaku? Alien di masa kini yang ternyata bisa berubah menjadi manusia?" "Tidak usah membahas hal berat, otakmu mungil." Theresa curiga. "Aku serius, s****n. Dia memang kau'kan?" Matanya terpicing memperhatikan otot pelipis Firio yang terlihat, ia yakin pria itu sedang kesal karena hal lain. "Bagaimana mungkin itu aku?" Firio makin menunjukkan kejengkelan. "Pasukan Neo-Arm sudah bilang'kan, dia tahanan." "Kurasa semakin jelas ada alasan kenapa kau mau ke dalam dinding selain untuk membuatkan aku mesin untuk pulang." Theresa terus mendesak. "Kau benci ada di sini, tapi kalau demi aku saja, takkan mau." "Memang demi dirimu," kata Firio menatapnya serius, "sudah kubilang badai salju turun terlalu bahaya, kau pasti mati membeku di distrik luar. Aku melakukan ini untukmu, rumah di dinding Adam sangat nyaman, hangat dan teknologinya selalu terbaru." Theresa tidak sebodoh itu. Tidak mungkin ada orang serupa sampai suara, kalau bukan orangnya. "Jadi, ada Firio dari semesta lain ya?" Firio tak ingin memgelak juga, jadi dia langsung menjawab, "iya." Kemudian hanya hening yang terjadi di antara mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN