Sama-sama Tampan

1063 Kata
Waktu pun telah menunjukkan pukul tiga sore, Nyatanya Raffa tidak jadi balik ke kantor pria itu kini malah melajukan mobilnya menuju suatu tempat, dan berkat tindakan Raffa itu sukses membuat Queen bertanya karena penasaran. "Lho Pak, kita mau kemana?" Tanya Queen saat melihat mobil yang di kendarai bosnya itu melawan arah dengan jalanan menuju rumahnya. Raffa pun terlihat menoleh sekilas, "Saya mau beli roti dulu," jawab Raffa singkat lalu kembali memfokuskan pandangannya. Sementara Queen hanya ber oh ria sebagai jawaban, biarlah sesuka hati Raffa saja akan membawanya kemana yang penting ia tidak di bawa ke hotel atau ke tempat-tempat terlarang begitu pikir Queen dalam hati. Tepat di lampu merah kedua Raffa pun mulai membelokkan mobilnya ke sebuah toko roti yang cukup terkenal di daerah Jakarta. Pria itu lalu mematikan mesin mobilnya dan melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh kekarnya itu. "Ayo Queen kita turun!" Ajak Raffa pada wanita cantik di sampingnya ini. "Saya ikut turun, Pak?" Tunjuk Queen pada dirinya sendiri. Bukan Queen tidak peka, hanya saja untuk apa ia ikut turun menemani Raffa membeli roti? Apa ini juga termasuk ke dalam jenis pekerjaan sekretaris? Lagi-lagi Queen terus bertanya dalam hati. "CK!" Raffa pun berdecak kesal, pria itu lalu menggaruk tengkuk alis matanya yang tak gatal itu. "Gini lho Queen," Raffa terlihat menjeda ucapannya sebentar. "Mulai hari ini setiap apapun yang saya kerjakan kamu harus ikut andil, entah itu berbelanja atau menemani saya ke rumah orang tua saya. Ya, anggap saya itu juga bagian tugas kami sebagai sekretaris pribadi saya. Kamu paham kan, Queen?" jelas Raffa panjang lebar, pria itu heran jika sebagian besar wanita adalah makhluk yang peka, tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Queen. Wanita itu terlihat acuh dan tidak peduli pada setiap perbuatan yang Raffa lakukan, dan karena hal itu juga yang membuat Raffa semakin penasaran pada sosok Queen yang di nilai sangat sexy itu. Queen mengerjapkan bulu matanya yang lentik itu. Bagian dari pekerjaannya? Selalu sedia menemani Raffa? Berbagai pertanyaan kini menari-nari di kepalanya, namun sedetik kemudian wanita itu pun tersadar lalu menganggukan kepalanya pasrah. "Baik Pak, siap laksanakan tugas," jawabannya lesu, beginilah resiko orang bekerja. Ia harus tunduk dan patuh pada setiap perintah bosnya. "Good girl." Raffa pun tersenyum puas mendengar jawaban Queen, kini pria itu membuka pintu mobil dan berjalan pelan menuju toko roti langganannya sementara Queen dengan setia mengikutinya dari samping. "Queen, papa sama mama kamu suka kue apa?" Tanya Raffa tanpa melihat Queen, pria itu kembali memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya dengan pandangan mata fokus melihat aneka kue yang terpajang di etalase. Queen yang sedang memainkan ponselnya pun menoleh lalu menatap Raffa. "Bapak mau beliin orang tua saya kue?" Tanya Queen memastikan sekali lagi, wanita itu terlihat mengerutkan keningnya tidak percaya. Raffa mengangguk mantap. "Iya Queen, saya kan mau antar kamu pulang kerumah. Tidak sopan rasanya jika tidak membawa apa-apa," jawab Raffa lalu melipat kedua tangannya di d**a. "Nggak usah repot-repot, Pak. Tadi kan Bapak udah beliin buah buat orang tua saya," sahut Queen cepat, mengingat tadi Raffa sudah memintanya membeli buah-buahan juga untuk kedua orangtuanya. Dan sekarang Raffa ingin membelikannya kue juga? Oh Queen tidak bodoh, bisa jadi ini bentuk penyelidikan Raffa terhadap dirinya. Queen pun langsung menggelengkan kepalanya cepat, menolak dengan tegas niat bosnya itu. Raffa terlihat menghela nafasnya berat. "Saya mau lihat-lihat kue yang lain, kamu pilih aja yang mana yang orang tua kamu suka. Ingat ya Queen saya tidak terima penolakan apapun dari kamu." Setelah mengucapkan hal itu Raffa pun langsung meninggalkan Queen sendiri, pria itu terlihat berjalan ke sudut ruangan yang memajang kue Belgium Chocolat ukuran lima belas sentimeter favoritnya, tanpa pikir panjang Raffa pun meminta karyawan toko itu untuk membungkusnya. Sementara Queen masih terlihat sibuk memilih, ia bingung harus memilih yang mana karena jujur kedua orang tuanya bukan pecinta makanan manis, terlebih mama Anin selalu membatasi asupan makanan yang mengandung gula di rumahnya semenjak tahu papa Amri ada riwayat keturunan diabetes. Mama Anin lebih baik mencegah dan mengupayakan keluarga agar hidup sehat dan panjang umur. Tapi melihat sifat bosnya yang keras kepala dan tidak suka dibantah itu akhirnya Queen memilih satu kue yang menurutnya cukup enak. Ya, wanita itu memilih kue chocolate Velvet ukuran dua puluh kali dua puluh sentimeter, Queen tahu kue itu cukup mahal karena di bandrol dengan harga tiga ratus enam puluh sembilan ribu rupiah per satu kue nya. Tapi Queen masa bodo toh ini juga atas perintah Raffa, sang bos. Queen memilih mendudukkan dirinya di kursi saat melihat Raffa berjalan menuju toilet, wanita itu memilih menunggu bosnya sambil memainkan ponselnya. Cukup lama Queen menyelami dunia maya hingga wanita itu pun tersadar dan mulai mendengarkan pandangan mencari keberadaan bosnya itu, tak lama netra bulat Queen menangkap siluet seorang pria yang tengah berdiri di samping kasir tanpa ragu Queen pun menghampiri pria itu. Queen menepuk pelan pundak pria itu, "Pak Raffa, saya sudah pesan kue nya tadi. Terima kasih ya, Pak." Ucap Queen lalu tersenyum tipis, bukan bermaksud menggoda hanya saya ia merasa senang atas kemurahan hati bos barunya itu. Bukankah seharusnya Queen bersyukur akan hal itu dan bersikap baik pada Raffa selalu bosnya yang baru. Pria itu pun menoleh lalu mengerutkan keningnya bingung. "Pesan kue? kue apa?" Tanya pria itu benar-benar tidak tahu, ia lalu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu menelisik penampilan Queen dari atas sampai bawah sambil berpikir keras, siapakah gerangan wanita cantik di depannya ini. Queen menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, masak iya baru beberapa menit saja bosnya itu sudah lupa akan ucapannya tadi. "Iya Pak, tadi---" ucapan Queen terputus saat seseorang dengan nada yang begitu kesal memanggil namanya. "QUEENBY!!!" Panggil Raffa cukup keras tepat di sudut ruangan, pria itu lalu berjalan mendekat ke arah keduanya yang masih berdiri di depan kasir. "Pak Raffa?" Ucap Queen tidak percaya lalu menoleh lagi pada pria yang ada di depannya, Queen menggelengkan kepalanya cepat lalu kembali mengusap kedua bola mata indahnya itu. Wajah mereka sama, sama-sama terlihat tampan dan gagah. Melihat interaksi Raffa saat menatap Queen membuat satu ide jahil muncul seketika di kepala pria itu, "Halo Queen, apa kabar?" sapa Raffi lalu mengulurkan tangannya. Ya, pria itu adalah adik kembar Raffa. Queen melongo mendengar ucapan pria itu, dengan ragu Queen pun ingin membalas uluran tangan pria itu. "Baik, Alhamdulillah," baru saja Queen ingin menyambut uluran tangan pria itu, tapi Raffa lebih dulu menarik tangannya dengan cepat. "Kamu ingat kan Queen, perintah saya tempo hari?" Tanya Raffa dengan pandangan yang menatap dalam wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN