Bertemu Orang Tua Raffa

1004 Kata
Setelah makan siang bersama nyatanya Raffa tak mengajak Queen kembali ke kantor, melainkan pria itu mengajaknya datang kerumah kedua orangtuanya seperti apa yang mama Rara perintahkan beberapa hari yang lalu. "Lho Pak kita nggak balik ke kantor?" Tanya Queen saat melihat yang di kendarai bos nya berjalan melawan arah. "Kita kerumah orang tua saya dulu," jawab Raffa santai dengan tatapan mata fokus lurus kedepan. Queen pun hanya mengangguk tanpa berucap apa-apa, mengunjungi rumah bosnya saat ini? Mungkin ini juga menjadi salah satu bentuk pekerjaan seorang sekretaris yang harus ia jalani. "Queen? Di depan nanti tolong belikan apel merah dan juga kiwi ya? Masing-masing dua kilo saja," Raffa menepikan mobilnya, tak lama ia mulai mengeluarkan sebuah kartu debit lalu menyerahkannya pada Queen. "Kodenya tiga lima, tiga kali." Jelas Raffa pada sekretaris pribadinya itu. Queen pun mengangguk. "Baik Pak, kalau gitu saya turun dulu," Queen pun membuka pintu mobil hendak menurunkan kakinya namun belum sempat itu terjadi Raffa kembali memanggil dirinya, hingga mau tak mau membuat wanita itu pun menoleh lagi. "Queen?" Panggil Raffa lagi. Queen pun menoleh. "Iya Pak? Apa ada yang kurang atau ada buah lain yang harus saya beli?" Queen berinisiatif menanyakan hal itu, sebagai seorang sekretaris ia harus bersikap peka dan cepat tanggap. Raffa pun terlihat menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, kamu belikan juga buah-buahan buat papa dan mama kamu," titah Raffa lalu mengalihkan pandangannya lagi pada gadget di tangan kanannya. Queen pun sempat tercengang dengan perintah bosnya barusan, tapi ia yang tak mau banyak membuang waktu pun langsung bergegas turun, berjalan masuk kedalam sebuah toko buah yang cukup besar dan ternyata di dalamnya pun banyak menjual berbagai buah-buahan yang cukup komplit dan segar. Tanpa mau membuat bosnya menunggu Queen pun langsung membeli apa-apa saja di pesan oleh Raffa tadi, hingga hanya dalam waktu lima belas menit Queen pun sudah kembali masuk ke dalam mobil mewah bosnya itu. "Kamu sudah membelikan buah-buahan untuk orang tua kamu?" Tanya Raffa lalu mulai menyalakan mesin mobilnya. Queen pun mengangguk. "Sudah Pak, saya belikan apel sama anggur." Queen mengangkat satu plastik putih yang sudah ia pisahkan sebelumnya. "Ehm .. makasih banyak ya Pak," ungkap Queen merasa tidak enak atau sungkan atas kebaikan bosnya ini. "Ya, sama-sama." Hanya itu jawaban Raffa, singkat, padat dan jelas. Pria tampan itu kembali fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hening, selama di perjalanan baik Raffa maupun Queen tak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Queen sibuk membaca ulang jadwal apa saja yang harus dikerjakan Raffa besok, sementara pria itu terlihat sangat fokus saat mengendarai kuda besinya. Hingga tak terasa mobil yang mereka kendarai kini sudah memasuki hunian super mewah dan besar yang berada di salah kompleks perumahan super elit yang ada di Jakarta. "Ayo Queen, mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Tanya Raffa sesaat setelah menutup pintu mobilnya, ia lalu menoleh ke arah Queen sekilas. "Saya ikut masuk ke dalam, Pak?" Tunjuk Queen pada dirinya sendiri. Raffa pun terlihat menggelengkan kepalanya heran. "Terus kamu mau menunggu saya di dalam mobil? Iya seperti itu?" Dari nada bicara Raffa seperti pria itu mulai kesal sekarang melihat Queen tak juga menuruti ucapannya. Queen sempat ragu apakah ia harus ikut masuk ke dalam atau menunggu di luar? Selama menjalani prosesi nya sebagai seorang sekretaris baru kali ini Queen diajak berkunjung kerumah atasannya. Sebab dulu saat bekerja di perusahaan luar negeri pekerjaan Queen hanya sebatas pekerjaan di kantor saja tanpa mengunjungi kediaman atasannya dulu. "By?" Hentak Raffa kesal karena ucapannya tak diindahkan oleh Queen dan wanita itu malah terlihat melamun sekarang. Queen pun mengerjap kaget saat lagi-lagi Raffa memanggilnya dengan sebutan 'by' bukan Queen. "Eh, iya baik Pak," dengan perasaan gugup dan ragu Queen pun ikut melangkahkan kakinya berjalan beriringan di samping bosnya yang galak itu. "Tidak usah takut Queen, papa dan mama saya orangnya ramah," ucap Raffa melembut dan langsung mengajak Queen menuju taman belakang, dimana biasanya mama Rara dan papa Agha tengah menghabiskan waktu sore hari mereka di sana. Dan benar saja di kursi taman itu kini terlihat sepasang suami-istri yang tengah duduk bersama sambil memberikan makanan pada ikan-ikan yang ada di kolam tersebut. "Assalamualaikum, Pa, Ma." Ucap Raffa lalu berjalan mendekat menghampiri kedua orangtuanya. Mama Rara dan papa Agha pun kompak menoleh lalu tersenyum. "Wa'alaikumsalam," jawab keduanya kompak. "Siapa Bang?" Tanya mama Rara lalu beringsut dari duduknya menghampiri seorang wanita cantik yang tengah berdiri tepat di samping Raffa. Queen pun menunduk hormat, lalu mengulurkan tangannya mengecup punggung tangan mama Rara dengan takzim. "Saya Queen Bu, sekretaris Pak Raffa yang baru." Queen berucap lembut dan sopan pandangan mata Queen pun beralih pada sosok pria paruh baya yang berada di depannya, dengan cepat Queen pun melakukan hal sama. "Masya Allah cantiknya kamu, Queen," mama Rara berkata jujur, siapapun yang melihat Queen pertama kali pasti akan menilai hal demikian. Tinggi dan bentuk tubuh yang langsing seperti model papan atas, di tambah penampilan Queen yang terlihat anggun, sopan dan santun benar-benar mencerminkan sosok wanita yang berkelas dan berpendidikan. "Makasih Bu," jawab Queen lalu tersenyum tipis. Mama Rara pun mengangguk. "Ayo kita masuk, ngobrol-ngobrol di dalam aja." Mama Rara tanpa sungkan langsung merangkul lengan Queen dan mengajaknya masuk kedalam rumah, sementara itu para pria mengikuti langkah mereka dari belakang. "Queen kamu mau minum apa?" Tanya mama Rara lalu menyuruh Queen untuk duduk dulu di sofa ruang tamu. Queen yang merasa tidak enak pun langsung berdiri lagi, saat tahu ibu dari bosnya itu mau menyiapkan minuman untuknya. "Tidak usah Bu, biar saya saja yang mengambilnya sendiri," tutur Queen lalu mendekat kearah wanita paruh baya itu. Mama Rara pun menjentikkan jarinya. "Ide bagus itu," beliau pun terlihat menjeda ucapannya sebentar kemudian kembali berkata. "Abang kamu mau dibuatkan Queen minuman apa?" Tanya sang mama pada anak sulungnya itu. Raffa yang tengah fokus membaca laporan keuangan perusahaan pada gadget nya pun menoleh. "By, buatkan saya minuman seperti biasa ya. Kamu tahu kan apa yang saya sukai?" Dengan santainya Raffa berbicara seperti itu, tanpa memikirkan perasaan Queen yang tengah mati-matian menahan malu. Bagaimana tidak? Saat ini kedua orang tua Raffa tengah menatap dirinya dengan tersenyum, tentunya dengan senyuman yang sulit diartikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN