Kalut

1653 Kata

Wijaya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pun kepada Aura. Dia hanya bisa memberikan kertas itu ke perempuan yang berdiri di sebelah kanannya. Melihat ekspresi wanita itu yang tengah jengah dengan pikiran. Walaupun begitu, tidak membuat seorang Aura patah semangat. Wijaya izin untuk pulang terlebih dahulu. Ada panggilan telepon dari orang tuanya. Pergi dari rumah sakit dengan mengendarai mobilnya. Setelah dua jam menghabiskan waktu di jalan, akhirnya Wijaya bisa membuang napas lega. Kakinya melangkah ke arah ruang makan, mengambil satu gelas air untuk menghilangkan rasa dahaga. Duduk di kursi kayu dengan pahatan bermotif bunga, ditemani dengan tudung meja berwarna biru, tanpa ada makanan di dalamnya. Wijaya merasa malas menunggu orang tuanya yang pada kenyataan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN