Hari demi hari Khanza lalui dengan terus berpasrah diri pada Allah. Wanita yang lahir di kota santri itu sudah tak mau lagi mencari arti dari kebahagiaan. Khanza senang memiliki suami seperti Sinar, tetapi ia belum bisa merasakan kebahagiaan yang seperti orang lain sering ceritakan padanya. Bersatu dengan lelaki pujaan bukan tak membuatnya bahagia. Namun, ia hanya butuh waktu untuk memahami apa sebenarnya kebahagiaan itu? Jika kebahagiaan diukur dari harta, jelas sudah bahwa Khanza tak pernah merasakan hidup meeah bergelimang harta. Kalau kebahagiaan diukur dari besarnya kasih sayang dan adilnya seorang ibu, rasanya Khanza pun jauh dari kata itu. Karena hal itulah Khanza memilih berhenti mencari kebahagiaan dan berpasrah diri pada Allah. Selama Khanza mengandung buah hati untuk k

