Ingin Menghindar

1791 Kata
Beberapa jam yang lalu Dafa menuruni anak tangga untuk menghadiri acara yang diadakan di lantai dasar. Saat langkahnya berbelok, seorang wanita memanggil namanya. “Dafa.” Dafa menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya guna mengetahui siapa yang memanggilnya. Ternyata Celline Vanya, adik Evano, teman Dafa. Celline terlihat sangat cantik malam ini. Apapun yang menempel di tubuhnya, memiliki harga yang fantastis. Hal itu tak membuat kebanyakan orang heran mengingat keluarga Celline adalah keluarga terpandang dan memiliki kekayaan yang hampir sebanding dengan keluarga Abizard. Namun, kecantikan seorang Celline yang dikagumi banyak pria, justru membuat Dafa tak tertarik. Menurutnya, wanita sekelas Celline tidaklah cocok untuknya. Lagipula, ia tak menyukai wanita yang senang menghamburkan uang hanya untuk membeli pakaian ratusan juta seperti Celline. Namun, ternyata Celline menyukai Dafa sejak dulu. Bahkan sejak tunangan Dafa masih hidup dan secara tidak langsung, Celline selalu menganggu kenyamanan hubungannya dengan tunangannya, Naina Amelia. Wanita itu tak pernah bosan mendekati Mega, tujuannya hanya untuk menarik perhatian Dafa. Sayangnya, Dafa sudah tahu maksud Celline, tentu ia tak pernah menyikapinya lebih. Bukan hanya Dafa, seluruh keluarganya sudah mengetahui itu. Bahkan Mega sendiri tahu, mengapa Celline begitu baik kepada keluarga Pratama. Mega hanya bingung harus berbuat apa. Disisi lain, ia merasa tak enak kepada rekannya yaitu Gina, tapi disisi lain pula ia tak bisa memaksa Dafa untuk menikah dengan Celline. “Celline, terima kasih sudah datang,” sapa Dafa dengan ramah. “Tentu aku pasti datang. Gak mungkin aku gak datang di ulang tahun calon mertuaku, Dafa.” Celline bersedekap d**a, menampilkan senyumnya yang tersungging. “Kita sudah berulang kali membicarakan hal itu, Celline. Apa yang membuatmu tertarik padaku? Bukankah banyak pria yang mendekatimu? Aku yakin, mereka bukanlah pria biasa.” Dafa menatap intens netra Celline. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu berjalan ke arah belakang tubuh Dafa. “Mereka tak sebanding denganmu, Dafa. Dengarkan aku baik-baik, cepat atau lambat, kita akan menikah dan aku tidak main-main dengan ucapanku.” Celline berbisik, tepat di telinga Dafa. Dafa maju satu langkah, lalu memutar badannya agar menghadap Celline kembali. “Kalau kamu hanya menginginkan tubuhku ... baiklah. Tapi, jangan berharap aku akan mencintaimu, Celline.” Kali ini, Dafa juga tak main-main dengan ucapannya. Jika memang itu yang diinginkan Celline, Dafa bisa saja menikah dengannya. Hanya saja, pernikahan yang hambar yang akan terjadi nanti. Celline terdiam mendengar jawaban Dafa seolah dirinya sedang memikirkan sesuatu yang akan ia ucapkan kembali. Merasa tak ada lagi yang harus dibahas, Dafa memutuskan untuk melanjutkan langkahnya hendak meninggalkan Celline seorang diri. “Kita belum selesai bicara, Dafa.” Celline mencekal tangan Dafa sebelum pria itu benar-benar meninggalkannya. “kenapa? Apa yang kurang padaku?” tanyanya penasaran setelah Dafa menatap wajahnya kembali dengan tatapan sinis. “Justru karena kamu terlalu sempurna dan aku sadar siapa diriku, Celline. Kamu harus ingat baik-baik, apapun yang kumiliki saat ini, itu tidak akan abadi. Jika saja aku membuat keluarga Abizard kecewa, bisa saja semua yang kumiliki saat ini mereka ambil kembali.” Dafa mencoba memberi penjelasan yang jelas dan ia berharap Celline dapat mencerna kata-katanya. “Apa kamu ingin mengatakan, kalau kamu takut jatuh miskin?” tembak Celline menusuk sambil mengangkat satu alisnya, tak lupa dengan senyum kecil seolah merendahkan ketakutan yang Dafa khawatirkan. “Aku tidak takut. Tapi, justru aku yang takut tidak bisa memenuhi keinginanmu.” Dan lagi, Dafa mencoba memberi alasan yang jelas, mengapa selama ini ia selalu menolak pernikahan dengan Celline. “Dafa.” Tanpa basa-basi, Celline memeluk Dafa sangat erat. Wajahnya sengaja ia benamkan di bawah wajah Dafa. “Hentikan, Celline.” Dafa mencoba melepaskan pelukan yang dilakukan. Tak perlu dijelaskan, Dafa sangat risih. “Celline ... Dafa? Apa yang kalian lakukan di sini? Ah ... sepertinya kalian sudah tak sabar untuk—” Suara Gina yang tiba-tiba saja muncul di dekat Dafa dan Celline. “Nyonya Gina—” potong Dafa sebelum Gina selesai bicara. “Mah? Kenapa harus mengatakan itu? Dafa gugup, 'kan? Iya 'kan, Sayang?” Kali ini Celline yang memotong ucapan Dafa, ingin memberitahu ibunya tentang apa yang mereka lakukan. Bukannya menjawab lontaran Celline, Dafa rasanya sudah muak dengan situasi yang ia hadapi sehingga ia memutuskan untuk pergi. “Saya permisi,” pamitnya tanpa menunggu jawaban apapun, segera pergi meninggalkan Celline dan Gina. Saat melihat sosok wanita yang diyakini adalah Nadira, adik Farel yang merupakan teman sekaligus sopirnya, Dafa merencanakan sesuatu agar Celline tak mengganggunya lagi. Ya, berpura-pura sudah memiliki kekasih yaitu Nadira. Entah mengapa rencana itu tiba-tiba saja muncul. Bahkan, Dafa tak ingin membicarakannya dan membuat kesepakatan terlebih dahulu dengan wanita yang ia libatkan yaitu Nadira. Egois memang, tapi sungguh, Dafa ingin menghindar dari Celline bagaimanapun caranya. Otaknya tak dapat berpikir jernih saat memutuskan untuk menganggap Nadira sebagai kekasihnya. Sementara itu, Aditya sangat terkejut dengan sosok Nadira yang berada di rumahnya sebagai kekasih kakaknya, Dafa. Hatinya merasa bergemuruh, tak percaya dan sejujurnya ia tak ingin pernah percaya. Nadira, wanita itu, wanita yang selama ini Aditya nantikan menjadi kekasih Dafa? Sejak kapan? Pikiran Aditya benar-benar sangat kacau. Jika sedang tidak ada acara penting, demi apapun Aditya ingin meninggalkan rumahnya sendiri, guna menenangkan pikiran dan memadamkan hatinya yang terasa panas. Namun, Aditya sendiri merasa aneh pada Dafa. Setahunya, kakaknya itu tak memiliki kekasih. Andai Dafa memiliki kekasih, pastilah Aditya mengetahuinya. Dari satu tahun yang lalu, tepatnya dari tunangan Dafa meninggal, pria itu tak memiliki kekasih. Pun, Nadira baru saja pulang ke Indonesia. Sejak kapan Dafa dan Nadira menjalin hubungan? Berbagai pertanyaan bersarang di rongga kepala Aditya. “Bagaimana keadaan .... ” Mega menahan ucapannya, lupa nama gadis yang diketahui sebagai kekasih putra sulungnya. “Nadira. Semoga baik-baik saja,” jawab Dafa memberitahu dan Mega mengangguk pelan, lalu membuang napasnya lega. “Kita mulai, Bu?” tanya seorang MC yang sudah menunggu perintah Mega sejak tadi. Dafa mengangguk satu kali sebagai jawaban dan MC itu segera mempersiapkan diri untuk membuka acara. “Sebelum kita mulai acaranya, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan limpahan rahmat berupa kesehatan, keselamatan dan karunianya.” MC membuka acaranya dengan sebuah doa yang diikuti para tamu. Setelah itu, memberi sambutan untuk para tamu yang hadir, lalu acara ulang tahun pun dimulai. Dari menyanyikan lagu selamat ulang tahun, kemudian meniup lilin dan yang lainnya. Acaranya diadakan mewah. Bukan hanya rekan-rekan Mega yang diundang, tapi rekan-rekan anak-anaknya pun ikut diundang. Bagi Mega, pestanya ini adalah pesta anak-anaknya juga sehingga ia memberi kebebasan kepada semua putranya untuk mengundang siapapun yang mereka inginkan. Keluarga Pratama dulunya bukanlah keluarga terpandang seperti sekarang. Apapun yang Pratama dapatkan, adalah dari kebaikan keluarga Abizard. Keluarga Pratama hanya keluarga sederhana, tidak bisa dikatakan kaya ataupun miskin. Ayah Dafa adalah tangan kanan Mehmed Abizard yang merupakan pemilik perusahaan Abizard Group yang sangat terkenal dan saat ini, putranya yang menggantikan posisinya. Mehmed sangat mempercayai orang kepercayaannya yang bernama Rudi Pratama, ayah Dafa. Ia membiayai apapun kebutuhan keluarganya juga membiayai sekolah semua putra-putranya. Rudi dan Mega memliki tiga anak yang semuanya berjenis kelamin laki-laki yaitu, Dafa, Aditya dan Randy. Sejak di bangku SMA, Mehmed sudah sangat menyayangi Dafa seperti kepada anaknya sendiri. Dafa juga di kuliahkan di universitas terbaik di London bersama William, anak kandung Mehmed. Dafa dan William menjadi sahabat baik sejak kuliah hingga saat ini, William yang menggantikan posisi ayahnya. Sedangkan Dafa, masih di posisinya sebagai direktur utama sebelum William menjadi pemimpin Abizard Group. Mehmed memang berharap penuh kepada Dafa untuk membantu mengendalikan perusahaannya sehingga ia membiayai kuliah Dafa tinggi-tinggi. Rudi meninggal karena serangan jantung saat Dafa kuliah di London, akan tetapi kasih sayang dan kepercayaan Mehmed tak luntur hanya karena Rudi meninggal. Sepulangnya Dafa menuntut ilmu, Mehmed menjadikan Dafa sebagai direktur utama di perusahaannya. Sedangkan William yang merupakan anak kandungnya sendiri, tak ingin terlibat ke dalam perusahaan sang ayah. Dan disanalah, baik nama atupun kekayaan keluarga Pratama, menjulang tinggi seperti saat ini dan disegani banyak orang terpandang. “Bang, mau ke mana?” tanya Aditya mencegat Dafa yang sedang berjalan, hendak meninggalkan pesta. Dafa berhenti sebentar untuk berkata. “Dit, tolong terima para tamu. Gue mau temui Nadira.” Kakak dan adik ini memang berbicara non formal. Hubungannya seperti seorang teman, membuat mereka tak sungkan berbicara layaknya teman. Aditya hanya mengangguk patuh. Dafa lalu melanjutkan langkahnya, menaiki anak tangga lalu melihat Nadira yang juga sedang berjalan ke arahnya —akan— berpapasan. “Nadira,” panggil Dafa seraya terus mendekati Nadira, lalu melanjutkan ucapannya. “ikut saya.” Dafa segera meraih tangan Nadira, menyeretnya kembali ke dalam kamar yang tadi wanita itu tempati yang untungnya belum jauh dari sana. “Pak!” Nadira memperingati. “Kamu baik-baik saja? Masih pusing?” tanya Dafa khawatir setelah ia menutup pintu kamar tersebut. Tentu, Dafa tak akan membiarkan Nadira pulang begitu saja. Ia masih harus bersandiwara hingga acara selesai atau ia harus ikut pergi bersama Nadira seolah ia akan mengantarkan wanita itu pulang. Bagaimanapun caranya, Dafa harus terlihat bersama Nadira agar Celline yang selalu merayunya tak berani lagi mendekati dirinya ataupun sang ibu. “Saya gak baik-baik saja dari tadi, Pak. Maaf, saya mau pulang,” jawab Nadira setelah mendengus kesal mendengar pertanyaan Dafa. Sudah jelas ia tak baik-baik saja sejak tadi, lebih tepatnya sejak kehadiran pria yang merupakan adik Dafa. Aditya Pratama, pria yang sudah dengan susah payah Nadira hindari. “Nadira, maaf, tolong jangan tinggalkan tempat ini sebelum pesta selesai,” pinta Dafa sungguh-sungguh. “Kalau saya tetap pulang?” tantang Nadira. Demi apapun, ia merasa sangat tertekan seolah akan terjadi sesuatu jika ia tetap berada di sana. “Terpaksa saya akan mengurungmu,” jawab Dafa sekaligus memberikan ancaman bagi Nadira. “Apa?! Anda berani mengancam saya, Pak Dafa Pratama? Saya akan telepon Kakak saya sekarang juga, kalau Pak Dafa melarang saya pulang.” Nadira balik mengancam dan ia akan benar-benar menghubungi Farel untuk mengadu padanya, tentang apa yang dilakukan bos sekaligus sahabatnya itu. “Silakan, setelah acara selesai. Tapi sebaiknya kamu tidak perlu repot, biar saya yang jelaskan kepada Farel,” jawab Dafa setenang mungkin. “Dan Anda pikir, Kak Farel akan terima saya diperlakuan seperti ini sama Bapak?” bentak Nadira, melotot tak sopan ke arah Dafa. “Farel lebih mengerti situasi saya sekarang ini, Nadira. Sebaiknya, kamu turuti perintah saya. Saya yakin, Farel juga akan meminta hal yang sama jika dia ada di sini,” tutur Dafa dengan entengnya. “Yang benar saja! Kalau Kak Farel di sini, artinya Saya yang gak— em—” Suara Nadira tertelan saat bibir Dafa menyumpal mulutnya dengan sangat tiba-tiba, bahkan Nadira tak dapat mengelak karena ketidaksiapannya. Hal itu Dafa lakukan karena ia mendengar suara sepatu yang ia yakini sebagai sepatu wanita, berjalan mendekati kamar tersebut. Sementara itu, Nadira sedang bicara dengan nada tinggi. Dafa mendapat firasat itu adalah Mega, ibunya. Khawatir Mega mendengar percekcokan, Dafa terpaksa menyumpal mulut Nadira dengan mulutnya. Bukan hanya itu, jika itu benar Mega, Dafa ingin membuktikan kepadanya jika Nadira benar kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN