Setelah beberapa jam, Tama kembali ke hotel dengan beberapa kantong berukuran besar. Isinya tidak lain adalah mainan yang Tama pilih sendiri. Mempunyai mainan baru, Dafa yang sejak tadi ingin bermain dengannya tak juga diindahkan. Nadira terkekeh saat melihat raut cemberut Dafa yang kesal pada Tama. Yang benar saja! Pria sedewasa Dafa berebut mainan dengan anaknya sendiri. “Sini, Papa yang mainin. Kamu belum bisa kendalikan ini.” Dafa mencoba untuk menghidupkan robot yang cukup besar. Ia Memperhatikan area belakangnya, dimana sebuah batre biasanya tersembunyi disana. “Gak mau! Tama mau belajar sendiri,” bentak Tama yang diakhiri rengekan seperti ingin menangis, tak ingin ayahnya ikut campur dalam bermainnya. “Kamu bukan belajar, Sayang, kamu lagi bermain.” Dafa mengoreksi lontaran Tama

