Pikiran Nadira dipenuhi ucapan Gina. Ia mencoba memposisikan dirinya sebagai orang lain dan menilai Dafa yang merupakan pebisnis besar, memiliki kekasih yang hanya adik dari seorang sopir. Tentu saja, Nadira sendiri menilai itu tak pantas. Bahkan hampir tak mungkin kisah cinta seperti itu ada dunia nyata terlebih ia sendiri yang mengalaminya. Tak heran, Nadira merasa kisah cintanya bersama Dafa seperti dongeng atau novel yang pernah ia baca. Setelah berhasil mengendalikan emosinya, Dafa sedikit lebih baik. Ia menoleh ke arah Nadira yang sedang menatap jendela dengan tatapan kosong. Baru setelah itu, Dafa menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang mendapat kekesalan, tetapi sepertinya Nadira juga. “Sayang .... ” Dafa meraih tangan Nadira, menggenggamnya. Nadira menoleh, tetapi mulutnya

