Penasaran?

1708 Kata
Sampainya di apartemen, seperti biasanya, Nadira tak sudi untuk mengatakan apapun sebelum ia keluar dari mobil. Ia langsung melangkahkan kakinya ke arah lift dan meninggalkan Dafa di belakangnya. Namun saat pintu lift akan tertutup, pintu lift tersebut kembali terbuka ketika tangan Dafa menghentikannya. Ia lalu ikut masuk ke dalam lift, berdiri di belakang Nadira, sementara orang-orangnya tetap berada di luar pelataran apartemen. Nadira menghentikan langkahnya tepat di depan pintu apartemen, kemudian menekan tombol bel beberapa kali hingga Tasya membukakan pintu. “Dek? Lama—” Tasya akan mengomeli, akan tetapi suaranya terhenti saat Dafa muncul dari samping Nadira. “eh ... Bang Dafa.” Kemudian Tasya tersenyum ramah ke arah Dafa. “Tasya.” Dafa mengangguk kecil. Tasya lalu menatap Nadira seolah meminta penjelasan, akan tetapi Nadira yang menyadari tatapan intimidasi itu tak ingin mengindahkannya. Ia segera masuk ke dalam apartemen melewati Tasya, berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya menuju dapur. Farel yang saat itu sedang berjalan dari arah dapur ke arah ruang depan, terlihat bingung. Ada apa dengan tingkah adiknya itu? “Dek? Ngapa lo?” tanya Farel sedangkan Nadira tak ingin menjawabnya dan terus melangkah menuju dapur. “Dafa.” Farel terkejut dengan kehadiran sahabatnya itu yang tiba-tiba muncul bersama Tasya. “Sorry,” ucap Dafa lemah. Farel mengernyitkan keningnya bingung. “Soal apa?” tanyanya sambil merangkul bahu Dafa lalu membawanya ke sofa. “Tanya adek lu kenapa,” jawab Dafa bernada malas. “Adek gue 'kan bisu,” celetuk Farel sekenanya. Yang ia maksud adalah, adiknya itu tak pernah menceritakan apapun masalah yang menimpanya. Jika sahabatnya itu mengetahui masalah Nadira, mengapa tak memberitahunya saja tanpa ia harus bertanya kepada orangnya langsung? Nadira sedang berjalan ke arah pintu kamarnya, ia mendengar lontaran sang kakak dan tentu ia segera berjalan lurus menuju ruang depan. Ia langsung melemparkan sebuah bolpoin dari atas meja ke kepala Farel. “Aw anjer!” bentak Farel sedikit terkejut mendapatkan lemparan itu dari belakang tubuhnya. Nadira tak ingin menjawab apapun, segera memasuki kamarnya sedangkan Tasya yang ikut duduk bersama Farel dan Dafa hanya menggelengkan kepalanya merasa geli dengan tingkah Nadira yang kekanak-kanakan. “Kenapa adek lo?” tanya Farel kepada Tasya. “Dih, adek lo tuh, enak aja.” Tasya bergidik, menyangkal. “Mana ada adek gue kayak gitu. Itu adek lo!” kilah Farel bernada tinggi sambil melotot ke arah sang istri. “Adek lo! Sorry ya,” tolak Tasya ogah. Brak! Suara tendangan yang sangat keras dari dalam kamar Nadira. Sepertinya wanita itu menendang pintu atau lemari. Yang jelas, suara itu seperti tendangan ke arah sesuatu yang berbahan kayu. Farel dan Tasya menatap satu sama lain, sementara Dafa memijat keningnya yang terasa berdenyut. Sepertinya keluarga sahabatnya tidak ada satupun yang baik-baik saja dengan kebiasaan mereka. Suami istri sedang bersitegang di hadapannya, sedangkan adiknya sedang menghukum benda-benda yang tak memiliki salah padanya. “Samperin gih. Sebelum gedung ini dia robohin,” pinta Farel sedikit berbisik. Tasya mengangguk patuh, ia lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar Nadira. “Adek lu serem, ya?” gumam Dafa dan Farel mengangguk setuju dengan ucapannya. “Gue kasih tau. Kalo cewek lagi ngambek, mending diem.” Farel seolah menasehati. “Termasuk adek lo?” tebak Dafa lalu mendengus sebal. “Mau adek gue kek, mau Tasya kek, sama aja! Cewek selalu benar.” Farel mengatakan itu dengan nada tak tenang dan mimik yang kesal. “Halah. Lu aja yang bucin,” cibir Dafa lalu menipiskan bibirnya. “Meh? Omongan lo kok sama kayak adek durhaka gue?” Farel tak percaya Dafa mengatakan hal yang sama seperti Nadira yangjuga pernah mengatakan itu padanya. “Ya emang, 'kan? Bucin? b***k cinta.” Ulang Dafa. Kali ini ia memperjelas dan menekankan setiap katanya untuk menegaskan. “Ntar lo juga gitu kalo punya bini,” ujar Farel sambil mendelik tajam. Ucapannya bagaikan sumpah serapah dari seorang sahabat. “Serius?” Dafa mengerutkan keningnya dan Farel mengangguk pasrah. Namun, Dafa malah menggelengkan kepalanya dengan sombong ia berkata, “kayaknya nggak.” “Nggak kalo bini lo si Celline,” gerutu Farel tak percaya sama sekali. Sahabatnya itu hanya belum merasakan, bagaimana mencinta seorang wanita dengan sangat seperti Farel kepada Tasya. “Amit-amit.” Dafa bergidik ngeri, mengangkat bahunya sekilas. “Kenape sama adek gue?” Farel baru mengingat adiknya yang sedang marah. Dafa menghela napas berat dan menghembuskan dengan kasar. “Gue gak tau awal ceritanya kayak gimana. Tau-tau adek lo ada di ruangan Randy sama Bunda di rumah sakit. Randy kecelakaan. Kata Bunda, Nadira yang bawa Randy ke rumah sakit. Trus adek lo ngerengek mau pulang, Bunda gak izinin. Bunda mau ngobrol banyak sama adek lo,” jawabnya panjang lebar. “Maksudnya ... ngobrol soal hubungan lo sama adek gue?” tanya Farel. Yang ditanya mengangguk pelan mengiyakan. “terus? Lo kapan mau bilang, kalo lo sama adek gue cuma pura-pura?” lanjutnya bertanya. Farel pun merasa penasaran, apa yang akan direncanakan Dafa. Hingga saat ini, pria itu belum membicarakannya. Namun, Farel tahu Dafa belum mengatakan yang sebenarnya kepada Mega ataupun keluarga Pratama yang lainnya perihal sandiwara yang Dafa buat. Dafa terdiam, pria itu menopang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya. “Kalo gue ngomongnya hari ini, kayaknya bulan depan udah sebar undangan,” lirihnya. Dari nadanya bicara, pria itu jelas sangat memprihatinkan. Farel tahu apa yang dimaksudnya. Jika Dafa berterus terang kepada Mega, maka sudah dipastikan pernikahan Dafa dan Celline akan segera terjadi. “Celline?” tebak Farel tapi Dafa hanya diam. Dafa malas untuk menjawab, tentu saja karena itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Farel lalu tertawa mengejek sambil menepuk-nepuk pundak Dafa. “Terus mau lo gimana?” tanyanya mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat kacau. “Untuk saat ini, gak ada pilihan lain selain turutin kemauan Bunda, yaitu bawa adek lo ke rumah sakit lagi, biar Bunda bisa ngobrol sama adek lo,” jawab Dafa setelah ia menegakkan kepalanya kembali untuk menatap Farel. Wajahnya tampak memelas agar Farel memberikan izin dan Farel sudah sangat hafal yang Dafa rasakan saat ini. “Adek gue mau?” Farel tak yakin walaupun ia sendiri ingin membantu dengan cara mengizinkan Dafa untuk membawa Nadira kembali ke rumah sakit sebagai kekasih Dafa. “Yang ada malah ngajak berantem,” ketus Dafa lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Maklum aja. Tapi ntar gue bujuk deh, biar ikut lo lagi.” Farel sungguh tak tega melihat Dafa yang sangat tertekan dan frustasi seperti itu. “Yakin? Lo gak keberatan?” tanya Dafa ingin memastikan bahwa temannya itu tidak keberatan jika adiknya ia bawa kembali sebagai kekasihnya. “Gue percaya sama lo. Sebagai imbalannya, jangan pernah hancurin kepercayaan gue.” Farel bersabda. “Hm ... kata-kata lo tumben indah didenger.” Dafa hampir saja pingsan mendengar kalimat mutiara yang keluar dari mulut Farel tetapi sahabatnya itu malah mendengus sebal. Setelah cukup lama mengobrol, Nadira keluar dari kamarnya. Tercium parfum yang menyeruak sejak pintu kamar Nadira terbuka. Wanita itu memakai sweater berwarna merah, jeans hitam, heels yang hanya 5cm berwarna hitam dan tas clutch yang sudah ia gantungkan di bahunya. Berjalan dengan santai ke arah depan, ia hendak melewati sang kakak dan sahabatnya. Namun, langkahnya terhenti saat Farel bersuara. “Ekhem ... rapi banget yang mau ketemu calon mertua,” goda Farel sambil menahan senyum geli. Nadira menyipitkan matanya saat menatap sang kakak. “Hah?!” bentaknya memperingati. Farel berkata, “Iya benar, 'kan? Lo mau ikut Dafa ke rumah sakit buat—” “Enak aja ke sana lagi!” potong Nadira dengan cepat. “Lah? Terus lo mau ke mana?” Farel bingung sendiri. Namun, Nadira tak sudi menjawab apapun. Wanita itu menghentakkan kakinya satu kali lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu yang tak jauh dari tempat dimana Farel dan Dafa duduk. Ia segera keluar dari apartemen dengan langkah tergesa-gesa. “Anjir 'kan adek gue? Gak sopan si kampret.” Farel bangkit dari duduknya, hendak mengejar Nadira tetapi Dafa menghentikannya. “Biar gue aja. Yang penting udah dapat izin lo.” Dengan langkah lebar hingga seperti berlari kecil, Dafa segera memasuki lift. Saat keluar dari pintu lift, ia melihat Nadira yang sedang menghampiri sebuah motor. Dari jaket pria yang membawa motor itu, sudah jelas terlihat bahwa itu adalah ojek online. Segera, Dafa mengisyaratkan orang-orangnya untuk menangani Nadira. Salah satunya bergegas menghampiri ojek online tersebut, sedangkan 3 orang lainnya bersiap-siap untuk menghadang motor itu jika tetap melaju. Sementara Dafa juga melangkah mendekati Nadira. “Nona Nadira.” Orang Dafa membungkuk hormat membuat Nadira menganga terpaku. “Ambil ini dan pergilah.” Orang itu memberikan beberapa lembar uang kepada ojek online dan memintanya untuk pergi. Saat itu, Nadira sudah membawa helm yang diberikan ojek, tetapi ia belum sempat memakainya. “Hey? Apa-apaan maksud Anda ini?” tanya Nadira tak mengerti. Orang itu tak ingin menjawab apapun karena Dafa sudah berada di belakang tubuh Nadira. “Ikut denganku.” Tanpa basa-basi, Dafa segera meraih pergelangan tangan Nadira dan menariknya untuk ikut. Namun, Nadira menahan tubuhnya agar tak mengikuti kemana Dafa melangkah. “Nggak! Jangan pernah memaksa saya lagi! Ingat itu!” Nadira memperingatinya dengan sungguh-sungguh. “Sepertinya kamu sedang mengancam.” Dafa menatap manik Nadira dengan tatapan dinginnya. “Pak!” Nadira berteriak memanggil ojek online yang hendak pergi. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri, lalu duduk di jok motor itu tanpa peduli dengan Dafa dan orang-orangnya yang sedang memperhatikannya. Ojek online itu sempat bingung karena ia sudah menerima uang sebagai pengganti Nadira tak bisa menaiki motornya, akan tetapi Nadira memaksa untuk melajukan motornya keluar dari area apartemen tersebut. “Menarik,” gumam Dafa tersenyum saat melihat kepergian Nadira yang keras kepala. “Ikuti dia kemanapun dia pergi. Jangan lupa samarkan identitas kalian dan laporkan apapun yang dia lakukan,” perintah Dafa kepada para pengawalnya. Mereka membungkuk hormat setelah serentak mengatakan, “SIAP TUAN.” Sementara Dafa memutuskan untuk pulang ke apartemennya, ia tak ingin kembali ke rumah sakit yang hanya akan dicecari pertanyaan oleh Mega karena kembali tak membawa Nadira seperti ucapannya tadi. Dafa memang tinggal di apartemen seorang diri, tetapi tak jarang pula ia pulang ke rumah ibunya yang cukup jauh dari apartemen. Melihat kerasa kepala Nadira tadi, membuat Dafa tiba-tiba saja merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan wanita itu. Sejujurnya, ia juga tak tahu alasan pasti, mengapa ia meminta orang-orangnya untuk mengikuti Nadira. Namun yang jelas, Dafa tertarik untuk mengetahui sifat Nadira lebih banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN