"Akan aku ceritakan padamu, tentang penantian yang tidak kenal akhir waktu. Sebab semua ini bukan perihal "kapan", tapi ketika Allah sudah menetapkan". ** Setelah berbicara dengan Maira, Reina masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya sang suami yang masih terlelap, dengan pelan Reina duduk di tepi ranjang. Wanita itu mengusap rambut Elyas, membuat sang empu terbangun dari tidurnya. “Apa aku membangunkan Abang?” Tanya Reina dengan mengusap pipi suaminya. Elyas menggeleng kecil, lalu memindahkan kepalanya ke pangkuan Reina. Di ciumnya perut sang istri yang sudah sedikit membesar. “Tak apa.” Ucapnya lemas. “Apa Abang masih mual dan pusing?” Elyas mengangguk menjawabnya. “Mahu ikut Reina periksa ke Dokter Maya tidak?” Mendengar tawaran Reina, Elyas mendudukkan dirinya. “Apa kau yakin?

