Kaki-kaki itu berjalan begitu tergesa, mendorong brankar yang berisikan sesosok wanita dengan darah bersimbah. Kecelakaan maut yang menelan banyak korban di persimpangan lampu merah yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah sakit itu membuat--mau tidak mau, seluruh dokter baik residen, spesialisasi, umum, atau yang sedang koas ikut turun tangan menangani para korbannya.
"Dokter Miranda, ruang UGD sudah penuh Dok, sementara korban mengalami pendarahan besar, akan sangat berbahaya jika tidak ditangain segera," Perawat dengan anakan rambut yang mulai mencuat dari tempatnya itu berbicara dengan napas yang terdengar saling memburu.
"Dokter, gimana ini Dok?" Perawat lain mulai bertanya pada sosok Miranda yang tapak begitu lelah.
Bagaimana tidak, ia belum sempat istirahat tadi setelah melakukan operasi, dan sekarang harus menangani pasien lakalantas ini, sebab tenaga medis yang kurang.
Miranda menghela napas. Ia memijit kepalanya yang terasa berdenyut sebelum memberi arahan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan pasien yang bersimbah darah itu kepada perawat-perawat yang menemaninya. "Bawa ke ruang rawat terdekat saja, kita tangani di situ," titahnya yang langsung diangguki oleh mereka.
Ruang UGD penuh, sementara pasien butuh penanganan sesegera mungkin. Jadi jalan satu-satunya, ia harus mengambil tindakan dengan membawa pasien itu ke ruangan lain.
"Suster Anna, tolong ambilkan peralatan-peralatan yang kita perlukan. Suster Arin, Suster Isha, ayo, cepat dorong brankarnya," intruksinya.
Tak berapa lama rombongan tenaga medis itu sudah tiba di ruangan terdekat dari jarak mereka tadi. Miranda memberi instruksi pada perawat-perawatnya untuk memindahkan tubuh pasien ke ranjang pesakitan dengan cepat namun hati-hati.
"Dok," Suster Anna datang dengan napas memburu sambil membawa meja dorong yang di atasnya penuh dengan peralatan-peralatan medis.
Miranda memgangguk terima kasih lalu memberi titah kembali kepada yang lain. "Oke, cuci tangan kalian, siapkan kapas untuk membersihkan darah di sekitar luka pasien. Pastikan alat-alat yang kalian gunakan steril." Ia kembali memberi intruksi sambil memasang sarung tangan karet di kedua tangannya.
"Naikkan kedua kakinya biar posisinya lebih tinggi dari kepala," Miranda mulai menyiapkan alat-alat yang akan ia pakai. Dengan cekatan ia mulai membersihkan luka-luka itu dengan peralatan-peralatan yang dibawa Suster Anna. Ia melakukan tugasnya dengan cepat dan ringkas namun masih memenuhi prosedur-prosedur keamanan yang ada. Ia tidak ingin dituduh mal praktik jika melakukan kesalahan sedikit saja.
"Done. Alhamdulillah." Miranda menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya. Sekarang ia merasa lebih lega dari sebelumnya.
"Pasangkan infus di tangan pasien dan pantau terus perkembangannya, Sus," sambungnya kemudian dan melepas sarung tangan karetnya.
Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang agak kebas dan melakukan stretching, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Selama menghentikan pendarahan pasien itu, ia agak membungkuk tadi, jadi pinggang dan punggungnya terasa sangat pegal.
"Saya permisi dulu. Saya mau lihat masih ada korban yang butuh penangan lagi atau tidak. Sementara, kalian urus dulu pasien ini."
Miranda tak butuh waktu banyak untuk menunggu, segera setelah mendapat anggukan patuh dari ketiga suster yang menemaninya, ia keluar dari ruangan itu. Seperti yang ia katakan tadi, ia harus melihat apakah masih ada korban yang memerlukan batuannya atau tidak.
"Dokter Andreas!" Miranda melambai pada lelaki paruh baya yang sudah hendak masuk ke dalam salah satu ruang rawat itu.
Dokter Andreas memutar tubuhnya menghadap Miranda yang berjalan tergesa ke arahnya. "Ya Dok?"
"Apa masih ada korban yang perlu ditangani, Dok?"
"Korban ya, tadi masih ada satu. Tapi sudah ditangani oleh Dokter Garril," jawab beliau dengan formal, meski usianya lebih tua dari Miranda.
"Oh ya sudah kalau begitu. Terima kasih Dok, saya mau lihat Dokter Garril dulu kalau begitu. Mungkin dia butuh bantuan saya."
Miranda menganggukkan kepalanya sambil mengurai senyum tipis, saat Dokter Andreas mengatakan di mana letak keberadaan Garril. Tapi, sesaat sebelum tiba di ruangan yang Dokter Andreas sebut tadi, Miranda sudah lebih dulu menemukan pria itu. Ia tengah duduk di bangku panjang yang berada di koridor rumah sakit dengan wajah yang menengadah ke atas dan mata yang terpejam rapat, sementara kedua tangan yang menyilang di depan dadanya yang terlihat bidang.
Dari jarak kurang dari dua meter, Miranda bisa melihat lingkar hitam yang mengelilingi mata yang dibiasa menatapnya tajam itu. Sesaat, Miranda merasa terpaku. Sangat jarang ia bisa menikmati wajah Garril Pramono dari jarak sedekat itu.
Lelaki itu, entah mengapa selalu menganggapnya sebagai musuh. Tidak pernah sama sekali meliriknya. Padahal, Miranda sendiri merasa dirinya lebih cantik dari wanita mana pun. Terdengar narsis, tapi peduli apa dia?
Miranda menghela napas. Maniknya ia pusatkan pada wajah Garril yang tampak terlelap, mungkin lelaki itu sudah sangat lelah sampai-sampai tak sadar sudah tidur di tempat yang tidak seharusnya.
Wanita itu mulai mengabsen seluruh hal yang menghiasi wajah tampan pria di hadapannya itu. Bibirnya tebal dan berisi, berwarna merah agak pucat. Hidungnya, cukup mancung untuk ukuran orang Indonesia. Alisnya hitam tebal, mungkin terlihat agak menyeramkan untuk anak kecil. Kulit wajahnya putih bersih dan ada t**i lalat di bawah mata kirinya.
Miranda menyentuh dadanya yang selalu berdebar kencang ketika berada dalam radius dekat seperti ini dengan Garril. Ia akui, ia menyukai pria itu, ia mengangguminya sudah sejak lama, sejak ia masih menjadi seorang mahasiswa. Rasa suka dan kagum itu bahkan sudah menjelma menjadi rasa cinta yang kian lama kian membesar sekarang.
"Kenapa kamu memandang wajah saya begitu?"
Suara berat itu masuk ke rungu Miranda, membawa rangsangan yang langsung diterima oleh otaknya yang sempat berkelana, sebelum diproses selama sepersekian detik, hanya untuk menghasilkan respon terkejut.
"Eh?" Miranda mulai salah tingkah. Meski Garril sama sekali tak membuka mata dan menatapnya secara langsung, Miranda tetap saja merasa malu.
Rasa panas bahkan sudah mulai menjalar, dari telinga lalu ke wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Ia mulai panas-dingin sendiri sekarang.
"Eh anu,---" Miranda bingung ingin berkata apa. "Aku pikir kamu udah tidur." Ia berkata lirih di akhir kalimatnya.
"Kalau saya emang udah tidur kenapa? Kamu mau usir saya?" Garril membuka mata, menegakkan tubuh, dan menatapnya seperti biasa, dingin dan tanpa ekspresi.
"Nggak gitu Ril, aku--"
"Kamu nggak ada hak, Miranda."
Miranda menghela napas panjang. Lagi-lagi, Garril meresponnya seperti itu. Padahal, setahunya pria itu begitu hangat layaknya mentari di esok hari.
Sampai kapan ia harus berjuang? Sampai kapan Garril akan membalas perasaannya?
******
Pukul delapan malam dan Miranda baru akan pulang dari rutinitasnya di rumah sakit. Tidak ada jadwal praktik sampai malam, hari ini. Tapi mau tidak mau ia harus lebih lama berada di sana, selain karena menangani korban kecelakaan yang ternyata cukup banyak merenggut korban nyawa itu, juga karena ada rapat kecil yang ia adakan khusus untuk perawat yang menemaninya. Biasanya ia akan mengevaluasi kinerja mereka, apa yang perlu mereka tingkatkan, apa sikap yang seharusnya mereka tunjukkan saat menangani pasien gawat darurat.
"Dokter Miranda, baru pulang Dok?" Pertanyaan retoris itu membuat Miranda yang hendak masuk ke dalam mobil langsung mengurungkan niatnya.
Perempuan itu menghidu napas dalam-dalam, menutup pintu dan memutar tubuhnya hanya untuk menatap pria yang berdiri gagah di hadapannya dengan tatapan lelah. Namun meski begitu, untuk menjaga kesopanan, ia tetap menyunggingkan senyumnya.
"Tadi ada rapat kecil, biasa evaluasi kinerja perawat-perawat di bawah saya, jadi saya baru mau pulang. Ngomong-ngomong, Dokter Kaev juga mau pulang?" tanya Miranda ramah, sekadar basa-basi, dan setelah Kaev menjawab nanti, ia akan segera undur diri.
"Oh tadi saya ketiduran Dok, saking capeknya ngurus korban-korban tadi. Eh tahu-tahu, pas bangun sudah larut aja." Dokter Kaev terkekeh di akhir kalimatnya.
Miranda hanya tersenyum canggung. Ia ingin tertawa, tapi rasa-rasanya ia sangat malas melakukan hal itu. Pada akhirnya yang ia lakukan pamit dan segera meninggalkan pelataran rumah sakit dengan plang besar bertuliskan Sadega Hospital Center itu. Dari nama yang tertera di depan, sudah pasti gedung yang mencapai tujuh lantai itu milik keluarganya.
Di tengah perjalanan, entah ini kesialan atau memang Tuhan sedang mengujinya, mobil yang perempuan itu tumpangi tiba-tiba berhenti dengan mesin yang mati total.
"Loh kok? Ini kenapa?" Miranda berusaha menstarter mobilnya, tapi benda itu seakan-akan sedang marah padanya dan menolak untuk menyala.
Miranda memutuskan keluar dari sana, setelah sebelumnya membuka kap mobil untuk melihat seperangkat mesin yang terpasang di tumpangannya itu, walau sebenarnya ia sama sekali tak mengerti masalah perotomotifan.
Kap mobil terbuka dan asap tipis langsung membumbung di udara, bergelung-gelung sebelum menghilang secara perlahan, tertiup angin malam yang berhembus santai. Miranda terbatuk-batuk. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah untuk menghalau asap tadi.
"Ini kenapa sih mobil aku?" Ia menggaruk kepalanya, lalu mulai celangak-celinguk untuk melihat kondisi sekelilingnya.
Sangat sepi, meski ini belum bisa disebut sangat larut juga. Apalagi Jakarta, ibukota yang memiliki penduduk paling padat. Siang-malam pun seperti tak memiliki perbedaan.
Jujur saja, Miranda sama sekali tak merasa takut sebenarnya. Cukup dengan pencahayaan seterang ini sudah membuatnya merasa tenang. Tapi bukan hal itu yang menganggu pikirannya.
Tempat sepi, otomatis tidak ada orang yang bisa membantunya, dan Miranda tidak ingin terjebak di tempat itu.
Miranda merenung terlalu lama memikirkan nasib buruknya malam ini, sampai ia tak sadar ada segerombolan pria berwajah teler yang menghampirinya dengan langkah sempoyongan. Aroma alkohol yang sangat menyengat tercium indra pembaunya, membuat Miranda secara paksa ditarik kembali ke dunia nyata.
Ia memutar tubuhnya, dan terkejut mendapati empat pria tengah mengerubungi dalam jarak yang sangat dekat. "Eh?!"
Ia terjebak. Kabur pun sepertinya sangat mustahil. Badan-badan pria itu sangat besar. Wajahnya, Miranda bergidik ngeri ketika melihat raut-raut pria itu. Sangat menyeramkan, ditambah dengan bulu-bulu lebat yang menghiasi hampir sebagian wajah pria-pria itu.
Ini terasa lebih menakutkan daripada sekadar bertemu dengan kuntilanak yang meminta sate dua ratus tusuk. Setidaknya, Miranda bisa membaca ayat kursi untuk mengusir makhluk astral itu. Ya sebenarnya bisa saja dia melawan, dia cukup bisa bela diri, tapi hanya untuk satu orang, kalau dikeroyok seperti ini ya dia mana bisa?
"Ada mangsa Bro! Cantik banget, seksi juga. Lumayan nih kita pake malam ini," rancau salah satu dari pria itu sambil melihat tubuh Miranda dari atas sampai bawah. Tatapan lelaki itu begitu berbinar-binar, dan Miranda bisa menangkap gairah yang secara terang-terangan laki-laki itu tunjukkan.
Miranda menggeleng. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya mulai melemas. Seakan tak mampu menompang tubuhnya. Ia merasa sangat takut, dan ketakutannya itu membuatnya ingin menangis dengan kencang.
"Ya Tuhan, tolong lindungilah hambaMu ini!" Ia menjerit dalam hati, dan mulai merapalkan bermacam-macam doa, berharap ada malaikat tanpa sayap yang dengan sukarela mau menolongnya. Ya, semoga saja.
"Pokoknya, jangan biarin sampe kendor! Kita seneng-seneng pokoknya," sahut lelaki yang lain sambil mengerling genit ke arah Miranda, lalu mulai mendekati perempuan itu.
Miranda memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Air matanya sudah meleleh, membanjiri pipinya yang tirus itu. "M-menjauh! Ja-jangan macam-macam sama saya. Saya, saya bisa teriak. Saya bisa teriak!"
Ia semakin mengeratkan dekapannya pada tubuhnya.
"Duh, macem-macem gimana sih Neng? Ya enggaklah. Kita kan bakal seneng-seneng. Ya nggak Bro?"
"Ya lah Neng, kita bakal seneng-seneng. Yuk ah sama Abang. Jangan jauh-jauh. Abang pengennya deket-deket sama Eneng cantik." Lelaki lain turut mendekat lalu menjawil dagunya.
Miranda semakin mengencangkan tangisnya. Sebelah tangannya terus menangkis tangan-tangan besar dipenuhi tato-tato itu yang dengan lancang hendak menyentuh bagian-bagian tubuhnya.
"Jangan pegang-pegang saya! Pergi! Menjauh dari saya!" serunya di sela-sela isak tangis yang tak kunjung reda. Ia benar-benar merasa frustrasi mendapati kesialannya itu.
Miranda sama sekali tidak tahu bagaimana nasibnya setelah ini. Ia sangat berharap Tuhan berbaik hati padanya.
Ya Tuhan, beri saya keajaibanMu.
*****